KAMU KUAT – Jakarta
Berterima kasih adalah bagian dari wujud rasa syukur seseorang. Hal ini menjadi fondasi dari kematangan jiwa seorang manusia untuk mensyukuri sesuatu yang didapatkan atau miliki. Bagi Muslim, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Rasa syukur bukan hanya tentang mengucap “Alhamdulillah” saat bahagia. Syukur itu sederhana, tapi sangat bermakna. Kadang kita lupa, nikmat sehat, teman baik, keberhasilan belajar, bahkan udara yang kita hirup setiap hari adalah bukti cinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Selain itu, ada dua sosok paling berjasa dalam hidup kita orang tua yang dengan sabar membesarkan, mendidik, membimbing, dan mendoakan tanpa pamrih. Lebih dari itu, syukur adalah sikap hati yang tercermin dalam perbuatan. Kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya, dan kepada orang tua yang tanpa lelah menyayangi kita.
Di tengah hiruk-pikuk dunia remaja, tak sedikit dari kita yang lupa bahwa keberhasilan, kenyamanan, bahkan hal-hal kecil yang kita nikmati setiap hari adalah karunia besar dari Allah dan jerih payah orang tua.
Lalu, bagaimana sebenarnya cara remaja masa kini menunjukkan rasa terima kasih itu? Sudahkah kita benar-benar berterima kasih kepada Allah dan orang tua, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan sikap dan perbuatan?
Melalui artikel di kanal remaja dan anak muda KAMU KUAT! Avesiar.com ini, kita akan mendengar suara-suara remaja tentang bagaimana mereka bersyukur dan berterima kasih kepada Sang Pencipta dan kedua orang tua mereka.
Shafira Az-Zahra, mahasiswa semester 4, IPB University

Shafira punya pandangan menarik tentang hal ini. Baginya, bersyukur adalah merasakan dan mengakui setiap nikmat yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan orang tua berikan, terutama dalam hal menghargai waktu. “Saya sebagai remaja merasa penting untuk bersyukur, karena dengan itu bisa membawa ketenangan hati dan hidup jadi lebih bahagia,” ungkapnya.
Saat ditanya bagaimana bentuk syukurnya kepada Allah, Shafira menjelaskan bahwa ia berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ia juga rajin berdoa dan memperbanyak berpikir (berzikir) sebagai bagian dari mendekatkan diri.
Shafira juga punya cara khusus untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada orang tuanya. Ia berusaha bersikap sopan dan santun, mendengarkan nasihat orang tua, dan belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa membuat mereka bangga.
“Saat saya sakit, saya sadar hanya orang tua yang selalu ada. Mereka merawat saya dengan sabar, dan hanya kepada Allah saya bisa memohon kesembuhan. Dari sana, saya benar-benar merasa bersyukur,” ujarnya.
Menurut Shafira, salah satu tantangan terbesar remaja saat ini adalah terlalu fokus pada kesenangan duniawi dan melupakan nikmat yang Allah berikan. Untuk itu, ia memilih memperbanyak ibadah sebagai cara menjaga hatinya tetap terarah.
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil.'” (QS. Al-Isra’: 24)
Di akhir wawancara, Shafira mencurahkan perasaan hatinya. “Ya Allah, terima kasih atas segala nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku. Terima kasih juga kepada orang tua yang telah memberikan kasih sayang dan membesarkanku dengan penuh hati-hati. Saya akan berusaha menjadi anak yang berbakti,” ucapnya dengan nada bergetar.
Bulan Ramadhani Abdillah, siswa kelas 12, Madrasah Aliyah Nurani, Kota Bogor

Bulan punya pandangan mendalam tentang makna syukur. “Bersyukur artinya berterima kasih. Kalau kita pandai bersyukur, Allah akan tambahkan lagi nikmat-Nya. Orang tua juga pasti senang kalau anaknya tahu caranya bersyukur,” ujarnya dengan yakin.
Bulan mengungkapkan bahwa mengucap “Alhamdulillah” setiap kali mendapat rezeki, menjaga salat, dan berbagi dengan sesama adalah bentuk syukur yang nyata kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ia percaya bahwa syukur bukan hanya kata-kata, tetapi harus terlihat dari sikap dan amal kita sehari-hari.
Bagi Bulan, rasa terima kasih kepada orang tua tidak cukup hanya dengan ucapan. Ia berusaha selalu menaati nasihat mereka, tidak membantah, membantu saat diminta, dan menjaga nama baik keluarga.
“Aku sadar, terpisah dari orang tua di pondok bukan hal yang enak. Justru saat jauh, aku benar-benar merasa betapa besar peran Allah dan orang tua dalam hidupku. Semua kesulitan di pondok aku sandarkan hanya kepada Allah,” ujarnya mengisahkan.
Pengalaman ini membuatnya lebih matang dalam bersikap dan memahami makna rasa syukur yang sebenarnya. Salah satu tantangan yang Bulan hadapi sebagai remaja adalah keinginan untuk memiliki barang baru seperti yang dimiliki teman-temannya. Tapi ia belajar menenangkan diri dengan bersyukur atas apa yang sudah dimiliki.
“Dalam hati aku bilang, ‘Alhamdulillah aku masih punya barang ini, masih banyak kok orang yang nggak seberuntung aku. Aku harus melihat ke bawah, jangan melihat ke atas terus,” imbuhnya.
Di akhir wawancara, Bulan menutup dengan doa yang sederhana tapi dalam. “Ya Allah, nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku begitu banyak. Tolong jadikan aku hamba yang pandai bersyukur dan bukan orang yang kufur. Dan untuk orang tuaku, aku tidak akan mampu membalas kebaikan mereka dengan apa pun. Semoga orang tuaku selalu diberi umur panjang dalam keberkahan,” tutup Bulan.
Kahaya’asha Arina, mahasiswa semester akhir, Institut Daarul Quran

“Bersyukur itu rasa terima kasih atas nikmat dan karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Rasa syukur akan membuat kita lebih menghargai hidup dan menikmati setiap langkah serta proses yang kita lalui. Itu juga mendekatkan kita kepada-Nya,” ujar Arina.
Bagi Arina, rasa syukur tidak harus selalu besar dan muluk-muluk. Ia membiasakan diri mensyukuri hal kecil setiap hari seperti masih diberi kesehatan, rezeki, dan bertemu orang-orang baik. Ia juga berusaha membangun pikiran positif, mengembangkan diri, dan tentu saja, menjaga salat dan berdoa agar hubungan dengan Allah tetap kuat. “Langkah-langkah kecil ini terasa sederhana, tapi itulah yang menjaga saya tetap berada di jalan yang baik,” katanya.
Rasa terima kasih Arina kepada orang tua ditunjukkan melalui tindakan nyata, membantu sebisa mungkin secara mandiri, menghormati keputusan mereka, dan mendoakan hal baik setiap waktu. “Syukur kepada orang tua akan menciptakan hubungan yang harmonis dan membuat kita lebih empati terhadap perasaan mereka,” ungkapnya.
Salah satu pengalaman paling menyentuh dalam hidup Arina terjadi saat ia tidak terpilih mengikuti kegiatan sekolah karena sebelumnya sakit. Ia sempat kecewa karena berharap bisa ikut tahun berikutnya, namun lagi-lagi tidak dipilih.
“Saat itu, malamnya saya hanya bisa shalat tahajud, minta keikhlasan dari Allah. Siangnya, tepat H-3 acara, saya dipanggil dan diminta bergabung karena ternyata masih kekurangan orang,” kenangnya.
Sebagai remaja, Arina juga menghadapi tekanan sosial, pengaruh lingkungan, dan gaya hidup konsumtif yang kerap menguji rasa syukur. Tapi ia belajar untuk tidak membandingkan diri, bijak menggunakan media sosial, dan menumbuhkan empati agar tetap sadar akan nikmat yang dimiliki.
“Kalau kita tahu bahwa banyak orang yang tidak seberuntung kita, maka kita akan lebih mampu bersyukur dan tidak silau dengan dunia,” tuturnya.
Di akhir perbincangan, Arina mengungkapkan perasaan hatinya dengan doa yang dalam dan menyentuh. “Ya Allah, sesungguhnya langkahku penuh keraguan dan ketakutan, tapi hati ini menyimpan seribu keyakinan bahwa Engkau akan mempermudah setiap jalan dengan niat baik yang kupilih. Terima kasih sudah merangkul hamba-Mu ini dengan segala nikmat yang Engkau berikan,” ucapnya.
Well, Guys. Syukur bukan hanya soal kata ‘terima kasih’. Ia adalah seni hidup yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang peka terhadap nikmat, sabar dalam ujian, dan ikhlas dalam setiap proses.
Kisah para remaja di kanal remaja dan anak muda KAMU KUAT! Avesiar.com mengajarkan kita bahwa rasa syukur bukanlah milik mereka yang hidupnya sempurna, tapi milik mereka yang bisa melihat cahaya di balik setiap kejadian.
“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang apabila diberi nikmat, mereka bersyukur, dan apabila diberi ujian, mereka bersabar. Itulah tanda-tanda orang beriman.” (HR. Ahmad)
(Resty)











Discussion about this post