• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home KAMU KUAT

Cukup Ayah Saja yang Bekerja Mencari Nafkah Rumah Tangga atau Harus Keduanya, Mengapa?

by Ave Rosa
26 Maret 2025 | 23:43 WIB
in KAMU KUAT
Reading Time: 6 mins read
A A
Cukup Ayah Saja yang Bekerja Mencari Nafkah Rumah Tangga atau Harus Keduanya, Mengapa?

Ilustrasi. Foto: ist & Pexels. Kolase: Avesiar.com

KAMU KUAT – Jakarta

Dalam sebuah keluarga, peran dan tanggung jawab setiap anggota menjadi faktor penting dalam menciptakan keseimbangan dan keharmonisan. Salah satu pembahasan menarik adalah mengenai siapa yang seharusnya mencari nafkah apakah cukup ayah saja, ataukah kedua orang tua harus bekerja?

Di masa lalu, peran ayah sebagai pencari nafkah utama sudah menjadi hal yang lumrah, sementara ibu lebih fokus mengurus rumah tangga dan anak-anak.

Namun, di era modern ini, semakin banyak ibu yang turut bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti meningkatnya biaya hidup, perubahan pola pikir tentang kesetaraan gender, serta keinginan individu untuk tetap berkembang dalam karier.

Namun, keputusan ini tentu tidak bisa diambil secara sembarangan. Ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan, seperti bagaimana dampaknya terhadap anak-anak, pembagian tugas dalam rumah tangga, hingga kesejahteraan emosional dan fisik kedua orang tua.

Apakah lebih baik jika ayah saja yang bekerja, atau justru lebih menguntungkan jika kedua orang tua ikut berkontribusi secara finansial? Beberapa sahabat kanal remaja dan anak muda KAMU KUAT! Avesiar.com berikut punya pandangannya masing-masing.

Faalih Girindra Bahy Syafiq, siswa kelas 12, SMA Negeri 10 Depok

Faalih Girindra Bahy Syafiq, siswa kelas 12, SMA Negeri 10 Depok. Foto: istimewa

Menurut Faalih, tidak masalah apakah hanya ayah atau kedua orang tua yang bekerja. Baginya, yang terpenting adalah bagaimana keluarga bisa memenuhi kebutuhan hidup dan tetap sehat. “Dengan bekerja, kedua orang tua saya tetap produktif dan sehat. Aktivitas itu membuat mereka tidak cepat pikun,” ujarnya.

Bacaan Terkait :

Astaghfirullah, 414 Mahasiswa dan 664 IRT Kena HIV Menurut Data KPA Bandung

Load More

Namun, di era sekarang, apakah memungkinkan hanya satu orang tua yang bekerja? Faalih berpendapat bahwa kondisi ekonomi saat ini tidak mendukung hal tersebut. “Biaya hidup semakin tinggi dan semuanya serba mahal,” katanya.

Banyak yang masih memperdebatkan apakah ibu sebaiknya bekerja atau fokus mengurus rumah tangga. Faalih sendiri melihat banyak dampak positif dari ibu yang bekerja. “Menurut saya, tidak masalah. Dampak positifnya adalah tetap produktif, mengisi waktu luang, dan terhindar dari kebosanan,” jelasnya.

Ia juga merasakan sendiri bagaimana hidup dalam keluarga dengan dua pencari nafkah. “Saya tetap mendapatkan perhatian dari kedua orang tua saya, terutama ibu. Walaupun harus mengurus rumah dan bekerja, ibu saya selalu sehat dan bahagia,” tambahnya.

Dalam keluarga dengan dua pencari nafkah, pembagian tugas rumah tangga menjadi hal yang penting. Namun, menurut Faalih, di keluarganya tidak ada pembagian tugas yang khusus. Meski begitu, ia merasa bahwa memiliki orang tua yang bekerja membuatnya lebih mandiri.

Memiliki dua pencari nafkah dalam keluarga bukanlah sesuatu yang buruk, asalkan ada keseimbangan dalam perhatian dan pengasuhan anak. Di tengah kondisi ekonomi yang semakin menantang, bekerja menjadi pilihan yang realistis bagi banyak keluarga. Yang terpenting, setiap keluarga perlu menemukan pola yang paling sesuai agar semua anggota tetap bahagia dan sejahtera.

Tsaniya Azra, siswi kelas 12, SMA Negeri 1 Ciomas, Jawa Barat

Tsaniya Azra, siswi kelas 12, SMA Negeri 1 Ciomas, Jawa Barat. Foto: istimewa

Menurut Tsaniya, dalam konsep keluarga ideal, ayah adalah pihak yang diwajibkan untuk mencari nafkah, sesuai dengan perannya sebagai kepala keluarga. Namun, ia juga menyadari bahwa di zaman sekarang, tidak jarang kedua orang tua harus bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga.

“Menurut saya, dalam keluarga ideal, yang diwajibkan bekerja adalah ayah, karena selain sebagai kepala keluarga, dalam agama saya, agama Islam, seorang kepala keluarga lah yang diwajibkan untuk mencari nafkah. Namun, di masa sekarang, terkadang keluarga membutuhkan dua pencari nafkah agar bisa memenuhi kebutuhan hidup,” jelasnya.

Tsaniya mengungkapkan kekagumannya terhadap para ibu yang mampu membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Namun, ia juga menyadari bahwa ada sisi positif dan negatif dari keputusan ibu untuk bekerja.

“Saya sangat kagum melihat ibu yang bekerja karena mereka tetap harus mengurus rumah dan anak. Jika mereka bisa menyeimbangkan dua peran ini dengan baik, itu luar biasa,” katanya.

Dari pengalaman yang ia perhatikan, ibu yang bekerja bisa mengalami kelelahan berlebihan (overwhelming), sehingga mungkin ada beberapa aspek pengasuhan anak yang kurang terurus. Hal ini bisa berpengaruh pada kondisi mental dan kesehatan anak.

Namun, di sisi lain, ibu yang bekerja juga membawa dampak positif bagi anak-anaknya. Dengan adanya tambahan pemasukan dari ibu, anak-anak bisa mendapatkan fasilitas yang lebih baik, terutama jika penghasilan ayah tidak mencukupi.

“Kesimpulannya, ibu yang bekerja memiliki dampak positif dan negatif. Semua tergantung bagaimana keseimbangan yang dilakukan oleh sang ibu,” ujarnya.

Tsaniya juga membandingkan dua kondisi keluarga yang hanya memiliki satu pencari nafkah dan yang memiliki dua pencari nafkah.

“Dalam keluarga besar saya, saya melihat perbedaan antara keluarga dengan satu pencari nafkah dan dua pencari nafkah. Keluarga dengan dua pencari nafkah biasanya lebih stabil secara finansial, tetapi waktu kebersamaan dengan anak-anak menjadi lebih sedikit. Sebaliknya, keluarga dengan satu pencari nafkah mungkin mengalami kendala finansial, tetapi anak-anak cenderung mendapatkan perhatian lebih banyak,” katanya.

Menurutnya, perhatian dan kasih sayang yang diberikan orang tua sangat berpengaruh pada perkembangan anak.

“Saya merasa keluarga dengan satu pencari nafkah bisa memberikan perhatian dan kasih sayang lebih banyak dibandingkan dengan keluarga yang memiliki dua pencari nafkah,” tambahnya.

Di masyarakat, masih ada anggapan bahwa ayah seharusnya bekerja dan ibu sebaiknya tetap di rumah mengurus anak. Begitu pula dengan pandangan bahwa ayah yang menjadi bapak rumah tangga dianggap tidak ideal.

“Stereotip ini masih kuat di masyarakat. Banyak yang menganggap ibu bekerja dan ayah yang tinggal di rumah bukanlah sesuatu yang ideal. Padahal, dalam beberapa kondisi, hal itu bisa menjadi pilihan terbaik bagi keluarga,” ujar Tsaniya.

Aditya Bachtiar, mahasiswa semester akhir, Universitas Mercu Buana, Jakarta

Aditya Bachtiar, mahasiswa semester akhir, Universitas Mercu Buana, Jakarta. Foto: istimewa

Menurut Aditya, idealnya kedua orang tua bekerja sama dalam mencari nafkah, tetapi keputusan ini bergantung pada kebutuhan dan situasi unik masing-masing keluarga. “Yang penting adalah menemukan solusi terbaik bagi keluarga agar tetap seimbang,” ujarnya.

Sementara itu, keluarga dengan dua pencari nafkah memang lebih stabil secara finansial, tetapi juga berisiko mengalami stres dan kelelahan lebih besar. “Mereka harus bekerja dan mengurus rumah tangga secara bersamaan, yang bisa jadi tantangan tersendiri,” tambahnya.

Aditya melihat ibu bekerja sebagai sesuatu yang positif. “Ibu yang bekerja bisa menjadi contoh kemandirian dan pengembangan diri bagi anak-anak,” katanya.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa ibu yang bekerja mungkin mengalami kelelahan, stres, dan kurangnya waktu bersama keluarga. Oleh karena itu, keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga sangatlah penting.

Masih ada anggapan bahwa hanya ayah yang seharusnya bekerja, sementara ibu tetap di rumah. Namun, Aditya menilai bahwa stereotip ini tidak selalu benar.

“Stereotip bisa menyebabkan diskriminasi dan ketidakadilan. Semua orang tua, baik yang bekerja maupun yang menjadi bapak rumah tangga, memiliki peran yang berharga,” tegasnya.

Dalam keluarga dengan dua pencari nafkah, pembagian tugas rumah tangga menjadi kunci keseimbangan. Aditya menyebutkan beberapa cara membagi tugas berdasarkan kemampuan. Misalnya, Ayah Mengurus keuangan, memasak, membersihkan rumah, serta mengurus anak-anak. Sedangkan Ibu Mengurus kebersihan rumah, membeli bahan makanan, dan membantu ayah dalam tugas lainnya.

Bagaimana dengan anak-anak? Apakah mereka menjadi lebih mandiri jika kedua orang tua bekerja? Menurut Aditya, itu tergantung pada pengawasan, pembagian tugas, dan kualitas waktu bersama. “Jika dilakukan dengan baik, anak-anak bisa tumbuh menjadi lebih percaya diri dan mandiri,” tutupnya.

So, bagaimana pendapat kamu? (Resty)

Tags: Ayah BekerjaFaktor EkonomiIbu BekerjaIbu Rumah TanggaKasih SayangKeuangan Keluarga
ShareTweetSendShare
Previous Post

Tips Agar Tidak Gampang Sakit Maag

Next Post

Biadab, Israel Menolak Usulan Gencatan Senjata Idul Fitri Usai Membunuh 39 Warga Palestina

Mungkin Anda Juga Suka :

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

14 Januari 2026

...

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

14 Oktober 2025

...

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

13 Oktober 2025

...

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

10 Oktober 2025

...

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

9 Oktober 2025

...

Load More
Next Post
Biadab, Israel Menolak Usulan Gencatan Senjata Idul Fitri Usai Membunuh 39 Warga Palestina

Biadab, Israel Menolak Usulan Gencatan Senjata Idul Fitri Usai Membunuh 39 Warga Palestina

Menjaga Rahasia Keluarga dan Pribadi, Menurut Kamu?

Menjaga Rahasia Keluarga dan Pribadi, Menurut Kamu?

Discussion about this post

TERKINI

Paus Leo Tidak Takut pada Trump, Menyebut Dunia Sedang Dihancurkan Segelintir Tiran Saat Berseteru dengan Gedung Putih

16 April 2026

Polemik Alat Vape Disalahgunakan, Menelusuri Hukum Rokok Elektrik

15 April 2026

Saksikan Segera, Podcast Khusus Profesional “Ladders to be Leaders” Mengulas Perjalanan Hidup dan Karir

15 April 2026

AS Repot Berkonflik dengan Iran, Zelenskyy Kecewa Dicuekin Karena Suplai Senjata ke Ukraina Terganggu

15 April 2026

TikTok Lapor Tutup 780 Ribu Akun Anak dan Roblox Belum Dianggap Patuh PP TUNAS, Beberapa Menyatakan Patuh

14 April 2026

Negosiasi Iran dan AS Disebut Akan “Segera” Diadakan Lagi di Islamabad, Iran Menolak Diatur Pengayaan Uranium dan Nuklirnya

14 April 2026

Sufi Wanita yang Akan Menggenggam Tauhid Demi Menagih Janji Allah

13 April 2026

Perundingan di Pakistan Gagal Mendikte Soal Program Nuklir, Trump Ancam Blokade Hormuz dan Serang Infrastruktur Sipil Iran

12 April 2026

Munas XVI IPSI 2026 Dibuka Presiden Prabowo, Pencak Silat Budaya Bangsa Menuju Olimpiade

11 April 2026

Sumber Senior Iran Sebut AS Setuju Cairkan Aset Iran Demi Pembicaraan di Islamabad, Seorang Pejabat AS Membantah

11 April 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video