Covid-19 di Beijing, Gelombang Kedua Corona di China Atau…

Foto: Petugas mengenakan pakaian pelindung saat mereka menunggu warga yang tinggal di sekitar pasar grosir Xinfadi untuk mendapatkan tes asam nukleat di sebuah stadion di Beijing, Minggu (14/6/2020). (AP Photo/Andy Wong) via CNBCIndonesia.com
Avesiar.com -

Otoritas Beijing telah memberlakukan penguncian (lockdown) pada sebagian wilayah di ibu kota China tersebut setelah kasus infeksi virus corona (COVID-19) kembali ditemukan pada Jumat lalu (12/6/2020).

Kasus infeksi baru COVID-19 yang terkait pasar makanan Xinfadi itu merupakan kasus pertama yang kembali ditemukan setelah hampir dua bulan terakhir Beijing tidak melaporkan kasus baru sama sekali.

Menurut The Guardian, akibat kemunculan kasus-kasus itu, pihak berwenang di Beijing telah mengunci 21 kompleks perumahan, yang ditinggali sekitar 90.000 orang. Perumahan-perumahan itu merupakan area yang terletak di dekat pasar Xinfadi.

Pada Selasa, pihak berwenang mengumumkan 49 kasus baru COVID-19. Di mana 36 di antaranya terkait dengan kasus pasar Xinfadi yang ada di distrik Fengtai selatan Beijing. Pasar grosir itu telah ditutup pada Sabtu untuk diidentifikasi.

Dikutip dari South China Morning Post, dari awal kluster diketahui Kamis pekan kemarin, sudah ada 106 kasus terdeteksi hingga hari ini. Kasus pertama COVID-19 di pasar Xinfadi sendiri ditemukan pada seorang pria berusia 52 tahun bermarga Tang. Hingga kini belum diketahui dari mana Tang terinfeksi wabah tersebut.

Melihat cepatnya penyebaran kasus baru, para pejabat kesehatan telah mengkhawatirkan akan lahirnya gelombang kedua corona di China. Apalagi kasus-kasus baru terkait pasar Xinfadi telah ditemukan di luar Beijing, yaitu dua kasus di provinsi Liaoning dan tiga kasus di provinsi Hebei

“Risiko penyebaran epidemi sangat tinggi, jadi kita harus mengambil langkah tegas dan ketat,” kata Xu Hejian, juru bicara pemerintah kota Beijing, pada jumpa pers Senin. Sebelumnya pada Minggu dia mengatakan bahwa Beijing telah memasuki “periode yang luar biasa”.

Namun demikian, kemunculan kembali kasus corona setelah pemerintah China menyatakan berhasil membendung penyebaran wabah pada awal April, bukan yang pertama kali terjadi.

Setelah pemerintah China mengumumkan mengangkat pembatasan di berbagai wilayah, termasuk di Wuhan pada April lalu, kebangkitan gelombang baru corona juga pernah terjadi di Kota Shulan di Provinsi Jilin. Wuhan merupakan kota di Provinsi Hubei tempat wabah corona pertama kali ditemukan pada Desember 2019.

Bahkan, akibat pertumbuhan kasus yang cepat dan penemuan beberapa kluster penyebaran, kota Shulan sampai dikunci pemerintah pada 10 Mei lalu.

Selama lockdown diberlakukan, semua warga diwajibkan tinggal di rumah, sekolah-sekolah dipindahkan online, dan fasilitas umum seperti bioskop dan perpustakaan ditutup sementara. Sarana transportasi umum seperti bus dan taksi dibatasi pada saat itu. Sementara layanan kereta api, dalam maupun luar kota, disetop.

Kebangkitan kasus corona di Shulan pertama kali ditemukan pada seorang wanita 45 tahun pada 7 Mei. Itu merupakan kali pertama wilayah itu kembali melaporkan kasus sejak 9 April, dilansir South China Morning Post.

Wanita itu diketahui bekerja pada sebuah binatu. Bagaimana ia terinfeksi masih belum jelas. Sebab, sejak 23 April ia tak meninggalkan provinsi itu dan tidak bertemu dengan siapapun dari luar negeri.

China sendiri hingga kini telah melaporkan 83.221 kasus COVID-19 secara nasional, dengan 4.634 kematian dan 78.377 sembuh, menurut Worldometers. (ave/dikutip dari cnbcindonesia.com)