• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Citizen Journalism & Video Cerpen dan Puisi

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 1)

by Avesiar
21 Maret 2025 | 21:30 WIB
in Cerpen dan Puisi
Reading Time: 5 mins read
A A
Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 1)

Avesiar – Cerpen dan Puisi

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 1)

Oleh: Mas Ngabehi

***************

Pencarian Makna Cinta

Senja merayap perlahan di langit Yogyakarta. Cahaya jingga membias di atas bangunan kolonial di sekitar Titik Nol Kilometer, mewarnai jalanan yang mulai padat dengan pejalan kaki dan wisatawan. Di bangku taman, di bawah pohon rindang, Azzam duduk termenung.

Tatapannya kosong, menembus lalu-lalang orang yang sibuk dengan dunianya masing-masing. Dalam dekapan angin sore yang berembus lembut, pikirannya berkelana jauh, menelusuri lorong-lorong hati yang dipenuhi kegelisahan.

Hatinya tengah berperang. Sejak pertama kali mengenal Nadia, hidupnya tak lagi sama. Wanita itu adalah representasi dari kebaikan dan keteguhan iman. Wajahnya bercahaya dengan jilbab sederhana, kata-katanya menyejukkan hati, dan tingkah lakunya penuh adab.

Bacaan Terkait :

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 3, habis)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 2)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 1)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya,Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 3, habis)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 2)

Cerpen: Saat Takdir Bertaut di Mihrab Cinta (bagian 4, habis)

Cerpen: Saat Takdir Bertaut di Mihrab Cinta (bagian 3)

Load More

Setiap kali melihatnya, Azzam merasakan ketenangan. Namun, di saat yang sama, ia juga merasakan kegundahan yang mendalam.

“Ya Allah… Apakah perasaan ini berkah atau cobaan?” bisik hatinya.

Dilema itu semakin kuat setiap kali ia bertemu Nadia di Masjid Gede Kauman, tempat mereka sering mengikuti kajian Islam. Di sana, ia duduk dalam lingkaran ilmu, mendengar tausiyah tentang cinta yang seharusnya membawa manusia lebih dekat kepada-Nya.

Namun, semakin ia mencintai Nadia, semakin ia merasa hatinya bergantung pada sesuatu yang fana. Ia takut perasaan itu justru menjauhkannya dari Allah.

Azzam menghela napas panjang. Bayangan perbincangan terakhirnya dengan Nadia kembali terputar dalam ingatannya. Kala itu, mereka bertemu di sudut perpustakaan Universitas Gadjah Mada setelah menghadiri seminar keislaman.

“Azzam, cinta itu bukan sekadar tentang memiliki seseorang di dunia ini,” ujar Nadia dengan lembut.

“Cinta sejati adalah yang mendekatkan kita pada Allah, bukan sebaliknya. Jika perasaan ini justru membuat kita lalai, maka itu tanda bahwa kita harus bermuhasabah.”

Azzam terdiam. Kata-kata itu begitu dalam menusuk relung hatinya. Ia menyadari bahwa selama ini, ia terlalu sibuk memikirkan bagaimana bisa bersama Nadia, tetapi lupa untuk menata hatinya agar tetap berada di jalan-Nya.

“Tapi Nadia… bagaimana jika aku benar-benar mencintaimu?” tanyanya dengan suara lirih.

Nadia tersenyum samar. “Cintailah aku dalam doamu, Azzam. Jika memang Allah menakdirkan kita bersama, maka tidak ada yang bisa menghalangi. Namun, jika tidak, maka yakinlah, Allah punya rencana yang lebih baik.”

Jawaban itu mengiris hati Azzam. Bukan karena penolakan, melainkan karena kebenaran yang tak bisa ia sangkal. Cinta bukanlah tentang memaksa kehendak, melainkan tentang merelakan hati untuk tunduk pada ketetapan-Nya.

Langit senja mulai beralih ke ungu keemasan. Azzam bangkit dari duduknya, melangkah pelan menuju Alun-Alun Kidul. Ia ingin mencari ketenangan, tapi justru semakin tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepalanya.

“Apakah aku mencintainya dengan cara yang salah? Apakah aku terlalu terikat pada dunia ini hingga lupa pada keabadian?”

Angin malam mulai terasa dingin, menghembuskan kesejukan yang menyentuh kulit dan hatinya yang gundah. Dalam kebimbangan itu, ia memutuskan untuk kembali ke Masjid Gede Kauman, bersujud di hadapan-Nya, mencari jawaban atas kegelisahan yang tak kunjung reda.

Saat takbir pertama menggema, hatinya mulai merasa ringan. Ia sadar bahwa cinta yang sejati bukanlah yang dipenuhi ambisi untuk memiliki, tetapi yang mengantarkan jiwa semakin dekat kepada-Nya.

Malam itu, dalam sujud panjangnya, Azzam berikrar untuk bermuhasabah, menata hati, dan membiarkan takdir berjalan sesuai kehendak Sang Maha Cinta.

Cinta yang Tak Direstui Takdir

Azzam duduk di bangku kayu yang terletak di sudut Perpustakaan Pusat Universitas Gadjah Mada. Tangannya menggenggam erat sebuah buku tafsir Al-Qur’an yang sejak tadi terbuka, tetapi pikirannya melayang jauh.

Di seberangnya, Nadia, gadis yang diam-diam mengisi relung hatinya, sibuk membaca. Suasana tenang perpustakaan semakin membuat detak jantung Azzam terdengar jelas di telinganya sendiri. Hari ini, ia sudah bertekad. Ia harus mengungkapkan perasaannya.

“Nadia…” panggilnya pelan. Gadis itu mengangkat wajahnya, tersenyum lembut, dan menutup buku di hadapannya.

“Iya, Azzam?”

Azzam menarik napas dalam. “Aku ingin berbicara sesuatu yang penting. Tentang… tentang perasaanku.”

Nadia menunduk sejenak, sebelum kembali menatap Azzam dengan sorot mata yang tenang. “Aku mendengarkan.”

Azzam menggenggam buku tafsirnya semakin erat, berusaha mencari kata yang tepat.

“Sejak pertama kali kita bertemu di kajian Masjid Gede Kauman, aku selalu merasa kagum padamu. Cara kau memahami Islam, ketulusanmu dalam menuntut ilmu, dan kelembutan hatimu. Aku merasa… perasaanku ini lebih dari sekadar kagum. Aku ingin mengenalmu lebih dalam, dalam ikatan yang halal dan diridai Allah.”

Nadia diam sejenak. Azzam bisa melihat ada kebimbangan di wajahnya. Hatinya mulai diliputi rasa takut. Apakah ia terlalu gegabah? Apakah ia telah merusak hubungan baik mereka?

Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Nadia akhirnya berkata dengan lembut, “Azzam, aku menghargai kejujuranmu. Dan aku tidak ingin menyakiti hatimu. Tapi aku harus jujur, perasaan itu… aku tidak bisa membalasnya dengan cara yang sama.”

Dada Azzam terasa sesak. “Maksudmu…?”

“Aku takut cintaku padamu justru membuatku lupa pada cinta yang lebih agung, yaitu cinta kepada Allah. Aku ingin menjaga hati ini tetap bersih. Jika kau benar-benar mencintaiku, cintailah Allah lebih dari segalanya. Karena jika Allah menghendaki, maka segalanya akan terjadi pada waktu yang tepat,” ucap Nadia. (bersambung ke bagian 2)

______________

Selayang pandang:

Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.

Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.

Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan  pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).

Tags: Cerita PendekCerpenCerpen CintaCerpen KehidupanCerpen MotivasiCerpen ReligiCinta Allah
ShareTweetSendShare
Previous Post

Resto Tekko Kebayoran Park, Siasati Bosan dengan Lebih dari 100 Menu Pilihan dan Diskon 20 Persen

Next Post

Pernah Mengalami Home Sick Saat Merantau Nggak?

Mungkin Anda Juga Suka :

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

14 Maret 2026

...

Di Ambang Mahacahaya

Di Ambang Mahacahaya

9 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

9 Maret 2026

...

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

8 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

8 Maret 2026

...

Load More
Next Post
Pernah Mengalami Home Sick Saat Merantau Nggak?

Pernah Mengalami Home Sick Saat Merantau Nggak?

Memalukan, Laporan Menyebut Pemukim Ilegal Israel Melakukan 5.350 Kekerasan dan Perusakan ke Warga Palestina

Memalukan, Laporan Menyebut Pemukim Ilegal Israel Melakukan 5.350 Kekerasan dan Perusakan ke Warga Palestina

Discussion about this post

TERKINI

Imbas Serangan AS-Israel ke Iran yang Membuat Selat Hormuz Ditutup, 13 Juta Barel Hilang Setiap Hari

25 April 2026

Fatayat NU Memperingati Harlah Ke-76 dengan Ziarah dan Aksi Sosial Serentak

25 April 2026

Trump Ngebet Minta Iran Diganti Italia di Piala Dunia Sejak Maret, Italia Tidak Sudi

24 April 2026

Negara Asal Merek-merek Handphone yang Pernah dan Masih Diproduksi

24 April 2026

Pemilu Pertama Gaza Sejak Lebih dari Dua Dekade Kosong Akan Berlangsung di Deir al-Balah Sabtu Ini

23 April 2026

Iran Peringatkan Negara-negara Teluk Agar Tidak Mengizikan Wilayahnya Jadi Tuan Rumah Serangan

22 April 2026

Menjalani Usia Paruh Baya yang Identik dengan Midlife Crisis, Kiat Sehat Psikis dan Fisik

22 April 2026

Trump Posting di Truth Social Ngamuk-ngamuk Dianggap Dirayu Netanyahu untuk Perang Lawan Iran dan Kredibilitasnya 32 Persen

21 April 2026

Pematangan Giant Sea Wall Pantura Dipercepat, Ratas Dipimpin Presiden Prabowo

21 April 2026

Negosisasi Putaran Dua Akan Kembali Dimediasi Pakistan dalam Beberapa Jam, Iran Belum Konfirmasi dan Trump Kembali Ancam

20 April 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video