Avesiar – Jakarta
Ave Rosa A. Djalil, Wartawan Senior
Siang itu cuaca benar-benar terik, jalanan pun sesak. Maklum PPKM sudah mulai dikendorkan. Semua orang, hampir berpikir yang sama. Ingin refreshing, rekreasi. Minimal cuci mata. Nyaris dua tahun pergerakan, bagi yang taat protokol kesehatan, terbatasi.
Saya pun bergegas, jaket mulai basah dengan peluh. Gerah akibat cuaca panas dan macet khas dari kota penyangga Jakarta, Depok. Saya memilih mengendarai motor untuk memangkas waktu tempuh. Agak ugal-ugalan. Maklum, HP saya sudah berdering terus.
“Mas, Ibu sedang kasih sambutan.” tertulis pesan di Whattsapp yang sesekali saya tengok.
Penulis pesan tersebut tak lain salah seorang sekretaris pribadi Si Empunya acara, yang mengundang saya untuk datang ke salah satu hotel bintang di kawasan Melawai.
Sosok satu ini memang sudah saya kenal sejak lama, sejak saya masih pertama kali ikut mengembangkan salah satu Koran milik penerbitan terbesar di Indonesia dari Surabaya yang berkedudukan di Jakarta di 2003. Otomatis sekitar 18 tahun lebih saya mengenalnya.
Melani Leimena Suharli, saya mengenal beliau saat itu sebagai pemilik travel Haji dan Umrah papan atas atas Indonesia Al Amin Universal dan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia).
Saya mengenalnya sebagai salah satu pemilik usaha travel yang sukses. Istilahnya “Orang Kaya Lama”. Melalui travel Haji dan Umrah yang dikelola bersama sang suami Muhammad Suharli, Presiden Republik Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, pernah menunaikan ibadah Umrah sebelum menjabat Presiden. Jemaahnya pun berasal dari kalangan artis, pengusaha, dan pejabat.

Melani mengundang saya untuk datang ke salah satu kegiatan bersama para konstituennya yang berasal dari Jakarta Pusat dan Selatan. Melani Leimena Suharli adalah seorang anggota DPR RI Komisi VI Fraksi Partai Demokrat.
“Acara Sosialisasi BUMN di Hotel Amos Cozy, Melawai. Acara mulai jam 10.00 sampai 12.00.” Demikian isi pesan dari dari wanita yang rumahnya berada di daerah Pakubuwono, Kebayoran Baru dan Pondok Indah itu melalui WA. Singkat, khas gaya pesan orang tua.
Sampai di hotel berarsitektur klasik itu, saya segera bertanya ke petugas security, di mana acara yang sedang berlangsung sesuai undangan Melani. Satpam menjawab, “Oh, acara Bu Melani”? “Naik lift ke lantai tiga,” ujarnya memandu seakan sudah familiar dengan nama pemilik acara.
Penulis segera meluncur ke lantai 3, acara sudah penuh dengan peserta. Melani pun tengah memberikan kata penutup pada kegiatan sosialisasi BUMN bertema, Peran BUMN untuk Pemberdayaan Umat, yang diikuti oleh hampir 200 penerima bantuan. Meskipun ruangan agak penuh, saya melihat protokol kesehatan tetap terjaga. Saya merasa nyaman.
Sambil menunggu mantan Wakil Ketua MPR RI periode 2009 – 2014 yang saat itu Ketua MPR RI nya adalah almarhum Taufik Kiemas, saya memotret-motret beberapa scene seputar kegiatan yang ditutup dengan penyerahan bantuan CSR dari perusahaan-perusahaan BUMN kepada masyarakat yang diwakili Melani itu.
Tujuan utama penulis memenuhi undangan beliau sebagai silaturrahmi dan juga tertarik pada kegiatannya wanita yang kini berusia 70 tahun itu . Sudah sejak awal pandemi Covid-19 Maret 2020, kami tidak bertemu. Nyaris genap 2 tahun hanya komunikasi melalui telepon dan pesan Whattsapp saja.
Penulis menganggap pertemuan itu seperti ‘anak ketemu Ibu’ alias ketemu orang yang disegani, dihormati, karena figurnya yang keibuan dan tidak berubah selama puluhan tahun. Baik sebagai pengusaha, maupun pejabat negara.
Ruangan kategori ballroom berkapasitas sekitar 400 orang itu penuh suka cita. Mayoritas masyarakat akar rumput yang menjadi tamu istimewa pagi itu.

Maklum, kedatangan mereka adalah mendapatkan sosialisasi mengenai peran Badan Usaha Milik negara (BUMN) dan mendapatkan bantuan dana untuk pembangunan fasilitas umum di lingkungan masing-masing dari berbagai kelurahan yang berbeda di Jakarta Selatan dan Pusat.
Mereka terlihat sangat menghormati sosok putri Pahlawan Nasional dr. Johannes Leimena, menteri di era pemerintahan Presiden Soekarno itu. Melani pun terlihat banyak menyampaikan pesan kepada mereka untuk menggunakan dana tersebut sesuai amanah yang diberikan. Mereka manut dan mengucapkan terima kasih.
Istri dari pemimpin Majelis Taklim Al Amin Muhammad Suharli itu juga harus melakukan serah terima dana bantuan BUMN satu per satu dari sekitar hampir 200 penerima. Setiap penerima yang mendapatkan dana tersebut membawa papan bertuliskan jumlah dana yang didapatkan setiap wilayah atau fasos dan fasum. Difoto satu per satu. Melani tidak enggan.

Usai sesi foto itulah penulis baru bisa bertemu langsung dengan Ibu 3 anak ini, setelah kedua sekretaris pribadinya, Dwi dan Rina, mengajak penulis menuju ruang VIP di lantai dasar hotel, tempat Melani rehat makan siang bersama putranya yang seorang anggota DPRD DKI Jakarta Ali Muhammad Johan.
“Gimana kabar, Ve. Ayo sekalian sambil makan,” katanya ditimpali kalimat yang sama oleh Ali, putranya.
Penulis menganggukkan kepala, namun tetap fokus bertanya kegiatan yang dia lakukan selama ini. Pikir penulis, urusan makan belakangan, ngobrol lebih dulu.
Ibu dari seorang perwira menengah di Polri, anggota DPRD, dan pengusaha swasta itu menceritakan bahwa dia di Komisi VI DPR RI mengemban amanah untuk menjembatani antara BUMN dengan masyarakat dalam hal penyerapan dana bantuan corporate social responsibility. Sehingga, dia berusaha benar-benar menjaga amanah tersebut karena berkaitan dengan penggunaan yang efektif dan efisien.

Meskipun mengemban amanah yang berhubungan dengan dana bantuan, Melani mengatakan bahwa penyaluran tersebut dilakukan langsung oleh BUMN. Komisi tempat dia bernaung di DPR RI hanya sebagai pihak yang menjembatani berbagai proposal yang diajukan masyarakat.
“Bantuan mulai untuk PAUD, karang taruna, Masjid, majelis taklim, posyandu, dan sarana prasarana lainnya. Dan pada kesempatan kali ini sekaligus menampilkan para warga yang wilayahnya sudah mendapatkan bantuan mulai dari nilai puluhan juta, sampai ratusan juta dari CSR BUMN ini,” kata Melani kepada penulis, Sabtu (8/1/2022).
Wanita low profile yang sering terlihat menggunakan busana tradisional dipadu jilbab itu mengatakan bahwa jabatannya adalah amanah. Dan bagi dia, risih rasanya jika harus menggunakan uang yang bukan seharusnya menjadi milik atau haknya. Apalagi korupsi dan sejenisnya. Bisa dimaklumi, dia sudah kaya sebelum jadi pejabat negara.
Penulis ingat betul saat Melani menjabat Wakil Ketua MPR RI, dia sampaikan bahwa dia sangat menjaga integritasnya sebagai seorang wakil rakyat.
“Kamu nggak mau kan saya pakai-pakai uang yang aneh-aneh (korupsi, red). Ini uang saya pribadi dari gaji saya. Makanya tidak banyak,” katanya pada penulis sebagai pengelola salah satu media nasional saat ditawarkan jasa iklan media yang cukup mahal.
Melani dan sang suami, bisa dikatakan tidak suka menampilkan foto-foto plesiran ke luar negeri. Dia mengaku sangat menjaga opini umum, meskipun dia berlatarbelakang pengusaha travel..

Melani memang selalu humble. Ketika ditanya soal programnya yang bersentuhan langsung dengan masyarakat itu, dia mengakui bahwa apa yang dilakukannya tidak sebanding dengan apa yang dilakukan oleh junior-juniornya para wakil rakyat lain dengan program-program yang lebih bagus.
“Mereka lebih bagus-bagus programnya. Saya malah banyak belajar dari mereka. Jadi kalau tanya soal program, mungkin program untuk masyarakat yang saya lakukan tidak sebagus mereka (anggota DPR yang lebih muda usianya, red). Bagi saya, yang penting meskipun tua masih bisa berkarya ,” ujar Melani yang sosoknya keibuan dan sederhana itu.

Dari jejak sosial dan organisasi, Melani seperti tidak pernah sepi dari aneka kegiatan. Ada saja kegiatannya di berbagai komunitas dan organisasi yang menjadikannya pengurus dan sejenisnya. Semua seakan suka jika Melani ada di tempat atau kegiatan mereka.
Soal rahasia bugarnya, Melani mengatakan hanya rutin minum vitamin agar bisa mengimbangi kegiatan yang padat.
Dengan pengalamannya yang segudang itu, herannya, beberapa kali susunan kabinet menteri, tidak menempatkan sosok Melani dengan integritasnya dan pengalaman organisasi wanita yang identik dengan pemberdayaan wanita itu, sebagai menteri. Meskipun ini hanya asumsi wartawan ini saja. (ave rosa a. djalil)













Discussion about this post