Avesiar – Puisi dan Cerpen
Kisah Para Terompah yang Lelah (bagian 4, Habis)
Oleh: Mas Ngabehi
Avesiar – Puisi dan Cerpen
Kisah Para Terompah yang Lelah (bagian 4, Habis)
Oleh: Mas Ngabehi
Sandal emas terdiam. Kata-kata itu menusuk hatinya lebih dalam daripada penghinaan atau cemoohan yang pernah ia dengar. Ia menatap para terompah tua yang penuh debu, lecet, dan usang, tetapi tetap berdiri teguh di rak, siap untuk melayani siapa saja yang membutuhkan mereka. Ada kekuatan dalam kerendahan hati mereka, sebuah keindahan yang tidak dapat dibandingkan dengan kilau emasnya.
Hari berikutnya, masjid kembali dipenuhi jamaah. Rak kayu itu penuh sesak dengan alas kaki yang datang dan pergi. Sandal emas, yang biasanya berdiri di tempat paling mencolok, kini memilih sudut yang lebih sederhana. Ia diam, mengamati bagaimana para terompah tua melaksanakan tugas mereka tanpa keluhan. Bahkan ketika seorang anak kecil menginjak salah satu dari mereka dengan keras, terompah itu hanya bergetar sedikit dan tetap diam di tempatnya.
Namun, pagi itu juga menjadi akhir bagi Si Tua Usang. Seorang lelaki tua mengambilnya, memakainya untuk terakhir kali, dan berjalan perlahan keluar dari masjid. Retakan di tubuh Si Tua Usang akhirnya mencapai puncaknya. Dalam langkah terakhirnya, ia patah menjadi dua. Lelaki tua itu memungut sisa-sisa terompah itu dan meletakkannya di samping rak kayu, meninggalkan keheningan yang penuh makna.
Para terompah lain, termasuk sandal emas, menyaksikan momen itu dengan rasa hormat yang mendalam. Si Tua Usang telah mengabdikan dirinya hingga akhir, menjalani hidupnya dengan cara yang sederhana tetapi penuh makna. Meski tubuhnya telah hancur, pesan-pesan yang ia tinggalkan tetap hidup di hati para terompah lain.
Malamnya, sandal emas berbicara untuk pertama kalinya dengan nada yang berbeda. “Aku ingin seperti Si Tua Usang,” katanya pelan. “Aku ingin mengerti bagaimana rasanya melayani dengan tulus, tanpa memikirkan apa yang akan kudapatkan sebagai balasannya.”
Para terompah lain mengangguk setuju. Mereka tahu, perubahan sandal emas adalah bukti bahwa bahkan yang paling keras sekalipun dapat dilunakkan oleh kebijaksanaan dan contoh nyata.
Dalam diskusi terakhir mereka malam itu, para terompah merenungkan makna keberadaan mereka. “Hidup ini adalah siklus,” kata salah satu terompah. “Kita datang, melayani, lalu pergi. Tapi yang membuat perbedaan adalah bagaimana kita menjalani waktu kita di sini. Apakah kita melakukannya dengan tulus, atau hanya untuk pamer dan mencari pujian?”
Sandal emas, yang kini mulai mengerti nilai kesederhanaan, menambahkan, “Aku sadar bahwa kilauku tidak akan bertahan selamanya. Yang abadi adalah apa yang kita tinggalkan di hati orang lain.”
Penutup malam itu membawa kedamaian baru bagi rak kayu tua. Meski Si Tua Usang telah tiada, semangat dan kebijaksanaannya tetap hidup. Sandal emas, yang kini lebih rendah hati, bersiap untuk menjalani perannya dengan cara yang berbeda. Ia tahu bahwa perjalanan ini adalah tentang melayani dengan sepenuh hati, bukan hanya bersinar tanpa makna.
Ketika fajar menyingsing, rak kayu itu kembali dipenuhi dengan suara langkah manusia. Para terompah dan sandal menjalani tugas mereka masing-masing, membawa pesan-pesan Si Tua Usang ke dalam dunia yang sering kali melupakan nilai-nilai sejati kehidupan. Dan di antara mereka, sandal emas berdiri dengan kerendahan hati yang baru ditemukan, bersiap untuk melayani tanpa pamrih.
“Hidup ini adalah tentang melayani, bukan menuntut,” kata-kata terakhir Si Tua Usang terus terngiang di benak mereka semua, menjadi pengingat abadi tentang makna hidup yang sesungguhnya. (Selesai)
Selayang pandang:
Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.
Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.
Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).













Discussion about this post