KAMU KUAT – Jakarta
Di era modern yang penuh dengan perubahan, nilai-nilai yang diajarkan orang tua sejak kecil sering kali diuji oleh lingkungan dan teknologi. Banyak remaja menghadapi tantangan dalam mempertahankan prinsip-prinsip yang telah ditanamkan dalam keluarga mereka.
Namun, seberapa relevan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan remaja saat ini? Dan bagaimana cara terbaik untuk menjaganya di tengah perkembangan zaman?
Yuk, simak penuturan beberapa sahabat kanal remaja KAMU KUAT! Avesiar.com berikut ini!
Dyo, mahasiswa semester 4, UPN Veteran Jakarta

Sejak kecil, Dyo diajarkan untuk membantu orang yang kesusahan dengan ikhlas, bersikap jujur, dan selalu bertanggung jawab. Selain itu, nilai-nilai agama juga menjadi pegangan penting dalam keluarganya.
“Orang tua saya selalu menanamkan nilai-nilai agama dan mengajarkan saya untuk membantu orang lain tanpa pamrih. Mereka juga menekankan pentingnya kejujuran dan tanggung jawab dalam setiap hal yang saya lakukan,” ujarnya.
Bagi Dyo, orang tuanya bukan hanya mengajarkan nilai-nilai itu melalui kata-kata, tetapi juga lewat tindakan. “Mereka memberi tahu saya secara lisan, tapi juga memberikan contoh langsung. Jadi, saya belajar dari apa yang mereka lakukan, bukan hanya dari apa yang mereka katakan,” katanya.
Misalnya, ia dibiasakan untuk selalu berkata jujur sejak kecil, bahkan dalam hal-hal yang tampak sepele. Jika melakukan kesalahan, lebih baik mengakuinya daripada menutupinya dengan kebohongan.
Dyo bercerita bahwa orang tuanya selalu mengutamakan kejujuran, meskipun itu berarti harus menerima konsekuensi. “Saya pernah melakukan kesalahan, dan orang tua saya menasihati saya untuk jujur serta menerima konsekuensinya daripada berbohong untuk menghindari hukuman. Mereka mengajarkan bahwa kejujuran akan membawa kebaikan dalam jangka panjang,” ungkapnya.
Namun, hukuman yang diberikan bukanlah sesuatu yang keras. Biasanya, jika ia melanggar nilai yang diajarkan, orang tuanya hanya akan memberikan teguran sebagai bentuk pengingat agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Di tengah perkembangan zaman dan perubahan gaya hidup remaja, apakah nilai-nilai seperti ini masih relevan? Menurut Dyo, jawabannya adalah iya. “Nilai-nilai yang diajarkan orang tua saya masih relevan dan akan selalu relevan, karena kejujuran, ketulusan, dan tanggung jawab adalah hal yang dibutuhkan di setiap zaman,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pelajaran hidup yang paling membekas dari orang tuanya, yaitu tentang kesabaran dan ketegaran dalam menghadapi cobaan. “Banyak cobaan atau musibah yang terjadi, tetapi orang tua saya selalu sabar dan tegar. Mereka mengajarkan bahwa setiap kejadian pasti ada hikmahnya,” tambahnya.
Muhammad Althaf Akbar, siswa kelas 8, SMP Negeri 11, Kota Tangerang Selatan

Di era digital seperti sekarang, banyak nilai kehidupan yang mulai dianggap tidak relevan oleh sebagian remaja. Namun, bagi Muhammad Althaf Akbar, siswa kelas 8 di SMPN 11 Kota Tangerang Selatan, dua nilai yang tetap ia pegang teguh adalah keagamaan dan sopan santun.
Menurut Althaf, kedua nilai ini sangat penting karena membentuk cara seseorang bersikap dan berinteraksi dengan orang lain. “Orang tua saya mengajarkan keagamaan dan sopan santun dengan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti sholat lima waktu, mengaji, dan salim kepada orang yang lebih tua,” ungkapnya.
Meski banyak anak muda yang menganggap nilai-nilai tersebut kurang penting di zaman sekarang, Althaf justru berpikir sebaliknya. “Menurut saya, keagamaan dan sopan santun masih sangat relevan karena dapat membantu kita menjaga etika dan meningkatkan rasa empati terhadap sesama,” tambahnya.
Orang tua Althaf tidak hanya mengajarkan nilai-nilai ini, tetapi juga memastikan bahwa ia tetap menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika ia mulai lalai, seperti lebih sering bermain game hingga lupa beribadah, ayahnya akan memberikan teguran dan menerapkan aturan baru.
“Misalnya, jika saya terlalu sering main game lalu lupa ibadah, maka waktu bermain game akan dikurangi,” jelasnya.
Setiap keluarga memiliki nilai yang berbeda-beda dalam mendidik anaknya. Althaf pun pernah merasa nilai yang diajarkan di rumahnya berbeda dengan nilai yang dipegang oleh teman-temannya. Namun, ia belajar untuk tidak langsung menilai orang lain.
“Saya tidak tahu kondisi atau situasi apa yang membuat seseorang diajarkan nilai yang berbeda dengan saya,” ujarnya.
Ia juga merasa bangga ketika berhasil menerapkan ajaran orang tuanya dalam kehidupan sehari-hari. “Saya merasa bangga ketika melihat salah satu teman SD saya kurang menjaga sikapnya saat di rumah temannya, sedangkan saya bisa tetap menerapkan nilai yang diajarkan orang tua saya,” katanya.
Meskipun nilai-nilai yang diajarkan orang tuanya masih relevan hingga saat ini, Althaf menyadari bahwa teknologi dan media sosial bisa memengaruhi seseorang, terutama jika digunakan secara berlebihan.
“Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, jika saya terlalu lama bermain game, orang tua saya akan menegur saya. Jadi, saya harus bisa mengontrol diri agar tidak terpengaruh hal-hal negatif dari teknologi,” Tutup Althaf
Ahmad Irsyad Imamuddin, siswa kelas 11, Pondok Pesantren Mambaul Hikmah, Mojokerto

Setiap orang tua pasti punya nilai dan prinsip yang mereka ajarkan sejak kecil, mulai dari disiplin, kerja keras, hingga sikap bertanggung jawab.
Salah satu nilai paling penting yang diajarkan oleh orang tua Irsyad adalah tidak boleh bermalas-malasan. Sejak kecil, ia diajarkan untuk selalu disiplin dan aktif dalam menjalani kehidupan. “Orang tuaku menanamkan nilai ini dengan memberi contoh yang baik dan membiasakan kedisiplinan dalam keseharian,” ujarnya.
Menurut Irsyad, prinsip ini masih sangat relevan dengan kehidupan remaja zaman sekarang. Di tengah berbagai distraksi seperti media sosial dan game online, disiplin dan kerja keras tetap menjadi kunci untuk mencapai kesuksesan di masa depan.
“Aku diajarkan untuk tidak terlalu ikut campur dalam masalah orang lain dan lebih fokus pada pengembangan diri sendiri,” katanya.
Prinsip ini mengajarkannya untuk lebih mandiri dan tidak mudah terpengaruh oleh masalah atau drama yang tidak perlu.
Ketika ditanya apakah ada nilai yang dulu sangat ditekankan tetapi sekarang mulai berubah, ia mengakui “ada.” Namun, tidak semua nilai mengalami perubahan drastis. Banyak prinsip yang tetap ia pegang karena telah terbukti membantu dalam kehidupan sehari-hari.
Teknologi dan media sosial juga memainkan peran besar dalam membentuk atau bahkan mengubah nilai-nilai yang diajarkan oleh orang tua. “Media sosial sangat berpengaruh besar, bisa menjadi positif maupun negatif,” ujarnya.
Di satu sisi, teknologi mempermudah akses terhadap informasi dan pembelajaran. Namun, di sisi lain, media sosial juga bisa memengaruhi cara remaja berpikir dan bertindak, bahkan terkadang bertentangan dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua mereka.
Muhammad Azzamy Zulfaqqar Hamizan, siswa kelas 8, Al Bina Boarding School, Bekasi

Di zaman yang serba cepat ini, banyak remaja menghadapi tantangan dalam mempertahankan nilai-nilai yang diajarkan oleh orang tua mereka sejak kecil. Namun, bagi Muhammad Azzamy Zulfaqqar Hamizan, siswa kelas 8 di Al Bina Boarding School, ada satu nilai yang tetap menjadi prioritas utama dalam hidupnya: shalat.
Sejak kecil, Azzamy diajarkan oleh orang tuanya untuk selalu shalat tepat waktu. Nilai ini tidak hanya tentang menjalankan kewajiban agama, tetapi juga membentuk disiplin dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
“Orang tua saya menanamkan nilai ini dengan membiasakan saya shalat tepat waktu. Mereka selalu mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan Tuhan melalui shalat,” ujarnya.
Dalam setiap ajaran, tentu ada konsekuensi bagi yang melanggar. Azzamy mengakui bahwa jika ia lalai dalam menjalankan shalat atau nilai-nilai lain yang diajarkan, orang tuanya akan memberinya hukuman atau teguran sebagai bentuk pengingat.
Namun, hukuman ini bukan bertujuan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membentuk kebiasaan baik yang akan berguna di masa depan.
Menariknya, Azzamy juga menyadari bahwa nilai-nilai yang diajarkan di keluarganya mungkin berbeda dengan nilai yang diterapkan di keluarga teman-temannya.
“Saya pernah melihat bahwa ajaran yang baik menurut orang tua teman saya berbeda dengan ajaran di keluarga saya. Tapi, saya tetap menghormati perbedaan itu,” katanya. Perbedaan ini menunjukkan bahwa setiap keluarga memiliki prinsip yang unik dalam mendidik anak-anaknya.
Bagi Azzamy, ada momen di mana ia merasa bangga karena berhasil menerapkan nilai yang diajarkan oleh orang tuanya. Hal ini membuatnya lebih percaya diri dalam menjalani kehidupan dan menghadapi berbagai tantangan.
“Ada saat-saat di mana saya merasa bangga karena bisa menjalankan nilai-nilai yang diajarkan orang tua saya, terutama dalam menjaga disiplin waktu dan ibadah,” ungkapnya.
Di era digital, teknologi dan media sosial memiliki pengaruh besar dalam kehidupan remaja. Azzamy menyadari bahwa jika tidak digunakan dengan bijak, teknologi bisa mengganggu nilai-nilai yang sudah ditanamkan oleh orang tua.
“Saya diajarkan untuk menggunakan teknologi sesuai waktunya dan tetap ingat dengan kewajiban yang lebih penting, seperti ibadah dan belajar,” jelasnya.
Ustadz Abdurrachman

Di zaman yang serba digital ini, tantangan dalam mendidik anak semakin besar. Orang tua bukan hanya harus membekali anak dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai agama dan akhlak agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Ustadz Abdurrachman menyoroti pentingnya pendidikan agama dalam kehidupan anak-anak, sebagaimana yang telah diajarkan dalam Al-Qur’an.
Pengenalan kepada Tuhan (ilmu tauhid) dan akhlakul karimah merupakan dasar dalam pendidikan anak. Al-Qur’an telah mengajarkan pentingnya nilai-nilai ini dalam QS. Luqman: 13-19, di mana Luqman menasihati anaknya agar tidak menyekutukan Allah, selalu bersyukur, dan berbuat baik kepada sesama.
Sebagai orang tua, kewajiban utama adalah menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka, sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Tahrim: 6. Selain itu, anak juga perlu dibimbing agar mampu menebarkan kebaikan dan tidak berbuat sewenang-wenang terhadap orang lain (QS. Luqman: 17-19).
Agar nilai-nilai kebaikan tertanam kuat dalam diri anak, orang tua harus menerapkan beberapa metode, yaitu:
• Komunikasi yang Baik – Anak perlu merasa bahwa orang tuanya adalah tempat bercerita yang nyaman.
• Memberikan Perhatian – Dengan menunjukkan kasih sayang, anak akan memahami bahwa tidak ada yang lebih peduli padanya selain orang tua.
• Menjadi Contoh yang Baik – Anak akan lebih mudah meniru perbuatan orang tua daripada hanya mendengar nasihat.
Salah satu tantangan terbesar dalam mendidik anak di era modern adalah pengaruh lingkungan dan teman yang kurang baik. Rasulullah SAW bersabda:
“Seseorang itu tergantung agama temannya, oleh karena itu lihatlah siapa yang akan kamu jadikan teman.” (HR. Bukhari)
Selain lingkungan, tontonan yang tidak mendidik juga menjadi faktor yang dapat merusak pemikiran anak-anak zaman sekarang. Oleh karena itu, orang tua harus selektif dalam mengawasi apa yang dikonsumsi anak, baik dari segi pergaulan maupun media yang mereka akses.
Di era digital, teknologi bisa menjadi alat yang membantu pendidikan agama, asalkan digunakan dengan bijak. Orang tua bisa menerapkan beberapa strategi berikut:
• Membagi waktu antara belajar agama dan pemanfaatan teknologi
• Menggunakan media digital untuk memperdalam ilmu agama
• Menyediakan konten-konten Islami yang menarik bagi anak
Jika seorang anak mulai lebih terpengaruh oleh teman-temannya dibandingkan nilai-nilai keluarga, orang tua bisa mengambil langkah-langkah berikut:
• Menjadikan rumah sebagai tempat yang nyaman dan harmonis
• Menghindari pertengkaran di depan anak
• Menempatkan anak di lingkungan dan pergaulan yang baik.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa kewajiban orang tua terhadap anak meliputi memberi nama yang baik, mendidik, dan menempatkan anak di lingkungan yang baik. Nabi Ibrahim AS bahkan menempatkan putranya, Ismail, di tanah Makkah agar terbiasa dengan lingkungan yang baik (QS. Ibrahim: 38).
Dalam menghadapi kemajuan zaman, ilmu pengetahuan sangat penting untuk menopang kehidupan, tetapi agama juga harus menjadi pedoman agar ilmu yang dimiliki tidak hanya untuk kepentingan duniawi, tetapi juga untuk keselamatan akhirat. Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 201:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.”
Mendidik anak bukan hanya soal memberikan pendidikan formal, tetapi juga membentuk akhlak dan karakter mereka. Dengan mengajarkan nilai-nilai agama dan moral, orang tua bisa membimbing anak agar tumbuh menjadi pribadi yang berilmu dan berakhlak.
Sebagai remaja, sudahkah kita menghargai usaha orang tua dalam mendidik dan menanamkan nilai-nilai spiritual serta kehidupan kita? (Resty)













Discussion about this post