Avesiar – Cerpen dan Puisi
Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 2)
Oleh: Mas Ngabehi
***************
Kata-kata itu seperti guntur yang menggelegar di hati Azzam. Ia menunduk, mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan Nadia. Perasaan kecewa dan hampa menyelimutinya, tetapi di saat yang sama, ada sesuatu yang menggugah pikirannya.
Nadia tersenyum tipis. “Maafkan aku jika ini menyakitimu. Tapi percayalah, jika cinta ini memang baik, Allah pasti akan mempertemukan kita dalam cara yang terbaik. Aku hanya ingin kita tetap dalam lindungan-Nya.”
Azzam mengangguk pelan. Ia tidak ingin menekan Nadia. Ia menghormati keputusannya. “Aku mengerti, Nadia. Terima kasih sudah mendengarkanku.”
Setelah pertemuan itu, Azzam berjalan tanpa arah. Langkahnya membawanya ke Alun-Alun Kidul, tempat di mana biasanya ia dan teman-temannya menghabiskan waktu selepas kajian. Malam sudah turun, dan lampu-lampu kota Yogyakarta mulai berpendar di kejauhan.
Ia duduk di salah satu bangku di pinggir alun-alun, menatap langit yang gelap namun bertabur bintang. Kata-kata Nadia terus terngiang di kepalanya. “Jika kau benar-benar mencintaiku, cintailah Allah lebih dari segalanya.”
“Apa sebenarnya arti cinta yang sesungguhnya?” gumamnya.
Seorang pria tua yang duduk tak jauh darinya menoleh dan tersenyum. “Nak, kau tampaknya sedang gelisah. Cinta, ya?”
Azzam terkejut, lalu tersenyum kecut. “Apakah wajah saya begitu jelas menunjukkan kebingungan, Pak?”
Pria itu tertawa kecil. “Cinta memang misteri yang selalu mengusik hati manusia. Tapi kau tahu, cinta sejati selalu membawa seseorang lebih dekat kepada Tuhannya, bukan malah menjauhkannya.”
Azzam mengangguk pelan, merenungi kata-kata itu. “Tapi bagaimana jika cinta yang kita harapkan tidak direstui oleh takdir?”
Pria itu menarik napas panjang. “Jika memang begitu, mungkin Allah sedang mengajarkan sesuatu. Mungkin Dia ingin kau menemukan makna cinta yang lebih dalam. Cinta yang tidak hanya tentang memiliki seseorang, tetapi tentang mendekat kepada-Nya.”
Azzam terdiam lama. Angin malam Yogyakarta berhembus lembut, seakan membisikkan sesuatu yang menenangkan hatinya. Malam itu, ia menyadari bahwa perjalanannya dalam memahami cinta baru saja dimulai.
Pergolakan Batin
Langit senja mulai meredup saat Azzam tiba di Pantai Parangtritis. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma garam dan suara deburan ombak yang tiada henti. Ia berjalan perlahan di atas pasir, membiarkan pikirannya melayang dalam kesunyian.
“Ya Allah, apa yang sebenarnya Engkau rencanakan untukku?” gumamnya lirih, menatap hamparan laut yang luas.
Azzam duduk di tepi pantai, membiarkan kakinya menyentuh air laut yang dingin. Ia merenung, mengingat kembali kata-kata Nadia di Perpustakaan Pusat UGM.
“Jika kau benar-benar mencintaiku, cintailah Allah lebih dari segalanya.”
Kata-kata itu terus menggaung di benaknya. Ia sadar, selama ini cintanya kepada Nadia lebih didorong oleh keinginan memiliki, bukan oleh niat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ia telah lupa bahwa cinta sejati adalah cinta yang membawa seseorang semakin taat, bukan semakin gelisah.
Ia mengeluarkan mushaf kecil dari tasnya, membuka lembaran Al-Qur’an yang selama ini jarang ia sentuh dengan penuh penghayatan. Perlahan, ia membaca Surat Al-Baqarah ayat 286:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”
Air mata menetes tanpa ia sadari. Mungkin, inilah ujian bagi dirinya. Cinta yang tak berbalas bukanlah akhir dari segalanya, tetapi sebuah jalan untuk memperbaiki diri. Azzam menarik napas panjang, lalu menengadahkan tangan ke langit.
“Ya Allah, jika Nadia bukan takdirku, berikan aku keikhlasan. Jika aku harus mencintai, biarkan cintaku ini membuatku lebih dekat kepada-Mu. Jangan biarkan aku mencintai seseorang melebihi cintaku kepada-Mu.”
Sejak hari itu, Azzam memutuskan untuk mengubah dirinya. Ia memperbanyak shalat tahajud, berusaha lebih memahami Al-Qur’an, dan menghadiri lebih banyak kajian. Bukan untuk melupakan Nadia, tetapi untuk menata hatinya agar cinta itu tetap suci dalam ridha-Nya.
Saat ia menutup mushafnya, ombak kembali menyapu pantai dengan suara yang lebih tenang, seolah ikut mengiringi perjalanan hijrahnya menuju cinta yang lebih hakiki.
Ujian Hidup: Kehilangan dan Keikhlasan
Azzam duduk termenung di kursi ruang tunggu Rumah Sakit Sardjito. Udara di sekitarnya terasa berat, aroma obat-obatan bercampur dengan kecemasan yang memenuhi dadanya.
Sejak tadi, ia menatap pintu ICU tempat ayahnya dirawat akibat serangan jantung. Hatinya gundah, seakan semua beban hidup menumpuk dalam waktu yang bersamaan.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari seorang teman dekatnya.
“Azzam, aku ingin memberi tahu sesuatu. Nadia akan menikah bulan depan. Maaf jika ini mengejutkanmu.”
Tangan Azzam gemetar. Matanya terpaku pada layar, membaca pesan itu berulang kali. Seketika, dunia serasa runtuh. Ia menarik napas dalam, berusaha mengendalikan emosinya. Hatinya terasa hampa. Wanita yang selama ini ia doakan, ia cintai dalam diam, kini akan menjadi milik orang lain.
Ia memejamkan mata, mengingat kembali semua kenangan. Cara Nadia menolak perasaannya dengan lembut, kata-katanya yang penuh hikmah, senyumannya yang meneduhkan hati. Sekarang, semua itu hanya akan menjadi kenangan. Ia tak lagi memiliki harapan untuk bersama.
Di tengah kekalutan, seorang perawat keluar dari ICU. “Azzam?” panggilnya.
Azzam segera berdiri. “Bagaimana kondisi ayah saya, Mbak?”
“Keadaannya stabil, tapi masih harus dalam pengawasan intensif. Mohon doanya agar beliau segera membaik.”
Azzam mengangguk lemah. Ia kembali duduk, menundukkan kepala. Hatinya semakin terhimpit. Ayahnya terbaring lemah di rumah sakit, dan kini ia juga harus menerima kenyataan bahwa Nadia telah ditakdirkan untuk orang lain.
Tak lama setelah itu, ibunya menelepon. Suaranya terdengar cemas. “Nak, ibu baru saja dari Pasar Beringharjo. Toko kita sepi, banyak pelanggan beralih ke tempat lain. Kalau keadaan terus begini, kita bisa kehilangan usaha ini.”
Azzam terdiam. Bisnis keluarganya yang telah lama menjadi sumber nafkah kini berada di ambang kehancuran. Satu per satu, ujian datang menghampirinya.
Setelah menutup telepon, Azzam menatap langit-langit rumah sakit. Ia mulai bertanya dalam hati, Ya Allah, apakah aku terlalu mencintai dunia hingga Engkau mengujiku dengan kehilangan segalanya?
Beberapa hari kemudian, ia mengunjungi Pasar Beringharjo. Suasana pasar yang dulu ramai kini terasa lengang. Toko keluarganya tampak sepi, hanya beberapa pelanggan yang datang. Ibunya duduk di sudut toko, wajahnya tampak lesu.
Azzam berjongkok di hadapan ibunya, menggenggam tangannya. “Bu, jangan khawatir. Rezeki datang dari Allah. Kita harus tetap berusaha dan berdoa.”
Sang ibu tersenyum lemah. “Ibu percaya, Nak. Tapi melihat usaha ini perlahan sekarat, ibu tak bisa menahan kesedihan.”
Azzam menghela napas. Ia harus kuat, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya. Semua kehilangan ini bukanlah akhir. Ia harus menemukan hikmah di balik setiap cobaan.
Malam itu, ia kembali bersujud dalam tahajud. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. “Ya Allah, jika semua ini adalah cara-Mu untuk mengingatkanku, aku terima. Ajarkan aku ikhlas, ajarkan aku sabar. Jangan biarkan hatiku condong kepada dunia lebih dari cintaku kepada-Mu.”
Perlahan, hatinya mulai tenang. Ia menyadari bahwa kehilangan bukanlah hukuman, tetapi cara Allah membimbingnya kembali kepada cahaya-Nya.
Pelajaran Hidup: Cinta yang Sesungguhnya
Azzam duduk di saf terdepan Masjid Gede Kauman, matanya menerawang ke arah mimbar. Cahaya lampu temaram berpadu dengan aroma kayu tua yang khas, menghadirkan ketenangan di hatinya yang masih berusaha menerima takdir.
Sudah beberapa pekan sejak ia mendengar kabar pernikahan Nadia, dan sejak itu pula ia semakin rajin menghadiri kajian. (bersambung ke bagian 3, bagian terakhir)
______________
Selayang pandang:
Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.
Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.
Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).













Discussion about this post