Avesiar – Jakarta
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir dilarang oleh Prancis memasuki wilayah Prancis akibat perlakuannya kepada aktivis pro-Palestina. Kejadian tersebut digambarkan oleh Menteri Luar Negeri Jean-Noel Barrot sebagai “tindakan yang tidak dapat diterima” terhadap para aktivis di atas kapal yang menuju Gaza, sebagaimana dikutip dari TRT World, Ahad (24/5/2026).
Barrot mengatakan pada hari Sabtu bahwa langkah tersebut menyusul insiden yang melibatkan warga negara Prancis dan Eropa yang berpartisipasi dalam Armada Global Sumud.
“Prancis tidak dapat mentolerir warga negara Prancis yang diancam, diintimidasi, atau diperlakukan secara brutal. Saya mencatat bahwa tindakan-tindakan ini telah dikutuk oleh sejumlah besar tokoh pemerintah dan politik Israel,” katanya, terutama oleh seorang menteri pemerintah yang sedang menjabat.
Barrot juga menulskannya di media sosial X bahwa tindakan-tindakan ini mengikuti daftar panjang pernyataan dan tindakan yang mengejutkan, hasutan untuk kebencian, dan kekerasan terhadap Palestina.
Ia menambahkan: “Seperti kolega saya dari Italia, saya menyerukan Uni Eropa untuk juga menjatuhkan sanksi kepada Itamar Ben-Gvir.”
Langkah ini menyusul beredarnya rekaman yang tampaknya menunjukkan Ben-Gvir, mitra koalisi utama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, berjalan di antara para aktivis yang ditahan secara ilegal yang berlutut dalam formasi rapat dengan tangan terikat di belakang punggung mereka.
Ben-Gvir tampak mengibarkan bendera Israel dan mengejek para tahanan.
Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani sebelumnya telah meminta agar kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas memasukkan kemungkinan sanksi terhadap Ben-Gvir ke dalam agenda pertemuan menteri luar negeri Uni Eropa berikutnya.
Tidak hanya itu, Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin menulis surat kepada Presiden Dewan Eropa Antonio Costa meminta diskusi formal pada KTT Uni Eropa mendatang tentang perlakuan Israel terhadap warga negara Uni Eropa di atas armada tersebut.
Armada yang membawa 428 orang tersebut dari 44 negara, berangkat pada hari Kamis dari Marmaris, Turki, dalam upaya untuk menembus blokade Israel di Gaza, yang telah berlaku sejak 2007. (ard)











Discussion about this post