Avesiar – Jakarta
Rezeki berupa harta adalah anugerah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang harus dimanfaatkan dengan bijak. Dalam Islam, pengelolaan harta bukan hanya sekadar mencari dan menggunakannya, tetapi juga bagaimana membelanjakannya dengan penuh pertimbangan.
Islam melarang sikap boros, karena pemborosan dapat membawa banyak dampak negatif, baik bagi individu maupun masyarakat. Dikutip dari berbagai sumber, penjelasan tentang sikap boros berikut semoga menjadikan kita berhati-hati.
Dalam Surah Al-Isra’ ayat 26-27, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan peringatan keras mengenai hal ini:
“Berikanlah kepada kerabat dekat haknya, (juga kepada) orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra: 26-27)
Dalam ayat Al Qur’an ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala memperingatkan dengan tegas bahwa pemboros adalah saudara dari setan. Dan setan itu sangat ingkar terhadap Tuhan. Sebab, orang yang boros membelanjakan harta secara sembarangan tanpa perhitungan, bahkan untuk hal yang tidak bermanfaat.
Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya, bahwa “tabdzir” (pemborosan) adalah menggunakan harta tidak pada tempatnya yang benar. Sedangkan Imam Syafi’i menambahkan bahwa mubazir adalah membelanjakan harta di luar jalannya,
Kemudian Imam Malik juga menjelaskan bahwa meskipun seseorang mengeluarkan hartanya di jalan yang benar, jika dilakukan dengan cara yang berlebihan maka tetap termasuk mubazir.
Pendapat serupa dikemukakan oleh Qatadah, yang menyatakan bahwa “Tabdzir” adalah mengeluarkan harta untuk hal-hal yang tidak diridai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dengan demikian, Islam tidak hanya melarang membuang harta secara sia-sia, tetapi juga menekankan pentingnya menyalurkan harta ke arah yang lebih bermanfaat, seperti membantu fakir miskin dan beramal untuk kepentingan umat.
Hidup Hemat Bukan Berarti Kikir
Sebagian orang salah mengartikan konsep hidup hemat dengan sifat kikir. Padahal, Islam sangat menentang sifat kikir sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nisa’ ayat 37:
“(Yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir, serta menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.” (QS. An-Nisa: 37)
Dalam ayat ini, Allah mengecam mereka yang kikir dan menahan hartanya untuk kepentingan pribadi, tanpa mau berbagi kepada sesama. Oleh karena itu, keseimbangan dalam mengatur keuangan sangatlah penting.
Seorang Muslim dianjurkan untuk tidak boros, tetapi juga tidak pelit dalam bersedekah dan membantu orang lain.
Tidak hanya Al Qur’an, terdapat pula hadits-hadits yang menegaskan larangan berperilaku boros, di antaranya :
Hadits Riwayat Muslim Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Makan, minum, dan berpakaianlah serta bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan tanpa kesombongan.” (HR. Muslim)
Hadits ini menekankan bahwa Islam memperbolehkan menikmati rezeki yang diberikan oleh Allah, tetapi harus dalam batas kewajaran tanpa sikap berlebihan.
Hadits Riwayat Tirmidzi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan.” (HR. Tirmidzi)
Hadits di atas mengajarkan kita memahami bahwa Islam selalu mengajarkan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam membelanjakan harta.
Dampak Negatif Pemborosan
Pemborosan bukan hanya bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi juga membawa dampak buruk, di antaranya :
• Menimbulkan Kebiasaan Hidup Konsumtif
Seseorang yang terbiasa boros akan sulit mengendalikan keinginan, sehingga terjerumus dalam gaya hidup konsumtif.
• Membuat Ekonomi Tidak Stabil
Boros dalam pengeluaran dapat menyebabkan seseorang terjerat utang atau kesulitan keuangan di kemudian hari.
• Menjauhkan dari Sifat Syukur
Orang yang boros sering kali kurang menghargai nikmat yang telah diberikan Allah, sehingga lebih mudah mengeluh ketika hartanya berkurang.
• Melemahkan Ketahanan Ekonomi Umat
Jika masyarakat lebih banyak memboroskan harta dibanding menyalurkannya untuk hal-hal produktif, maka ketahanan ekonomi umat Islam akan melemah.
Cara Menghindari Pemborosan
Agar terhindar dari sifat boros, berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan :
• Membuat Anggaran Keuangan.
Merencanakan pengeluaran dengan cermat membantu mengontrol kebiasaan boros.
• Membedakan Kebutuhan dan Keinginan.
Jangan mudah tergoda untuk membeli sesuatu yang tidak benar-benar dibutuhkan.
• Menyisihkan Harta untuk Sedekah.
Menyalurkan sebagian harta untuk membantu orang lain dapat menghindarkan diri dari pemborosan.
• Meneladani Hidup Sederhana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan dalam kehidupan sehari-hari.
Islam mengajarkan keseimbangan dalam membelanjakan harta. Boros adalah perilaku yang dicela dalam Islam dan dapat membawa dampak negatif dalam kehidupan. Oleh karena itu, seorang Muslim harus mengelola keuangan dengan bijak, memastikan setiap pengeluaran memiliki manfaat, dan selalu mengingat bahwa harta yang dimiliki adalah amanah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang harus digunakan dengan tanggung jawab.
Dengan menerapkan prinsip hidup hemat dan sederhana, seorang Muslim tidak hanya menjaga kestabilan finansialnya tetapi juga mendapat berkah dalam kehidupan dunia dan akhirat. Semoga kita semua dapat menghindari sifat boros dan menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur dan bertanggung jawab atas rezeki yang diberikan-Nya.
Komentar para Ibu mengenai sikap boros dan hemat
Sandra Iriani

Bijak Kelola Uang Sejak Dini, Hidup hemat adalah kunci menjalani kehidupan yang seimbang dan terencana. Hal ini disampaikan oleh Sandra Iriani mengenai pentingnya menerapkan gaya hidup hemat dalam keluarga.
“Hidup hemat adalah gaya hidup yang tidak berlebihan dan bijak dalam menggunakan uang,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa hidup hemat dapat diwujudkan dengan menggunakan sesuatu secara cermat, mengontrol pengeluaran, mencari alternatif lebih murah, dan menjaga keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Menurutnya, dalam Islam pun, hidup hemat merupakan sifat yang terpuji dan disukai Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Sandra juga menekankan pentingnya mendidik anak agar hidup hemat sejak dini. “Caranya dengan memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, menjelaskan konsep menabung, dan membedakan kebutuhan serta keinginan,” ujarnya.
Ia mengaku selalu mengajak anak berdiskusi sebelum membeli sesuatu dan mengajarkan mereka menabung terlebih dahulu.
Saat ditanya bagaimana membedakan kebutuhan dan keinginan, Sandra menjawab, “Kebutuhan adalah hal yang wajib dipenuhi untuk kelangsungan hidup, sedangkan keinginan hanya untuk kenyamanan dan bisa ditunda.” Ia menambahkan bahwa penting untuk menghindari sikap FOMO dan memprioritaskan barang yang benar-benar dibutuhkan.
Dengan pengendalian diri dan kebiasaan hemat yang diterapkan dalam keluarga, Sandra berharap anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang bijak dalam mengelola keuangan sejak dini.
Hendri Rahayu

Menurut Hendri Rahayu, hidup hemat berarti mampu membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. “Kalau mengikuti kemauan terus, maunya pasti banyak,” ujarnya.
Ia mengajarkan hidup hemat kepada anaknya, Salma, sejak kecil dengan cara membiasakan menabung dari uang jajan. “Tujuannya, kalau ada kebutuhan mendadak, Salma sudah punya simpanan sendiri,” jelasnya.
Untuk membedakan kebutuhan dan keinginan, Hendri biasanya membuat daftar prioritas. Ia menilai setiap barang berdasarkan urgensinya: apakah termasuk kebutuhan pokok atau hanya keinginan semata. “Kalau pun mau membeli karena keinginan, tetap harus dilihat juga harganya apakah murah dan efektif,” tambahnya.
Bagi Hendri, hidup hemat bukan soal menahan diri, tapi tentang membuat keputusan bijak dalam mengatur keuangan sehari-hari.
Wati Susilawati

Menurut Wati Susilawati, hidup hemat adalah gaya hidup bijak dalam menggunakan uang demi menciptakan kehidupan yang lebih stabil. “Hemat itu bukan soal pelit, tapi soal memilih yang penting dan bermanfaat,” ujarnya.
Ia membiasakan anak-anaknya untuk membeli barang sesuai kebutuhan, hidup sederhana, rajin menabung untuk masa depan, dan memperbaiki kebiasaan seperti sering jajan.
Wati juga menekankan pentingnya memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. “Kebutuhan adalah hal dasar untuk hidup, sementara keinginan hanyalah hasrat yang bisa ditunda,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa keinginan sering dipengaruhi oleh tren, iklan, bahkan tontonan di media sosial seperti live TikTok. “Intinya, utamakan kebutuhan. Keinginan bisa nanti-nanti aja,” tutupnya dengan santai. (Resty)











Discussion about this post