• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Syar'i True Story

Kisah Sejati “Kasih Tak Sampai” Layla Majnun, Menjadi Ibrah Kisah Cinta Anak Manusia

by Avesiar
10 November 2025 | 23:37 WIB
in True Story
Reading Time: 6 mins read
A A
Kisah Sejati “Kasih Tak Sampai” Layla Majnun, Menjadi Ibrah Kisah Cinta Anak Manusia

Ilustrasi. Gambar: Freepik

Avesiar – Jakarta

Layla dan Majnun (Qois), sepasang kekasih tak sampai yang kisahnya melegenda hingga sekarang, adalah bukti besarnya cinta seorang anak manusia kepada kekasihnya. Kisah cinta Qais dan Layla atau lebih populer di khalayak dengan judul “Layla dan Majnun”. Sebuah maha karya sastra yang sebenarnya jauh lebih tua dari kisah Romeo dan Juliet (William Shakepear, 1616 M).

Kisah Layla dan Majnun ditulis oleh Syaikh Nizami Fanjavi (Sufi asal Persia 1188 M) yang terkenal diseluruh dunia sebagai kisah keabadian cinta yang menginspirasi anak manusia tentang pemaknaan akan sejatinya cinta.

Sosok Qais dicintai oleh semua orang kecerdasan, berfikir secara rasional dan mempunyai kemampuan fisik istimewa. Ia punya bakat luar biasa dalam mempelajari seni berperang,  memainkan musik dan menggubah syair.

Qais bin al Mulawwah bukanlah tokoh fiktif. Ia memang benar-benar hidup pada masa Daulah Amawiyah (Bani Umayyah). Qais diperkirakan meninggal sekitar tahun 65 atau 68 H. 

Qais adalah seorang pemuda, anak keturunan raja dari Kabilah Bani Amir yang dipimpin oleh Syed Omri. Anak semata wayangnya ini merupakan seorang anak muda yang rupawan. Kehadirannya sangat dinanti orang tuanya dengan harapan menghadirkan kebahagiaan di tengah keluarga. Ia akan tumbuh menjadi putra kebanggaan. 

Sampai datang suatu masa Qais bertemu dan jatuh cinta dengan Layla, anak keturunan Bani Qhatibiyah. Sayangnya kisah cinta keduanya terhalang oleh adat dan larangan orang tua Layla.

Singkat cerita, pada waktu ia melaksanakan pendidikannya, Qais bertemu dengan gadis yang sangat menarik, anggun perangainya dan hitam matanya. Dia bernama Layla ”Malam”, karena hitamnya mata dia laksana pekatnya sebuah malam.

Bacaan Terkait :

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 3, habis)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 2)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 1)

Load More

Di situ Qais sangat mengagumi Layla sampai akhirnya ia pun jatuh cinta, cinta qais pun terbalas, mereka sering memadu kasih dan menyelami percikan cinta dengan jalan berdua. Ketika keluarga Layla (yang termasuk juga keluarga terhormat) mengetahui hubungan mereka dalam memadu kasih dan menganggap tidak pantas melihat mesranya hubungan Layla dan Qais, karena keluar dari tradisi yang ada, akhirnya mereka pun melarang Layla untuk pergi ke sekolah, mereka tak sanggup lagi menahan beban malu dan menurunkan kehormatan keluarga pada masyarakat sekitar.

Qais terpesona pada kecantikan Layla dan hatinya sudah terpatri oleh Layla. Pesona Layla telah membuat Qais lupa akan dunianya sendiri. Baginya, hanya Layla, Layla, dan Layla.

Ia lantunkan syair cinta di sepanjang pengembaraan yang tak berkesudahan. Karena ulahnya ini, ia sering dipanggil orang-orang dengan Majnun, atau gila. Anak-anak kecil melemparinya dengan batu dan mengejeknya di sepanjang jalan. Qais pun memilih untuk mengasingkan diri di hutan belantara. Meninggalkan kemewahan dan kemegahan istana, menanggalkan semuanya. Ia meratapi kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan dengan Layla.

Ketika Layla sudah tidak ada lagi di tempatnya belajar, Qais menjadi sangat gelisah dan sedih sehingga ia meninggalkan sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan tidak bosan memanggil-manggil namanya.

Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan. Yang keluar dari mulut ia tidak lain adalah Layla, layla dan Layla.

Tingkahnya yang aneh karena kerinduan yang sangat terhadap Layla membuat Qais dianggap gila oleh masyarakat di sekitarnya, sehingga ia dijuluki dengan Majnun”Gila”.

Gila terhadap sang kekasih Layla, popularitas kegilaannya akhirnya melebihi popularitas namanya sendiri, sehingga jika disebut namanya atau nama ayahnya tidak banyak orang yang tahu, tetapi jika disebut si Gila itu telah berkata sesuatu, maka barulah khalayak mengerti siapa yang dimaksud (Qais).

Dalam buku Tokoh-Tokoh Gila Yang Paling Waras karya Abul Qasim An-Naisaburi, diceritakan oleh Ibnu Kalabi:

suatu hari Majnun (Qais) mendatangi kampung Layla, kemudian dia ketemu perempuan yang dekat dengan Layla, selanjutnya Majnun mengadukan apa yang dialaminya, lalu perempuan itu berjanji akan mempertemukan Majnun dengan Layla.

Akhirnya janji itu terlaksana dan keduanya bertemu….di depan pujaan nya sosok qois menggubah syair bgtu indah nya ttg makna kerinduan dan pertemuan

Majnun pernah ditanya: Apakah engkau mencintai Layla? dia menjawab “Tidak” , mengapa demikian?, dia menjawab: “karena cinta disebabkan oleh pandangan mata dan sungguh karena penyebab itu telah tiada, maka Aku adalah Layla dan Layla adalah Aku”.

Dalam sebuah kesempatan Majnun menemukan sebuah tempat di puncak bukit dekat desa Layla dan ia membangun sebuah gubuk untuk dirinya yang menghadap rumah Layla.

Sepanjang hari Majnun duduk-duduk di depan gubuknya, di samping sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju desa itu. Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Majnun merasa yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Layla.

Ia menyapa burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada Layla serta memberitahunya bahwa ia ada di dekatnya. Ia selalu menghirup angin dari barat yang melewati desa Laila dengan penuh perasaan yang mendalam.

Diceritakan juga pada waktu ada seekor anjing tersesat yang berasal dari desa Layla, ia pun memberinya makan dan merawatnya, mencintainya seolah-olah anjing suci, menghormatinya dan menjaganya sampai tiba saatnya anjing itu pergi.

Majnun menganggap segala sesuatu yang berasal dari tempat kekasihnya maka ketika ia mengasihi dan menyayanginya, secara otomatis sama seperti ia mengasihi kekasihnya sendiri yaitu Layla.

Begitu tragis kisah cinta keduanya. Karena perjodohan, Layla akhirnya menikah dengan Ibnu Salam, lelaki pilihan ayahnya. Seseorang yang sama sekali tidak ia cintai. Layla terpenjara dalam istana dan kedukaannya telah membunuhnya secara perlahan.

Ibnu salam juga demikian. Meski berhasil menikahi Layla, nyatanya wanita yang ia cintai hatinya telah dipenuhi dengan cinta yang lain. Keduanya sama-sama menderita.

Diceritakan, Al-Ashmu’i: ”aku diberitahu bahwa kerabat Qais yang gila itu berkata kepada ayahnya, “carikan seorang dokter, barangkali dia bisa mengetahui penyakit Qais.” Kemudian dokter pun didatangkan untuk mengobatinya, namun dokter mengalami kesulitan sehingga menyerah dan meninggalkannya, akhirnya Qais pun bersyair:

“Ingat wahai dokter, engkau pengobat badan!

Kasihanilah badan yang ditinggal kekasihnya,

Hanya cinta Layla obat hatiku yang merana,

aku penuhi panggilanmu wahai penyeru,

kau panggil aku dengan lemparan batu,

niscaya kupenuhi panggilanmu,

Jiwaku takkan meninggalkanmu lantaran penghinaanmu,

Tetapi hanya inilah yang badan mampu menanggungnya.”

Ibnu Salam akhirnya mati. Layla pun sendiri. Ia berpikir, inilah kesempatan untuk bertemu kembali dengan Qais, pujaan hatinya. Ia merencanakan pertemuan dengan Qais dibantu oleh orang kepercayaan Layla bernama Zayd. Zayd langsung menemui Qais di tengah hutan, di sebuah gua yang dijaga oleh binatang-binatang buas yang sudah menjadi sahabat Qais. Mereka pun pergi menuju istana tempat Layla. Pertemuan sudah diatur di taman. 

Namun, pertemuan keduanya justru menorehkan luka mendalam di hati Layla. Pertemuan yang dinanti-nanti sekian lama, cinta yang telah mengakar kuat dipendam, justru memunculkan sesuatu yang tak diinginkan. Entah apa yang dilakukan keduanya.

Intinya kata-kata Qais bagaikan pedang yang menghujam hati Layla. Ia mati karena tak punya harapan lagi. Semua orang berduka di seluruh istana. Layla telah tiada. 

Zayd buru-buru mengabari Qais yang berada di tengah hutan. Menyampaikan berita duka dengan wajah yang diselimuti awan hitam. Qais membaca hal itu, ada apakah gerangan? Akhirnya Zayd menyampaikan kabar itu.

Qais tak kuasa mendengarnya sampai-sampai ia pingsan. Qais dilanda kedukaan yang mendalam. Kekasihnya telah tiada. Ia menangis tersedu-sedu di atas pusara Layla.

Ia berkabung di kuburannya selama beberapa hari. Ketika tidak ditemukan cara lain untuk meringankan beban penderitaannya, pelahan-lahan ia meletakkan kepalanya di kuburan Layla kekasihnya dan akhirnya Majnun pun meninggal dunia dengan tenang di atas pusaran Layla yang kemudian Ia pun ahirnya dikubur di samping makam Layla. (put/dari berbagai sumber)

Tags: Kasih Tak SampaiKisah Cinta Layla MajnunKisah Layla MajnunLayla Majnun
ShareTweetSendShare
Previous Post

Serba-serbi Membeli Mobil Baru dan Bekas Mulai dari Harga, Kualitas, Penyusutan, Tunai-Kredit, dan Tips

Next Post

Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada Sepuluh Tokoh Bangsa

Mungkin Anda Juga Suka :

Sahabat Abu Dzar al-Ghifari, Pria Zuhud Berasal dari Kabilah yang Suka Merampok

Sahabat Abu Dzar al-Ghifari, Pria Zuhud Berasal dari Kabilah yang Suka Merampok

2 Januari 2026

...

Kisah Pria yang Akhirnya Dikeluarkan dari Neraka dan Terakhir Masuk Surga

Kisah Pria yang Akhirnya Dikeluarkan dari Neraka dan Terakhir Masuk Surga

30 Desember 2025

...

Berikut 3 Doa & Amalan Awal Muharram Tahun Baru Hijriyah

Doa yang Disertai Nazar Terkabul, Hukum Memenuhi Sesuai Janji atau Mengubahnya

18 Desember 2025

...

Kerendahan Hati Murid, Imam Al-Ghazali Menyapu Lantai Rumah Gurunya dengan Tangan Kosong

Kerendahan Hati Murid, Imam Al-Ghazali Menyapu Lantai Rumah Gurunya dengan Tangan Kosong

19 Oktober 2025

...

Kelompok-kelompok Jahil yang Menurut Imam al-Ghazali Tidak Perlu Digubris

Kelompok-kelompok Jahil yang Menurut Imam al-Ghazali Tidak Perlu Digubris

18 Oktober 2025

...

Load More
Next Post
Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada Sepuluh Tokoh Bangsa

Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada Sepuluh Tokoh Bangsa

Dilanda Wabah Campak, Kanada Mencatat 5.138 Kasus dan 2 Kematian

Dilanda Wabah Campak, Kanada Mencatat 5.138 Kasus dan 2 Kematian

Discussion about this post

TERKINI

Di Ambang Mahacahaya

9 Maret 2026

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

9 Maret 2026

Profil Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran Pengganti Ayahnya yang Juga Dibenci AS

9 Maret 2026

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

8 Maret 2026

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

8 Maret 2026

Sunyi Sebagai Kitab Terbuka

7 Maret 2026

Prihatin 50 Persen Anak Indonesia Terpapar Konten Seksual, Komdigi Tunda Akses ke Medsos Sampai Usia 16 Tahun

6 Maret 2026

Pemerintah Berikan 66 Ribu Tiket Gratis dan 841 Kapal untuk Angkut 3,2 Juta Penumpang Lebaran

6 Maret 2026

Jadi Tempat Bukber yang Cozy di Mal, Resto Tekko Kebayoran Park Siapkan Paket 90 Ribuan

6 Maret 2026

Humor Saat Puasa, Mencoba Ganti Rokok dengan Kurma

6 Maret 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video