Avesiar.com
Begitu heroik dan ksatria. Islam mencatat sejarah panjang mengenai peperangan, ketangguhan, strategi, serta kekuasaan yang di toreh dari segala peristiwa yang pernah dilalui.
Diketahui perang besar pertama kali yang di alami umat Islam melawan musuh-musuhnya yaitu Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan 2 Hijriah atau 13 Maret 624 Masehi. Masih banyak peperangan lain sebelum dan setelah perang Badar tersebut.
Berbagai perang yang dihadapi umat Islam sejak zaman dahulu hingga sekarang tak luput dari seorang panglima yang gagah dan berani memimpin suatu pasukan, serta para pengikut yang tidak kalah hebatnya.
Tercatat beberapa panglima perang yang gagah dan tangguh serta pemberani yang berhasil menakhlukkan medan perang sejak zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Berikut adalah beberapa panglima perang yang ditampilkan, meskipun masih banyak lagi yang lainnya dengan kehebatannya masing-masing.
1. KHALID BIN WALID
Dijuluki sebagai Pedang Allah yang terhunus. Khalid lahir pada 585 masehi dan wafat pada usia ke 57. Sahabat Nabi Muhammad shallalalhu ‘alaihi wa sallam (SAW) yang satu ini sangat terkenal dengan taktik perang dan ketangguhannya di dunia militer.
Nama Klalid bin Walid sendiri disebut sebagai panglima yang tak terkalahkan di lebih dari 100 kali pertempuran yang ia pimpin. Khalid bin Walid dahulunya merupakan panglima perang kaum kafir Quraisy yang berperan penting dalam perang Uhud melawan umat Muslim.
Khalid masuk Islam dan tergabung bersama Nabi Muhammad shallalalhu ‘alaihi wa sallam (SAW) dengan melalui perjanjian Hudaibiyah. Mengutip dari Wikipedia, pencapaian strategis yang diraih yaitu penakhlukan Arab selama Perang Riddah, Persia Mesopotamia, dan Suriah Romawi, dalam waktu empat tahun.
Meneruskan dari Merdeka.com, kelihaian Khalid juga terlihat pada pertempuran Yarmuk. Khalid memimpin 40.000 tentara dan menerima misi tersebut dari Khalifah Abu Bakar untuk menyatukan seluruh Timur Tengah di bawah bendera Islam.
Musuh yang mereka hadapi merupakan pasukan gabungan Armenia, Slavia, Ghassanid, dan juga pasukan Romawi Timur yang berjumlah 150.000 tentara. Dalam perang tersebut pasukan Islam di bawah pimpinan panglima Khalid bin Walid mencapai kemenangan telak, merebut Palestina, Suriah, dan Mesopotamia dari Kekaisaran Romawi Timur.
Memang Khalid bin Walid tidak pernah terkalahkan sepanjang sejarah karirnya di lebih dari 100 perperangan besar maupun kecil, dan tercatat sebagai panglima terbaik sepanjang sejarah.
2. MUHAMMAD AL FATIH
Disebutkan di dalam kisahnya, kekuasaan yang dipimpin oleh Muhammad Al Fatih sebagai satu-satunya pemimpin yang berhasil membuat kota konstantinopel waktu itu tunduk.
“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad bin Hanval Al Musnad).
Hadist tersebut merupakan dorongan besar bagi Mahmed II untuk menakhlukkan Konstantinopel. Berbagai upaya yang dilakukan hingga beberapa kali menemui kegagalan.
Di usianya yang masih belia menginjak umur 21 tahun, Mahmed II atau disebut Muhammad Al Fatih ini sangat berani mengambil keputusan untuk membawa serta bala tentara serta kapal-kapal mereka melalui perbukitan Galata.
Untuk memasuki titik terlemah Konstantinopel, yaitu Selat Golden Horn, ketika itu, Sultan Mehmed II beserta ribuan tentaranya menarik kapal-kapal mereka melalui darat, dan mendapat respon negatif akan kemustahilan dengan rencana yang dia perintahkan.
Dan dengan tegas dan berani Muhammad Al Fatih memperintahkan kepada bala tentaranya untuk bergegas melakukan hal tersebut.
Mengutip dari Republika.co.id, sebanyak tujuh puluh kapal diseberangkan melalui bukit hanya dalam satu malam. Saking hebatnya, Sastrawan Yoilmaz Oztuna berkata, “Tidaklah kami pernah melihat atau mendengar hal ajaib seperti ini, Mehmed telah menukar darat menjadi lautan dan melayarkan kapalnya di puncak gunung. Bahkan usahanya ini mengungguli apa yang pernah dilakukan oleh Alexander The Great”.
Dan bahkan sehari sebelum dia menjalankan strategi tersebut, Muhammad Al Fatih memerintahkan semua tentaranya untuk berpuasa pada siang hari dan melaksanakan shalat Tahajud pada malam harinya sebelum berperang untuk meminta kemenangan kepada Allah.
Alhasil, Mehmed II berhasil membawa kemenangan dengan menaklukkan Konstantinopel dan memimpinnya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ia melindungi seluruh rakyat di sana, baik Muslim maupun non-Muslim.
3. SALAHUDDIN AL AYUBI
Jejak karir Salahuddin Al Ayubi merupakan pemimpin pasukan Muslim dalam Perang Salib melawan umat kristenS Sejak saat itu namanya melejit di kalangan muslim dan kristen. Merebut Jerusalem yang saat itu dipimpin Balian dari Ibelin dalam 12 hari pertempuran.
Dan dengan kemuliaannya, Salahuddin tidak menyekiti satupun para tawanannya dari tentara kristen dan melepaskannya bagi yang mau kembali ke Eropa. Akibat kemuliaannya serta kesatria yang pemberani, Salahuddin dikenal dan harum namanya di kalangan Muslim dan umat kristen.
Pria yang dilahirkan di kota Tikrit, Irak pada 1138 M dan berasal dari suku Kurdi ini sudah menguasai taktik peperangan, politik, serta strategi dari semenjak dia masih kecil.
Dalam sejarah Islam, Salahuddin Ayyubi juga mendirikan salah satu kerajaan bernama Dinasti Ayubiyah. Daerah kekuasaannya pun cukup luas, meliputi Mesir, Yaman, Diyar Bakr, Mekkah, Hijaz, dan Irak Utara.
Sampai pada akhir kejayaan Salahuddin berakhir, dirinya wafat pada 1193 M. Wafatnya beliau menandakan bahwa kerajaan yang didirikannya kian melemah. Dinasti Ayubiah berakhir ketika pemimpin terakhir Sultan Ayubiyah, terbunuh oleh budak Mamluk.
4. USAMAH BIN ZAID
Panglima Usamah Bin Zaid pada usianya yang masih menginjak angka 18 tahun, ditunjuk oleh Rasulullah Muhammad shallalalhu ‘alaihi wa sallam (SAW) sebagai pemimpin dalam sebuah pasukan perang Islam melawan Romawi Timur.
Di usianya yang muda, Usamah diragukan oleh sahabat yang lainnya karena tugas yang berat diberikan kepada anak yang masih berusia 18 tahun.
Dikisahkan, dalam perjalanannya dari Madinah menuju perbatasan syam, Usamah mendengar kabar berita atas kematian Nabi Muhammad shallalalhu ‘alaihi wa sallam (SAW), dan bergegas balik menemui nabi dan menghentikan perjalanan pasukannya.
Hingga Abu Bakar Ash Shiddiq yang pada waktu yang bersamaan diangkat sebagai khalifah menggantikan Rasulullah shallalalhu ‘alaihi wa sallam (SAW), memerintahkan Usamah untuk bergegas balik menyelesaikan amanah dari Nabi tersebut.
Usamah dengan pasukannya bergegas menuju perbatasan syam, dan dengan strategi yang matang, pasukan Usamah berhasil mengalahkan musuh dengan cepatnya.
Sejak saat itu Usamah menjadi diperhitungkan dan disegani dari kalangan sahabat-sahabat Nabi. Di antara panglima perang yang kuat dan tangguh, dalam sejarah Islam, nama Usamah bin Zaid tercatat sebagai panglima perang terhebat, termuda, dan terakhir yang ditunjuk oleh Nabi Muhammad shallalalhu ‘alaihi wa sallam (SAW) pada masanya.
5. KHAULAH BINTI AZUR
Jika Khalid Bin Walid mendapatkan gelar sebagai Pedang Allah, maka Khaulah Binti Azur merupakan panglima dari kalangan perempuan yang juga disebut dengan Pedang Allah.
Pada awalnya Khaulah merupakan petugas medis yang bertugas pada saat perperangan berlangsung. Ketika mengetahui ketika itu kakak kandungnya Dhirara bin Azur yang tertangkap dan menjadi tawanan musuh, Khaulah bangkit dan menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan bergegas membantu kakaknya melawan dan menghadang musuh dengan menunggangi kuda.
Pada saat itu pasukan di bawah pimpinan Khalid bin Walid sedang terpukul oleh musuh, Khaulah maju dengan beraninya dan menghadang musuh-musuh Allah. Tak sedikit pun keraguan dan kegentaran terlihat darinya. Keadaan fisik yang mendukung kekar, tinggi serta pemberani. Khaulah juga cekatan memainkan taktik perang dan jago memainkan pedang serta menunggangi kuda. Hingga pasukan pun terheran dengan kehadiran dan kemisteriusannya. Karena semua badannya di tutupi, kecuali matanya.
Di luar dari kehebatan dan keberaniannya di medan perang, Khaulah terkenal dengan strateginya yang jitu. Pada perang Sahura, dia yang merupakan tim medis dari tentara Muslim, tertangkap oleh musuh dan ditahan bersama dengan rekannya yang lain.
Khaulah tidak kehilangan akal dan memotifasi para tawanan lain untuk berani dan melawan musuh-musuh Allah. Dengan cekatan dan tangan kosong serta memanfaatkan keadaan sekitar, Khaulah berhasil menyelamatkan diri dan rekannya dari tawanan musuh. (ave/dnktv.uinjkt.ac.id/edited)













Discussion about this post