KAMU KUAT – Jakarta
Pendidikan adalah salah satu fondasi utama dalam membentuk masa depan bangsa. Di Indonesia, sistem pendidikan terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu, mulai dari kurikulum, metode pembelajaran, hingga peran teknologi di dalam kelas.
Namun, di balik segala upaya tersebut, ada satu suara yang seringkali luput didengar secara langsung, suara para remaja itu sendiri, sebagai pelaku utama dalam dunia pendidikan.
Apa sebenarnya pendapat mereka tentang sistem pendidikan nasional kita saat ini? Apakah mereka merasa didukung untuk berkembang sesuai potensi? Atau justru merasa tertekan oleh beban akademik yang menumpuk?
Ulasan khusus kanal remaja dan anak muda KAMU KUAT! Avesiar.com mencoba menampilkan pandangan remaja tentang kondisi pendidikan nasional saat ini dari sudut pandang mereka yang mengalaminya secara langsung.
Shifa Islah Khaerani, mahasiswi semester 6, Universitas Bakrie

Menurut Shifa, sistem pendidikan Indonesia masih dalam tahap berkembang, tetapi belum lepas dari berbagai masalah struktural.
“Pendidikan kita memang mewajibkan 12 tahun belajar, tapi kualitasnya belum merata. Buktinya, dari 3,7 juta lulusan SMA, hanya sekitar 1,8 juta yang bisa melanjutkan ke perguruan tinggi,” ungkapnya. Ia menyoroti bahwa jumlah tersebut mencerminkan kesenjangan kualitas dan kesiapan akademik lulusan SMA untuk naik ke jenjang berikutnya.
Terkait kurikulum, Shifa menilai Kurikulum Merdeka punya niat baik, yaitu memberi kebebasan belajar, tetapi penerapannya masih belum optimal. Ia mengusulkan agar ada sistem assessment kelulusan yang lebih kuat. “Assessment bisa jadi tolak ukur sejauh mana siswa benar-benar memahami pelajaran, bukan sekadar lulus karena formalitas,” jelasnya.
Dalam pandangan Shifa, pelajaran dari bangku SD hingga SMA hanya sebagian kecil yang benar-benar relevan dengan dunia nyata. Ia mengatakan, “Dunia kerja itu butuh orang yang bisa beradaptasi dan aktif. Sayangnya, masih banyak sekolah yang belum menanamkan keterampilan itu sejak dini.”
Peran guru dan keluarga juga tak kalah penting. Bagi Shifa, keduanya adalah dua pilar utama pendidikan. “Guru seharusnya membimbing siswa agar aktif belajar, sementara orang tua bisa mendukung dengan menyediakan fasilitas belajar tambahan sesuai minat dan bakat anak,” tuturnya.
Menurutnya, sinergi keduanya bisa mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga siap menghadapi tantangan global.
Shifa juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam pendidikan. “Teknologi bisa jadi pintu gerbang pengetahuan yang luas, apalagi kalau aksesnya merata,” katanya. Namun ia tidak melupakan aspek penting lainnya, yaitu pendidikan moral dan kebangsaan. “Nilai-nilai kebangsaan penting untuk membangun rasa cinta tanah air di tengah arus globalisasi yang deras.”
Terkait asesmen akhir seperti ujian nasional, Shifa menilai bahwa evaluasi semacam itu sebenarnya penting, selama tujuannya adalah untuk mengukur pemahaman siswa secara menyeluruh. “Ujian nasional bukan sekadar angka, tapi cerminan dari seberapa dalam ilmu yang benar-benar dikuasai siswa.”
Ia juga menyoroti pengembangan minat dan bakat serta pendidikan karakter yang menurutnya masih belum maksimal. “Sekolah kadang terlalu fokus pada nilai ujian. Padahal, minat dan bakat siswa juga penting untuk masa depan mereka,” jelas Shifa.
Ia menambahkan bahwa pendidikan karakter seharusnya bukan sekadar teori, tapi harus ditanamkan melalui contoh nyata dan budaya sekolah sehari-hari.
Faris Akhyarullah, Kelas 11, SMA Muhammadiyah 4 Depok

“Menurut saya, sistem pendidikan di Indonesia terus berubah-ubah dan terus mengalami pembaruan, misalnya dengan Kurikulum Merdeka yang lebih fleksibel,” ujar Faris.
Tapi ia juga menambahkan bahwa masih ada kesenjangan antara materi pelajaran dan kebutuhan remaja. “Kami butuh lebih banyak pembelajaran yang kontekstual, yang mengasah kemampuan berpikir kritis, empati, dan kolaborasi, bukan cuma soal akademik, tapi juga yang mengasah life skill.”
Faris merasa beberapa pelajaran memang relevan dengan kehidupan nyata, tapi belum semuanya. Ia menyarankan agar materi pelajaran juga menampilkan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. “Kalau kita tahu langsung aplikasinya, kita bisa paham dan praktek. Karena sering kali teori dan praktik itu beda jauh. Kita butuh dua-duanya,” jelasnya.
Menurut Faris, keberhasilan belajar bukan hanya tanggung jawab sekolah, tapi juga keluarga. “Guru bukan cuma penyampai materi, tapi pembimbing karakter. Dan keluarga adalah tempat utama belajar tentang nilai-nilai kehidupan,” katanya.
Ia percaya bahwa ketika guru dan orang tua bersinergi, siswa bisa tumbuh seimbang — cerdas secara akademik dan matang secara emosional.
Remaja saat ini hidup di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa. Faris mengakui bahwa teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), sangat membantu proses belajar. Tapi ia juga mengingatkan, “Teknologi jangan sampai bikin kita bergantung. Kita harus tetap punya kontrol dan nggak menelan mentah-mentah semua informasi yang kita temukan.”
Selain itu, Faris juga menekankan pentingnya pendidikan moral dan nilai kebangsaan. “Pintar aja nggak cukup. Kita harus punya arah dan tanggung jawab sebagai bagian dari bangsa,” tegasnya.
Faris menilai asesmen sumatif memang penting, tapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan belajar. “Penilaian juga harus menghargai proses. Karena tiap anak punya gaya belajar dan kecepatan yang beda. Nggak adil kalau semua disamaratakan hanya lewat satu ujian,” katanya.
Di sekolahnya, Faris merasa dukungan terhadap minat dan bakat siswa sudah mulai terasa, terutama lewat ekstrakurikuler dan event. Tapi menurutnya, itu belum cukup. “Kalau cuma mengandalkan ekskul dari sekolah aja, belum tentu semua siswa bisa berkembang. Ada kendala biaya, ekskulnya kurang efektif, atau bahkan nggak sesuai minat,” ujarnya.
Untuk pendidikan karakter, Faris mengapresiasi langkah yang sudah diambil sekolahnya. Namun ia juga menyarankan pendekatan yang lebih menyatu. “Karakter itu harus dibentuk dari lingkungan. Semua guru harus kompak jadi teladan, bukan cuma satu-dua aja. Karena kalau lingkungannya baik, karakter siswa juga ikut terbentuk dengan baik.” tutupnya.
Nayla Amalia, mahasiswa semester 4, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Nayla, berbagi pandangannya dalam wawancara berikut ini. “Menurut saya, sistem pendidikan saat ini sudah sesuai dengan kebutuhan siswa. Karena dengan Kurikulum Merdeka, remaja bisa dengan leluasa menentukan metode pembelajaran sesuai kebutuhan,” ujar Nayla.
Ia juga menekankan bahwa pendekatan deep learning sangat penting untuk membentuk cara berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah kemampuan yang sangat dibutuhkan di era sekarang.
Namun Nayla juga menyoroti kenyataan bahwa tak semua siswa menyadari relevansi pelajaran dengan kehidupan nyata. “Padahal tanpa kita sadari, pelajaran yang sudah kita pelajari akan terus diterapkan hingga masa depan,” tambahnya.
Kesadaran ini, menurut Nayla, perlu dibangun lebih kuat sejak dini agar siswa tidak hanya belajar demi nilai semata, melainkan untuk kehidupan.
Teknologi pun menjadi salah satu aspek penting yang tidak bisa dipisahkan dari pendidikan modern. Nayla melihat banyak manfaat dari kemajuan teknologi dalam pembelajaran, mulai dari simulasi sains, pembelajaran online, hingga aplikasi edukatif seperti PhET.
Meski begitu, ia juga mengingatkan, “Kita harus tetap punya kontrol dan kejujuran, karena banyak siswa sekarang terlalu mengandalkan AI atau Google tanpa berpikir kritis sendiri.”
Terkait asesmen, Nayla mengakui pentingnya asesmen sumatif akhir sebagai alat ukur keberhasilan metode pembelajaran. Namun ia juga menyayangkan tekanan yang ditimbulkan oleh Ujian Nasional. “Ujian nasional sangat berat, karena bisa bikin siswa merasa takut gagal dan belajar bukan dengan semangat tapi dengan ketakutan.”
Isu lain yang tak kalah penting adalah soal pengembangan bakat dan pendidikan karakter. Nayla melihat masih ada kendala, seperti faktor biaya dan kurangnya efektivitas ekstrakurikuler, yang membuat pengembangan minat siswa jadi tidak maksimal. Ia menekankan bahwa siswa tidak bisa hanya bergantung pada ekskul di sekolah, tetapi perlu mencari pengembangan diri di luar sekolah juga.
Sementara itu, karakter siswa sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekolah. “Kalau lingkungan sekolahnya kurang baik, maka akan banyak siswa yang memiliki karakteristik buruk,” jelas Nayla.
Ia percaya bahwa guru punya peran besar dalam menciptakan suasana yang positif. “Semua guru harus memberikan contoh yang baik agar siswa merasa bahwa sekolah mereka adalah tempat yang layak dan sehat untuk tumbuh.” tutup nayla
Dari berbagai pandangan remaja yang telah disampaikan, jelas bahwa mereka memiliki harapan besar terhadap sistem pendidikan di negeri ini. Mereka tidak hanya ingin menjadi murid yang patuh, tetapi juga ingin terlibat, didengar, dan diberi ruang untuk berkembang sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing.
Pendidikan yang baik tidak hanya mengandalkan aturan dan kurikulum, tetapi juga harus memahami kebutuhan siswa yang terus berubah seiring zaman. Maka, sudah saatnya kita memberi tempat bagi suara remaja dalam proses pembenahan pendidikan nasional karena merekalah masa depan bangsa, dan pendidikan hari ini akan menentukan wajah Indonesia esok hari. (Resty)













Discussion about this post