Avesiar – Jakarta
Serangan mematikan terhadap sebuah sekolah dasar di Iran menewaskan sekitar 170 orang, yang sebagian besar korbannya adalah siswi sekolah, dan kemungkinan besar merupakan akibat dari serangan AS, dikatakan oleh kepala hak asasi manusia PBB Volker Turk pada hari Jum’at (27/3/2026), “menimbulkan kengerian yang mendalam.”
Dilansir TRT World, ia menyerukan semua negara untuk mengambil langkah-langkah mendesak untuk melindungi sekolah dan warga sipil dalam konflik.
“Pemboman sekolah dasar putri Shajareh Tayyebeh di Minab menimbulkan kengerian yang mendalam,” kata Volker Turk, merujuk pada serangan udara pada 28 Februari, hari pertama konflik saat ini, yang menurut analis dari Departemen Perang AS, istilah resmi yang digunakan oleh pemerintahan Trump untuk Departemen Pertahanan.
Di awal debat penting di Dewan Hak Asasi Manusia PBB, ia mengatakan bahwa gambar-gambar ruang kelas yang hancur akibat bom dan orang tua yang berduka menunjukkan dengan jelas siapa yang membayar harga tertinggi untuk perang, warga sipil yang tidak memiliki kekuasaan dalam keputusan yang menyebabkan konflik.
“Apa pun perbedaan yang dimiliki negara-negara, kita semua dapat sepakat bahwa perbedaan tersebut tidak akan diselesaikan dengan membunuh anak-anak sekolah,” tegas Turk, menggarisbawahi perlunya menjunjung tinggi hukum humaniter internasional.
Memperingatkan akan meluasnya konflik, Turk mengatakan: “Eskalasi militer di Timur Tengah dan Teluk mencapai tingkat yang berbahaya. Ini harus diakhiri. Ada risiko tinggi dan meningkat akan penularan lebih lanjut dan peningkatan penderitaan warga sipil di negara-negara yang terlibat langsung di luar wilayah tersebut.”
“Saya menyerukan kepada Amerika Serikat dan Israel untuk mengakhiri serangan mereka terhadap Iran, dan saya menyerukan kepada Iran untuk berhenti menyerang negara-negara tetangganya dan untuk menghormati serta melindungi hak asasi manusia rakyatnya sendiri,” tambahnya.
Ia juga mendesak dan menahan diri da nmengatakan semua negara untuk memprioritaskan pencegahan penderitaan lebih lanjut, melindungi semua warga sipil, tanpa memandang kewarganegaraan atau lokasi, dan mengupayakan perdamaian berkelanjutan jangka panjang.”
Turk kemudian memperingatkan terhadap eskalasi militer yang berkelanjutan dan mengatakan bahwa bom dan rudal bukanlah jalan menuju perdamaian berkelanjutan, melainkan membawa kematian, kehancuran, dan kesengsaraan.” (ard)













Discussion about this post