• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Citizen Journalism & Video Cerpen dan Puisi

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 2)

by Avesiar
22 Maret 2025 | 21:30 WIB
in Cerpen dan Puisi
Reading Time: 7 mins read
A A
Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 2)

Ilustrasi. Foto: Pexels. Kolase: Avesiar.com

Avesiar – Cerpen dan Puisi

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 2)

Oleh: Mas Ngabehi

***************

Kata-kata itu seperti guntur yang menggelegar di hati Azzam. Ia menunduk, mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan Nadia. Perasaan kecewa dan hampa menyelimutinya, tetapi di saat yang sama, ada sesuatu yang menggugah pikirannya.

Nadia tersenyum tipis. “Maafkan aku jika ini menyakitimu. Tapi percayalah, jika cinta ini memang baik, Allah pasti akan mempertemukan kita dalam cara yang terbaik. Aku hanya ingin kita tetap dalam lindungan-Nya.”

Azzam mengangguk pelan. Ia tidak ingin menekan Nadia. Ia menghormati keputusannya. “Aku mengerti, Nadia. Terima kasih sudah mendengarkanku.”

Setelah pertemuan itu, Azzam berjalan tanpa arah. Langkahnya membawanya ke Alun-Alun Kidul, tempat di mana biasanya ia dan teman-temannya menghabiskan waktu selepas kajian. Malam sudah turun, dan lampu-lampu kota Yogyakarta mulai berpendar di kejauhan.

Bacaan Terkait :

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 3, habis)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 2)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 1)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya,Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 3, habis)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 1)

Cerpen: Saat Takdir Bertaut di Mihrab Cinta (bagian 4, habis)

Cerpen: Saat Takdir Bertaut di Mihrab Cinta (bagian 3)

Load More

Ia duduk di salah satu bangku di pinggir alun-alun, menatap langit yang gelap namun bertabur bintang. Kata-kata Nadia terus terngiang di kepalanya. “Jika kau benar-benar mencintaiku, cintailah Allah lebih dari segalanya.”

“Apa sebenarnya arti cinta yang sesungguhnya?” gumamnya.

Seorang pria tua yang duduk tak jauh darinya menoleh dan tersenyum. “Nak, kau tampaknya sedang gelisah. Cinta, ya?”

Azzam terkejut, lalu tersenyum kecut. “Apakah wajah saya begitu jelas menunjukkan kebingungan, Pak?”

Pria itu tertawa kecil. “Cinta memang misteri yang selalu mengusik hati manusia. Tapi kau tahu, cinta sejati selalu membawa seseorang lebih dekat kepada Tuhannya, bukan malah menjauhkannya.”

Azzam mengangguk pelan, merenungi kata-kata itu. “Tapi bagaimana jika cinta yang kita harapkan tidak direstui oleh takdir?”

Pria itu menarik napas panjang. “Jika memang begitu, mungkin Allah sedang mengajarkan sesuatu. Mungkin Dia ingin kau menemukan makna cinta yang lebih dalam. Cinta yang tidak hanya tentang memiliki seseorang, tetapi tentang mendekat kepada-Nya.”

Azzam terdiam lama. Angin malam Yogyakarta berhembus lembut, seakan membisikkan sesuatu yang menenangkan hatinya. Malam itu, ia menyadari bahwa perjalanannya dalam memahami cinta baru saja dimulai.

Pergolakan Batin

Langit senja mulai meredup saat Azzam tiba di Pantai Parangtritis. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma garam dan suara deburan ombak yang tiada henti. Ia berjalan perlahan di atas pasir, membiarkan pikirannya melayang dalam kesunyian.

“Ya Allah, apa yang sebenarnya Engkau rencanakan untukku?” gumamnya lirih, menatap hamparan laut yang luas.

Azzam duduk di tepi pantai, membiarkan kakinya menyentuh air laut yang dingin. Ia merenung, mengingat kembali kata-kata Nadia di Perpustakaan Pusat UGM.

“Jika kau benar-benar mencintaiku, cintailah Allah lebih dari segalanya.”

Kata-kata itu terus menggaung di benaknya. Ia sadar, selama ini cintanya kepada Nadia lebih didorong oleh keinginan memiliki, bukan oleh niat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ia telah lupa bahwa cinta sejati adalah cinta yang membawa seseorang semakin taat, bukan semakin gelisah.

Ia mengeluarkan mushaf kecil dari tasnya, membuka lembaran Al-Qur’an yang selama ini jarang ia sentuh dengan penuh penghayatan. Perlahan, ia membaca Surat Al-Baqarah ayat 286:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”

Air mata menetes tanpa ia sadari. Mungkin, inilah ujian bagi dirinya. Cinta yang tak berbalas bukanlah akhir dari segalanya, tetapi sebuah jalan untuk memperbaiki diri. Azzam menarik napas panjang, lalu menengadahkan tangan ke langit.

“Ya Allah, jika Nadia bukan takdirku, berikan aku keikhlasan. Jika aku harus mencintai, biarkan cintaku ini membuatku lebih dekat kepada-Mu. Jangan biarkan aku mencintai seseorang melebihi cintaku kepada-Mu.”

Sejak hari itu, Azzam memutuskan untuk mengubah dirinya. Ia memperbanyak shalat tahajud, berusaha lebih memahami Al-Qur’an, dan menghadiri lebih banyak kajian. Bukan untuk melupakan Nadia, tetapi untuk menata hatinya agar cinta itu tetap suci dalam ridha-Nya.

Saat ia menutup mushafnya, ombak kembali menyapu pantai dengan suara yang lebih tenang, seolah ikut mengiringi perjalanan hijrahnya menuju cinta yang lebih hakiki.

Ujian Hidup: Kehilangan dan Keikhlasan

Azzam duduk termenung di kursi ruang tunggu Rumah Sakit Sardjito. Udara di sekitarnya terasa berat, aroma obat-obatan bercampur dengan kecemasan yang memenuhi dadanya.

Sejak tadi, ia menatap pintu ICU tempat ayahnya dirawat akibat serangan jantung. Hatinya gundah, seakan semua beban hidup menumpuk dalam waktu yang bersamaan.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari seorang teman dekatnya.

“Azzam, aku ingin memberi tahu sesuatu. Nadia akan menikah bulan depan. Maaf jika ini mengejutkanmu.”

Tangan Azzam gemetar. Matanya terpaku pada layar, membaca pesan itu berulang kali. Seketika, dunia serasa runtuh. Ia menarik napas dalam, berusaha mengendalikan emosinya. Hatinya terasa hampa. Wanita yang selama ini ia doakan, ia cintai dalam diam, kini akan menjadi milik orang lain.

Ia memejamkan mata, mengingat kembali semua kenangan. Cara Nadia menolak perasaannya dengan lembut, kata-katanya yang penuh hikmah, senyumannya yang meneduhkan hati. Sekarang, semua itu hanya akan menjadi kenangan. Ia tak lagi memiliki harapan untuk bersama.

Di tengah kekalutan, seorang perawat keluar dari ICU. “Azzam?” panggilnya.

Azzam segera berdiri. “Bagaimana kondisi ayah saya, Mbak?”

“Keadaannya stabil, tapi masih harus dalam pengawasan intensif. Mohon doanya agar beliau segera membaik.”

Azzam mengangguk lemah. Ia kembali duduk, menundukkan kepala. Hatinya semakin terhimpit. Ayahnya terbaring lemah di rumah sakit, dan kini ia juga harus menerima kenyataan bahwa Nadia telah ditakdirkan untuk orang lain.

Tak lama setelah itu, ibunya menelepon. Suaranya terdengar cemas. “Nak, ibu baru saja dari Pasar Beringharjo. Toko kita sepi, banyak pelanggan beralih ke tempat lain. Kalau keadaan terus begini, kita bisa kehilangan usaha ini.”

Azzam terdiam. Bisnis keluarganya yang telah lama menjadi sumber nafkah kini berada di ambang kehancuran. Satu per satu, ujian datang menghampirinya.

Setelah menutup telepon, Azzam menatap langit-langit rumah sakit. Ia mulai bertanya dalam hati, Ya Allah, apakah aku terlalu mencintai dunia hingga Engkau mengujiku dengan kehilangan segalanya?

Beberapa hari kemudian, ia mengunjungi Pasar Beringharjo. Suasana pasar yang dulu ramai kini terasa lengang. Toko keluarganya tampak sepi, hanya beberapa pelanggan yang datang. Ibunya duduk di sudut toko, wajahnya tampak lesu.

Azzam berjongkok di hadapan ibunya, menggenggam tangannya. “Bu, jangan khawatir. Rezeki datang dari Allah. Kita harus tetap berusaha dan berdoa.”

Sang ibu tersenyum lemah. “Ibu percaya, Nak. Tapi melihat usaha ini perlahan sekarat, ibu tak bisa menahan kesedihan.”

Azzam menghela napas. Ia harus kuat, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya. Semua kehilangan ini bukanlah akhir. Ia harus menemukan hikmah di balik setiap cobaan.

Malam itu, ia kembali bersujud dalam tahajud. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. “Ya Allah, jika semua ini adalah cara-Mu untuk mengingatkanku, aku terima. Ajarkan aku ikhlas, ajarkan aku sabar. Jangan biarkan hatiku condong kepada dunia lebih dari cintaku kepada-Mu.”

Perlahan, hatinya mulai tenang. Ia menyadari bahwa kehilangan bukanlah hukuman, tetapi cara Allah membimbingnya kembali kepada cahaya-Nya.

Pelajaran Hidup: Cinta yang Sesungguhnya

Azzam duduk di saf terdepan Masjid Gede Kauman, matanya menerawang ke arah mimbar. Cahaya lampu temaram berpadu dengan aroma kayu tua yang khas, menghadirkan ketenangan di hatinya yang masih berusaha menerima takdir.

Sudah beberapa pekan sejak ia mendengar kabar pernikahan Nadia, dan sejak itu pula ia semakin rajin menghadiri kajian. (bersambung ke bagian 3, bagian terakhir)

______________

Selayang pandang:

Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.

Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.

Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan  pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).

Tags: Cerita PendekCerpenCerpen CintaCerpen KehidupanCerpen MotivasiMuhasabah Cinta
ShareTweetSendShare
Previous Post

Kisah Nabi Ayyub AS, Penyabar serta Istiqomah Atas Penyakit yang Doa Kesembuhannya Kita Amalkan

Next Post

Mau Jadi Remaja Keren? Terapkan Tips Ini

Mungkin Anda Juga Suka :

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

14 Maret 2026

...

Di Ambang Mahacahaya

Di Ambang Mahacahaya

9 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

9 Maret 2026

...

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

8 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

8 Maret 2026

...

Load More
Next Post
Mau Jadi Remaja Keren? Terapkan Tips Ini

Mau Jadi Remaja Keren? Terapkan Tips Ini

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya,Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 3, habis)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya,Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 3, habis)

Discussion about this post

TERKINI

Imbas Serangan AS-Israel ke Iran yang Membuat Selat Hormuz Ditutup, 13 Juta Barel Hilang Setiap Hari

25 April 2026

Fatayat NU Memperingati Harlah Ke-76 dengan Ziarah dan Aksi Sosial Serentak

25 April 2026

Trump Ngebet Minta Iran Diganti Italia di Piala Dunia Sejak Maret, Italia Tidak Sudi

24 April 2026

Negara Asal Merek-merek Handphone yang Pernah dan Masih Diproduksi

24 April 2026

Pemilu Pertama Gaza Sejak Lebih dari Dua Dekade Kosong Akan Berlangsung di Deir al-Balah Sabtu Ini

23 April 2026

Iran Peringatkan Negara-negara Teluk Agar Tidak Mengizikan Wilayahnya Jadi Tuan Rumah Serangan

22 April 2026

Menjalani Usia Paruh Baya yang Identik dengan Midlife Crisis, Kiat Sehat Psikis dan Fisik

22 April 2026

Trump Posting di Truth Social Ngamuk-ngamuk Dianggap Dirayu Netanyahu untuk Perang Lawan Iran dan Kredibilitasnya 32 Persen

21 April 2026

Pematangan Giant Sea Wall Pantura Dipercepat, Ratas Dipimpin Presiden Prabowo

21 April 2026

Negosisasi Putaran Dua Akan Kembali Dimediasi Pakistan dalam Beberapa Jam, Iran Belum Konfirmasi dan Trump Kembali Ancam

20 April 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video