• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Syar'i True Story

Kisah Nabi Ayyub Alaihissalam, Nabi yang Sangat Sabar dalam Cobaan dan Kesakitan yang Allah Uji serta Disejahterakan Kembali

by Avesiar
6 Agustus 2025 | 23:46 WIB
in True Story
Reading Time: 14 mins read
A A
Kisah Nabi Ayyub Alaihissalam, Nabi yang Sangat Sabar dalam Cobaan dan Kesakitan yang Allah Uji serta Disejahterakan Kembali

Ilustrasi: Meta AI

Avesiar – Jakarta

Nabi Ayyub Alaihissalam adalah salah satu Nabi Allah yang sabar. Para malaikat pun membicarakannya. Berkata salah seorang malaikat kepada kawan-kawannya yang sedang berkumpul berbincang-bincang tentang tingkah-laku makhluk Allah, jenis manusia di atas  bumi :

“Aku tidak melihat seorang manusia yang hidup di atas bumi Allah yang  lebih baik dari hamba Allah Ayyub”. Ia adalah seorang mukmin sejati ahli ibadah  yang tekun. Dari rezeki yang luas dan harta kekayaan yang diberikan oleh Allah  kepadanya, ia menyisihkan sebagian untuk menolong orang-orang yang memerlukan,  para fakir miskin. Hari-harinya terisi penuh dengan ibadah, sujud kepada Allah  dan bersyukur atas segala nikmat dan kurnia yang diberikan  kepadanya.”

Para kawanan malaikat yang mendengarkan kata-kata pujian dan sanjungan untuk diri Ayyub mengakui kebenaran itu bahkan masing-masing menambahkan lagi dengan menyebut beberapa sifat dan tabiat yang lain yang ada  pada diri Ayyub.

Percakapan para malaikat yang memuji-muji Ayyub itu didengar oleh Iblis yang sedang berada tidak jauh dari tempat mereka berkumpul. Iblis  merasa panas hati dan jengkel mendengar kata-kata pujian bagi seseorang dari  keturunan Adam yang ia telah bersumpah akan disesatkan ketika ia dikeluarkan  dari syurga kerananya. Ia tidak rela melihat seorang dari anak cucu anak Nabi Adam menjadi seorang mukmin yang baik, ahli ibadah yang tekun dan melakukan amal  soleh sesuai dengan perintah dan petunjuk Allah.

Pergilah Iblis  mendatangi Ayyub untuk menyatakan sendiri sampai sejauh mana kebenaran kata-kata  pujian para malaikat itu kepada diri Ayyub. Ternyata memang benar Ayyub patut mendapat segala pujian itu. Ia mendatangi Ayyub bergelimpangan dalam kenikmatan duniawi, tenggelam dalam kekayaan yang tidak ternilai besarnya, mengepalai keluarga yang besar yang hidup rukun, damai dan bakti.

Ia mendapati Ayyub tidak  tersilau matanya oleh kekayaan yang ia miliki dan tidak tergoyahkan imannya oleh  kenikmatan duniawinya. Siang dan malam ia sentiasa menemui Ayyub berada di  mihrabnya melakukan solat, sujud dan tasyakur kepada Allah atas segala  pemberian-Nya.

Mulutnya tidak berhenti menyebut nama Allah berzikir, bertasbih  dan bertahmid. Ayyub ditemuinya sebagai seorang yang penuh kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah yang lemah, yang lapar diberinya makan, yang telanjang diberinya pakaian, yang bodoh diajar dan dipimpin, dan yang salah  ditegur.

Bacaan Terkait :

Kisah Nabi Ayyub AS, Penyabar serta Istiqomah Atas Penyakit yang Doa Kesembuhannya Kita Amalkan

Load More

Iblis gagal dalam usahanya memujuk Ayyub. Telinga Ayyub tidak mau mendengar segala bisikannya dan fitnahannya dan hatinya yang sudah penuh dengan iman dan takwa tidak ada tempat lagi bagi bibit-bibit kesesatan yang ditaburkan  oleh Iblis. Cinta dan taatnya kepada Allah merupakan benteng yang ampuh terhadap serangan Iblis dengan peluru kebohongan dan pemutarbalikan kebenaran yang semuanya mental tidak mendapatkan sasaran pada diri Ayyub.

Akan tetapi Iblis  bukanlah Iblis jika ia berputus asa dan kegagalannya memujuk Ayyub secara  langsung. Ia pergi menghadapi kepada Allah untuk menghasut. Ia berkata :

“Wahai  Tuhan, sesungguhnya Ayyub yang menyembah dan memuji-muji-Mu, bertasbih dan  bertahmid menyebut nama-Mu, ia tidak berbuat demikian seikhlas dan setulus  hatinya kerana cinta dan taat pada-Mu. Ia melakukan itu semua dan berlaku sebagai hamba yang soleh tekun beribadah kepada-Mu hanya kerana takut akan  kehilangan semua kenikmatan duniawi yang telah Engkau kurniakan kepadanya. Ia  takut, jika ia tidak berbuat demikian, bahwa engkau akan mencabut daripadanya segala nikmat yang telah ia perolehnya berupa puluhan ribu hewan ternak,  beribu-ribu hektar tanah ladang, berpuluh-puluh hamba sahaya dan pembantu serta keluarga dan putera-puteri yang soleh dan bakti. Tidakkah semuanya itu patut  disyukuri untuk tidak terlepas dari pemilikannya dan habis terkena musibah? Di  samping itu Ayyub masih mengharapkan agar kekayaannya bertambah menjadi berlipat  ganda. Untuk tujuan dan maksud itulah Ayyub mendekatkan diri kepada-Mu dengan  ibadah dan amal-amal solehnya dan andai kata ia terkena musibah dan kehilangan semua yang ia miliki, niscaya ia akan mengubah sikapnya dan akan melalaikan  kewajibannya beribadah kepada-Mu.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman kepada Iblis :

“Sesungguhnya Ayyub adalah seorang hamba-Ku yang sangat taat kepada-Ku, ia  seorang mukmin sejati, apa yang ia lakukan untuk mendekati dirinya kepada-Ku  adalah semata-mata didorong oleh iman yang teguh dan taat yang bulat kepada-Ku.  Iman dan takwa yang telah meresap di dalam lubuk hatinya serta menguasai seluruh jiwa raganya tidak akan tergoyah oleh perubahan keadaan duniawinya. Cintanya  kepada-Ku yang telah menjiwai amal ibadah dan kebajikannya tidak akan menurun  dan menjadi kurang, musibah apa pun yang akan melanda dalam dirinya dan harta kekayaannya. Ia yakin seyakin-yakinnya bahwa apa yang ia miliki adalah  pemberian-Ku yang sewaktu-waktu dapat Aku cabut daripadanya atau menjadikannya bertambah berlipat ganda. Ia bersih dari semua tuduhan dan prasangkamu. Engkau  memang tidak rela melihat hamba-hamba-Ku anak cucu Adam berada di atas jalan yang  benar, lurus, dan tidak tersesat. Dan untuk menguji keteguhan hati Ayyub dan kebulatan imannya kepada-Ku dan kepada takdir-Ku, Aku izinkan engkau untuk  mencoba menggodanya serta memalingkannya daripada-Ku. Kerahkanlah pembantu-pembantumu menggoda Ayyub melalui harta kekayaannya dan keluarganya.  Coba binasakanlah harta kekayaannya dan cerai-beraikanlah keluarganya yang rukun dan bahagia itu dan lihatlah sampai di mana kebolehanmu menyesatkan dan merusakkan iman hamba-Ku Ayyub itu.”

Dikumpulkanlah oleh Iblis  syaitan-syaitan, pembantunya, diberitahukan bahawa ia telah mendapatkan izin dari Tuhan untuk mengganyang ayyub, merusak aqidah dan imannya serta memalingkannya dari Tuhannya yang ia sembah dengan sepenuh hati dan keyakinan.  Jalannya ialah dengan memusnahkan harta kekayaannya sehingga ia menjadi seorang  yang papa dan miskin, mencerai-beraikan keluarganya, sehingga ia menjadi sebatang kara tidak berkeluarga. Iblis berseru kepada pembantu-pembantunya itu agar melaksanakan tugas penyesatan Ayyub sebaik-baiknya dengan segala daya dan siasat  apa saja yang mereka dapat lakukan.

Dengan berbagai cara gangguan, akhirnya berhasillah kawanan syaitan itu menghancurkanluluhkan kekayaan Ayyub,  yang dimulai dengan hewan-hewan ternaknya yang bergelimpangan mati satu  persatu sehingga habis sama sekali, kemudian disusul ladang-ladang dan kebun-kebun tanamannya yang rusak menjadi kering dan gedung-gedungnya yang  terbakar habis dimakan api, sehingga dalam waktu yang sangat singkat sekali Ayyub yang kaya-raya tiba-tiba menjadi seorang papa miskin tidak memiliki selain  hatinya yang penuh iman dan takwa serta jiwanya yang besar.

Setelah  berhasil menghabiskan kekayaan dan harta milik Ayyub datanglah Iblis kepadanya  menyerupai sebagai seorang tua yang tampak bijaksana dan berpengalaman dan berkata:

“Sesungguhnya musibah yang menimpa dirimu sangat dahsyat sekali sehingga dalam waktu yang begitu sempit telah habis semua kekayaanmu dan hilang  semua harta kekayaan milikmu. Kawan-kawanmu merasa sedih ssedang musuh-musuhmu bersenang hati dan gembira melihat penderitaan yang engkau alami akibat musibah  yang susul-menyusul melanda kekayaan dan harta milikmu. Mereka bertanya-tanya,  gerangan apakah yang menyebabkan Ayyub tertimpa musibah yang hebat itu yang  menjadikannya dalam sekelip mata kehilangan semua harta miliknya. Sementara  orang dari mereka berkata bahawa mungkin kerana Ayyub tidak ikhlas dalam ibadah  dan semua amal kebajikannya dan ada yang berkata bahawa andaikan Allah, Tuhan Ayyub, benar-benar berkuasa, niscaya Dia dapat menyelamatkan Ayyub dari malapetaka, mengingat bahwa ia telah menggunakan seluruh waktunya beribadah dan  berzikir, tidak pernah melanggar perintah-Nya . Seorang lain menggunjing dengan mengatakan bahwa mungkin amal ibadah Ayyub tidak diterima oleh Tuhan, karena ia  tidak melakukan itu dari hati yang bersih dan sifat ria dan ingin dipuji dan  banyak lagi cerita-cerita orang tentang kejadian yang sangat menyedihkan itu.  Akupun menaruh simpati kepadamu, hai Ayyub dan turut bersedih hati dan berdukacita atas nasib yang buruk yang engkau telah alami.”

Iblis yang  menyerupai sebagai orang tua itu mengakhiri kata-kata hasutannya seraya memperhatikan wajah Ayyub yang tetap tenang berseri-seri tidak menampakkan tanda-tanda kesedihan atau sesalan yang ingin ditimbulkan oleh Iblis dengan  kata-kata racunnya itu.

Ayyub berkata kepadanya :

“Ketahuilah bahaa apa yang aku telah miliki berupa harta benda, gedung-gedung, tanah ladang dan hewan  ternak serta lain-lainnya semuanya itu adalah barangan titipan Allah yang  diminta-Nya kembali setelah aku cukup menikmatinya dan memanfaatkannya sepanjang  masa atau ibarat barang pinjaman yang diminta kembali oleh tuannya jika saatnya  telah tiba. Maka segala syukur dan puji bagi Allah yang telah memberikan kurniaan-Nya kepadaku dan mencabutnya kembali pula dari siapa yang Dia kehendaki  dan mencabutnya pula dari siapa saja yang Dia suka. Dia adalah yang Maha Kuasa  mengangkat derajat seseorang atau menurunkannya menurut kehendak-Nya. kami sebagai hamba-hamba makhluk-Nya yang lemah patut berserah diri kepada-Nya dan  menerima segala qadha’ dan takdir-Nya yang kadang kala kami belum dapat mengerti  dan menangkap hikmah yang terkandung dalam qadha’ dan takdir-Nya  itu.”

Selesai mengucapkan kata-kata jawabnya kepada Iblis yang sedang  duduk tercenggang di depannya, menyungkurlah Ayyub bersujud kepada Allah memohon  ampun atas segala dosa dan keteguhan iman serta kesabaran atas segala cobaan dan  ujian-Nya.

Iblis segera meninggalkan rumah Ayyub dengan rasa kecewa bahawa  racun hasutannya tidak termakan oleh hati hamba Allah yang bernama Ayyub itu.  Akan tetapi Iblis tidak akan pernah berputus asa melaksanakan sumpah yang ia  telah nyatakan di hadapan Allah dan malaikat-Nya bahawa ia akan berusaha  menyesatkan Bani Adam di mana saja mereka berada. Ia merencanakan melanjutkan  usaha gangguan dan godaannya kepada Ayyub lewat penghancuran keluarganya yang  sedang hidup rukun, damai dan saling hidup cinta mencintai dan harga menghargai. 

Iblis datang lagi menghadap kepada Tuhan dan meminta izin meneruskan usahanya  mencoba Ayyub. Berkata ia kepada Tuhan:

“Wahai Tuhan, Ayyub tidak termakan oleh  hasutanku dan sedikit pun tidak goyah iman dan aqidahnya kepada-Mu meski pun ia  sudah kehilangan semua kekayaannya dan kembali hidup papa dan miskin karena ia  masih mempunyai putera-putera yang cakap yang dapat ia andalkan untuk  mengembalikan semua yang hilang itu dan menjadi sandaran serta tumpuan hidupnya di hari tuanya. Menurut perkiraanku, Ayyub tidak akan bertahan jika musibah yang mengenai harta kekayaannya mengenai keluarganya pula, apa lagi bila ia sangat  sayang dan mencintai, maka izinkanlah aku mencoba kesabarannya dan keteguhannya  kali ini melalui godaan yang akan aku lakukan terhadap keluarganya dan  putera-puteranya yang ia sangat sayang dan cintai itu.”

Allah meluluskan  permintaan Iblis itu dan berfirman:

“Aku mengizinkan engkau mencoba sekali lagi menggoyahkan hati Ayyub yang penuh iman, tawakkal, dan kesabaran tiu dengan caramu yang lain. Namun ketahuilah bahwa engkau tidak akan berhasil mencapai  tujuanmu melemahkan iman Ayyub dan menipiskan kepercayaannya  kepada-Ku.”

Iblis lalu pergi bersama pembantu-pembantunya menuju tempat  tinggal putera-putera Ayyub di suatu gedung yang penuh dengan sarana-sarana  kemewahan dan kemegahan, lalu digoyangkanlah gedung itu hingga roboh berantakan menjatuhi dan menimbuni seluruh penghuninya. Kemudian cepat-cepatlah pergi Iblis  mengunjungi Ayyub di rumahnya, menyerupai sebagai seorang dari kawan-kawan  Ayyub, yang datang menyampaikan takziah dan menyatakan turut berdukacita atas  musibah yang menimpa puteranya. Ia berkata kepada Ayyub dalam takziahnya:

“Hai  Ayyub, sudahkah engkau melihat putera-puteramu yang mati tertimbun di bawah runtuhan gedung yang roboh akibat gempa bumi? Kiranya, wahai Ayyub, Tuhan tidak  menerima ibadahmu selama ini dan tidak melindungimu sebagai imbalan bagi amal  solehmu dan sujud rukukmu siang dan malam.”

Mendengar kata-kata Iblis  itu, menangislah Ayyub tersedu-sedu seraya berucap:

“Allahlah yang memberi dan  Dia pulalah yang mengambil kembali. Segala puji bagi-Nya, Tuhan yang Maha  Pemberi dan Maha Pencabut.”

Iblis keluar meninggalkan Ayyub dalam keadaan bersujud munajat dengan rasa jengkel dan marah kepada dirinya sendiri  karena telah gagal untuk kedua kalinya memujuk dan menghasut Ayyub. Ia pergi  menghadap Tuhan dan berkata:

“Wahai Tuhan, Ayyub sudah kehilangan semua harta  benda dan seluruh kekayaannya dan hari ini ia ditinggalkan oleh putera-puteranya  yang mati terbunuh di bawah runtuhan gedung yang telah kami hancurkan, namun ia  masih tetap dalam keadaan mentalnya yang kuat dan sehat. Ia hanya menangis  tersedu-sedu namun batinnya, jiwanya, iman dan kepercayaannya kepada-Mu tidak tergoyah sama sekali. Izinkan aku mencobanya kali ini mengganggu kesehatan  badanya dan kekuatan fisiknya, karena jika ia sudah jatuh sakit dan  kekuatannya menjadi lumpuh, niscaya ia akan mulai malas melakukan ibadah dan  lama-kelamaan akan melalaikan kewajibannya kepada-Mu dan menjadi lunturlah iman  dan akidahnya.”

Allah tetap menentang Iblis bahwa ia tidak akan berhasil dalam usahanya menggoda Ayyub walau bagaimana pun besarnya musibah yang ditimpakan kepadanya dan bagaimana pun beratnya cobaan yang dialaminya. Karena Allah telah menetapkan dia menjadi teladan kesabaran, keteguhan iman, dan  ketekunan beribadah bagi hamba-hamba-Nya.

Allah berfirman kepada Iblis: 

“Bolehlah engkau mencuba lagi usahamu mengganggu kesehatan badan dan kekuatan  fisik Ayyub. Aku akan lihat sejauh mana kepandaianmu mengganggu dan menghamba  pilihan-Ku ini.”

Iblis lalu memerintahkan kepada anak buahnya agar  menaburkan benih-benih baksil penyakit ke dalam tubuh Ayyub. Baksil-baksil yang  ditaburkan itu segera mengganyang kesehatan Ayyub yang menjadikan ia menderita  berbagai-bagai penyakit, deman panas, batuk dan lain-lain lagi sehingga menyebabkan badannya makin lama makin kurus, tenaganya makin lemah dan wajahnya menjadi pucat tidak berdarah dan kulitnya menjadi berbintik-bintik.

Ia akhirnya dijauhi oleh orang-orang sekampungnya dan oleh kawan-kawan dekatnya, karena  penyakit Ayyub dapat menular dengan cepatnya kepada orang-orang yang  menyentuhnya atau mendekatinya. Ia menjadi terasing daripada pergaulan orang di tempatnya dan hanya isterinyalah yang tetap mendampinginya, merawatnya dengan  penuh kesabaran dan rasa kasih sayang, melayani segala keperluannya tanpa mengeluh atau menunjukkan tanda kesal hati dari penyakit suaminya yang tidak  kunjung sembuh itu.

Iblis memperhatikan Ayyub dalam keadaan yang sudah  amat parah itu tidak meninggalkan adat kebiasaannya, ibadahnya, zikirnya, ia  tidak mengeluh, tidak bergaduh, ia hanya menyebut nama Allah memohon ampun dan lindungan-Nya bila ia merasakan sakit.

Iblis merasa kesal hati dan jengkel  melihat ketabahan hati Ayyub menanggung derita dan kesabarannya menerima  berbagai musibah dan ujian. Iblis kehabisan akal, tidak tahu apa usaha lagi yang  harus diterapkan bagi mencapai tujuannya merusakkan aqidah dan iman Ayyub. Ia  lalu meminta bantuan fikiran dari para kawan-kawan pembantunya, apa yang harus  dilakukan lagi untuk menyesatkan Ayyub setelah segala usahanya gagal tidak  mencapai sasarannya.

Bertanya mereka kepadanya: “Di manakah kepandaianmu dan tipu dayamu yang ampuh serta kelincinanmu menyebar benih was-was dan ragu ke  dalam hati manusia yang biasanya tidak pernah sia-sia?” Seorang pembantu lain berkata: “Engkau telah berhasil mengeluarkan Adam dari syurga, bagaimanakah  engkau lakukan itu semuanya sampai berhasilnya tujuanmu itu?”

“Dengan memujuk  isterinya”, jawab Iblis. “Jika demikian” berkata syaitan itu kembali,  “Laksanakanlah siasat itu dan terapkanlah terhadap Ayyub, hembuskanlah racunmu ke telinga isterinya yang tampak sudah agak kesal merawatnya, namun masih tetap  patuh dan setia.”

“Benarlah dan tepat fikiranmu itu,” kata Iblis, “Hanya  tinggal itulah satu-satu jalan yang belum aku coba. Pasti kali ini dengan cara  menghasut isterinya aku akan berhasil melaksanakan akan maksudku selama  ini.”

Dengan rencana barunya pergilah Iblis mendatangi isteri Ayyub, menyamar  sebagai seorang kawan lelaki yang rapat dengan suaminya. Ia berkata kepada  isteri Ayyub: “Apa kabar dan bagaimana keadaan suamimu di ketika  ini?”

Seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah suaminya, berkata isteri  Ayyub kepada Iblis itu, tamunya: “Itulah dia terbaring menderita kesakitan, namun mulutnya tidak henti-hentinya berzikir menyebut nama Allah. Ia masih berada dalam keadaan parah, mati tidak hidup pun tidak.”

Kata-kata isteri  Ayyub itu menimbulkan harapan bagi Iblis bahawa ia kali ini akan berhasil maka  diingatkanlah isteri Ayyub akan masa mudanya di mana ia hidup dengan suaminya  dalam keadaan sehat, bahagia dan makmur dan dibawakannyalah kenang-kenangan dan  kemesraan.

Kemudian keluarlah Iblis dari rumah Ayyub meninggalkan isteri Ayyub  duduk termenung seorang diri, mengenangkan masa lampaunya, masa kejayaan  suaminya dan kesejahteraan hidupnya, membanding-bandingkannya dengan masa di  mana berbagai penderitaan dan musibah dialaminya, yang dimulai dengan musnahnya  kekayaan dan harta-benda, disusul dengan kematian puteranya, dan kemudian yang  terakhirnya diikuti oleh penyakit suaminya yang parah yang sangat menjemukan  itu. Isteri Ayyub merasa kesepian berada di rumah sendirian bersama suaminya  yang terbaring sakit, tiada sahabat tiada kerabat, tiada handai, tiada taulan,  semua menjauhi mereka kerana kuatir tertular penyakit kulit Ayyub yang  menular dan menjijikkan itu.

Seraya menarik nafas panjang datanglah isteri Ayyub mendekati suaminya yang sedang menderita kesakitan dan  berbisik-bisik kepadanya berkata: “Wahai sayangku, sampai bilakah engkau  tersiksa oleh Tuhanmu ini? Di manakah kekayaanmu, putera-puteramu, sahabat-sahabatmu dan kawan-kawan terdekatmu? Oh, alangkah syahdunya masa lampau  kami, usia muda, badan sehat, sarana kebahagiaan dan kesejahteraan hidup  tersedia dikelilingi oleh keluarga dan terulang kembali masa yang manis itu?  Mohonlah wahai Ayyub dari Tuhanmu, agar kami dibebaskan dari segala penderitaan  dan musibah yang berpanjangan ini.”

Berkata Ayyub menjawab keluhan  isterinya:

“Wahai isteriku yang kusayangi, engkau menangisi kebahagiaan dan  kesejahteraan masa yang lalu, menangisi anak-anak kita yang telah mati diambil  oleh Allah dan engkau minta aku memohon kepada Allah agar kami dibebaskan dari  kesengsaraan dan penderitaan yang kami alami masa kini. Aku hendak bertanya kepadamu, berapa lama kita menikmati masa hidup yang mewah, makmur dan  sejahtera itu?”

“Lapan puluh tahun,” jawab isteri Ayyub.

“Lalu berapa lama kita  telah hidup dalam penderitaan ini?” tanya lagi Ayyub.

“Tujuh tahun,” jawab si  isteri.

“Aku malu,” Ayyub melanjutkan jawabannya, “Memohon dari Allah  membebaskan kita dari sengsaraan dan penderitaan yang telah kita alami belum sepanjang masa kejayaan yang telah Allah kurniakan kepada kita. Kiranya engkau telah termakan hasutan dan bujukan syaitan, sehingga mulai menipis imanmu dan kesal hati menerima taqdir dan hukum Allah. Tunggulah ganjaranmu kelak jika  aku telah sembuh dari penyakitku dan kekuatan badanku pulih kembali. Aku akan  mencambukmu seratus kali. Dan sejak detik ini aku haramkan diriku makan dan minum dari tanganmu atau menyuruh engkau melakukan sesuatu untukku.  Tinggalkanlah aku seorang diri di tempat ini sampai Allah menentukan  taqdir-Nya.”

Setelah ditinggalkan oleh isterinya yang diusir, maka Nabi Ayyub tinggal seorang diri di rumah, tiada sanak saudara, tiada anak dan tiada  isteri. Ia bermunajat kepada Allah dengan sepenuh hati memohon rahmat dan kasih  sayang-Nya. Ia berdoa:

“Wahai Tuhanku, aku telah diganggu oleh syaitan dengan  kepayahan dan kesusahan serta siksaan dan Engkaulah wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”

Allah menerima doa Nabi Ayyub yang telah mencapai puncak kesabaran dan keteguhan iman serta berhasil memenangkan  perjuangannya melawan hasutan dan bujukan Iblis. Allah mewahyukan firman  kepadanya:

“Hantamkanlah kakimu ke tanah. Dari situ air akan memancur dan dengan  air itu engkau akan sembuh dari semua penyakitmu dan akan pulih kembali  kesehatan dan kekuatan badanmu jika engkau gunakannya untuk minum dan  mandimu.”

Dengan izin Allah setelah dilaksanakan petunjuk Illahi itu, sembuhlah segera Nabi Ayyub dari penyakitnya, semua luka-luka kulitnya menjadi  kering dan segala rasa pedih hilang, seolah-olah tidak pernah terasa olehnya. Ia  bahkan kembali menampakkan lebih sehat dan lebih kuat daripada sebelum ia  menderita.

Dalam pada itu isterinya yang telah diusir dan meninggalkan dia  seorang diri di tempat tinggalnya yang terasing, jauh dari tetangga, jauh dari  keramaian kota, merasa tidak sampai hati lebih lama berada jauh dari suaminya,  namun ia hampir tidak mengenalnya kembali, karena bukanlah Ayyub yang  ditinggalkan sakit itu yang berada di depannya, tetapi Ayyub yang muda belia,  segar bugar, sehat afiat seakan-akan tidak pernah sakit dan menderita. Ia segera  memeluk suaminya seraya bersyukur kepada Allah yang telah memberikan rahmat dan kurnia-Nya mengembalikan kesehatan suaminya bahkan lebih baik daripada keadaan  asalnya.

Nabi Ayyub telah bersumpah sewaktu ia mengusir isterinya akan  mencambuknya seratus kali bila ia sudah sembuh. Ia merasa wajib melaksanakan  sumpahnya itu, namun merasa kasihan kepada isterinya yang sudah menunjukkan  kesetiaannya dan menyekutuinya di dalam segala duka dan deritanya. Ia bingung, hatinya terombang-ambing oleh dua perasaan, ia merasa wajib melaksanakan  sumpahnya, tetapi isterinya yang setia dan bakti itu tidak patut, kata hatinya,  menjalani hukuman yang seberat itu.

Akhirnya Allah memberi jalan keluar baginya  dengan firman-Nya: “Hai Ayyub, ambillah dengan tanganmu seikat rumput dan  cambuklah isterimu dengan rumput itu seratus kali sesuai dengan sesuai dengan  sumpahmu, sehingga dengan demikian tertebuslah sumpahmu.”

Nabi Ayyub dipilih oleh Allah sebagai nabi dan teladan yang baik bagi hamba-hamba-Nya dalam  hal kesabaran dan keteguhan iman sehingga kini nama Ayyub disebut orang sebagai simbol kesabaran. Orang menyatakan si Fulan memiliki kesabaran Ayyub dan  sebagainya. Dan Allah telah membalas kesabaran dan keteguhan iman Ayyub bukan  saja dengan memulihkan kembali kesehatan badannya dan kekuatan fisiknya kepada  keadaan seperti masa mudanya, bahkan dikembalikan pula kebesaran duniawinya dan  kekayaan harta-bendanya dengan berlipat gandanya.

Juga kepadanya dikaruniakan lagi putera-putera sebanyak yang telah hilang dan mati dalam musibah yang ia  telah alami. Demikianlah rahmat Tuhan dan kurnia-Nya kepada Nabi Ayyub yang  telah berhasil melalui masa ujian yang berat dengan penuh sabar, tawakkal dan  beriman kepada Allah.

Kisah Ayyub di atas dapat dibaca dalam Al-Quran  surah Shaad ayat 41 sehingga ayat 44 dan surah Al-Anbiaa’ ayat 83 dan 84. Wallahua’lam. (adm/Dikutip dari Kisah 25 Nabi & Rasul)

Tags: Kisah Nabi AyyubNabi Ayyub AlaihissalamNabi Ayyub ASNabi Paling SabarSimbol Kesabaran
ShareTweetSendShare
Previous Post

Dihentikan, ChatGPT yang Sebelumnya Memberikan Saran untuk Putus dengan Pasangan

Next Post

Investigasi Gabungan Mengungkap Israel Menyimpan Pengawasan Massal Terhadap Warga Palestina di Server Microsoft Eropa

Mungkin Anda Juga Suka :

Sufi Wanita yang Akan Menggenggam Tauhid Demi Menagih Janji Allah

Sufi Wanita yang Akan Menggenggam Tauhid Demi Menagih Janji Allah

13 April 2026

...

Mustajabnya Doa Sahabat Rasulullah SAW Sa’ad bin Abi Waqqash yang Difitnah oleh Usamah bin Qatadah

Mustajabnya Doa Sahabat Rasulullah SAW Sa’ad bin Abi Waqqash yang Difitnah oleh Usamah bin Qatadah

28 Maret 2026

...

Ancaman Bagi yang Berbuat Dzolim Menurut Al Qur’an dan Hadis, Agar Segera Meminta Kehalalan atau Maafnya

Ancaman Bagi yang Berbuat Dzolim Menurut Al Qur’an dan Hadis, Agar Segera Meminta Kehalalan atau Maafnya

23 Maret 2026

...

Sahabat Abu Dzar al-Ghifari, Pria Zuhud Berasal dari Kabilah yang Suka Merampok

Sahabat Abu Dzar al-Ghifari, Pria Zuhud Berasal dari Kabilah yang Suka Merampok

2 Januari 2026

...

Kisah Pria yang Akhirnya Dikeluarkan dari Neraka dan Terakhir Masuk Surga

Kisah Pria yang Akhirnya Dikeluarkan dari Neraka dan Terakhir Masuk Surga

30 Desember 2025

...

Load More
Next Post
Google Luncurkan Teknologi Passkey untuk Gantikan Password

Investigasi Gabungan Mengungkap Israel Menyimpan Pengawasan Massal Terhadap Warga Palestina di Server Microsoft Eropa

Kisah Nabi Zulkifli Alaihissalam, Raja yang Sabar Menghadapi Segala Urusan dan Suka Berpuasa

Kisah Nabi Zulkifli Alaihissalam, Raja yang Sabar Menghadapi Segala Urusan dan Suka Berpuasa

Discussion about this post

TERKINI

Google Diduga Memecat Insinyur AI Karena Memprotes Pekerjaan untuk Pemerintah Israel dalam Kejahatan Perang

22 Mei 2026

Tikus ‘Menyerbu ‘Pangkalan Pelatihan AL Israel di Haifa Hingga Bau Busuk, Dapur Dikuasai dan Masuk ke Panci

21 Mei 2026

Penyakit Hati yang Merusak Diri Menurut Al Qur’an dan Hadits

21 Mei 2026

Direktur Pusat Islam San Diego Mengutuk Serangan Islamophobia di Masjid San Diego

20 Mei 2026

Warga AS Menanggung Biaya Bahan Bakar Tambahan Lebih dari  40 Miliar Dolar Setelah Sejak Ikut Israel Perang Menyerang Iran

19 Mei 2026

Berkontribusi Besar Mencetak SDM Unggul, PTS Harus Setara dengan Kampus Negeri

19 Mei 2026

Luwesnya Chintya Dian Astuti, Wakil Ketua Kadin Pelestarian Hutan & Sungai Konsisten Jaga Lingkungan

18 Mei 2026

Jemaah Lansia dan Risiko Tinggi Akan Ikut Skema Murur, Kurangi Kepadatan di Muzdalifah

17 Mei 2026

Judi Online Makan Korban 200 Ribu Anak Indonesia, Termasuk 80 ribu Anak di Bawah 10 Tahun

16 Mei 2026

Man with Leaps, Guz Reza Syarief yang Kini Tidak Hanya Memotivasi Seni Memimpin, Tapi Juga Berdakwah

16 Mei 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video