Avesiar – Jakarta
Gempa dahsyat sebesar 7,7 skala Richter memporakporandakan Myanmar, tengah hari Jum’at (28/3/2025), negara di mana etnis Muslim Rohingnya juga tinggal.
Dikutip dari The Guardian, gempa dengan episentrum di dekat Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar telah menghancurkan bangunan, jembatan, dan bendungan, menewaskan setidaknya lebih dari 144 orang di mana juga terdapat 732 lainnya luka-luka.
Negara tetangga Myanmar, Thailand juga terkena gempa tersebut di mana terdapat gedung pencakar langit yang sedang dibangun juga runtuh rata dengan tanah, menewaskan 8 orang, termasuk tewasnya 7 orang dan 90 hilang di lokasi konstruksi bangunan.
Bencana yang diikuti oleh gempa susulan berkekuatan 6,4 skala Richter juga terasa di provinsi Yunnan di barat daya Tiongkok, menurut badan gempa Beijing, dikutip dari The Guardian.
Perdana menteri Paetongtarn Shinawatra mengumumkan keadaan darurat di Bangkok pada hari Jumat. Sementara balai kota Bangkok mengatakan pada hari Jumat bahwa ibu kota Thailand telah dinyatakan sebagai daerah bencana.
Myanmar terlibat dalam perang saudara dan informasinya dikontrol ketat. Diperkirakan jumlah korban tewas dan cedera akan meningkat seiring dengan berlanjutnya operasi penyelamatan.
Sementara, Amnesty International dan Human Rights Watch telah meminta junta militer Myanmar untuk mengizinkan akses kemanusiaan. Sebelumnya pada hari itu, junta membuat permintaan bantuan internasional yang langka saat mengumumkan keadaan darurat di enam wilayah.
Palang Merah menyampaikan keprihatinannya dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sedang menyiapkan pasokan medis dan mengatakan telah mengaktifkan sistem manajemen daruratnya sebagai tanggapan terhadap gempa bumi “besar” hari Jumat di Myanmar. (ard)













Discussion about this post