KAMU KUAT – Jakarta
Dalam sebuah keluarga, peran dan tanggung jawab setiap anggota menjadi faktor penting dalam menciptakan keseimbangan dan keharmonisan. Salah satu pembahasan menarik adalah mengenai siapa yang seharusnya mencari nafkah apakah cukup ayah saja, ataukah kedua orang tua harus bekerja?
Di masa lalu, peran ayah sebagai pencari nafkah utama sudah menjadi hal yang lumrah, sementara ibu lebih fokus mengurus rumah tangga dan anak-anak.
Namun, di era modern ini, semakin banyak ibu yang turut bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti meningkatnya biaya hidup, perubahan pola pikir tentang kesetaraan gender, serta keinginan individu untuk tetap berkembang dalam karier.
Namun, keputusan ini tentu tidak bisa diambil secara sembarangan. Ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan, seperti bagaimana dampaknya terhadap anak-anak, pembagian tugas dalam rumah tangga, hingga kesejahteraan emosional dan fisik kedua orang tua.
Apakah lebih baik jika ayah saja yang bekerja, atau justru lebih menguntungkan jika kedua orang tua ikut berkontribusi secara finansial? Beberapa sahabat kanal remaja dan anak muda KAMU KUAT! Avesiar.com berikut punya pandangannya masing-masing.
Faalih Girindra Bahy Syafiq, siswa kelas 12, SMA Negeri 10 Depok

Menurut Faalih, tidak masalah apakah hanya ayah atau kedua orang tua yang bekerja. Baginya, yang terpenting adalah bagaimana keluarga bisa memenuhi kebutuhan hidup dan tetap sehat. “Dengan bekerja, kedua orang tua saya tetap produktif dan sehat. Aktivitas itu membuat mereka tidak cepat pikun,” ujarnya.
Namun, di era sekarang, apakah memungkinkan hanya satu orang tua yang bekerja? Faalih berpendapat bahwa kondisi ekonomi saat ini tidak mendukung hal tersebut. “Biaya hidup semakin tinggi dan semuanya serba mahal,” katanya.
Banyak yang masih memperdebatkan apakah ibu sebaiknya bekerja atau fokus mengurus rumah tangga. Faalih sendiri melihat banyak dampak positif dari ibu yang bekerja. “Menurut saya, tidak masalah. Dampak positifnya adalah tetap produktif, mengisi waktu luang, dan terhindar dari kebosanan,” jelasnya.
Ia juga merasakan sendiri bagaimana hidup dalam keluarga dengan dua pencari nafkah. “Saya tetap mendapatkan perhatian dari kedua orang tua saya, terutama ibu. Walaupun harus mengurus rumah dan bekerja, ibu saya selalu sehat dan bahagia,” tambahnya.
Dalam keluarga dengan dua pencari nafkah, pembagian tugas rumah tangga menjadi hal yang penting. Namun, menurut Faalih, di keluarganya tidak ada pembagian tugas yang khusus. Meski begitu, ia merasa bahwa memiliki orang tua yang bekerja membuatnya lebih mandiri.
Memiliki dua pencari nafkah dalam keluarga bukanlah sesuatu yang buruk, asalkan ada keseimbangan dalam perhatian dan pengasuhan anak. Di tengah kondisi ekonomi yang semakin menantang, bekerja menjadi pilihan yang realistis bagi banyak keluarga. Yang terpenting, setiap keluarga perlu menemukan pola yang paling sesuai agar semua anggota tetap bahagia dan sejahtera.
Tsaniya Azra, siswi kelas 12, SMA Negeri 1 Ciomas, Jawa Barat

Menurut Tsaniya, dalam konsep keluarga ideal, ayah adalah pihak yang diwajibkan untuk mencari nafkah, sesuai dengan perannya sebagai kepala keluarga. Namun, ia juga menyadari bahwa di zaman sekarang, tidak jarang kedua orang tua harus bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga.
“Menurut saya, dalam keluarga ideal, yang diwajibkan bekerja adalah ayah, karena selain sebagai kepala keluarga, dalam agama saya, agama Islam, seorang kepala keluarga lah yang diwajibkan untuk mencari nafkah. Namun, di masa sekarang, terkadang keluarga membutuhkan dua pencari nafkah agar bisa memenuhi kebutuhan hidup,” jelasnya.
Tsaniya mengungkapkan kekagumannya terhadap para ibu yang mampu membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Namun, ia juga menyadari bahwa ada sisi positif dan negatif dari keputusan ibu untuk bekerja.
“Saya sangat kagum melihat ibu yang bekerja karena mereka tetap harus mengurus rumah dan anak. Jika mereka bisa menyeimbangkan dua peran ini dengan baik, itu luar biasa,” katanya.
Dari pengalaman yang ia perhatikan, ibu yang bekerja bisa mengalami kelelahan berlebihan (overwhelming), sehingga mungkin ada beberapa aspek pengasuhan anak yang kurang terurus. Hal ini bisa berpengaruh pada kondisi mental dan kesehatan anak.
Namun, di sisi lain, ibu yang bekerja juga membawa dampak positif bagi anak-anaknya. Dengan adanya tambahan pemasukan dari ibu, anak-anak bisa mendapatkan fasilitas yang lebih baik, terutama jika penghasilan ayah tidak mencukupi.
“Kesimpulannya, ibu yang bekerja memiliki dampak positif dan negatif. Semua tergantung bagaimana keseimbangan yang dilakukan oleh sang ibu,” ujarnya.
Tsaniya juga membandingkan dua kondisi keluarga yang hanya memiliki satu pencari nafkah dan yang memiliki dua pencari nafkah.
“Dalam keluarga besar saya, saya melihat perbedaan antara keluarga dengan satu pencari nafkah dan dua pencari nafkah. Keluarga dengan dua pencari nafkah biasanya lebih stabil secara finansial, tetapi waktu kebersamaan dengan anak-anak menjadi lebih sedikit. Sebaliknya, keluarga dengan satu pencari nafkah mungkin mengalami kendala finansial, tetapi anak-anak cenderung mendapatkan perhatian lebih banyak,” katanya.
Menurutnya, perhatian dan kasih sayang yang diberikan orang tua sangat berpengaruh pada perkembangan anak.
“Saya merasa keluarga dengan satu pencari nafkah bisa memberikan perhatian dan kasih sayang lebih banyak dibandingkan dengan keluarga yang memiliki dua pencari nafkah,” tambahnya.
Di masyarakat, masih ada anggapan bahwa ayah seharusnya bekerja dan ibu sebaiknya tetap di rumah mengurus anak. Begitu pula dengan pandangan bahwa ayah yang menjadi bapak rumah tangga dianggap tidak ideal.
“Stereotip ini masih kuat di masyarakat. Banyak yang menganggap ibu bekerja dan ayah yang tinggal di rumah bukanlah sesuatu yang ideal. Padahal, dalam beberapa kondisi, hal itu bisa menjadi pilihan terbaik bagi keluarga,” ujar Tsaniya.
Aditya Bachtiar, mahasiswa semester akhir, Universitas Mercu Buana, Jakarta

Menurut Aditya, idealnya kedua orang tua bekerja sama dalam mencari nafkah, tetapi keputusan ini bergantung pada kebutuhan dan situasi unik masing-masing keluarga. “Yang penting adalah menemukan solusi terbaik bagi keluarga agar tetap seimbang,” ujarnya.
Sementara itu, keluarga dengan dua pencari nafkah memang lebih stabil secara finansial, tetapi juga berisiko mengalami stres dan kelelahan lebih besar. “Mereka harus bekerja dan mengurus rumah tangga secara bersamaan, yang bisa jadi tantangan tersendiri,” tambahnya.
Aditya melihat ibu bekerja sebagai sesuatu yang positif. “Ibu yang bekerja bisa menjadi contoh kemandirian dan pengembangan diri bagi anak-anak,” katanya.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa ibu yang bekerja mungkin mengalami kelelahan, stres, dan kurangnya waktu bersama keluarga. Oleh karena itu, keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga sangatlah penting.
Masih ada anggapan bahwa hanya ayah yang seharusnya bekerja, sementara ibu tetap di rumah. Namun, Aditya menilai bahwa stereotip ini tidak selalu benar.
“Stereotip bisa menyebabkan diskriminasi dan ketidakadilan. Semua orang tua, baik yang bekerja maupun yang menjadi bapak rumah tangga, memiliki peran yang berharga,” tegasnya.
Dalam keluarga dengan dua pencari nafkah, pembagian tugas rumah tangga menjadi kunci keseimbangan. Aditya menyebutkan beberapa cara membagi tugas berdasarkan kemampuan. Misalnya, Ayah Mengurus keuangan, memasak, membersihkan rumah, serta mengurus anak-anak. Sedangkan Ibu Mengurus kebersihan rumah, membeli bahan makanan, dan membantu ayah dalam tugas lainnya.
Bagaimana dengan anak-anak? Apakah mereka menjadi lebih mandiri jika kedua orang tua bekerja? Menurut Aditya, itu tergantung pada pengawasan, pembagian tugas, dan kualitas waktu bersama. “Jika dilakukan dengan baik, anak-anak bisa tumbuh menjadi lebih percaya diri dan mandiri,” tutupnya.
So, bagaimana pendapat kamu? (Resty)













Discussion about this post