KAMU KUAT – Jakarta
Tinggal jauh dari keluarga adalah pengalaman yang penuh tantangan, terutama bagi mereka yang baru pertama kali merantau atau hidup di lingkungan yang benar-benar berbeda. Rasa rindu akan rumah, kehangatan keluarga, serta kebiasaan sehari-hari yang dulu dianggap biasa kini menjadi sesuatu yang sangat dirindukan.
Perasaan ini dikenal sebagai homesick, kondisi emosional yang sering dialami oleh pelajar atau mahasiswa yang harus tinggal jauh dari orang-orang terdekat mereka. Homesick bisa datang kapan saja, terutama di saat-saat sulit seperti ketika sedang sakit, menghadapi tugas yang menumpuk, atau sekadar melihat hal-hal kecil yang mengingatkan pada rumah.
Meskipun wajar, jika dibiarkan berlarut-larut, homesick bisa memengaruhi semangat belajar, produktivitas, dan bahkan kesehatan mental seseorang.
Dikutip dari Alodokter, Jum’at (21/3/2025), homesick adalah perasaan sedih, cemas, atau gelisah yang muncul saat berada jauh dari rumah atau keluarga. Kondisi ini wajar kok dialami. Namun, supaya tidak larut dalam kesedihan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.
Homesick biasanya ditandai dengan perasaan sedih, rindu, kesepian, gugup, kehilangan, hingga merasa tidak aman. Homesick juga bisa membuat tubuh mudah sakit, tidak nafsu makan, dan sakit kepala. Jika dibiarkan, kondisi ini akan berujung pada penurunan fokus dan produktivitas, bahkan bisa memicu stres dan depresi.
Berikut cerita dari beberapa sahabat kanal remaja dan anak muda KAMU KUAT! Avesiar.com.
Aghnia Septya Ruhama Rahman, mahasiswi semester 2, Universitas Jenderal Soedirman

Aghnia mengaku sering mengalami homesick, terutama saat pertama kali ngekost. Perbedaan antara rumah dan kost cukup terasa. Jika di rumah suasananya selalu ramai, kost justru sepi. Hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan sendiri, kini harus ia jalani sendiri.
“Aku sering ngerasa homesick saat lagi banyak tugas dan jauh dari keluarga,” katanya. Yang paling ia rindukan adalah suasana ramai rumah, masakan ibu dan neneknya, serta momen ngobrol dan jalan-jalan bersama ibu dan kedua adiknya.
Meskipun homesick cukup mengganggu, Aghnia tetap berusaha untuk tidak menyerah dalam belajar maupun bersosialisasi. “Homesick seringkali mempengaruhi kegiatan sehari-hari aku, tetapi tidak menutupi aku untuk menyerah dalam belajar di kampus maupun bersosialisasi dengan teman-teman,” ujarnya.
Salah satu kebiasaan di rumah yang paling dirindukan adalah sesi curhat malam bersama ibu dan adik-adiknya. Untungnya, teknologi membantu mengatasi rindu ini. “Rutinitas ini tetap aku jalanin dengan video call bersama bunda dan kedua adikku,” tambahnya.
Setiap orang punya cara masing-masing untuk mengatasi rasa rindu rumah. Bagi Aghnia, cara paling efektif adalah video call atau sekadar chat dengan keluarga. Selain itu, ia juga mengalihkan perhatian dengan aktivitas yang disukai, seperti menonton film.
Menurutnya, berbicara dengan keluarga lewat telepon atau video call sangat membantu. “Aku sering video call di malam hari hampir setiap hari,” katanya.
Homesick adalah hal wajar bagi siapa pun yang jauh dari keluarga. Namun, seperti yang dilakukan Aghnia, ada banyak cara untuk mengatasinya, mulai dari tetap menjaga komunikasi dengan keluarga hingga melakukan aktivitas yang menyenangkan.
Nuri Salsamila, siswi kelas 9, MTS Darul Fallah

Bagi banyak remaja yang tinggal jauh dari keluarga, perasaan rindu rumah atau homesick adalah hal yang sering muncul. Hal ini juga dirasakan oleh Nuri Salsamila, siswa kelas 3 SMP di MTS Darul Fallah. Sebagai santri yang tinggal di asrama, ia pernah mengalami homesick, terutama saat sakit atau sedang di sekolah.
“Pastinya pernah mengalami homesick, terutama ketika saya sedang sakit atau lagi di sekolah. Kadang, saya selalu ingat orang tua dan rasanya sedih karena jauh dari mereka,” cerita Nuri. Ia mengakui bahwa perasaan ini sering membuatnya kepikiran dan merasa lebih emosional.
Namun, ia beruntung memiliki teman-teman yang selalu mendukungnya. “Kalau saya kepikiran tentang rumah, teman-teman selalu bilang ‘doain aja’, jadi mereka selalu menghibur saya,” katanya.
Berkat dukungan teman-teman, rasa homesick yang ia rasakan tidak terlalu mempengaruhi aktivitas sehari-harinya.
Setiap orang punya cara sendiri untuk menyembunyikan atau mengatasi homesick. Bagi Nuri, diam adalah cara yang paling sering ia lakukan. “Kadang saya menyembunyikannya dengan cara diam,” ungkapnya. Selain itu, ia juga tetap berkomunikasi dengan orang tuanya meskipun tidak terlalu sering. “Biasanya komunikasi dengan orang tua itu dua minggu sekali,” tambahnya.
Seiring berjalannya waktu, homesick yang ia rasakan mulai berkurang. “Lebih terasa di awal-awal, tapi sekarang sudah tidak terlalu seperti dulu,” ujar Nuri menutup sesi wawancara.
Asyam Fathiin Nasepta, siswa kelas 8, MTS Pondok Pesantren Darunnajah

Rasa rindu terhadap keluarga, kenyamanan rumah, dan kebiasaan sehari-hari bisa menimbulkan perasaan homesick atau kangen rumah. Hal ini dialami oleh Asyam Fathiin Nasepta, seorang siswa kelas 2 MTs dari Pondok Pesantren Darunnajah, yang berbagi pengalamannya dalam menghadapi homesick.
Asyam pertama kali merasakan homesick ketika ia mulai bersekolah di pondok pesantren. Berpisah dengan keluarga untuk waktu yang lama bukanlah hal yang mudah. Ia merasa sangat rindu terutama ketika melihat teman-temannya dijenguk oleh orang tua mereka atau ketika ia gagal mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.
“Waktu itu saya mengalaminya ketika awal masuk ke pondok pesantren, di mana saya harus berpisah dengan kedua orang tua dan keluarga untuk sementara waktu demi menuntut ilmu. Biasanya saya merasa rindu ketika melihat teman saya dijenguk orang tua mereka dan saat saya gagal mendapatkan apa yang saya inginkan,” cerita Asyam.
Rasa homesick yang dirasakan Asyam lebih dominan pada kesedihan. Sebelumnya, ia terbiasa menghadapi berbagai tantangan dengan dukungan penuh dari orang tua dan keluarga. Namun, ketika di pesantren, ia harus lebih mandiri dan mengandalkan teman-temannya untuk saling mendukung.
“Perasaan saya lebih ke sedih, karena biasanya saya melewati banyak rintangan dengan dukungan orang tua dan keluarga. Tetapi ketika saya masuk pesantren, saya hanya bisa mengandalkan diri sendiri dan teman-teman yang selalu mendukung,” ujarnya.
Rasa rindu ini sempat membuatnya kehilangan semangat dalam menjalani kegiatan di pesantren. Namun, ia sadar bahwa ia harus berusaha menghadapi perasaan tersebut agar tidak menghambat perkembangan dirinya.
Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi homesick. Bagi Asyam, ia menemukan ketenangan dengan berdzikir dan meyakini bahwa Allah selalu bersamanya. Selain itu, ia berusaha menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan dan memperbanyak teman agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.
“Saya mengatasi homesick dengan cara berdzikir, mengingat bahwa Allah selalu bersama kita, serta memperbanyak kegiatan dan teman. Karena di pesantren saya hanya ada warung telepon, berbicara dengan keluarga melalui telepon juga membantu mengurangi rasa rindu dan sedih saya terhadap rumah,” ungkapnya.
Meski homesick sempat menjadi tantangan, Asyam merasa bahwa pengalaman ini justru membuatnya menjadi lebih mandiri. Ia menyadari bahwa berlarut dalam kesedihan dan kerinduan tidak baik bagi perkembangan dirinya.
“Setelah mengalami homesick, justru saya merasa lebih mandiri karena saya sadar bahwa berlarut dalam kesedihan dan kerinduan itu tidak baik untuk perkembangan diri saya. Mungkin pengalaman ini bisa membantu saya untuk berkembang dan beradaptasi lebih baik di masa depan,” katanya dengan penuh keyakinan.
Menghadapi homesick bukanlah hal yang mudah, tetapi juga bukan sesuatu yang tidak bisa diatasi. Menjaga komunikasi dengan keluarga, mencari kesibukan yang menyenangkan, dan membangun hubungan yang baik dengan teman-teman dapat membantu mengurangi rasa rindu rumah.
Seiring berjalannya waktu, seseorang akan mulai terbiasa dan menemukan kenyamanan di lingkungan baru. Homesick bukan hanya tentang rasa sedih karena jauh dari rumah, tetapi juga bagian dari proses pendewasaan, belajar mandiri, dan beradaptasi dengan kehidupan yang lebih luas.
Pengalaman ini akan membuat seseorang menjadi lebih kuat, lebih mandiri, dan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan. Jadi, jika kamu sedang mengalami homesick, kamu tidak sendirian. Ada banyak cara untuk mengatasinya dan membuat tempat baru terasa lebih seperti rumah. Homesick juga akan berlalu seiring bertambahnya kesibukanmu belajar. (Resty)













Discussion about this post