• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Citizen Journalism & Video Cerpen dan Puisi

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 1)

by Avesiar
28 Maret 2025 | 21:30 WIB
in Cerpen dan Puisi
Reading Time: 7 mins read
A A
Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 1)

Ilustrasi. Foto: alkhoirot.net. Kolase: Avesiar.com

Avesiar – Cerpen dan Puisi

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 1)

Oleh: Mas Ngabehi

***************

Malam di Surakarta begitu syahdu. Lampu-lampu kota berpendar lembut, membentuk kilauan samar yang berbaur dengan gelapnya langit. Angin berhembus perlahan, membelai pepohonan yang merunduk dalam diam.

Gemericik air dari kejauhan seolah bersenandung, menyertai kesunyian yang menyelimuti malam. Hanya suara azan yang berkumandang dari kejauhan, menyeru jiwa-jiwa yang haus akan kasih Ilahi.

Di sebuah mushala kecil di sudut kota, seorang pemuda tengah bersujud. Zakariyah, dengan sorban putih yang melingkar di kepalanya, berdoa dalam linangan air mata. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi sajadah yang telah menjadi saksi bisu pergulatan batinnya.

“Ya Allah, jika cinta ini adalah jalan menuju keridhaan-Mu, maka bimbinglah aku. Namun jika ia hanya ujian bagi hatiku, maka jauhkanlah dengan kelembutan-Mu.”

Bacaan Terkait :

Kisah Sejati “Kasih Tak Sampai” Layla Majnun, Menjadi Ibrah Kisah Cinta Anak Manusia

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 3, habis)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 2)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya,Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 3, habis)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 2)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 1)

Cerpen: Saat Takdir Bertaut di Mihrab Cinta (bagian 4, habis)

Load More

Suara lirihnya menggema dalam kesunyian. Hatinya bergetar, jiwanya mengadu pada Sang Khalik. Cinta yang ia simpan begitu dalam kini hadir sebagai ketundukan, sebagai munajat yang penuh kepasrahan.

Di tempat lain, seorang gadis juga sedang menangis dalam diam. Ruqayyah, dengan jilbab panjangnya yang menjuntai, menatap Al-Qur’an yang terbuka di hadapannya. Lembaran suci itu menyaksikan betapa air matanya jatuh, membentuk jejak di atas ayat-ayat yang ia baca.

“Hasbunallahu wa ni’mal wakiil…”

Ia mengulang-ulang ayat itu dengan suara yang hampir tak terdengar, seolah mencari penguatan dalam setiap kata yang ia lafalkan. Jiwanya bergemuruh dalam doa. Ada sesuatu yang mengguncang hatinya, sesuatu yang ia tak mampu diungkapkan kecuali dalam sujud dan tangisan.

Mereka berada di tempat yang berbeda, dalam ruang dan waktu yang terpisah. Namun, hati mereka bertaut dalam munajat yang sama. Dalam doa, dalam kepasrahan, dalam linangan air mata yang sama-sama mereka titipkan kepada Allah. Mereka tidak tahu apakah cinta ini akan berujung pada kebersamaan atau hanya akan menjadi doa yang tersimpan dalam sunyi.

Langit Surakarta semakin larut. Bintang-bintang bertaburan, seakan menjadi saksi bisu dari dua hati yang merintih dalam ketulusan. Malam menjadi saksi bahwa ada cinta yang tidak meminta untuk dimiliki, melainkan hanya ingin diridhoi.

Zakariyah menarik napas panjang, lalu bangkit perlahan. Ia menatap mihrab mushala dengan mata yang masih sembab, lalu berbisik lirih,

“Ya Rabb, jika dia adalah tulang rusukku, maka dekatkanlah dengan cara yang Kau ridhoi. Jika tidak, maka ajarkan aku ikhlas untuk mencintainya dalam doa.”

Sementara di sudut lain kota, Ruqayyah menutup mushafnya dengan penuh haru. Bibirnya bergerak pelan, mengucapkan kalimat yang sama dalam hatinya,

“Jika dia adalah jodohku, maka pertemukanlah kami dalam keberkahan. Jika bukan, maka kuatkanlah aku untuk merelakan.”

Malam terus beranjak, menyimpan kisah dua hati yang tak saling bersua, namun bertemu dalam satu munajat yang sama. Cinta yang tak meminta, hanya berserah kepada Pemilik Semesta.

Pertemuan Awal di kampus UNS

Matahari senja mulai meredup di ufuk barat, menebarkan semburat jingga yang memeluk langit Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) dengan kehangatan yang lembut.

Di pelataran Masjid Nurul Huda, para mahasiswa berlalu lalang, sebagian bersiap menunaikan salat Magrib, sebagian lagi duduk melingkar dalam kajian yang tengah berlangsung.

Di dalam masjid, suasana penuh ketenangan. Seorang pemuda berdiri di hadapan para peserta kajian, mengenakan baju koko putih sederhana, dengan raut wajah yang menyejukkan. Dialah Zakariyah, mahasiswa semester akhir yang dikenal aktif dalam kajian Islam. Hari ini, ia membawakan tema yang menyentuh banyak hati: Cinta dalam Islam.

“Saudara-saudaraku,” suaranya tenang namun penuh ketegasan, “cinta dalam Islam bukan sekadar perasaan, tetapi bagian dari ujian. Ia bisa menjadi jalan menuju kebaikan, atau justru menjerumuskan ke dalam kelalaian.”

Di antara peserta yang mendengarkan dengan khidmat, seorang gadis berjilbab panjang duduk dengan sikap penuh perhatian. Ruqayyah, mahasiswi Fakultas Sastra yang baru saja mengenal dunia kajian Islam lebih dalam. Kata-kata Zakariyah menggetarkan hatinya. Setiap kalimat yang disampaikan begitu penuh makna, menghunjam ke dalam relung hati yang terdalam.

“Ketika kita mencintai seseorang,” lanjut Zakariyah, “jangan jadikan ia tujuan utama hidup kita. Sebab, hakikat cinta sejati adalah membawa kita lebih dekat kepada Allah. Jika cinta kita membuat kita lalai dari-Nya, maka bisa jadi itu bukan cinta yang dirahmati.”

Ruqayyah menunduk. Ada banyak pertanyaan dalam hatinya yang selama ini belum menemukan jawaban. Mungkin inilah mengapa hatinya terpanggil untuk hadir di kajian ini. Ada sesuatu yang menuntunnya untuk memahami cinta dalam perspektif yang lebih suci.

Kajian berakhir dengan doa bersama. Setelahnya, para peserta berangsur-angsur keluar dari masjid. Namun, langkah Ruqayyah terasa berat. Ada dorongan dalam hatinya untuk bertanya lebih lanjut kepada Zakariyah. Dengan langkah pelan, ia mendekat.

“Assalamu’alaikum, Kak Zakariyah,” sapa Ruqayyah dengan suara lembut.

Zakariyah menoleh dan tersenyum ramah. “Wa’alaikumussalam. Ada yang bisa saya bantu?”

Ruqayyah menggenggam jemari tangannya sendiri, berusaha menguatkan diri untuk bertanya. “Saya ingin memahami lebih dalam tentang cinta dalam Islam. Bagaimana jika seseorang merasakan perasaan itu, tetapi ia takut tidak mampu menjaganya dalam koridor syariat?”

Zakariyah menatapnya sejenak, lalu menjawab dengan tenang,

“Cinta yang benar adalah yang tidak membuat kita jauh dari Allah. Jika cinta itu membuat kita lebih banyak berdoa, lebih banyak mendekat kepada-Nya, maka itu bisa jadi cinta yang baik. Namun, jika ia hanya menjadi kegelisahan dan angan-angan tanpa arah, maka mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah ini cinta yang diridhoi-Nya?”

Ruqayyah mengangguk, kata-kata itu terasa begitu menyejukkan. “Jadi… cinta itu harus diarahkan kepada Allah lebih dahulu?”

Zakariyah tersenyum. “Benar. Jika kita mencintai seseorang karena Allah, maka kita akan menjaganya dengan cara yang Allah perintahkan.”

Percakapan singkat itu meninggalkan kesan mendalam di hati masing-masing. Ruqayyah merasa hatinya lebih tenang, sementara Zakariyah menyadari bahwa dalam setiap tanya yang datang, ada hikmah yang Allah selipkan.

Malam semakin larut, namun ada sesuatu yang terus hidup dalam doa mereka masing-masing. Sebuah munajat cinta yang terjaga dalam linangan air mata dan kepasrahan.

Kedekatan dalam Batas Syariat

Mentari pagi menyingsing di ufuk timur, menebarkan cahaya keemasan yang menyelimuti Pasar Klewer dengan kehangatan. Di antara hiruk-pikuk pedagang dan pembeli, seorang gadis berjilbab lebar tampak sibuk melayani pelanggan di kios kain milik keluarganya.

Dialah Ruqayyah, yang dengan lembut melipat kain-kain batik dan tersenyum kepada pelanggan yang datang.

Di sudut lain kota Solo, Zakariyah, seorang mahasiswa yang dikenal dengan ketekunannya dalam ilmu agama, tengah menyusuri jalan menuju Taman Jurug. Tempat itu telah menjadi persinggahannya untuk bertafakur dan merenungi kebesaran Allah.

Sesekali ia duduk di bawah pohon rindang, membaca Al-Qur’an atau menuliskan renungannya dalam buku kecil yang selalu ia bawa.

Pertemuan yang Tak Terduga

Suatu sore, takdir mempertemukan mereka di Pasar Klewer. Zakariyah datang untuk membeli kain sebagai hadiah untuk ibunya. Saat ia berjalan di antara kios-kios, matanya tanpa sengaja menangkap sosok Ruqayyah yang tengah membantu seorang ibu tua memilih kain.

“Silakan, Bu, kain ini lembut dan cocok untuk acara pengajian,” ucap Ruqayyah lembut, sembari menyerahkan sehelai kain bermotif klasik.

Zakariyah hanya tersenyum tipis dari kejauhan. Ada sesuatu dalam kelembutan dan kesantunan Ruqayyah yang membuatnya teringat akan kisah wanita-wanita shalihah dalam sejarah Islam. Ia pun melanjutkan langkahnya tanpa bermaksud menyapa, menjaga adab sebagaimana yang diajarkan Rasulullah.

Namun, takdir kembali mempertemukan mereka di Taman Jurug. Sore itu, Ruqayyah yang baru saja selesai membantu keluarganya berdagang, memutuskan untuk singgah di taman guna melepas lelah. Ia duduk di bangku taman, menikmati semilir angin yang berembus lembut.

Zakariyah yang tengah membaca Al-Qur’an di bawah pohon melihatnya sekilas. Ia tak berani menatap lama, namun dalam hati, ada doa yang terbisik, “Ya Allah, jika perempuan ini adalah bagian dari takdirku, dekatkanlah dalam kebaikan. Jika tidak, jauhkanlah tanpa meninggalkan luka.”

(bersambung ke bagian 2)

______________

Selayang pandang:

Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.

Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.

Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan  pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).

Tags: Cerita PendekCerpenCerpen CintaCerpen KehidupanCerpen MotivasiCerpen ReligiKasih Tak SampaiMunajat Cinta
ShareTweetSendShare
Previous Post

Menjaga Rahasia Keluarga dan Pribadi, Menurut Kamu?

Next Post

Gempa Dahsyat 7,7 SR Menewaskan Lebih dari 144 Warga Myanmar, Negara di Mana Etnis Rohingnya juga Tinggal

Mungkin Anda Juga Suka :

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

14 Maret 2026

...

Di Ambang Mahacahaya

Di Ambang Mahacahaya

9 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

9 Maret 2026

...

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

8 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

8 Maret 2026

...

Load More
Next Post
Gempa Dahsyat 7,7 SR Menewaskan Lebih dari 144 Warga Myanmar, Negara di Mana Etnis Rohingnya juga Tinggal

Gempa Dahsyat 7,7 SR Menewaskan Lebih dari 144 Warga Myanmar, Negara di Mana Etnis Rohingnya juga Tinggal

Nilai-nilai Apa yang Orang Tuamu Tanamkan ke Anak-anaknya?

Nilai-nilai Apa yang Orang Tuamu Tanamkan ke Anak-anaknya?

Discussion about this post

TERKINI

Imbas Serangan AS-Israel ke Iran yang Membuat Selat Hormuz Ditutup, 13 Juta Barel Hilang Setiap Hari

25 April 2026

Fatayat NU Memperingati Harlah Ke-76 dengan Ziarah dan Aksi Sosial Serentak

25 April 2026

Trump Ngebet Minta Iran Diganti Italia di Piala Dunia Sejak Maret, Italia Tidak Sudi

24 April 2026

Negara Asal Merek-merek Handphone yang Pernah dan Masih Diproduksi

24 April 2026

Pemilu Pertama Gaza Sejak Lebih dari Dua Dekade Kosong Akan Berlangsung di Deir al-Balah Sabtu Ini

23 April 2026

Iran Peringatkan Negara-negara Teluk Agar Tidak Mengizikan Wilayahnya Jadi Tuan Rumah Serangan

22 April 2026

Menjalani Usia Paruh Baya yang Identik dengan Midlife Crisis, Kiat Sehat Psikis dan Fisik

22 April 2026

Trump Posting di Truth Social Ngamuk-ngamuk Dianggap Dirayu Netanyahu untuk Perang Lawan Iran dan Kredibilitasnya 32 Persen

21 April 2026

Pematangan Giant Sea Wall Pantura Dipercepat, Ratas Dipimpin Presiden Prabowo

21 April 2026

Negosisasi Putaran Dua Akan Kembali Dimediasi Pakistan dalam Beberapa Jam, Iran Belum Konfirmasi dan Trump Kembali Ancam

20 April 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video