Avesiar – Cerpen dan Puisi
Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 1)
Oleh: Mas Ngabehi
***************
Pencarian Makna Cinta
Senja merayap perlahan di langit Yogyakarta. Cahaya jingga membias di atas bangunan kolonial di sekitar Titik Nol Kilometer, mewarnai jalanan yang mulai padat dengan pejalan kaki dan wisatawan. Di bangku taman, di bawah pohon rindang, Azzam duduk termenung.
Tatapannya kosong, menembus lalu-lalang orang yang sibuk dengan dunianya masing-masing. Dalam dekapan angin sore yang berembus lembut, pikirannya berkelana jauh, menelusuri lorong-lorong hati yang dipenuhi kegelisahan.
Hatinya tengah berperang. Sejak pertama kali mengenal Nadia, hidupnya tak lagi sama. Wanita itu adalah representasi dari kebaikan dan keteguhan iman. Wajahnya bercahaya dengan jilbab sederhana, kata-katanya menyejukkan hati, dan tingkah lakunya penuh adab.
Setiap kali melihatnya, Azzam merasakan ketenangan. Namun, di saat yang sama, ia juga merasakan kegundahan yang mendalam.
“Ya Allah… Apakah perasaan ini berkah atau cobaan?” bisik hatinya.
Dilema itu semakin kuat setiap kali ia bertemu Nadia di Masjid Gede Kauman, tempat mereka sering mengikuti kajian Islam. Di sana, ia duduk dalam lingkaran ilmu, mendengar tausiyah tentang cinta yang seharusnya membawa manusia lebih dekat kepada-Nya.
Namun, semakin ia mencintai Nadia, semakin ia merasa hatinya bergantung pada sesuatu yang fana. Ia takut perasaan itu justru menjauhkannya dari Allah.
Azzam menghela napas panjang. Bayangan perbincangan terakhirnya dengan Nadia kembali terputar dalam ingatannya. Kala itu, mereka bertemu di sudut perpustakaan Universitas Gadjah Mada setelah menghadiri seminar keislaman.
“Azzam, cinta itu bukan sekadar tentang memiliki seseorang di dunia ini,” ujar Nadia dengan lembut.
“Cinta sejati adalah yang mendekatkan kita pada Allah, bukan sebaliknya. Jika perasaan ini justru membuat kita lalai, maka itu tanda bahwa kita harus bermuhasabah.”
Azzam terdiam. Kata-kata itu begitu dalam menusuk relung hatinya. Ia menyadari bahwa selama ini, ia terlalu sibuk memikirkan bagaimana bisa bersama Nadia, tetapi lupa untuk menata hatinya agar tetap berada di jalan-Nya.
“Tapi Nadia… bagaimana jika aku benar-benar mencintaimu?” tanyanya dengan suara lirih.
Nadia tersenyum samar. “Cintailah aku dalam doamu, Azzam. Jika memang Allah menakdirkan kita bersama, maka tidak ada yang bisa menghalangi. Namun, jika tidak, maka yakinlah, Allah punya rencana yang lebih baik.”
Jawaban itu mengiris hati Azzam. Bukan karena penolakan, melainkan karena kebenaran yang tak bisa ia sangkal. Cinta bukanlah tentang memaksa kehendak, melainkan tentang merelakan hati untuk tunduk pada ketetapan-Nya.
Langit senja mulai beralih ke ungu keemasan. Azzam bangkit dari duduknya, melangkah pelan menuju Alun-Alun Kidul. Ia ingin mencari ketenangan, tapi justru semakin tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepalanya.
“Apakah aku mencintainya dengan cara yang salah? Apakah aku terlalu terikat pada dunia ini hingga lupa pada keabadian?”
Angin malam mulai terasa dingin, menghembuskan kesejukan yang menyentuh kulit dan hatinya yang gundah. Dalam kebimbangan itu, ia memutuskan untuk kembali ke Masjid Gede Kauman, bersujud di hadapan-Nya, mencari jawaban atas kegelisahan yang tak kunjung reda.
Saat takbir pertama menggema, hatinya mulai merasa ringan. Ia sadar bahwa cinta yang sejati bukanlah yang dipenuhi ambisi untuk memiliki, tetapi yang mengantarkan jiwa semakin dekat kepada-Nya.
Malam itu, dalam sujud panjangnya, Azzam berikrar untuk bermuhasabah, menata hati, dan membiarkan takdir berjalan sesuai kehendak Sang Maha Cinta.
Cinta yang Tak Direstui Takdir
Azzam duduk di bangku kayu yang terletak di sudut Perpustakaan Pusat Universitas Gadjah Mada. Tangannya menggenggam erat sebuah buku tafsir Al-Qur’an yang sejak tadi terbuka, tetapi pikirannya melayang jauh.
Di seberangnya, Nadia, gadis yang diam-diam mengisi relung hatinya, sibuk membaca. Suasana tenang perpustakaan semakin membuat detak jantung Azzam terdengar jelas di telinganya sendiri. Hari ini, ia sudah bertekad. Ia harus mengungkapkan perasaannya.
“Nadia…” panggilnya pelan. Gadis itu mengangkat wajahnya, tersenyum lembut, dan menutup buku di hadapannya.
“Iya, Azzam?”
Azzam menarik napas dalam. “Aku ingin berbicara sesuatu yang penting. Tentang… tentang perasaanku.”
Nadia menunduk sejenak, sebelum kembali menatap Azzam dengan sorot mata yang tenang. “Aku mendengarkan.”
Azzam menggenggam buku tafsirnya semakin erat, berusaha mencari kata yang tepat.
“Sejak pertama kali kita bertemu di kajian Masjid Gede Kauman, aku selalu merasa kagum padamu. Cara kau memahami Islam, ketulusanmu dalam menuntut ilmu, dan kelembutan hatimu. Aku merasa… perasaanku ini lebih dari sekadar kagum. Aku ingin mengenalmu lebih dalam, dalam ikatan yang halal dan diridai Allah.”
Nadia diam sejenak. Azzam bisa melihat ada kebimbangan di wajahnya. Hatinya mulai diliputi rasa takut. Apakah ia terlalu gegabah? Apakah ia telah merusak hubungan baik mereka?
Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Nadia akhirnya berkata dengan lembut, “Azzam, aku menghargai kejujuranmu. Dan aku tidak ingin menyakiti hatimu. Tapi aku harus jujur, perasaan itu… aku tidak bisa membalasnya dengan cara yang sama.”
Dada Azzam terasa sesak. “Maksudmu…?”
“Aku takut cintaku padamu justru membuatku lupa pada cinta yang lebih agung, yaitu cinta kepada Allah. Aku ingin menjaga hati ini tetap bersih. Jika kau benar-benar mencintaiku, cintailah Allah lebih dari segalanya. Karena jika Allah menghendaki, maka segalanya akan terjadi pada waktu yang tepat,” ucap Nadia. (bersambung ke bagian 2)
______________
Selayang pandang:
Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.
Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.
Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).













Discussion about this post