KAMU KUAT – Jakarta
Di tengah kesibukan sekolah dan aktivitas sehari-hari, banyak remaja yang tetap berusaha meluangkan waktu untuk membantu pekerjaan rumah. Dari menyapu, mengepel, membantu Ibu memasak, dan lainnya. Setiap tugas yang dilakukan bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap keluarga.
Namun, apakah semua remaja melakukannya dengan kesadaran sendiri, atau hanya karena diminta oleh orang tua? Atau malah cenderung mengabaikannya? Wah, kalau yang satu ini tentu tidak baik ya? Membantu dan menolong orang tua adalah wujud bakti anak yang berbudi.
Cerita soal membantu orang tua ini disampaikan beberapa remaja berikut kepada tim redaksi kanal gaul remaja dan anak muda KAMU KUAT! di avesiar.com
Fahhelia Dhia Alimatunissa, siswi kelas 8, SMPN 3 Gunung Sindur, Bogor

“Saya biasanya mencuci baju, menjemurnya, dan juga mencuci piring,” ujarnya.
Ia mengerjakan tugas ini setiap Sabtu dan Minggu karena di hari biasa sudah ada orang yang membantu di rumah. Tugas ini bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi memang sudah menjadi tanggung jawab yang dibagi dalam keluarganya.
Ketika ditanya apakah ia melakukannya atas inisiatif sendiri atau karena diminta, ia menjawab, “Karena diminta dan memang sudah dibagi tugas rumah untuk masing-masing anggota keluarga.” Menurutnya, membantu pekerjaan rumah sangat penting karena ini adalah bentuk bakti kepada orang tua yang sudah bekerja keras mencari nafkah untuk keluarga.
Menariknya, ia tidak pernah mengharapkan hadiah atau penghargaan atas apa yang ia lakukan. “Sepertinya tidak pernah dapat reward, tapi saya juga tidak mengharapkannya, karena ini memang kewajiban saya,” jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa ia memahami tugas rumah bukan sebagai beban, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawabnya di keluarga.
Namun, sebagai remaja, tentu ada kalanya rasa malas muncul. “Pernah sesekali merasa malas,” akunya jujur. Meski begitu, ia tetap menjalankan tugasnya tanpa ada teguran atau kemarahan dari orang tua. “Mama tidak marah,” tambahnya.
Aisyah Ayudia Cintakirana, siswi kelas 7, SMPIT Permata Madani, Bogor

“Saya sering menyapu, mengepel rumah, menjemur baju, memasak, menyetrika baju, dan membereskan rumah,” katanya.
Semua pekerjaan itu biasanya dilakukan setelah pulang sekolah. Namun, jika sedang libur, ia akan membantu lebih banyak pekerjaan yang diminta oleh orang tua. Terkadang, ia melakukannya atas inisiatif sendiri, tetapi ada kalanya karena diminta oleh orang tua. Meski demikian, ia tetap menjalankan tugasnya dengan baik.
Tidak bisa dipungkiri, ada saat-saat di mana rasa malas datang. “Pernah merasa malas,” akunya. Namun, yang menarik adalah sikap ibunya yang memahami hal tersebut. “Mama ngertiin,” katanya. Walau sesekali ada omelan tapi tidak sering.
Talitha Aisyah Hafiz, siswi kelas 7, SMP Negeri 3 Gunung Sindur, Bogor

Berbeda dengan remaja lainnya Talitha mempunyai tugas menjaga adiknya di waktu senggang. “Saya punya tugas di rumah, yaitu menjaga adik,” katanya.
Adiknya masih berusia satu tahun, sehingga peran kakak sangat penting dalam membantu orang tua. Tugas ini tidak hanya dilakukan sesekali, tetapi sudah menjadi rutinitas sehari-hari.
“Kalau di hari libur, saya menjaga adik sepanjang hari. Tapi kalau hari biasa, saya menjaganya dari sore sampai dia tidur,” jelasnya. Dari memandikan, menyuapi makan, menemani bermain di luar, hingga menidurkan adik semuanya menjadi tanggung jawabnya.
Meski terlihat seperti tugas yang sederhana, menjaga anak kecil tentu membutuhkan kesabaran dan energi ekstra. “Pernah merasa malas dan terbebani,” akunya jujur. Namun, tetap saja, tugas ini harus dilakukan. Ketika ditanya apakah pernah dimarahi orang tua saat merasa malas menjalankan tugasnya, ia menjawab, “Iya.”
Meskipun begitu, ia menyadari bahwa tugas ini bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap keluarganya. “Saya merasa membantu meringankan tugas orang tua,” tambahnya.
Tidak seperti pekerjaan yang diberi upah atau penghargaan, tugas ini dilakukan tanpa imbalan. “Tidak ada reward dari orang tua,” katanya. Namun, ia tetap melakukannya dengan tanggung jawab, karena menyadari bahwa membantu orang tua bukan sekadar mencari penghargaan, melainkan bentuk kasih sayang dan kebersamaan dalam keluarga.
Hal ini menunjukkan bahwa membantu pekerjaan rumah bukan hanya tentang perintah atau kewajiban dan sekadar tugas, tetapi juga cara untuk belajar bertanggung jawab dan menghargai usaha orang tua. tetapi juga tentang kebiasaan dan kesadaran diri. Dengan saling membantu, suasana rumah menjadi lebih nyaman dan tanggung jawab tidak hanya terbebankan pada orang tua saja.
Meskipun terkadang muncul rasa malas, kebiasaan ini bisa memberikan manfaat jangka panjang, baik dalam membangun kemandirian maupun mempererat hubungan keluarga.
Sudahkah kamu membantu orang tuamu di rumah hari ini? (Resty)













Discussion about this post