KAMU KUAT – Jakarta
Zona nyaman atau comfort zone adalah istilah populer yang dianggap mewakili perasaan nyaman pada kondisi yang sudah ada. Ketika kita merasakan semua berjalan dengan semestinya, namun tanpa disadari ternyata selama ini belum ada pencapaian yang didapat.
Mungkin zona nyaman terasa seperti tempat terbaik, tapi di balik rasa nyaman itu, ada tantangan dan potensi yang menunggu untuk ditemukan di luar sana. Dan itu tentunya bukan di zona nyaman atau comfort zone.
Dikutip dari Hallo Sehat, (25/12/2024), istilah “zona nyaman” atau dalam bahasa Inggris comfort zone, pertama kali dipopulerkan oleh Alasdair White, seorang pencetus teori manajemen bisnis pada tahun 2009. Menurutnya, zona nyaman adalah keadaan saat segalanya terasa akrab dan mudah sehingga Anda tidak mengalami banyak stres.
Jika dahulu istilah ini hanya dikenal di kalangan dewasa yang bekerja sebagai professional atau karyawan di berbagai bidang, kini “zona nyaman” juga semakin akrab dikenal dalam keseharian kalangan remaja dan anak muda.
Bagaimana mereka menyikapi apa yang disebut zona nyaman atau comfort zone, serta seperti yang dimaksud di sisi generasi ini. Yuk, kita simak komentar teman-teman kanal remaja dan anak muda KAMU KUAT! berikut.
Keisha Farsyah, siswi kelas XI, SMAN 2 Kota Tangerang Selatan

Pengalaman Keisha Farsyah keluar zona nyaman adalah ketika ia mencoba cari hobi dan pengalaman baru.
“Aku orangnya takut gagal dan malu gagal, makanya dari dulu aku jarang ikut lomba-lomba dan olimpiade. Tapi ketika banyak yang men-support bakat dan potensiku, khususnya ibuku, aku merasa perlu banget sertifikat prestasi untuk masuk ke PTN nanti. Dari situ, aku sadar kalau keluar dari zona nyaman itu penting banget. Karena kalau kita stay di zona nyaman, kita ngga bakal berkembang karena ngga punya pengalaman yang banyak,” ujarnya
Dari sanalah ia mulai ikut Olimpiade Sains Nasional secara online. Dan ia pernah meraih juara 1 olimpiade bahasa Inggris. Sejak itu Keisha merasakan dampak baik yang bisa didapatkan dengan keluar dari zona nyaman. Sebagai contoh, lanjutnya, meningkatkan kepercayaan diri, memperluas wawasan, mengenal potensi diri dan membuka peluang baru seperti di bidang karier.
“Trik dari aku supaya bisa keluar dari zona nyaman itu ubah pola pikir, belajar dari kesalahan atau pengalaman, dan memulai perubahan dari hal yang kecil. Menurut aku kenyamanan tidak akan membawa kita ke tempat baru. Berani melangkah keluar adalah awal dari pertumbuhan dan kesuksesan,” ujarnya.
Selvia Melinda, mahasiswi semester 7, Stikes Banten

Berbeda halnya dengan Selvia Melinda yang menyebut bahwa zona nyaman bukan hanya tentang prestasi, namun di lingkaran pertemanan ternyata ada juga istilah zona nyaman.
“Aku pernah berada di lingkungan pertamanan yang menurut aku toxic. Sedangkan aku orangnya sangat-sangat ngga bisa menolak. Aku bener-bener selalu berusaha membantu mereka ketika mereka minta tolong tanpa memikirkan diri sendiri yang sedang capek atau sedang sedih. Yang Ada di pikiranku, aku harus bantu. Karena kalau aku tidak bantu, aku takut di saat aku butuh bantuan, ngga ada yang mau bantu aku,” bebernya.
Hingga akhirnya Selvia mengakui ia merasa lelah dengan sifat “nggak enakan” itu. Akhirnya, imbuhnya, perlahan-lahan mulai mencoba keluar dari zona nyaman dari pertemanan toxic tersebut. Ia mengakui lumayan sulit dan butuh waktu beberapa tahun untuk bisa keluar dari zona itu.
“Efeknya, aku merasa lega lebih tenang, lebih fokus ke diri sendiri, kepercayaan diri aku mulai tumbuh, aku sudah bisa berkata “tidak” dan mengikuti kata hati. Menurut aku, berani keluar dari zona nyaman itu bisa menjadi langkah pertama menuju kebebasan dan kebahagiaan sejati. Kamu layak mendapatkan yang lebih baik untuk diri kamu sendiri,” ucapnya mantap.
Nadia Rezki Putri Wulandari ,siswi kelas 12, SMA BOASH Bogor

Berubah dari zona nyaman juga dirasakan oleh Nadia Rezki. Namun, pengalaman ini cukup mengharukan.
“Aku anak bungsu yang hidupnya enak banget. Ada kakak cewek yang selalu jagain aku, jadi tempat aku ngadu. Apa-apa dia yang ngalah, dia yang bantuin aku kalau ada masalah. Rasanya nggak ada yang perlu aku takutin selama ada dia.”
Semua itu, lanjutnya, berubah ketika kakak yang disayanginya meninggal karena sakit. Akhirnya ia cuma tinggal dengan Mamanya. Sedangkan Papanya kerja di luar kota sehingga jarang ada di rumah.
“Rasanya kayak aku kehilangan semuanya sekaligus. Jujur awalnya terasa berat, pengen curhat kesedihanku kepada Mama. Tapi kehilangan Mama pun lebih berat dari pada aku. Pelan-pelan, aku mulai sadar, kalau aku nggak bisa terus kayak gini. Aku ngga bisa maratapi kehilanganku,” ucapnya.
Nadia mengatakan ia merasa harus keluar dari zona nyaman anak bungsu yang selalu manja dan dimanja. Zona nyaman tersebut sudah harus diakhiri karena ia yakin Mama membutuhkannya juga. Apalagi sekarang cuma ada dirinya bersama Sang Ibunda di rumah. Jadi, ia mulai belajar agar mandiri.
“Aku bantuin Mama masak, beberes rumah, ngurus hal-hal kecil yang dulu aku nggak pernah pikirin. Hal-hal yang biasa jadi tugas kakak, akhirnya aku coba ambil alih. Sekarang aku memang sedang keluar dari zona nyamanku yang lama dan mulai mencari zona nyamanku yang baru. Tidak mudah dan tidak nyaman, tapi aku harus mencoba dan harus bisa,” tegasnya.
Wuihh, guys. Berani melangkah keluar dari zona nyaman adalah awal dari perjalanan luar biasa mungkin Tidak mudah dan lancar, namun semua butuh proses, tekad. dan kepercayaan diri. Jangan takut menghadapi tantangan, karena setiap langkah yang diambil akan membawamu lebih dekat ke versi terbaik dirimu.
Kamu harus percaya bahwa kamu lebih kuat dari yang kamu bayangkan. Yuk, mulai dari sekarang! Karena keberanianmu adalah kunci perubahan. Jangan lupa berdoa dan minta restu serta ridho orang tuamu. (Resty)













Discussion about this post