Avesiar – Jakarta
Ibu memiliki kedudukan yang begitu mulia di dalam Islam. Tak heran bila ada ungkapan populer, “Al-ummu madrasatul ula” ibu adalah madrasah pertama. Artinya, ibu adalah guru pertama dalam kehidupan seorang anak.
Dari beliaulah anak mulai mengenal dunia: belajar berbicara, berjalan, mengenal adab, hingga mengenal Tuhannya.
Peran Ibu tidak tergantikan, dikutip dari berbagai sumber, adalah karena alasan-alasan berikut:
Pendidikan Pertama : Sejak dalam kandungan, ibu sudah mendidik dengan cinta. Ia mengajarkan nilai, akhlak, hingga agama semua dimulai dari rumah.
Penuh Kasih dan Ikhlas : Ibu mendidik bukan karena kewajiban semata, tapi dengan hati dan cinta yang tulus.
Teladan Utama : Ibu menjadi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Anak melihat, meniru, dan tumbuh bersama sikap serta perilakunya.
Islam menegaskan keutamaan menghormati dan menyayangi Ibu dalam Al Qur’an dan Hadist.
“Ibumu… Ibumu… Ibumu, kemudian ayahmu.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa ibu memiliki tiga kali hak lebih besar daripada ayah karena perjuangannya: mengandung, melahirkan, dan menyusui.
Al-Qur’an pun berulang kali memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada orang tua, terutama ibu:
Luqman: 14,
“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah…”
Al-Ahqaf: 15,
“Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah…”
Maryam: 32,
“Dan (Allah) menjadikanku berbakti kepada ibuku…”
Al-Baqarah: 233
“Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh…”
Al-Isra: 23
“…berbuat baiklah kepada ibu bapakmu.”
Dilarang Durhaka kepada Ibu
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengingatkan bahwa durhaka kepada ibu adalah dosa besar. Bahkan, dalam salah satu hadits, beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya surga itu di bawah telapak kaki ibu.” (HR An-Nasa’i)
Berbakti kepada ibu bukan sekadar kewajiban, tapi jalan menuju ridha Allah dan surga-Nya. Ibu bukan hanya sosok yang melahirkan kita, tapi juga jalan kebaikan yang bisa menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.
Merasakan dan mengambil hikmah tentang peran Ibu dalam Islam, berikut adalah beberapa komentar dari para anak yang telah menjadi para Ibu. Seperti apa?
Wiwi Herlianty, Ibu Rumah Tangga dan Karyawan Swasta

Bagi Ibu Wiwi Herlianty, makna “Surga di telapak kaki ibu” sangat dalam. “Sehebat apapun kita, jangan lupa hormat dan patuh pada ibu. Karena doa ibulah, segala kebaikan dalam hidup bisa terjadi,” tuturnya.
Kini, ketika dirinya sudah menjadi ibu, kesadaran itu semakin kuat. Beruntung, ibunya tinggal bersamanya, jadi ia bisa langsung merawat dan membahagiakan sosok yang dulu penuh kasih merawat dirinya.
Namun, menjadi anak yang berbakti sekaligus ibu yang bertanggung jawab bukan hal mudah. “Saya belajar memahami ibu saya. Tidak membantah atau berkata kasar. Dari situ, saya juga belajar mendidik anak-anak dengan pendekatan yang lembut dan menjadi pendengar mereka,” jelasnya.
Meski sibuk bekerja, Ibu Wiwi selalu menyempatkan quality time bersama anak-anak. Ia percaya bahwa perhatian kecil dan kehadiran yang tulus lebih bermakna daripada banyaknya waktu.
Soal mendidik anak dalam agama, ia memilih memberi contoh langsung. Mulai dari shalat, mengaji, hingga menghormati orang tua, semua dilakukan bersama-sama. “Mereka lihat dulu, lalu meniru. Bukan karena paksaan, tapi karena sudah jadi kebiasaan,” ujarnya.
Bagi Ibu Wiwi, menjadi ibu adalah kesempatan berharga untuk terus belajar, menjadi teladan, dan mewariskan cinta yang penuh berkah dari seorang ibu, untuk generasi selanjutnya.
Saini Suryani, Ibu dan Guru PAUD

Bagi Saini Suryani, ungkapan “Surga di telapak kaki ibu” bukan sekadar kalimat indah tapi gambaran nyata tentang besarnya pengorbanan seorang ibu sejak mengandung, melahirkan, hingga membesarkan anak-anaknya dengan cinta tanpa pamrih. Tak heran, Islam menempatkan ibu tiga kali lebih utama untuk dihormati.
Meski kini menjadi ibu, Saini tetap berbakti kepada ibunya hingga akhir hayat sang bunda. Ia melayani dan menyayanginya sepenuh hati, tentu dengan izin suami. “Kalau anak-anak memperlakukan saya dengan baik kelak, itu bonus,” katanya.
Namun, perjalanan jadi anak sekaligus ibu tidak selalu mulus. Tantangan terbesarnya? Ujian dari anak-anak sendiri. “Kadang sabar saya tipis, Tapi justru mereka yang mengajari saya arti kesabaran,” tuturnya sambil tersenyum.
Dalam keluarga, ia dan suami membiasakan ibadah tepat waktu, bicara lembut kepada orang tua, membantu sesama, dan tidak merasa paling benar. “Yang penting, memanusiakan manusia,” ujarnya.
Untuk mendekatkan anak-anak pada agama, Saini punya cara khusus, membacakan kisah Nabi, mengenalkan ayat dan hadis, membuka sesi tanya jawab soal bakti, bahkan mengajak anak-anak mengunjungi orang tua lansia. Semua itu dilakukan agar cinta dan hormat pada orang tua tumbuh sejak dini, Karena bagi Saini, jadi anak yang shalehah tak pernah berhenti sekalipun kita sudah menjadi ibu.
Nur Hasanah, Ibu Rumah Tangga dan Pekerja
Bagi Nur Hasanah, menjadi ibu bukan alasan untuk berhenti berbakti kepada orang tua. “Surga di telapak kaki ibu” bukan sekadar kata-kata tapi panduan hidup. Baginya, ridha orang tua adalah kunci ridha Allah.
Meski sudah jadi ibu, Nur tetap sering mengunjungi dan menanyakan kabar orang tuanya. Ia selalu siap membantu, mendengarkan nasihat, dan menghormati mereka sepenuh hati.
Tapi hidup tidak selalu mudah. “Tantangan terbesarnya adalah membagi waktu dan perhatian antara menjadi anak yang berbakti dan ibu yang bertanggung jawab,” ungkapnya. Meski begitu, ia terus belajar untuk sabar, jujur, dan konsisten dalam sikap maupun perkataan.
Dalam mendidik anak, Nur memberi contoh nyata. Ia mengajarkan doa sejak dini, menceritakan kisah Islami, dan menanamkan pentingnya menghormati orang tua. Semua itu ia lakukan sambil terus berusaha menjadi anak yang tak lupa pada asalnya, Karena menjadi ibu tak menghapus status sebagai anak.
Azizah, Ibu Rumah Tangga dan Pegawai Swasta

Bagi Azizah, ungkapan “Surga di telapak kaki ibu” adalah simbol cinta dan pengorbanan tanpa syarat. Ibu adalah tempat pertama yang kita cari, baik saat bahagia maupun terluka.
Meski kini telah menjadi ibu, ia tetap berusaha berbakti kepada orang tuanya. “Kadang cukup dengan mendengarkan cerita hari-hari mereka. Itu sudah sangat berarti,” katanya.
Tantangan terbesarnya adalah membagi waktu dan menjaga konsistensi di tengah rutinitas. Namun, ia selalu berusaha hadir, baik untuk orang tuanya maupun anak-anaknya.
Untuk menjadi teladan, Ibu Azizah memilih memberi contoh nyata. Sholat tepat waktu dan menjadi pendengar yang baik adalah dua hal yang ia terapkan setiap hari.
Ia percaya, anak-anak akan meniru apa yang mereka lihat. Maka, pendekatan yang ia pakai untuk mendekatkan anak pada agama pun sederhana: lakukan bersama, setiap hari, dengan konsisten. “Orang tua adalah cerminan. Kalau kita ingin anak sholat tepat waktu, kita harus mulai dari diri sendiri,” tutupnya.
(rst/dari berbagai sumber)













Discussion about this post