Avesiar – Jakarta
Fadi Yassin, seorang jurnalis Al Jazeera ditembak dan terluka oleh pasukan Israel di Tepi Barat pada hari Selasa, dikutip dari The New Arab, Kamis (20/11/2025).
Tragedi terhadap jurnalis itu terjadi ketika pengepungan militer di Beit Ummar berlanjut untuk hari kedua, di tengah serangan pemukim yang terus berlanjut di wilayah pendudukan tersebut.
Yassin yang merupakan kameramen Al Jazeera saat itu sedang meliput demonstrasi warga kamp pengungsi Nur Shams, di tepi Tulkarem, ketika ia ditembak, yang terjadi setelah sejumlah pekerja media menjadi sasaran pasukan Israel di Gaza dan Tepi Barat.
“Kameramen Al Jazeera, Fadi Yassin, ditembak di kaki oleh pasukan Israel di kota Tulkarem,” lapor Al Jazeera.
Ia dirawat di rumah sakit karena luka tembak, tetapi diyakini dalam kondisi stabil.
“Kondisinya stabil, dan kami berhasil mengendalikan pendarahannya. Sebuah peluru menembus kaki kanannya dari luar, menembus, dan mengenai paha kirinya,” kata paramedis Bulan Sabit Merah Palestina, Abdullah Nairat.
Pemerintah Israel telah mendapat tekanan yang semakin besar dari komunitas internasional dalam beberapa pekan terakhir untuk mengekang serangan pemukim terhadap warga Palestina, dengan beberapa pejabat politik dan militer Israel mengecam keras serangan tersebut.
Setidaknya 1.003 warga Palestina telah tewas di Tepi Barat oleh pasukan atau pemukim Israel sejak dimulainya perang di Gaza pada Oktober 2023, menurut Kementerian Kesehatan Palestina. Serangan-serangan ini semakin intensif dalam beberapa bulan terakhir.
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA) baru-baru ini menyatakan bahwa Oktober mencatat jumlah serangan pemukim bulanan tertinggi sejak pencatatan dimulai pada tahun 2006. OCHA mendokumentasikan lebih dari 260 serangan, dengan rata-rata delapan insiden per hari.
Sementara itu, pemerintah sayap kanan Israel terus melanjutkan pembangunan permukiman ilegal di wilayah yang diduduki sejak 1967 tersebut. (ard)













Discussion about this post