Avesiar – Jakarta
Rasa syukur menjadi sesuatu yang berharga di zaman yang penuh dengan kecepatan informasi yang membuat seseorang sangat mudah melihat hal-hal yang menggod di media sosial. Hal ini tentu menjadi pemicu tergerusnya rasa syukur atas nikmat yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan kepada hamba-Nya dengan berbagai keadaan.
Belum lagi, di media sosial setiap orang bebas melakukan flexing harta dan keberhasilan masing-masing. Hingga sering seseorang tergoda dengan muncunyal standar tertentu yang dilihat ada pada orang lain, sehingga menggerus rasa syukur atas nikmat Allah.
Ulasan ini menarik sebagaimana disampaikan dalam laman Nahdlatul Ulama, dengan judul “Khutbah Jumat: Dua Tanda Dicabutnya Rasa Syukur dari Hati Seorang Muslim”, yang dilansir Kamis (20/11/2025).
Dalam materi khutbah tersebut, disebutkan bahwa sebagai umat Islam, penting bagi kita untuk selalu bersyukur kepada Allah Swt atas segala nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Terutama bersyukur atas nikmat terbesar yang telah Allah limpahkan kepada kita, yaitu nikmat iman dan Islam.
Dengan memperbanyak bersyukur, hati seorang mukmin akan menjadi tenang dan tidak diliputi kegelisahan. Selain itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menjanjikan bagi setiap orang yang selalu bersyukur akan ditambahkan kenikmatan dan sebaliknya, bagi yang kufur terhadap nikmat-Nya maka Allah akan memberikannya kerumitan hidup.
Allah Ta’ala berfirman:
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (Qs. Ibrahim: 07).
Pada ayat di atas, Allah menjanjikan bagi setiap orang yang bersyukur kepada-Nya akan ditambahkan kenikmatan.
Adapun yang dimaksud kenikmatan di sini ialah tambahnya kenikmatan duniawi dan kenikmatan spiritual. Kenikmatan duniawi berupa rasa tenang dan positif sehingga bisa meningkatkan produktifitas seorang muslim.
Sedangkan kenikmatan spiritual berupa ketenangan dan rasa cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga bisa meningkatkan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dengan memperoleh kenikmatan keduanya, seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dalam hal ini, Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsir Marah Labid jilid I hal 66 menjelaskan:
“Bertambahnya kenikmatan duniawi dapat diperoleh orang yang menyibukkan dirinya untuk bersyukur kepada Allah, sehingga ia mendapatkan nikmat lebih banyak dari-Nya. Sedangkan tambahnya nikmat spiritual dengan menyibukkan diri melihat berbagai macam anugerah dan kebaikan Allah sehingga menambahkan rasa cinta kepada Allah. Dengan keduanya, seorang hamba akan mengalami kenaikan level hingga rasa cintanya kepada Allah yang memberikan kenikmatan akan memalingkannya dari nikmat-nikmat lainnya. Rasa syukur merupakan kedudukan mulia yang dapat mendatangkan kebahagiaan baik agama maupun dunia.”
Dalam hal ini terdapat 2 (dua) tanda seseorang muslim yang dicabut rasa syukur dari hatinya, yaitu:
Pertama, mudah mengeluh dan sulit menerima takdir. Orang yang kehilangan rasa syukur akan selalu melihat kekurangan dalam hidupnya dan tidak pernah puas terhadap pemberian. Padahal dalam bersyukur, tidak perlu menunggu banyak harta untuk membiasakan bersedekah dan tidak perlu menunggu tua untuk bisa bermanfaat kepada sesama.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang tidak bersyukur akan yang sedikit, maka tidak akan bersyukur saat banyak dan barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Ahmad bin Hanbal)
Kedua, tidak memanfaatkan nikmat yang ada untuk melakukan ketaatan. Syukur merupakan gabungan dari pengetahuan, sikap dan perbuatan seseorang yang dilandaskan pada nikmat yang telah Allah berikan.
Ketika rasa syukur dicabut, maka dunia akan menjadi tujuan dan bukan lagi sarana untuk beribadah kepada Allah. Sebab pada hakikatnya, seorang hamba yang bersyukur ialah mereka yang menggunakan nikmat yang ada untuk bisa bermanfaat dan kepada orang lain.
Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin jilid IV hal 81 menjelaskan:
“Ketahuilah bahwa syukur termasuk salah satu maqam (kedudukan spiritual) para salik (orang yang menempuh jalan menuju Allah). Ia terdiri dari pengetahuan, sikap, dan perbuatan. Pengetahuan melahirkan sikap dan sikap melahirkan perbuatan. Pengetahuan yaitu mengetahui bahwa semua nikmat berasal dari Allah, sikap yaitu rasa senang terhadap nikmat yang diberikan, sedangkan amal ialah dengan menggunakan nikmat yang ada untuk melaksanakan perintah-Nya.”
Semoga menjadi pengingat. Wallahua’lam. (adm)













Discussion about this post