KAMU KUAT – Jakarta
Menjelang lulus Sekolah Menengah Atas atau setingkat, banyak siswa mulai mempertimbangkan pilihan mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Salah satu keputusan besar yang harus diambil adalah memilih lokasi kampus apakah tetap di dalam kota atau merantau ke luar kota.
Beberapa memilih untuk merantau demi mencari pengalaman baru, sementara yang lain lebih nyaman untuk tetap di dalam kota. Keputusan ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor akademik, tetapi juga oleh pertimbangan keluarga, biaya, dan kesiapan mental.
Dalam wawancara ini, beberapa calon mahasiswa menceritakan pertimbangan mereka dalam memilih kampus serta tantangan yang akan dihadapinya.
Amanda Musfitasari, siswi kelas 12, SMA Ibnu Hajar, Bogor

Sejak awal, Amanda sebenarnya ingin mencoba kuliah di luar kota. “Tadinya sih saya pengennya di luar kota, cuma karena ibu saya nggak ngizinin, jadi saya pilih di dalam kota aja,” ungkapnya. Keinginannya untuk merantau bukan tanpa alasan. Ia ingin mencoba hal baru dan belajar menjadi lebih mandiri. “Pengen coba hal baru aja gitu, terus pengen mandiri juga,” tambahnya.
Namun, keputusan orang tua tidak bisa diabaikan begitu saja. Meskipun awalnya berharap bisa merantau, ia akhirnya menerima kenyataan bahwa kuliah di dalam kota adalah pilihan terbaik bagi keluarganya. “InsyaAllah bakal saya terima, karena bakalan susah kalau terus bujuk ortu buat izinin saya kuliah di luar kota, hehe,” ujarnya dengan pasrah.
Menurutnya, alasan utama ibunya melarang kuliah di luar kota adalah faktor keamanan. “Iya, Bu katanya takut, karena saya anak cewek,” jelasnya. Kekhawatiran orang tua terhadap anak perempuan yang merantau memang menjadi salah satu alasan umum dalam banyak keluarga. Orang tua ingin memastikan anak mereka tetap dalam pengawasan dan merasa lebih tenang jika anaknya tinggal di dekat rumah.
Saat ditanya mengenai jurusan yang diminatinya, ia menjawab, “Pengennya sih kebidanan, tapi tidak kayaknya.” Meskipun memiliki keinginan, terkadang berbagai faktor lain juga mempengaruhi pilihan jurusan, seperti peluang kerja, rekomendasi keluarga, atau minat yang berubah seiring waktu.
Ia juga membagikan pandangannya mengenai perbedaan antara kuliah di dalam kota dan luar kota. “Perbedaannya mungkin kalau di luar kota, pergaulannya beda, dan juga kalau di luar kota mungkin saya akan lebih bisa mandiri dan bisa meng-handle diri saya sendiri. Karena kalau di dalam kota kan saya masih dengan orang tua saya,” tuturnya.
Menurut Amanda, kuliah di luar kota memberikan lebih banyak kebebasan dalam mengatur waktu dan aktivitas. “Kelihatannya bebas gitu dan jadi punya waktu lebih buat melakukan aktivitas,” tambahnya. Meski begitu, ia tetap menghormati keputusan keluarganya dan berusaha melihat sisi positif dari kuliah di dalam kota.
Khairunnisa Ramadhani, siswi kelas 12, SMA Muhammadiyah 4 Depok
Saat ditanya apakah Khairunnisa berencana melanjutkan kuliah, ia menjawab dengan penuh keyakinan, “Berniat, Kak.” Kampus impiannya berada di Jawa Barat, tepatnya di Tangerang Selatan, sedangkan rumahnya berada di Depok. Meskipun jaraknya tidak terlalu jauh, ia memilih untuk ngekost agar bisa lebih fokus dalam menjalani kehidupan perkuliahan.

Keputusan untuk ngekost bukan hanya keinginannya sendiri, tetapi juga atas anjuran orang tuanya. “Kebetulan orang tua saya sendiri yang menganjurkan,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam mendukung pilihan dan kemandirian anaknya dalam menempuh pendidikan tinggi.
Merantau, meskipun hanya di kota yang tidak terlalu jauh, tetap membutuhkan kesiapan mental dan fisik. “Insya Allah saya siap, Kak,” katanya saat ditanya apakah ia siap untuk hidup mandiri. Untuk memastikan kelancaran transisi ini, ia telah mulai mempersiapkan diri.
“Saya usahakan agar bisa siap untuk mandiri,” ungkapnya. Persiapan ini tidak hanya dalam hal kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam akademik. Ia mengikuti bimbingan belajar untuk menambah materi UTBK serta rajin mengikuti try-out sebagai bagian dari strategi untuk masuk ke kampus impiannya. Selain itu, ia juga aktif mencari informasi terkait kebutuhan dan persiapan masuk perguruan tinggi.
Salah satu hal yang sangat membantunya dalam mengambil keputusan ini adalah dukungan penuh dari keluarga. “Dari pihak saya dan keluarga tidak ada kendala, Kak. Mereka sangat mendukung rencana saya,” tuturnya. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kesiapan mental dalam menghadapi tantangan baru. “Tentu saja ada, Kak, karena menurut saya persiapan secara mental akan sangat membantu saya,” katanya.
Dalam perjalanan menuju kehidupan mandiri, ia meyakini bahwa kesiapan mental akan membuatnya lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.
Saat ditanya pendapatnya mengenai kuliah di dalam kota dibandingkan dengan luar kota, ia menjawab dengan pertimbangan yang menarik. “Jika di dalam kota, menurut saya sebagai seorang pelajar bisa saja tidak merasakan yang namanya tinggal di kost. Walaupun ngekost, jaraknya pun tidak jauh dari keluarga, jadi rasa hidup sendiri secara mandiri akan kurang terasa.”
Sebaliknya, menurutnya, kuliah di luar kota menghadirkan tantangan yang lebih besar dalam hal kemandirian. “Jika di luar kota, tentu saja itu adalah tantangan sebagai seorang manusia untuk hidup secara mandiri,” jelasnya. Ini menunjukkan bahwa meskipun seseorang bisa tinggal jauh dari rumah, tingkat kemandirian tetap bergantung pada seberapa besar mereka menghadapi tantangan tersebut.
Aishara Alula Myiesha Jenna, siswi kelas 12, SMA Boash, Bogor

Sejak awal, Alula sudah mantap dengan keputusannya untuk tetap kuliah di dalam kota. “Kalau aku sejauh ini keinginannya untuk stay di dalam kota, Kak,” ujarnya Keputusan ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, kuliah di dalam kota memiliki banyak keuntungan, terutama dalam hal komunikasi dan efisiensi biaya.
“Karena menurut aku, kuliah di dalam kota lebih memudahkan aku, terutama dalam komunikasi sama orang-orang terdekat. Selain itu, kuliah di dalam kota juga nggak makan biaya lebih banyak untuk hal akomodasi dan transportasi,” jelasnya. Dengan tetap tinggal di kota yang sama, ia bisa menghemat biaya hidup serta tetap dekat dengan keluarga dan teman-temannya.
Meskipun memilih kuliah di dalam kota, Alula tetap memiliki kampus impian yang sudah lama diincar. “Sudah, kampus impian pertama aku pastinya di Bogor, Dramaga,” katanya dengan penuh semangat. Memiliki kampus tujuan yang jelas membuatnya lebih fokus dalam mempersiapkan diri untuk seleksi masuk perguruan tinggi.
Menurutnya, ada banyak perbedaan antara kuliah di dalam kota dan luar kota, terutama dalam hal lingkungan sosial. “Pasti banget ada, karena tiap kota pasti punya kebiasaan dan cara interaksi yang beda-beda. Jadi kita juga harus menyesuaikan diri ekstra lagi kalau di luar kota,” ujar Alula.
Selain itu, ia juga menyoroti bagaimana perbedaan lingkungan akan memengaruhi cara seseorang mempersiapkan diri. “Selain perbedaan dari lingkup sosialnya, perbedaan yang lain menurut aku juga dari cara kita mempersiapkan diri buat bisa kenal sama lingkungan baru itu sendiri. Keperluan kita antara di dalam dan luar kota juga pasti beda, sama pengalaman yang didapat juga pasti beda banget,” tambahnya.
Beruntung, ia mendapatkan dukungan penuh dari orang tuanya dalam memilih tempat kuliah. “Kalau orang tua aku sejauh ini ngasih pilihan itu hampir seluruhnya ke aku, Kak. Jadi mereka bebaskan aku untuk mau ambil dalam kota ataupun luar kota,” jelasnya. Kepercayaan yang diberikan orang tua tentu menjadi faktor penting dalam menentukan keputusan yang terbaik untuk masa depannya.
Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, tanggung jawabnya juga cukup besar. Namun, hal ini tidak menghalangi semangatnya untuk menata masa depan melalui pendidikan tinggi.
Menjelang masa transisi dari SMA ke dunia perkuliahan, Alula sudah mulai melakukan berbagai persiapan. “InsyaAllah sudah ada” katanya. Salah satu hal utama yang dipersiapkan adalah menghadapi jalur seleksi masuk perguruan tinggi. “Untuk SNBP, aku sudah melakukan pengecekan nilai, daftar akun, akurasi piagam, dan belajar untuk UTBK,” jelasnya. Dengan persiapan yang matang, ia berharap bisa diterima di kampus impiannya dan menjalani masa perkuliahan dengan lancar.
Alif Athallah Putra, siswa kelas 12, MAN 4 Jakarta

Bagi calon mahasiswa ini, lokasi kampus bukan menjadi masalah utama, karena Alif memiliki beberapa pilihan baik di dalam maupun luar kota. “Kalau dari saya sendiri ingin di UI kalau di dalam kota, kalau di luar kota pilihannya UNPAD atau Universitas Brawijaya,” ujarnya Alif
UI sebagai salah satu universitas terbaik di Indonesia tentu menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin tetap kuliah di dalam kota. Sementara itu, UNPAD di Bandung dan Universitas Brawijaya di Malang juga termasuk kampus unggulan yang banyak diminati oleh calon mahasiswa.
Menurutnya, Alif pasti perbedaan yang cukup signifikan antara kuliah di dalam kota dan luar kota, terutama dalam hal biaya hidup. “Tentunya ada, terutama dari segi biaya hidupnya yang pasti berbeda,” katanya. Kuliah di luar kota biasanya membutuhkan biaya lebih untuk akomodasi, makanan, dan transportasi. Berbeda dengan kuliah di dalam kota, di mana mahasiswa masih bisa tinggal bersama keluarga sehingga dapat menghemat pengeluaran.
Meskipun mempertimbangkan kuliah di luar kota, Alif sudah merasa siap untuk menghadapi tantangan hidup mandiri. “Sudah siap, InsyaAllah, karena di rumah saya juga dididik untuk terbiasa mandiri,” ungkapnya. Pendidikan di rumah yang mengajarkan kemandirian sejak dini menjadi bekal penting bagi mahasiswa yang akan tinggal jauh dari keluarga.
Salah satu hal yang membuatnya lebih percaya diri dalam menentukan pilihan kuliah adalah dukungan penuh dari keluarga. “Keluarga saya memberi saya kebebasan untuk kuliah di mana saja,” katanya. Tak hanya dalam hal lokasi, keluarganya juga memberinya kebebasan dalam memilih jurusan. “Untuk jurusan yang diinginkan ada dua sebenarnya, yaitu Ilmu Hukum atau Ilmu Politik,” tambahnya. Kedua jurusan ini memiliki prospek karier yang luas, baik di pemerintahan, hukum, maupun dunia akademik. Ujar alif menutup wawancara hari ini.
Setiap pilihan, baik kuliah di dalam kota maupun di luar kota, memiliki tantangan dan kelebihannya masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang mempersiapkan diri dan memanfaatkan kesempatan belajar sebaik mungkin.
Dengan persiapan yang matang dan dukungan keluarga, perjalanan menuju pendidikan tinggi bisa menjadi pengalaman yang berharga, di mana pun lokasinya. Jadi, apakah kamu lebih tertarik untuk kuliah di dalam kota atau mencoba tantangan baru di luar kota? (Resty)













Discussion about this post