Avesiar – Cerpen dan Puisi
LUKA
Oleh: Mas Ngabehi
****************
Luka adalah puisi yang ditulis sunyi,
pada dinding waktu yang rapuh dan renta.
Ia mengalir di sela napas kehidupan,
mengajarkan makna yang sering dilupa.
———————
Luka bukan sekadar perih di kulit,
tapi retak di jiwa yang tak terobati.
Seperti negeri yang kehilangan nurani,
di mana kebenaran dibungkam sendiri.
————————–
Kita hidup di zaman yang penuh sandiwara,
di mana dusta berkawan dengan kuasa.
Hati dijual demi angka dan nama,
sementara keadilan tergadai hampa.
—————————–
Di jalanan, ada tangis yang tak terdengar,
perut-perut lapar merintih dan terkapar.
Namun di gedung menara menjulang tinggi,
mereka berpesta pora tanpa nurani.
—————————
Luka tak selalu berdarah merah,
kadang ia diam di balik tawa.
Seperti rakyat yang dipaksa percaya,
bahwa derita mereka hanyalah sementara.
—————————-
Oh, tidakkah kita malu pada luka?
Yang menahan perih tanpa suara.
Sedangkan kita sibuk mencari cahaya,
tapi lupa menerangi sesama.
——————————————-
Luka adalah pesan yang tak terbaca,
tentang dunia yang haus cinta.
Jika manusia masih buta hati nurani,
luka ini selamanya takkan sembuh lagi. (*)
Selayang pandang:
Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.
Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.
Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).













Discussion about this post