Avesiar – Jakarta
Dalam hidup sehari-hari, kadang kita lupa bahwa rasa syukur adalah kunci bahagia. Padahal, Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah menekankan dalam banyak ayat bahwa syukur adalah jalan untuk ditambahnya nikmat, dan kufur adalah jalan menuju kesempitan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7 :
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
Rasa syukur bisa ditunjukkan dengan menerima apa adanya, tidak membandingkan hidup dengan orang lain, serta beribadah dengan hati yang tenang dan ikhlas.
Ayat-Ayat yang Mengingatkan Kita untuk Bersyukur
Beberapa ayat yang menguatkan pentingnya syukur:
1. Al-Baqarah: 152 – “Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.”
2. An-Nisa: 147 – “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman?”
3. Ali Imran: 145 – “Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
4. An-Nahl: 120-121 – “Nabi Ibrahim adalah hamba yang selalu bersyukur.”
5. Ad-Dhuha: 11 – “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu siarkan.”
Hadis Tentang Syukur
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam hadis riwayat Muslim:
“Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman. Segala urusannya adalah baik baginya: jika diberi nikmat ia bersyukur, jika ditimpa musibah ia bersabar.”
Hadis dari Tirmidzi juga menyebutkan bahwa orang yang bersyukur akan dicatat sebagai orang sabar dan beriman, karena ia tahu segala sesuatu datang dari Allah.
Cara Praktis Bersyukur Setiap Hari
• Ucapkan Alhamdulillah setiap pagi dan sebelum tidur
• Sampaikan rasa cinta dan terima kasih pada orang terdekat
• Jaga nikmat Allah: tubuh, keluarga, waktu, dan rezeki
• Berbagi lewat sedekah dan perhatian pada sesama
• Tingkatkan ibadah dan hubungan dengan Allah
Tips Menghindari Rasa Iri dan Tetap Bersyukur
• Kurangi melihat yang memicu iri : batasi waktu melihat konten pamer kekayaan atau gaya hidup mewah.
• Tingkatkan ibadah : karena hati yang dekat pada Allah lebih tenang dan mudah bersyukur.
• Buat daftar nikmat : tulis hal-hal yang kita punya, sekecil apa pun—itu akan menyadarkan kita betapa banyak yang patut disyukuri.
Bagaimana pendapat beberapa ibu rumah tangga tentang rasa syukur tersebut? Mari kita simak!
Wulan Rachmawati, Ibu Rumah Tangga

Rasa syukur adalah kunci utama ketenangan hati. “Menurut saya, rasa syukur adalah rasa terima kasih tak terhingga kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala karunia yang telah diberikan dalam hidup,” ujar Wulan Rachmawati, seorang ibu rumah tangga.
Dalam kesehariannya, ia berusaha fokus pada hal-hal positif seperti kesehatan, keluarga, rezeki, dan kesempatan untuk terus belajar.
Namun, menjaga rasa syukur di era sekarang bukan hal yang mudah. “Pemicu rasa tidak bersyukur yang menurut saya paling berpengaruh adalah peran media sosial. Orang-orang biasanya hanya memposting hal-hal yang terlihat baik dan sempurna,” lanjutnya.
Agar hati tidak mudah membandingkan diri dengan orang lain, Wulan punya cara tersendiri. “Fokuslah pada karunia Tuhan yang kita miliki seperti keluarga, kesehatan, dan kesempatan hidup. Kalau perlu, tutup mata dan telinga dari kehidupan orang lain,” ujarnya tegas.
Menutup pembicaraan, ia mengingatkan, “Syukur itu menenangkan, sementara membandingkan hanya melelahkan.” Maka, marilah kita jaga hati, agar selalu merasa cukup dan bahagia dengan apa yang Allah titipkan kepada kita.
Amalya Kurniati Dewi, Ibu Rumah Tangga

Di tengah kehidupan yang penuh perbandingan, rasa syukur menjadi kunci utama agar hati tetap bahagia. Bagi Amalya Kurniati Dewi, seorang ibu rumah tangga, syukur bukan sekadar ucapan, tapi juga cara menikmati hidup sehari-hari.
“Rasa syukur dalam kehidupan menurut saya adalah menikmati apa yang ada di dalam diri sendiri, di rumah, dan di dalam keluarga, dengan rasa bahagia. Bahkan dari hal kecil seperti makanan. Alhamdulillah masih bisa makan tanpa rasa sakit, masih bisa bangun pagi dan merasakan hidup,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, “Bersyukur bisa dilakukan lewat tindakan. Sebagai ibu rumah tangga, saya menunjukkan rasa syukur dengan mencoba membuat makanan yang disukai keluarga.”
Namun, Amalya tak memungkiri bahwa lingkungan sosial kadang bisa menggoda hati. “Rasa tidak bersyukur biasanya muncul saat melihat tetangga yang nampak ‘lebih’. Entah itu lebih harmonis, atau lebih diperhatikan pasangannya,” jelasnya.
Untuk itu, ia punya pesan sederhana tapi mendalam. “Supaya tidak tertekan atau insecure, cukup ucapkan terima kasih kepada Sang Pencipta karena masih diberi napas dan kesehatan. Itu yang paling utama. Kalau kita sudah merasa cukup, kita tidak akan iri dengan kebahagiaan orang lain,” tutupnya dengan senyum.
Sukma Dewi, Ibu Rumah Tangga

Bagi seorang ibu rumah tangga, menjalani hari dengan rasa syukur adalah kekuatan besar untuk tetap bahagia dan tenang. “Bersyukur adalah menerima apa yang sudah Allah berikan kepada kita, apapun kondisinya, dengan rasa bahagia,” ujar Sukma Dewi.
Namun, ia juga menyadari bahwa rasa tidak puas kadang muncul begitu saja. “Manusiawi sekali ketika melihat orang di sebelah kita secara ekonomi lebih baik. Kita sempat bertanya, ‘kapan hidup saya bisa seperti itu juga?’ Tapi saya belajar pelan-pelan untuk mengendalikan bahkan menghilangkan rasa itu,” ungkapnya jujur.
Ketika ditanya pesan untuk ibu-ibu lain, ia merendah, “Saya belum pantas memberi nasihat, kita ini sama-sama belajar dan saling mengingatkan.” Meski begitu, ia tetap berbagi cara agar tidak larut dalam perasaan membandingkan.
“Rajin ibadah, mendekatkan diri kepada Allah, berdoa agar selalu diberikan rasa syukur. Jangan lihat ke atas terus, sesekali lihat ke bawah. Banyak yang hidupnya lebih sulit dari kita.”
Ia menutup dengan pesan sederhana tapi kuat: “Yakinlah bahwa Allah sayang kita. Hidup kita, walau sederhana, pasti punya arti yang besar di mata-Nya.” tutup Sukma Dewi
Maka, jangan tunggu sempurna untuk bersyukur. Bersyukurlah, maka hidupmu akan disempurnakan oleh Allah. (rst)













Discussion about this post