• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Nasional & Opini Edukasi

Pakar: Puncak Corona Bisa Naik Turun Seperti Mata Gergaji

by Avesiar
22 Juni 2020 | 20:46 WIB
in Edukasi, Nasional & Opini
Reading Time: 2 mins read
A A
Pakar: Puncak Corona Bisa Naik Turun Seperti Mata Gergaji

Tim medis Puskesmas Kramat Jati mengambil sampel lendir saat tes swab pada ibu hamil di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Dahlia, Kelurahan Tengah, Kramat Jati, Jakarta, Jumat, 12 Juni 2020. Foto : CNN Indonesia

JAKARTA

Puncak kasus virus corona di Indonesia bisa terjadi berkali-kali. Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono mengatakan hal itu karena pemerintah tidak serius menangani Covid-19.

“Bisa berpuncak-puncak, kayak mata gergaji, sudah sampai di atas naik lagi turun lagi, kita tidak tahu polanya seperti apa,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (22/6).

“Puncak kasus bisa naik-turun beberapa kali,” katanya.

Pandu mengatakan grafik kasus akan fluktuatif karena pemerintah tidak serius melakukan pelacakan dan testing virus corona di sejumlah daerah. Kondisi ini akan membuat sebuah daerah mencatatkan pertambahan kasus yang tinggi saat dilakukan testing.

Beberapa daerah bahkan menurutnya tidak lagi melakukan testing agar tercatat menjadi zona hijau. Hal ini menurutnya akan membuat angka kasus melonjak pesat saat daerah tersebut diadakan tes Covid-19.

“Sehingga seakan-akan sudah turun, tapi bisa naik lagi di beberapa daerah yang baru testing,” ujarnya.

“Kita enggak serius menanganinya [di daerah], harusnya konsisten terus dilakukan pelacakan meski zonanya hijau,” kata Pandu.

Bacaan Terkait :

AS Berencana Menjual F-35 ke Turki, Israel Ketar-ketir

Pemerintah Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Negara Setara dengan Terorisme, Perpres Nomor 111 Tahun 2025 Disahkan

Pemakaman Pemimpin Iran Ali Khamenei Dihadiri Jutaan Orang dan Teriakan “Matilah Amerika dan Israel”

Daftar Kebiasaan Kecil yang Membantu Jalani Hidup Lebih Bahagia dan Sehat, Nomor 8 Cukup Menantang

Warga Nahdliyin Diminta Gelar Munajat dan Riyadhoh Jelang Muktamar Ke-35 NU

Aplikasikan 11 Tips Keuangan di Masa yang Tidak Menentu

Perilaku LGBT Tidak Normal dan Ilegal, Ketum MUI Merespons Menteri HAM Pigai

Load More

Angka pertambahan kasus corona di atas seribu terjadi beberapa kali dalam sepekan terakhir. Pada 15 Juni tercatat penambahan 1.017 kasus baru, 16 Juni 1.106 kasus baru, 17 Juni 1.031 kasus baru, 18 Juni 1.331 kasus baru, 19 Juni 1.041 kasus baru dan 20 Juni 1.226 kasus baru.

Update terakhir pada 21 Juni 2020 kasus baru sebanyak 862, akumulasi konfirmasi positif Covid-19 berjumlah 45.891 kasus.

Provinsi dengan penambahan kasus terbanyak yaitu Jawa Timur, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.

Melihat angka ini, Pandu mengatakan pemerintah harus serius dan konsisten dalam melakukan tes dan penelusuran kontak di daerah-daerah supaya tidak terjadi penumpukan kasus di satu daerah, seperti Jawa Timur.

“Menangani wabah itu seharusnya seperti itu, testingnya harus kuat di setiap daerah,” katanya.

Setiap pembukaan satu sektor juga harus dibarengi dengan penambahan kapasitas testing. Sebab menurut Pandu, tidak ada jaminan penyebaran kasus akan landai saat ‘new normal’ dan aktivitas kembali seperti sedia kala.

“Penularan pasti terus ada karena ini pandemi. Yang harus dilakukan adalah pengawasan, testing dan tracing masif di setiap daerah, meski zona hijau,” ucap Pandu.

Pembukaan setiap sektor juga harus dilakukan secara hati-hati dan bertahap. Misalnya pembukaan aktivitas perkantoran dan mal, berarti harus meningkatkan kapasitas testing dua kali lipat. Begitu pun pembukaan tahap ketiga seperti tempat pariwisata.

“Ketika dibuka satu sektor berarti kapasitas testing harus ditingkatkan, dibuka lagi sektor lain, testing naik jadi 3 kali lipat, begitu seterusnya,” ujarnya.

Meski angka kasus tetap bertambah, Pandu menyarankan tidak menutup kembali mal dan pasar. Tindakan tersebut menurutnya akan membuat warga depresi karena harus terus diam di rumah.

Ia menyarankan pemerintah berupaya ketat dalam mengawasi aktivitas di tempat umum. Pemerintah juga sebaiknya memberikan sanksi tegas pada pihak manajemen yang mengabaikan protokol kesehatan seperti tidak membatasi jumlah pengunjung dan tidak menyediakan handsanitizer.

“Kalau mereka melanggar aturan dan tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan ya harus dikenai sanksi. Denda, misalya. Nah denda ini harus besar, misalnya Rp 1 milyar,” ucap Pandu.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksi kurva puncak penyebaran corona diperkirakan terjadi pada Juni 2020. Namun kenaikan kasus corona diklaim berasal dari bertambahnya jumlah orang yang menjalani pemeriksaan.

DKI Jakarta masih menjadi provinsi dengan jumlah kasus positif tertinggi. Hingga 21 Juni, kasus positif di Jakarta mencapai 9.971 kasus. Sementara jumlah tertinggi berikutnya adalah provinsi Jawa Timur dengan 9.542 kasus, Sulawesi Selatan 3.797 kasus, dan Jawa Barat 2.848 kasus. (ave/dikutip dari CNNIndonesia.com)

ShareTweetSendShare
Previous Post

DPR Cecar Yasonna soal Pindahkan Bahar Smith ke Nusakambangan

Next Post

Kisah Pertemuan Nabi Muhammad dengan Pendeta Buhaira

Mungkin Anda Juga Suka :

Pemerintah Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Negara Setara dengan Terorisme, Perpres Nomor 111 Tahun 2025 Disahkan

Pemerintah Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Negara Setara dengan Terorisme, Perpres Nomor 111 Tahun 2025 Disahkan

6 Juli 2026

...

Warga Nahdliyin Diminta Gelar Munajat dan Riyadhoh Jelang Muktamar Ke-35 NU

Warga Nahdliyin Diminta Gelar Munajat dan Riyadhoh Jelang Muktamar Ke-35 NU

4 Juli 2026

...

Perilaku LGBT Tidak Normal dan Ilegal, Ketum MUI Merespons Menteri HAM Pigai

Perilaku LGBT Tidak Normal dan Ilegal, Ketum MUI Merespons Menteri HAM Pigai

2 Juli 2026

...

Para Jemaah Haji Asal Aceh yang Terlilit Utang Akibat Banjir Menerima Bantuan Saat Kepulangan

Para Jemaah Haji Asal Aceh yang Terlilit Utang Akibat Banjir Menerima Bantuan Saat Kepulangan

1 Juli 2026

...

Pemerintah Didesak Agar Menindak Tegas Fenomena serta Gerakan LGBT Mencontoh Rusia

Pemerintah Didesak Agar Menindak Tegas Fenomena serta Gerakan LGBT Mencontoh Rusia

30 Juni 2026

...

Load More
Next Post
Kisah Pertemuan Nabi Muhammad dengan Pendeta Buhaira

Kisah Pertemuan Nabi Muhammad dengan Pendeta Buhaira

Masih PSBB Proporsional, CFD di Depok Belum Diperbolehkan

Masih PSBB Proporsional, CFD di Depok Belum Diperbolehkan

Discussion about this post

TERKINI

AS Berencana Menjual F-35 ke Turki, Israel Ketar-ketir

7 Juli 2026

Pemerintah Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Negara Setara dengan Terorisme, Perpres Nomor 111 Tahun 2025 Disahkan

6 Juli 2026

Pemakaman Pemimpin Iran Ali Khamenei Dihadiri Jutaan Orang dan Teriakan “Matilah Amerika dan Israel”

5 Juli 2026

Daftar Kebiasaan Kecil yang Membantu Jalani Hidup Lebih Bahagia dan Sehat, Nomor 8 Cukup Menantang

4 Juli 2026

Warga Nahdliyin Diminta Gelar Munajat dan Riyadhoh Jelang Muktamar Ke-35 NU

4 Juli 2026

Aplikasikan 11 Tips Keuangan di Masa yang Tidak Menentu

3 Juli 2026

Perilaku LGBT Tidak Normal dan Ilegal, Ketum MUI Merespons Menteri HAM Pigai

2 Juli 2026

Kembali Rampas Tanah Palestina, Pemukim Israel Ilegal Bangun Pos Pemukiman Ilegal di Khan al-Ahmar

2 Juli 2026

Tiga Tanda Kucing Sedang Mengalami Tekanan Emosional yang Parah, Menurut Para Ahli

1 Juli 2026

Para Jemaah Haji Asal Aceh yang Terlilit Utang Akibat Banjir Menerima Bantuan Saat Kepulangan

1 Juli 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video