Avesiar – Jakarta
Pernyataan terbaru presiden AS Donald Trump yang paling ekstrem tentang pengendalian Jalur Gaza dan pemindahan penduduknya sebanyak 2,3 juta orang ke negara-negara Arab tetangga, telah memicu kontroversi yang meluas.
Dikutip dari The New Arab, Kamis (6/2/2025), dalam pernyataan persnya di Gedung Putih bersama sekutunya Benjamin Netanyahu, Selasa (4/2/2025), Trump mengusulkan agar Amerika Serikat mengambil “kepemilikan jangka panjang” atas Jalur Gaza.
‘Kepemilikan’ dimaksud yaitu dengan pembangunan kembali dan transformasi Gaza menjadi kawasan wisata. Ia berdalih dengan mengatakan bahwa penduduk Gaza hidup di “neraka” dan bahwa mereka harus dipindahkan ke tempat lain untuk menjalani kehidupan yang lebih baik seperti yang dituduhkannya.
Merespons hal itu, Hamas melalui juru bicaranya Hazem Qassem, mengatakan kepada The New Arab bahwa pernyataan Trump tidak masuk akal dan menggelikan serta mencerminkan ketidaktahuannya tentang sifat konflik di Palestina.
“Jika Trump merasa dapat melaksanakan rencana bodohnya, ia harus terlebih dahulu menghadapi perlawanan rakyat kami, yang belum patah meskipun terjadi pembantaian Israel dan blokade,” tegasnya.
Rakyat Palestina dan faksi-faksi perlawanan, lanjutnya, akan tetap menjadi hambatan besar bagi proyek apa pun yang menargetkan hak-hak nasional bangsa Palestina, dan tidak seorang pun akan dapat mengeluarkan mereka dari tanahnya atau memaksakan solusi yang menargetkan keberadaan bangsa Palestina.
Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas juga menyatakan penolakan tegas terhadap seruan untuk merebut Jalur Gaza dan mengusir warga Palestina dari tanah air mereka.
“Rrakyat Palestina tidak akan menyerahkan tanah, hak, dan tempat suci mereka, dan bahwa Jalur Gaza merupakan bagian integral dari Negara Palestina,” tegasnya.
Selain Yordania dan Mesir yang menolak gagasan ini, dengan menekankan kepatuhan mereka pada posisi yang menolak pemukiman warga Palestina di luar tanah mereka, negara-negara besar juga mengecam rencana Trump.
Negara-negara seperti Rusia, Tiongkok, Jerman, Spanyol, Irlandia, dan Inggris menegaskan bahwa mereka terus mendukung solusi dua negara yang telah menjadi dasar kebijakan Washington di kawasan tersebut selama beberapa dekade, yang menetapkan bahwa Gaza akan menjadi bagian dari negara Palestina masa depan yang mencakup Tepi Barat yang diduduki.
Seorang warga Gaza, Mohammed al-Saidi berusia 32 tahun, dikutip dari The New Arab, mengatakan bahwa Gaza, di mata Trump, adalah sebuah resor yang menghadap ke Laut Mediterania, dengan cadangan gas besar hanya beberapa kilometer jauhnya.
“Trump ingin membersihkan Gaza, artinya memusnahkan penduduknya dan membangun kerajaan real estatnya sendiri. Sungguh konyol memberikan semua perhatian pada pernyataan bodoh ini,” katanya sambil tersenyum sinis saat ia berusaha menyingkirkan puing-puing dari rumahnya yang hancur.
Demikian pula dengan seorang dosen universitas di Kota Gaza yang kehilangan suaminya selama perang Israel di Jalur Gaza, Salma Rashid. “Trump tampak bagi kami seolah-olah dia datang dari luar angkasa. Dia bingung dalam kebijakannya terkait konflik Palestina-Israel,” katanya kepada The New Arab. (ard)













Discussion about this post