• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Citizen Journalism & Video Cerpen dan Puisi

Cerpen: Kisah Para Terompah yang Lelah (bagian 4, Habis)

by Avesiar
7 Februari 2025 | 19:30 WIB
in Cerpen dan Puisi
Reading Time: 3 mins read
A A
Cerpen: Kisah Para Terompah yang Lelah (bagian 4, Habis)

Ilustrasi. Kolase: Avesiar.com

Avesiar – Puisi dan Cerpen

Kisah Para Terompah yang Lelah (bagian 4, Habis)

Oleh: Mas Ngabehi

Avesiar – Puisi dan Cerpen

Kisah Para Terompah yang Lelah (bagian 4, Habis)

Oleh: Mas Ngabehi

Sandal emas terdiam. Kata-kata itu menusuk hatinya lebih dalam daripada penghinaan atau cemoohan yang pernah ia dengar. Ia menatap para terompah tua yang penuh debu, lecet, dan usang, tetapi tetap berdiri teguh di rak, siap untuk melayani siapa saja yang membutuhkan mereka. Ada kekuatan dalam kerendahan hati mereka, sebuah keindahan yang tidak dapat dibandingkan dengan kilau emasnya.

Hari berikutnya, masjid kembali dipenuhi jamaah. Rak kayu itu penuh sesak dengan alas kaki yang datang dan pergi. Sandal emas, yang biasanya berdiri di tempat paling mencolok, kini memilih sudut yang lebih sederhana. Ia diam, mengamati bagaimana para terompah tua melaksanakan tugas mereka tanpa keluhan. Bahkan ketika seorang anak kecil menginjak salah satu dari mereka dengan keras, terompah itu hanya bergetar sedikit dan tetap diam di tempatnya.

Bacaan Terkait :

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 3, habis)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 2)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 1)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya,Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 3, habis)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 2)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 1)

Cerpen: Saat Takdir Bertaut di Mihrab Cinta (bagian 4, habis)

Load More

Namun, pagi itu juga menjadi akhir bagi Si Tua Usang. Seorang lelaki tua mengambilnya, memakainya untuk terakhir kali, dan berjalan perlahan keluar dari masjid. Retakan di tubuh Si Tua Usang akhirnya mencapai puncaknya. Dalam langkah terakhirnya, ia patah menjadi dua. Lelaki tua itu memungut sisa-sisa terompah itu dan meletakkannya di samping rak kayu, meninggalkan keheningan yang penuh makna.

Para terompah lain, termasuk sandal emas, menyaksikan momen itu dengan rasa hormat yang mendalam. Si Tua Usang telah mengabdikan dirinya hingga akhir, menjalani hidupnya dengan cara yang sederhana tetapi penuh makna. Meski tubuhnya telah hancur, pesan-pesan yang ia tinggalkan tetap hidup di hati para terompah lain.

Malamnya, sandal emas berbicara untuk pertama kalinya dengan nada yang berbeda. “Aku ingin seperti Si Tua Usang,” katanya pelan. “Aku ingin mengerti bagaimana rasanya melayani dengan tulus, tanpa memikirkan apa yang akan kudapatkan sebagai balasannya.”

Para terompah lain mengangguk setuju. Mereka tahu, perubahan sandal emas adalah bukti bahwa bahkan yang paling keras sekalipun dapat dilunakkan oleh kebijaksanaan dan contoh nyata.

Dalam diskusi terakhir mereka malam itu, para terompah merenungkan makna keberadaan mereka. “Hidup ini adalah siklus,” kata salah satu terompah. “Kita datang, melayani, lalu pergi. Tapi yang membuat perbedaan adalah bagaimana kita menjalani waktu kita di sini. Apakah kita melakukannya dengan tulus, atau hanya untuk pamer dan mencari pujian?”

Sandal emas, yang kini mulai mengerti nilai kesederhanaan, menambahkan, “Aku sadar bahwa kilauku tidak akan bertahan selamanya. Yang abadi adalah apa yang kita tinggalkan di hati orang lain.”

Penutup malam itu membawa kedamaian baru bagi rak kayu tua. Meski Si Tua Usang telah tiada, semangat dan kebijaksanaannya tetap hidup. Sandal emas, yang kini lebih rendah hati, bersiap untuk menjalani perannya dengan cara yang berbeda. Ia tahu bahwa perjalanan ini adalah tentang melayani dengan sepenuh hati, bukan hanya bersinar tanpa makna.

Ketika fajar menyingsing, rak kayu itu kembali dipenuhi dengan suara langkah manusia. Para terompah dan sandal menjalani tugas mereka masing-masing, membawa pesan-pesan Si Tua Usang ke dalam dunia yang sering kali melupakan nilai-nilai sejati kehidupan. Dan di antara mereka, sandal emas berdiri dengan kerendahan hati yang baru ditemukan, bersiap untuk melayani tanpa pamrih.

“Hidup ini adalah tentang melayani, bukan menuntut,” kata-kata terakhir Si Tua Usang terus terngiang di benak mereka semua, menjadi pengingat abadi tentang makna hidup yang sesungguhnya. (Selesai)

Selayang pandang:

Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.

Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.

Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan  pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).

Tags: Cerita PendekCerpenCerpen KehidupanTerompahTerompah Masjid
ShareTweetSendShare
Previous Post

Kuliah di Dalam atau Luar Kota Berdasarkan Pilihan, Tantangan, dan Persiapannya

Next Post

Alat-alat untuk Membersihkan yang Wajib Ada di Rumah Tangga

Mungkin Anda Juga Suka :

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

14 Maret 2026

...

Di Ambang Mahacahaya

Di Ambang Mahacahaya

9 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

9 Maret 2026

...

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

8 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

8 Maret 2026

...

Load More
Next Post
Alat-alat untuk Membersihkan yang Wajib Ada di Rumah Tangga

Alat-alat untuk Membersihkan yang Wajib Ada di Rumah Tangga

Membantu Pekerjaan Rumah Tangga Orang Tua, Kalau Kamu Apa Saja?

Membantu Pekerjaan Rumah Tangga Orang Tua, Kalau Kamu Apa Saja?

Discussion about this post

TERKINI

Direktur Pusat Islam San Diego Mengutuk Serangan Islamophobia di Masjid San Diego

20 Mei 2026

Warga AS Menanggung Biaya Bahan Bakar Tambahan Lebih dari  40 Miliar Dolar Setelah Sejak Ikut Israel Perang Menyerang Iran

19 Mei 2026

Berkontribusi Besar Mencetak SDM Unggul, PTS Harus Setara dengan Kampus Negeri

19 Mei 2026

Luwesnya Chintya Dian Astuti, Wakil Ketua Kadin Pelestarian Hutan & Sungai Konsisten Jaga Lingkungan

18 Mei 2026

Jemaah Lansia dan Risiko Tinggi Akan Ikut Skema Murur, Kurangi Kepadatan di Muzdalifah

17 Mei 2026

Judi Online Makan Korban 200 Ribu Anak Indonesia, Termasuk 80 ribu Anak di Bawah 10 Tahun

16 Mei 2026

Man with Leaps, Guz Reza Syarief yang Kini Tidak Hanya Memotivasi Seni Memimpin, Tapi Juga Berdakwah

16 Mei 2026

Bahayanya Melanggar Hukum Haji, 19 Warga Indonesia Ditangkap Otoritas Saudi

15 Mei 2026

Kokohnya Arief ‘Wing’ Wiryawan Mantan Humas yang Banting Setir Jadi Dirut Properti, Hearty Leader

15 Mei 2026

Jangan Ketawa, Ini Singkatan-singkatan Pembelajaran Kelas Daring

14 Mei 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video