Avesiar – Jakarta
Jika ada orang yang sangat sabar atas penyakit yang menimpa dirinya dan kehilangan apa-apa yang dimilikinya, dialah Nabi Ayyub Alaihissalam. Kisahnya menjalani kesulitan penyakit yang amat sangat menjadi motivasi hamba-hamba Allah untuk bersabar atas penyakit.
Ayahnya bernama Amus adalah keturunan Al-Ish, putra Nabi Ishaq. Nabi Ayyub tinggal di Hauran, dekat Damaskus. Wilayah ini dihuni oleh masyarakat Arab asli dengan budaya bahasa yang seindah syair.
Sejak muda, Nabi Ayyub telah terbiasa bekerja keras, hingga usaha yang dikelolanya membuahkan kesuksesan besar. Ia memiliki ribuan ternak, tanah yang luas, dan kekayaan yang melimpah.
Sebagai hamba Allah yang benar-benar bertaqwa, penyayang terhadap orang-orang miskin, memelihara janda-janda dan anak yatim serta memuliakan orang-orang lemah, Nabi Ayyub Alaihissalam juga berdakwah terhadap kaumnya, mengajak untuk beribadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Sebelumnya, Nabi Ayyub adalah seorang yang kaya yang memiliki berbagai kekayaan, binatang ternak, hamba sahaya, barang-barang perhiasan tanah yang luas di kampung Al Batsinah, daerah Hauran, di samping mempunyai anak dan keluarga yang besar.
Dalam kehidupan pribadinya, Nabi Ayyub menikahi Siti Rahmah dan dikaruniai 12 anak yang saleh dan rupawan, menciptakan keluarga yang harmonis dan penuh berkah.
Misi Kenabian dan ujian Iman Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengangkat Nabi Ayyub sebagai nabi untuk menyebarkan ajaran tauhid di wilayah Hauran. Dalam menjalankan dakwahnya, ia juga membangun masjid-masjid sebagai tempat ibadah.
Namun, keimanan Nabi Ayyub membuat iblis tidak senang. Iblis memohon izin kepada Allah untuk menggoda Nabi Ayyub, yang kemudian diizinkan oleh Allah.
Ujian pertama datang ketika ribuan ternak Nabi Ayyub mati secara mendadak. Salah seorang pekerjanya panik dan melapor, “Apa yang terjadi dengan semua ternak ini? Kita harus segera melaporkannya.”
Dalam waktu singkat, seluruh kekayaan Nabi Ayyub hilang. Namun, ia tetap sabar, memperbanyak dzikir, dan tidak tergoda oleh bisikan iblis yang terus memprovokasi, “Tuhanmu telah berpaling, datanglah kepadaku dan aku akan membantumu.”
Tidak berhenti di situ, iblis menciptakan bencana besar yang merenggut nyawa seluruh anak-anak Nabi Ayyub. Rumahnya roboh, dan semua anaknya pun meninggal dunia. Namun, di tengah duka yang mendalam Nabi Ayyub tetap tegar.
“Semua ini adalah milik Allah, dan Dia berhak mengambilnya kapan saja,” ucapnya dengan penuh kepasrahan.
Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala menguji dirinya dengan kehilangan semua harta tersebut. Beliau juga diuji dengan berbagai macam ujian yang menimpa tubuhnya, sehingga tidak ada sejengkalpun dari bagian tubuhnya kecuali ditimpa penyakit kecuali hati dan lisannya. Seluruh tubuhnya mengeluarkan nanah, membuatnya tidak bisa bergerak.
Nabi Ayyub selalu berzikir dengan kedua indra tersebut, bertasbih kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala siang dan malam, pagi dan sore. Akhirnya dengan penyakit tersebut seluruh temannya merasa jijik terhadapnya, sahabat karibnya menjadi tidak tenang dengannya.
Setiap orang merasa jijik dengannya baik kerabat atau teman jauh. Akhirnya dia diasingkan pada sebuah tempat pembuangan sampah di luar kota tempat tinggalnya, dan tidak ada yang menemaninya kecuali seorang istrinya, yang selalu menjaga hak-haknya dan membalas budi baik yang pernah dilakukan terhadap dirinya serta dorongan rasa belas kasihan padanya,
Hanya istrinya, Siti Rahmah, yang tetap setia merawat di tengah penderitaannya. Meski begitu, godaan iblis juga menghampiri Rahmah. Dalam keputusasaannya, ia berkata kepada Nabi Ayyub, “Engkau adalah seorang nabi. Jika engkau berdoa kepada Allah, pasti penyakitmu akan disembuhkan.”
Namun, Nabi Ayyub dengan bijak menjawab, “Berapa lama kita merasakan kebahagiaan?” “20 tahun,” “Lalu, berapa lama kita menderita?” “7 tahun.” Nabi Ayyub pun menegaskan bahwa cobaan yang mereka alami belum sebanding dengan kebahagiaan yang telah Allah berikan.
Namun, ia merasa kecewa atas kelemahan istrinya yang sempat tergoda. Ia pun bersumpah, “Jika Allah menyembuhkanku, aku akan memukulmu 100 kali.”
Kesembuhan dan Mukjizat Nabi Ayyub Terdapat 2 mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Ayyub yaitu doanya yang mudah terkabul dan munculnya air dari tanah untuk menyembuhkan penyakitnya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“…dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Al-Anbiya, ayat 83-84)
“..Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya; “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan”. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (Shad, ayat 41-44)
Doa Nabi Ayyub Alaihissalam memohon kesembuhan kepada Allah Azza Wa Jalla,
“Robbi annii massaniyadh dhurru wa anta arhamar rahimin.”
Atau
“Allahumma inni massaniya adh-dhurru wa anta arhamur rahimin.”
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.”
Nabi Ayyub Alaihissalam bangkit dari ranjang dan menghentakkan kakinya ke tanah, lalu munculah air, kemudian ia gunakan air yang memancar itu untuk mandi dan minum. Seketika itu hilanglah semua penyakit Nabi Ayyub Alaihissalam. Wallahua’lam. (put/dari berbagai sumber)













Discussion about this post