Avesiar – Jakarta
Pelemahan ekonomi serta daya beli atau resesi merupakan penurunan aktivitas ekonomi secara signifikan dalam jangka waktu yang panjang. Dampaknya tak hanya dirasakan pemerintah, melainkan hingga ke masyarakat.
Mencermati kondisi tersebut, sebenarnya dampak apa saja yang dapat dirasakan oleh masyarakat ketika resesi terjadi?
Beberapa dampak resesi yang berisiko dialami masyarakat di antaranya kenaikan harga kebutuhan pokok, pemutusan kerja, kenaikan harga pasokan energy, sampai dengan naiknya angka kemiskinan.
Untuk itu, masyarakat harus memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengelola keuangan pribadi agar tetap stabil meski ada faktor risiko yang terjadi.
Dikutip dari berbagai sumber, simak 11 (sebelas) tips dalam mengatur keuangan yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi resesi ekonomi
1. Evaluasi Kondisi Keuangan Saat Ini
Periksa arus kas, utang, dan pengeluaran. Identifikasi mana yang bisa dikurangi atau dihilangkan untuk mempertahankan stabilitas keuangan.
2. Tetap Optimis dan Fleksibel
Situasi ekonomi bisa berubah dengan cepat. Tetaplah berpikir positif dan bersiap untuk beradaptasi dengan kondisi yang terus berkembang.
3. Jaga Kesehatan dan Optimalkan Asuransi
Ketika kondisi keuangan sedang tidak menentu, jatuh sakit tanpa proteksi bisa menjadi bencana finansial. Biaya medis yang tinggi berpotensi menguras tabungan dalam sekejap.
Sebagian pegawai umumnya sudah memiliki BPJS Kesehatan. Namun, apabila dirasa perlindungannya belum cukup, terutama untuk penyakit tertentu, tidak ada salahnya Anda mempertimbangkan tambahan asuransi kesehatan. Dana yang bisa dialokasikan untuk asuransi kesehatan ini sekitar 5-10 persen dari penghasilan bulanan.
Selain itu, investasi kesehatan juga penting dilakukan melalui olahraga rutin, konsumsi makanan bergizi, dan pola hidup sehat. Jika kondisi keuangan Anda masih terbatas, pengeluaran konsumtif seperti rokok dapat mulai dikurangi agar anggaran lebih produktif.
4. Siapkan Alokasi Dana Darurat yang Lebih Besar
Karena dimaksudkan sebagai dana cadangan, persiapan dana darurat idealnya minimal sebesar tiga kali pengeluaran rutin bulanan atau dana tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengantisipasi kalau seseorang mengalami hal buruk atau dilanda musibah.
Anda dapat mengalokasikan minimal 10% penghasilan bulanan, dan menentukan tempat penyimpanan dana darurat yang aman dan terpercaya melalui bank, reksa dana pasar uang, atau deposito.
Langkah ini dilakukan sebagai financial buffer atau sejumlah dana yang disisihkan dan disimpan untuk menghadapi situasi tak terduga yang dapat menyebabkan masyarakat kesulitan keuangan.
5. Cari Alternatif untuk Mendapatkan Penghasilan Tambahan
Banyak sekali cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Anda dapat mengembangkan hobi dan keterampilan yang menguntungkan untuk dijadikan sumber penghasilan pasif.
Apalagi era digital menciptakan peluang baru dan menawarkan kemudahan untuk mendapatkan penghasilan tambahan karena bisa dilakukan secara online tanpa harus keluar rumah.
Bermodalkan jaringan internet, masyarakat dapat membangun usaha dalam bentuk produk maupun jasa dengan mudah. Salah satu contohnya adalah pekerjaan dropshipper yang bertugas menjadi penghubung antara penjual dan pembeli barang. pekerjaan ini dapat dimulai tanpa modal dan menentukan sendiri produk apa yang ingin di jual, cukup mengandalkan kemampuan menjual saja.
6. Hindari Hutang Jangka Panjang
Suku bunga bank akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan pada saat resesi terjadi. Untuk saat ini, tidak disarankan untuk mengambil pinjaman berjangka panjang. Kurangi perilaku konsumtif dan mulai mengatur strategi rencana keuangan ke depan.
Sebagai alternatif, masyarakat dapat beralih ke perbankan syariah yang mampu mengelola dana publik dengan siklus bisnis yang sehat melalui akad yang jelas di awal.
7. Tetap Lakukan Pengeluaran Namun Sewajarnya
Konsumsi Anda sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun tetap perlu diperhatikan prioritas untuk kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Pastikan membeli hal-hal yang memang dibutuhkan, bukan hanya keinginan semata.
Dengan mengatur pengeluaran dan pendapatan dengan baik, dapat membantu terpeliharanya keuangan yang sehat di tengah ketidakpastian situasi ekonomi.
Akan lebih baik jika Anda mempersiapkan pengelolaan keuangan yang baik dari sekarang sebelum timbulnya krisis ekonomi. Seperti kata pepatah “sedia payung sebelum hujan”, alangkah baiknya kalau kita dapat mengantisipasi masalah, sebelum masalah itu terjadi.
8. Cermat Dalam Memilih Investasi yang Aman
Investasi dikenal sebagai cara ampuh meningkatkan penghasilan, namun di sisi lain juga sangat berisiko mengalami kerugian. Anda harus memahami dengan betul produk investasi yang ingin dikembangkan. Butuh pengetahuan lebih untuk memilih produk investasi yang menguntungkan di tengah ancaman resesi.
Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menjelaskan bahwa ketika resesi datang, maka instrumen investasi yang paling pantas dipilih untuk ‘menggandakan’ uang adalah instrumen yang tidak mudah terpengaruh sentimen perlambatan ekonomi, contohnya emas.
Secara umum harga emas akan stabil atau cenderung naik. Oleh karena itu, Anda dapat beralih ke investasi yang tepat mulai dari sekarang ketika ekonomi masih cenderung stabil.
9. Negosiasikan Kewajiban Finansial
Jika memiliki utang atau cicilan, coba negosiasikan dengan pihak terkait untuk mendapatkan keringanan atau perpanjangan waktu pembayaran. Banyak institusi keuangan yang menawarkan program bantuan di masa krisis.
10. Tingkatkan Literasi Keuangan
Pelajari strategi manajemen keuangan yang lebih efektif. Banyak sumber online yang bisa membantu memahami cara mengelola uang dengan lebih baik.
11. Cek Kembali Biaya Langganan Bulanan Anda
Tanpa disadari, biaya langganan digital sering kali menjadi pengeluaran rutin yang cukup besar. Mulai dari platform hiburan, layanan streaming, hingga penyimpanan cloud untuk pekerjaan. Akumulasi biaya langganan kecil yang tidak terkontrol dapat membebani pengeluaran bulanan dan mengurangi kemampuan menabung.
Karena itu, penting untuk mengecek kembali layanan apa saja yang benar-benar digunakan dan mana yang sebenarnya sudah tidak diperlukan.
Untuk kebutuhan kerja, biaya langganan masih bisa diprioritaskan. Namun, kapasitas atau paket layanan tetap perlu disesuaikan agar lebih efisien. Sementara itu, pengeluaran hiburan sebaiknya dibatasi agar tidak melebihi 5 persen dari penghasilan bulanan.
(put/dari berbagai sumber)












Discussion about this post