Avesiar – Jakarta
Indonesia bersinar di ajang The World Summit on the Information Society (WSIS) Prizes 2026. International Telecommunication Union (ITU), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memberikan pengakuan untuk tiga inovasi digital Indonesia yang memperluas akses pendidikan, meningkatkan keamanan siber, dan membantu masyarakat melawan hoaks.
Melalui siaran pers Komdigi, Rabu (10/6/2026), Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai capaian tersebut menunjukkan transformasi digital Indonesia semakin mampu menghadirkan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat.
Kualitas inovasi Indonesia yang masuk dalam nominasi WSIS tahun ini, menurut dia, menunjukkan kemajuan signifikan dalam pemanfaatan teknologi digital untuk layanan publik.
“Saya melihat yang jadi nomine dan pemenang di WSIS tahun ini bobotnya makin kuat sejak tiga tahun terakhir,” ujar Wamen Nezar Patria saat menerima audiensi nomine WSIS Prizes 2026 di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Rabu (10/06/2026).
Indonesia berhasil menempatkan 3 inisiatif terbaik di antara 90 WSIS Champions 2026 dari seluruh dunia di ajang WSIS Prizes 2026 tersebut.
Ketiga inisiatif tersebut adalah Jakarta Lawan Hoaks (Jalahoaks) dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, serta Rumah Pendidikan dan Anugerah Bug Bounty dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen).
Nezar menilai berbagai inovasi yang dikembangkan Kemdikdasmen maupun Pemprov DKI Jakarta memiliki manfaat nyata bagi masyarakat serta mampu mendorong transformasi digital di sektor publik.
Keberhasilan tersebut, imbuhnya, dapat menjadi contoh bagi kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah lainnya untuk menghadirkan layanan publik yang lebih dekat, mudah diakses, dan responsif melalui platform digital.
“Inisiatifnya sangat baik, sangat useful, juga impactful untuk mendorong transformasi digital dalam layanan publik,” pujinya.
Jakarta Lawan Hoaks (Jalahoaks) mendapat perhatian sebagai salah satu inovasi yang dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya ancaman misinformasi dan disinformasi.
Nezar menegaskan perkembangan teknologi kecerdasan artifisial generatif membuat hoaks semakin sulit dibedakan dari informasi yang autentik.
“Hoaks makin lama makin canggih, terlebih dengan adanya generative AI. Bisa dibuat hoaks yang sangat mirip dengan sesuatu yang otentik,” ujanya.
Sedangkan program Anugerah Bug Bounty dinilai berkontribusi memperkuat budaya keamanan siber nasional. Program tersebut dinilai mampu melibatkan para white hacker untuk mengidentifikasi kerentanan sistem sekaligus mendorong pemanfaatan kemampuan digital secara positif dan produktif.
“Kita bisa mendapat input soal kerentanan sistem yang kita bangun sekaligus mendidik generasi muda menggunakan kemampuannya untuk hal-hal yang positif,” katanya.
Sementara platform Rumah Pendidikan menjadi bukti upaya pemerintah membangun ekosistem digital di bidang pendidikan yang terintegrasi guna memperluas akses layanan pendidikan bagi masyarakat di seluruh Indonesia.
Nezar berharap para pemenang atau pihak yang mewakili bisa hadir langsung dalam acara penyerahan penghargaan WSIS Prizes 2026 di Jenewa, Swiss, pada minggu pertama Juli 2026.
Dalam ajang WSIS Prizes 2026, terdapat 1.596 inovasi digital dari 122 negara yang berpartisipasi.
Sebanyak 2,2 juta orang telah memberikan suara untuk memilih inovasi digital yang terbaik dari seluruh peserta.
Hasil voting ini diperiksa kembali oleh para pakar dari WSIS sehingga terpilih 90 champion dengan 3 champion berasal dari Indonesia.
Komdigi berharap ada champion dari Indonesia yang menjadi pemenang Winner WSIS Prizes 2026 yang hasilnya akan diumumkan dalam WSIS Forum bulan depan. (put)












Discussion about this post