KAMU KUAT – Avesiar
Banyak remaja tanpa sadar sering membandingkan diri dengan orang lain di era media sosial seperti sekarang. Ada teman sebaya yang punya barang mahal, liburan ke tempat impian, atau sukses di usia muda, kadang bikin kita bertanya-tanya, apakah aku sudah cukup?
Sesungguhnya, berkecukupan bukan hanya soal memiliki banyak uang atau hidup mewah, tapi lebih ke bagaimana kita merasa nyaman dan puas dengan apa yang kita miliki.
Namun, bagi sebagian orang, berkecukupan berarti mampu memenuhi kebutuhan dasar tanpa rasa khawatir. Bagi yang lain, kecukupan bisa berarti memiliki orang-orang yang peduli dan mendukung, kesehatan yang baik, atau kesempatan untuk terus belajar dan berkembang.
Merasa cukup disebut dengan sifat qanaah. Qanaah adalah menerima dan selalu merasa cukup dengan segala rezeki yang dimiliki. Sikap ini tidak berarti pasrah, justru qanaah dilakukan dengan penuh ikhtiar dan ketawakalan.
Sebagaimana bagi yang beragama Islam, hal ini disebutkan dalam Al Qur’an yaitu,
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (Surah Ibrahim ayat 7)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:
“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian agar kalian tidak memandang hina nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (Muttafaqun Alaih)
So, sebenarnya arti berkecukupan bagi remaja seperti apa? JIka kita mensyukuri yang ada, hati dan pikiran akan lebih easy going bukan? Nah, berikut beberapa komentar para sahabat kanal remaja dan anak muda KAMU KUAT! Avesiar.com.
Aqila Flo Shiamy, siswi kelas 10, SMA Negeri 1 Rangkasbitung, Jawa Barat

Makna kecukupan dalam Islam, kata siswi bernama Aqila, adalah merasa cukup atas rezeki yang Allah beri, bersyukur tanpa berlebih-lebihan, dan tidak tamak terhadap harta orang lain.
“Makna cukup dalam Islam adalah merasa puas dan tenang dengan apa yang dimiliki, tanpa terus-menerus merasa kurang. Artinya, seseorang tidak harus punya banyak, tapi hatinya merasa cukup karena bersyukur atas pemberian Allah,” ujarnya.
Contoh sikap merasa cukup, menurut Aqila, misalnya tidak iri dengan rezeki orang lain. Bersyukur meskipun hanya punya sedikit uang. Tidak memaksakan diri membeli barang mahal hanya untuk gengsi. Makan secukupnya tanpa berlebihan. Menggunakan barang yang masih layak tanpa harus selalu ganti baru.
Ferdi Dwi Fahlevi, siswa kelas XI, SMK Negeri 1 Wonosono, Jawa Tengah

“Menurut saya, kecukupan dalam pandangan agama Islam berarti merasa cukup dengan apa yang telah Allah berikan, tanpa harus berlebihan atau iri terhadap rezeki orang lain. Dalam Islam, kecukupan bukan diukur dari seberapa banyak harta atau benda yang kita miliki, tapi seberapa tenang hati kita dalam mensyukuri setiap nikmat. Jadi, orang yang cukup itu bukan yang punya segalanya, tapi yang bisa bersyukur atas apa yang ada,” bebernya.
Merasa cukup itu, bagi Ferdi, ketika kita bisa menerima keadaan diri sendiri dengan lapang dada. Artinya, kita tetap berusaha sebaik mungkin, tapi tidak memaksakan diri untuk hal-hal di luar kemampuan.
Ia memberi contoh yaitu, sikap merasa cukup. Misalnya tidak mudah mengeluh meski belum punya banyak, tetap bersyukur atas rezeki kecil, dan tidak iri dengan keberhasilan orang lain.
Satria Febrian, mahasiswa semester 3, Teknologi Rekayasa Computer, Sekolah Vokasi IPB University Bogor

“Menurut saya, kecukupan itu saat kita sadar kalau apa yang Tuhan berikan sebenarnya sudah cukup buat kita. Tidak selalu harus banyak, tapi cukup buat ngejalanin hidup dengan tenang. Kadang kita suka ngeluh karena merasa kurang, padahal kalau dilihat lagi, kita sudah punya banyak hal yang orang lain belum tentu punya. Jadi kecukupan itu lebih ke soal hati, tentang seberapa mampu kita bersyukur bukan seberapa banyak yang kita punya,” katanya.
Selain itu, menurut Satria, kecukupan itu juga mengajarkan kita buat tetap berusaha, tapi tidak rakus atau haus. Kita boleh punya mimpi besar, tapi juga harus sadar kalau semua ada waktunya dan porsinya masing-masing. Kalau kita sudah bisa menerima itu, hidup rasanya lebih ringan, ngga gampang iri sama orang lain, dan lebih bahagia dengan apa yang ada dan kita punya.
“Ada kutipan yang berbunyi, “Merasa cukup bukan berarti berhenti berharap, tapi belajar bersyukur atas yang sudah ada, sambil tetap percaya bahwa yang terbaik akan datang pada waktunya”. Dari kutipan tersebut menurut saya, merasa cukup itu bukan cuma soal uang atau harta. Banyak orang berpikir kalau ‘cukup’ itu tentang kondisi finansial, tapi sebenarnya menurut saya maknanya lebih luas. Merasa cukup bisa berarti cukup dicintai, cukup dihargai, cukup punya orang-orang yang peduli, atau bahkan cukup punya waktu untuk diri sendiri. Rasanya seperti momen tenang di tengah gemuruh ombak hidup, di mana kita sadar kalau kebahagiaan ternyata tidak harus selalu besar kadang cukup dengan hal-hal kecil yang tulus,” katanya.
Muhammad Daanish Althaf Rivada, siswa kelas 11, Sekolah: SMAIT Nurul Rahmah, Depok, Jawa Barat

Dalam agama Islam, kata Daanish, kecukupan merupakan sifat diri yang merasa segala sesuatu dianggap sudah pas atau tidak kurang atau lebih dan sifat kecukupan berhubungan dengan bersyukur.
“Kita merasa cukup seperti ketika kita merasa jika ekonomi kita bisa memenuhi kebutuhan hidup kita dan kebutuhan cukup daripada keinginan yang tidak penting. Hidup sederhana, tidak iri dan dengki, selalu bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Itulah komentar dari beberapa remaja yang memaknai “kecukupan” menurut mereka masing-masing. Bagaimana dengan kamu? Tulis pendapatmu di kolom komentar yang ada di bawah artikel ini ya! (adam/rizka/artikel sebelumnya)













Discussion about this post