• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Syar'i True Story

Kisah Nabi Daud Alaihissalam, Raja Perkasa Jago Berperang yang Rajin Bertasbih

by Avesiar
10 Agustus 2025 | 22:05 WIB
in True Story
Reading Time: 22 mins read
A A
Kisah Nabi Daud Alaihissalam, Raja Perkasa Jago Berperang yang Rajin Bertasbih

Ilustrasi: Meta AI

Avesiar – Jakarta

Daud bin Yisya atau Nabi Daud Alaihissalam adalah salah seorang dari tiga belas bersaudara turunan ketiga  belas dari Nabi Ibrahim Alaihissalam. Ia tinggal bermukim di kota Baitlehem, kota  kelahiran Nabi Isa Alaihissalam, bersama ayah dan tiga belas  saudaranya.

Daud Dan  Raja Thalout

Ketika raja Thalout raja Bani Isra’il mengerahkan orang supaya memasuki tentera dan menyusun tentera  rakyat untuk berperang melawan bangsa Palestina, Daud bersama dua orang kakaknya  diperintahkan oleh ayahnya untuk turut berjuang dan menggabungkan diri ke dalam barisan pasukan Thalout.

Khusus kepada Daud sebagai anak yang termuda di antara  tiga bersaudara, ayahnya berpesan agar ia berada di barisan belakang dan tidak  boleh turut bertempur. Ia ditugaskan hanya untuk melayani kedua kakaknya yang  harus berada di barisan depan, membawakan makanan dan minuman serta keperluan-keperluan lainnya bagi mereka, di samping ia harus dari waktu ke waktu memberi laporan  kepada ayahnya tentang jalannya pertempuran dan keadaan kedua kakaknya di dalam  medan perang.

Ia sesekali tidak diizinkan maju ke garis depan dan turut  bertempur, mengingatkan usianya yang masih muda dan belum ada pengalaman berperang sejak ia dilahirkan.

Akan tetapi ketika pasukan Thalout dari Bani Isra’il berhadapan muka dengan pasukan Jalout dari bangsa Palestina, Daud  lupa akan pesan ayahnya tatkala mendengar suara Jalout yang nyaring dengan penuh  kesombongan menentang mengajak berperang, sementara jago-jago perang Bani Isra’il berdiam diri dihinggapi rasa takut dan kecil hati.

Ia secara spontan menawarkan diri untuk maju menghadapi Jalout dan terjadilah pertempuran antara  mereka berdua yang berakhir dengan terbunuhnya Jalout.

Bacaan Terkait :

No Content Available
Load More

Sebagai imbalan bagi jasa Daud mengalahkan Jalout, maka Ia dijadikan menantu oleh Thalout dan dinikahkan dengan  puterinya yang bernama Mikyal. Hal itu sesuai dengan janji yang telah diumumkan kepada  pasukannya, bahwa puterinya akan dinikahkan dengan orang yang dapat bertempur melawan Jalout dan mengalahkannya.

Di samping ia diangkat sebagai menantu, Daud diangkat pula oleh raja Thalout sebagai penasihatnya dan orang kepercayaannya. Ia disayang, disanjung, dan dihormati serta disegani. Bukan saja  oleh mertuanya, bahkan oleh seluruh rakyat Bani Isra’il yang melihatnya sebagai  pahlawan bangsa yang telah berhasil mengangkat keturunan serta derajat Bani  Isra’il di mata bangsa-derajat sekelilingnya.

Suasana keakraban, saling sayang  dan saling cinta yang meliputi hubungan sang menantu Daud dengan sang mertua Thalout tidak dapat bertahan lama. Pada akhir waktunya Daud merasa bahwa ada  perubahan dalam sikap mertuanya terhadap dirinya.

Muka manis yang biasa ia dapat dari mertuanya berbalik menjadi muram dan kaku. Kata-katanya yang biasa didengar lemah-lembut, berubah menjadi kata-kata yang kasar dan keras. Bertanya ia kepada  diri sendiri gerangan apakah kiranya yang menyebabkan perubahan sikap yang  mendadak itu? Adakah hal-hal yang dilakukan yang dianggap oleh mertuanya kurang  layak, sehingga menjadikan ia marah dan benci kepadanya?

Ataukah mungkin hati mertuanya termakan oleh hasutan dan fitnahan orang yang sengaja ingin merusakkan suasana harmoni dan damai di dalam rumah tangganya? Bukankah ia seorang menantu  yang setia dan taat kepada mertuanya yang telah memenuhi tugasnya dalam perang sebaik yang ia harapkan? Dan bukankah ia selalu tetap bersedia mengorbankan jiwa raganya untuk membela dan mempertahankan kekekalan kerajaan mertuanya?

Daud tidak mendapat jawapan yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan yang melintasi fikirannya itu. Ia kemudian kembali kepada dirinya sendiri dan berkata dalam hatinya mungkin apa yang ia lihat sebagai perubahan sikap dan  perlakuan dari mertuanya. Dan itu hanya suatu dugaan dan prasangka belaka dari pihaknya dan kalau pun memang ada, maka mungkin disebabkan oleh urusan-urusan dan  masalah-masalah pribadi dari mertua yang tidak ada sangkut-pautnya dengan dirinya  sebagai menantu.

Demikianlah dia mencoba menenangkan hati dan fikirannya yang masygul yang berfikir selanjutnya tidak akan mempedulikan dan mengambil kisah tentang sikap dan tindak-tanduk mertuanya lebih jauh.

Pada suatu malam gelap yang sunyi senyap, ketika ia berada di tempat tidur bersama isterinya Mikyal. Daud berkata kepada isterinya:

“Wahai Mikyal, entah benarkah aku atau  salah dalam tanggapanku dan apakah khayal dan dugaan hatiku belaka atau sesuatu  kenyataan apa yang aku lihat dalam sikap ayahmu terhadap diriku? Aku melihat  akhir-akhir ini ada perubahan sikap dari ayahmu terhadap diriku. Ia selalu  menghadapi aku dengan muka muram dan kaku tidak seperti biasanya. Kata-katanya  kepadaku tidak selemah lembut seperti dulu. Dari pancaran pandangannya kepadaku  aku melihat tanda-tanda antipati dan benci kepadaku. Ia selalu menggelakkan diri  dari duduk bersama aku bercakap-cakap dan berbincang-bincang sebagaimana dahulu  ia lakukan bila ia melihatku berada di sekitarnya.”

Mikyal menjawab  seraya menghela nafas panjang dan mengusap air mata yang terjatuh di atas  pipinya:

“Wahai Daud aku tidak akan menyembunyikan sesuatu daripadamu dan sesekali tidak akan merahasiakan hal-hal yang sepatutnya engkau ketahui.  Sesungguhnya sejak ayahku melihat bahawa keturunanmu makin naik di mata rakyat  dan namamu menjadi buah mulut yang disanjung-sanjung sebagai pahlawan dan  penyelamat bangsa, ia merasa iri hati dan khuatir bila pengaruhmu di kalangan  rakyat makin meluas dan kecintaan mereka kepadamu makin bertambah, hal itu akan  dapat melemahkan kekuasaannya dan bahkan mungkin mengganggu kewibawaan  kerajaannya. Ayahku walau ia seorang mukmin berilmu dan bukan dari keturunan  raja menikmati kehidupan yang mewah, menduduki yang empuk dan merasakan manisnya  berkuasa. Orang mengiakan kata-katanya, melaksanakan segala perintahnya dan  membungkukkan diri jika menghadapinya. Ia khuatir akan kehilangan itu semua dan  kembali ke tanah ladangnya dan usaha ternaknya di desa. Kerananya ia tidak  menyukai orang menonjol yang dihormati dan disegani rakyat apalagi dipuja-puja  dan dianggapnya pahlawan bangsa seperti engkau. Ia khuatir bahawa engkau  kadang-2 dapat merenggut kedudukan dan mahkotanya dan menjadikan dia terpaksa  kembali ke cara hidupnya yang lama sebagaimana tiap raja meragukan kesetiaan  tiap orang dan berpurba sangka terhadap tindakan-tindakan orang-orangnya bila ia belum  mengerti apa yang dituju dengan tindakan-tindakannya itu.”

“Wahai Daud”, Mikyal  meneruskan ceritanya, “Aku mendapat tahu bahwa ayahku sedang memikirkan suatu rencana untuk menyingkirkan engkau dan mengikis habis pengaruhmu di kalangan  rakyat dan walaupun aku masih meragukan kebenaran berita itu, aku rasa tidak ada  salahnya jika engkau dari sekarang berlaku waspada dan hati-hati terhadap kemungkinan terjadi hal-hal yang malang bagi dirimu.”

Daud merasa heran kata-kata isterinya itu lalu ia bertanya kepada dirinya sendiri dan kepada  isterinya:

“Mengapa terjadi hal yang sedemikian itu? Mengapa kesetiaku diragukan  oleh ayah mu, padahal aku dengan jujur dan ikhlas hati berjuang di bawah  benderanya, menegakkan kebenaran dan memerangi kebathilan serta mengusir musuh  ayahmu, Thalout telah kemasukan godaan Iblis yang telah menghilangkan akal  sihatnya serta mengaburkan jalan fikirannya?” Kemudian tertidurlah Daud selesai  mengucapkan kata-kata itu.

Pada esok harinya Daud terbangun oleh suara  seorang pesuruh Raja yang menyampaikan panggilan dan perintah kepadanya untuk  segera datang menghadap.

Berkata sang raja kepada Daud yang berdiri tegak di  hadapannya:

“Hai Daud fikiranku kebelakang ini sangat terganggu oleh sebuah berita yang menrungsingkan. Aku mendengar bahwa bangsa Kan’aan sedang menyusun kekuatannya dan mengerahkan rakyatnya untuk datang menyerang dan menyerbu daerah kita. Engkaulah harapanku satu-satunya. Hai Daud yang akan dapat menangani urusan ini, maka ambillah pedangmu dan siapkanlah peralatan perangmu. Pilihlah  orang-orang yang engkau percayai di antara tentaramu dan pergilah serbu mereka  di rumahnya sebelum sebelum mereka sempat datang kemari. Janganlah engkau  kembali dari medan perang kecuali dengan membawa bendera kemenangan atau dengan  jenazahmu dibawa di atas bahu orang-orangmu.”

Thalout hendak mencapai dua  tujuan sekaligus dengan siasatnya ini, ia handak menghancurkan musuh yang selalu mengancam negerinya dan bersamaan dengan itu mengusir Daud dari atas buminya  karena hampir dapat memastikan kepada dirinya bahwa Daud tidak akan kembali selamat dan pulang hidup dari medan perang kali ini.

Siasat yang mengandung niat jahat dan tipu daya Thalout itu bukan tidak diketahui oleh Daud. Ia merasa  ada udang di balik batu dalam perintah Thalout itu kepadanya. Namun, ia sebagai  rakyat yang setia dan anggota tentera yang berdisiplin ia menerima dan melaksanakan perintah itu dengan sebaik-baiknya tanpa mempedulikan atau  memperhitungkan akibat yang akan menimpa dirinya.

Dengan bertawakkal kepada Allah berpasrah diri kepada takdir-Nya dan berbekal iman dan takwa di  dalam hatinya, berangkatlah Daud beserta pasukannya menuju daerah bangsa  Kan’aan. Ia tidak luput dari lindungan Allah yang memang telah menyuratkan dalam takdir-Nya mengutuskan Daud sebagai Nabi dan Rasul. Maka kembalilah Daud ke kampung halamannya berserta pasukannya dengan membawa kemenangan  gilang-gemilang.

Kedatangan Daud kembali dengan membawa kemenangan diterima  oleh Thalout dengan senyum dan tanda gembira yang dipaksakan oleh dirinya. Ia  berpura-pura menyambut Daud dengan penghormatan yang besar dan puji-pujian yang  berlebih-lebihan. Namun, dalam dadanya makin menyala-nyala api dendam dan kebenciannya, apalagi disadarinya bahwa dengan berhasilnya Daud menggondol  kemenangan, pengaruhnya di mata rakyat makin naik dan makin dicintainyalah ia  oleh Bani Isra’il.

Sehingga di mana saja orang berkumpul tidak lain yang  dipercakapkan hanyalah tentang diri Daud, keberaniannya, kecakapannya memimpin pasukan dan kemahirannya menyusun strategi dengan sifat-sifat mana ia dapat  mengalahkan bangsa Kan’aan dan membawa kembali ke rumah kemenangan yang menjadi  kebanggaan seluruh bangsa.

Gagallah siasat Thalout menyingkirkan Daud  dengan meminjam tangan orang-orang Kan’aan. Ia kecewa tidak melihat jenazah Daud diusung oleh orang-orangnya yang kembali dari medan perang sebagaimana yang ia harapkan dan ramalkan. Tetapi ia melihat Daud dalam keadaan segar-bugar gagah perkasa berada di hadapan pasukannya menerima elu-eluan rakyat dan  sorak-sorainya tanda cinta kasih sayang mereka kepadanya sebagai pahlawan bangsa yang tidak terkalahkan.

Thalout yang dibayang rasa takut akan kehilangan kekuasaan melihat makin meluasnya pengaruh Daud, terutama sejak kembalinya dari perang dengan bangsa Kan’aan, berfikir jalan satu-satunya yang akan  menyelamatkan dia dari ancaman Daud ialah membunuhnya secara langsung.

Lalu  diaturlah rencana pembunuhannya sedemikian cermatnya sehingga tidak akan  menyeret namanya terbawa-bawa ke dalamnya. Mikyal, isteri Daud yang dapat  mencium rancangan jahat ayahnya itu, segera memberitahu kepada suaminya, agar ia  segera menjauhkan diri dan meninggalkan kota secepat mungkin sebelum rancangan jahat itu sempat dilaksanakan.

Maka keluarlah Daud memenuhi anjuran isterinya yang setia itu meninggalkan kota di waktu malam gelap dengan tiada membawa bekal, kecuali iman di dada dan kepercayaan yang teguh yang akan inayahnya Allah dan  rahmat-Nya.

Setelah berita menghilangnya Daud dari istana Raja diketahui oleh umum, berbondong-bondonglah menyusul saudara-saudaranya, murid-muridnya dari para pengikutnya mencari jejaknya untuk menyampaikan kepadanya rasa setiakawan mereka, serta menawarkan bantuan dan pertolongan yang mungkin diperlukannya.

Mereka menemui Daud sudah agak jauh dari kota, ia lagi istirahat seraya merenungkan nasib yang ia alami sebagai akibat dari perbuatan seorang hamba Allah yang tidak mengenal budi baik sesamanya dan yang selalu memperturutkan hawa nafsunya, sekadar untuk mempertahankan kekuasaan duniawinya.

Hamba Allah itu tidak sadar, fikir Daud bahwa kenikmatan dan kekuasaan duniawi yang ia miliki adalah  pemberian Allah yang sewaktu-waktu dapat dicabut-Nya kembali daripadanya.  

Daud Dinobatkan Sebagai Raja

Raja Thalout makin lama makin berkurang pengaruhnya dan merosot kewibawaannya sejak ia ditinggalkan oleh Daud dan diketahui oleh rakyat rancangan jahatnya terhadap orang yang telah  berjasa membawa kemenangan demi kemenangan bagi negara dan bangsanya.

Dan sejauh perhargaan rakyat terhadap Thalout merosot, sejauh itu pula cinta kasih mereka kepada Daud makin meningkat, sehingga banyak di antara mereka yang lari mengikuti Daud dan menggabungkan diri ke dalam barisannya, hal mana menjadikan Thalout kehilangan akal dan tidak dapat menguasai dirinya.

Ia lalu menjalankan siasat  tangan besi, menghunus pedang dan membunuh siapa saja yang ia ragukan  kesetiaannya, tidak terkecuali di antara korban-korbannya terdapat para ulama dan para pemuka rakyat.

Thalout yang mengetahui bahawa Daud yang merupakan  satu-satunya saingan baginya masih hidup yang mungkin sekali akan menuntut balas atas pengkhianatan dan rancangan jahatnya, merasakan tidak dapat tidur nyenyak  dan hidup tenteram di istananya sebelum ia melihatnya mati terbunuh.

Karenanya  ia mengambil keputusan untuk mengejar Daud di mana pun ia berada, dengan sisa pasukan tentaranya yang sudah goyah disiplinnya dan kesetiaannya kepada Istana. Ia fikir harus cepat-cepat membinasakan Daud dan para pengikutnya sebelum mereka menjadi kuat dan bertambah banyak pengikutnya.

Daud berserta para  pengikutnya pergi bersembunyi di sebuah tempat persembunyian tatkala mendengar bahwa Thalout dengan pasukannya sedang mengejarnya dan sedang berada tidak jauh dari tempat persembunyiannya. Ia menyuruh beberapa orang dari para pengikutnya untuk melihat dan mengamat-amati kedudukan Thalout yang sudah berada dekat dari  tempat mereka bersembunyi.

Mereka kembali memberitahukan kepada Daud bahawa  Thalout dan pasukannya sudah berada di sebuah lembah dekat dengan tempat mereka  dan sedang tertidur semuanya dengan nyenyak. Mereka berseru kepada Daud jangan  menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini untuk memberi pukulan yang memastikan  kepada Thalout dan askarnya. Anjuran mereka ditolak oleh Daud dan ia buat  sementara merasa cukup sebagai peringatan pertama bagi Thalout menggunting saja  sudut bajunya selagi ia nyenyak dalam tidurnya.

Setelah Thalout terbangun  dari tidurnya, dihampirilah ia oleh Daud yang seraya menunjukkan potongan yang  digunting dari sudut bajunya berkatalah ia kepadanya: “Lihatlah pakaian bajumu  yang telah aku gunting sewaktu engkau tidur nyenyak. Sekiranya aku mau niscaya  aku dengan mudah telah membunuhmu dan menceraikan kepalamu dari tubuhmu, namun  aku masih ingin memberi kesempatan kepadamu untuk bertaubat dan ingat kepada  Tuhan serta membersihkan hati dan fikiranmu dari sifat-sifat dengki, hasut dan  buruk sangka yang engkau jadikan dalih untuk membunuh orang sesuka  hatimu.”

Thalout tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya bercampur  malu yang nampak jelas pada wajahnya yang pucat. Ia berkata menjawab Daud:  “Sungguh engkau adalah lebih adil dan lebih baik hati daripadaku. Engkau  benar-benar telah menunjukkan jiwa besar dan perangai yang luhur. Aku harus  mengakui hal itu.”

Peringatan yang diberikan oleh Daud belum dapat  menyedarkan Thalout. Hasratnya yang keras untuk mempertahankan kedudukannya yang  sudah lapuk itu menjadikan ia lupa peringatan yang ia terima dari Daud tatkala  digunting sudut bajunya. Ia tetap melihat Daud sebagai musuh yang akan  menghancurkan kerajaannya dan mengambil alih mahkotanya. Ia merasa belum aman selama masih hidup dikelilingi oleh para pengikutnya yang makin lama makin  membesar bilangannya. Ia enggan menarik pengajaran dan peristiwa perguntingan  bajunya dan mencoba sekali lagi membawa askarnya mengejar dan mencari Daud untuk  menangkapnya hidup atau mati.

Sampailah berita pengejaran Thalout ke telinga Daud buat kali keduanya, maka dikirimlah pengintai oleh Daud untuk mengetahui di mana tempat askar Thalout berkemah. Ditemukan sekali lagi  mereka sedang berada disebuah bukit tertidur dengan nyenyaknya karena payah  kecapaian.

Dengan melangkah beberapa anggota pasukan yang lagi tidur, sampailah  Daud di tempat Thalout yang lagi mendengkur dalam tidurnya, diambilnyalah anak  panah yang tertancap di sebelah kanan kepala Thalout berserta sebuah kendi air  yang terletak disebelah kirinya. Kemudian dari atas bukit berserulah Daud sekeras suaranya kepada anggota pasukan Thalout agar mereka bangun dari tidurnya dan menjaga baik-baik keselamatan rajanya yang nyaris terbunuh karena kelalaian mereka.

Ia mengundang salah seorang dari anggota pasukan untuk datang mengambil  kembali anak panah dan kendi air kepunyaan raja yang telah dicuri dari sisinya tanpa seorang pun dari mereka yang mengetahuinya.

Tindakan Daud itu yang  dimaksudkan sebagai peringatan kali kedua kepada Thalout bahwa pasukan pengawal  yang besar yang mengelilinginya tidak akan dapat menyelamatkan nyawanya bila  Allah menghendaki merenggutnya. Daud memberi dua kali peringatan kepada Thalout  bukan dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan yang nyata yang menjadikan ia  merasa ngeri membayangkan kesudahan hayatnya andaikan Daud menuntut balas atas  apa yang ia telah lakukan dan rancangkan untuk pembunuhannya.

Jiwa besar yang telah ditunjukkan oleh Daud dalam kedua peristiwa itu telah sangat berkesan  dalam lubuk hati Thalout.

Ia terbangun dari lamunannya dan sedar bahawa ia  telah jauh tersesat dalam sikapnya terhadap Daud. Ia sedar bahawa nafsu angkara  murka dan bisikan iblislah yang mendorongkan dia merancangkan pembunuhan atas  diri Daud yang tidak berdosa, yang setia kepada kerajaannya, yang berkali-kali  mempertaruhkan jiwanya untuk kepentingan bangsa dan negerinya, tidak pernah  berbuat kianat atau melalaikan tugas dan kewajibannya. Ia sedar bahawa ia telah  berbuat dosa besar dengan pembunuhan yang telah dilakukan atas beberapa pemuka  agama hanya kerana purba sangka yang tidak berdasar.

Thalout duduk  seorang diri termenung membalik-balik lembaran sejarah hidupnya, sejak berada di  desa bersama ayahnya, kemudian tanpa diduga dan disangka, berkat rahmat dan  kurnia Allah diangkatlah ia menjadi raja Bani Isra’il dan bagaimana Tuhan telah  mengutskan Daud untuk mendampinginya dan menjadi pembantunya yang setia dan  komandan pasukannya yang gagah perkasa yang sepatutnya atas jasa-jasanya itu.

Ia  mendapat penghargaan yang setinggi-tingginya dan bukan sebagaimana ia telah  lakukan yang telah merancangkan pembunuhannya dan mengejar-gejarnya setelah ia  melarikan diri dari istana. Dan walaupun ia telah mengkhianati Daud dengan  rancangan jahatnya, Daud masih berkenan memberi ampun kepadanya dalam dua  kesempatan di mana ia dengan mudah membunuhnya andaikan dia  mau.

Membayangkan peristiwa-peristiwa itu semunya menjadi sesaklah dada Thalout  menyesalkan diri yang telah terjerumus oleh hawa nafsu dan godaan Iblis sehingga  ia menyia-nyiakan kurnia dan rahmat Allah dengan tindakan-tindakan yang bahkan  membawa dosa dan murka Allah. Maka untuk menebuskan dosa-dosanya dan bertaubat  kepada Allah, Thalout akhirnya mengambil keputusan keluar dari kota melepaskan  mahkotanya dan meninggalkan istananya berserta segala kebesaran dan kemegahannya  lalu pergilah ia berkelana dan mengembara di atas bumi Allah sampai tiba saatnya  ia mendapat panggilan meninggalkan dunia yang fana ini menuju alam yang  baka.

Syahdan, setelah istana kerajaan Bani Isra’il ditinggalkan oleh  Thalout yang pergi tanpa meninggalkan bekas, beramai-ramailah rakyat mengangkat  dan menobatkan Daud sebagai raja yang berkuasa.

Nabi Daud mendapat Godaan

Daud dapat menangani  urusan pemerintahan dan kerajaan, mengadakan peraturan dan menentukan bagi  dirinya hari-hari khusus untuk melakukan ibadah dan bermunajat kepada Allah,  hari-hari untuk peradilan, hari-hari untuk berdakwah dan memberi penerangan  kepada rakyat dan hari-hari menyelesaikan urusan-urusan peribadinya.

Pada  hari-hari yang ditentukan untuk beribadah dan menguruskan urusan-2 peribada, ia  tidak diperkenankan seorang pun menemuinya dan mengganggu dalam khalawatnya,  sedang pada hari-hari yang ditentukan untuk peradilan maka ia menyiapkan diri  untuk menerima segala lapuran dan keluhan yang dikemukan oleh rakyatnya serta  menyelesaikan segala pertikaian dan perkelahian yang terjadi diantara sesama  mereka. Peraturan itu diikuti secara teliti dan diterapkan secara ketat oleh  para pengawal dan petugas keamanan istana.

Pada suatu hari di mana ia  harus menutup diri untuk beribadah dan berkhalwat datanglah dua orang lelaki  meminta izin dari para pengawal untuk masuk bagi menemui raja. Izin tidak  diberikan oleh para pengawal sesuai dengan ketentuan yang berlaku, namun lelaki  itu memaksa kehendaknya dan melalui pagar yang dipanjat sampailah mereka ke  dalam istana dan bertemu muka dengan Daud.

Daud yang sedang melakukan  ibadahnya terperanjat melihat kedua lelaki itu sudah berada di depannya, padahal  ia yakin para penjaga pintu istana tidak akan dapat melepaskan siapa pun masuk  istana menemuinya. Berkatalah kedua tamu yang tidak diundang itu ketika melihat  wajah Daud menjadi pucat tanda takut dan terkejut: “Janganlah terkejut dan  janganlah takut. Kami berdua datang kemari untuk meminta keputusan yang adil dan  benar mengenai perkara sengketa yang terjadi antara kami berdua.”

Nabi  Daud tidak dapat berbuat selain daripada menerima mereka yang sudah berada  didepannya, kendatipun tidak melalui prosedur dan protokol yang sepatutnya.  Berkatalah ia kepada mereka setelah pulih kembali ketenangannya dan hilang rasa  paniknya: “Cobalah bentangkan kepadaku persoalanmu dalam keadaan yang  sebenarnya.” Berkata seorangh daripada kedua lelaki itu: “Saudaraku ini memilki  sembilan puluh sembilan ekor domba betina dan aku hanya memilki seekor sahaja.  Ia menuntut dan mendesakkan kepadaku agar aku serahkan kepadanya dombaku yang  seekor itu bagi melengkapi perternakannya menjadi genap seratus ekor. Ia membawa  macam-macam alasan dan berbagai dalil yang sangat sukar bagiku untuk menolaknya, mengingatkan bahawa ia memang lebih cakap berdebat dan lebih pandai bertikam lidah daripadaku.”

Nabi Daud berpaling muka kepada lelaki yang lain yang  sedang seraya bertanya: “Benarkah apa yang telah diuraikan oleh saudara kamu  ini?” “Benar” ,jawab lelaki itu.

“Jika memang demikian halnya”, kata Daud,  dengan marah “maka engkau telah berbuat zalim kepada saudaramu ini dan  memperkosakan hak miliknya dengan tuntutanmu itu. Aku tidak akan membiarkan  engkau melanjutkan tindakanmu yang zalim itu atau engkau akan menghadapi hukuman  pukulan pada wajah dan hidungmu. Dan memang banyak di antara orang-orang yang  berserikat itu yang berbuat zalim satu terhadap yang lain kecuali mereka yang  benar beriman dan beramal soleh.”

“Wahai Daud”, berkata lelaki itu  menjawab, “sebenarnya engkaulah yang sepatut menerima hukuman yang engkau  ancamkan kepadaku itu. Bukankah engkau sudah mempunyai sembilan puluh sembilan  perempuan mengapa engkau masih menyunting lagi seorang gadis yang sudah lama  bertunang dengan seorang pemuda anggota tenteramu sendiri yang setia dan bakti  dan sudah lama mereka berdua saling cinta dan mengikat janji.”

Nabi Daud  tercengang mendengar jawapan lelaki yang berani, tegas dan pedas itu dan sekali  lagi ia memikirkan ke mana sasaran dan tujuan kata-kata itu, sekonyong-konyong  lenyaplah menghilang dari pandangannya kedua susuk tubuh kedua lelaki itu. Nabi Daud berdiam diri tidak mengubah sikap duduknya dan seraya termenung sadarlah ia bahwa kedua lelaki itu adalah malaikat yang diutuskan oleh Allah untuk memberi peringatan dan teguran kepadanya. Ia seraya bersujud memohon ampun dan maghfirah dari Tuhan atas segala tindakan dan perbuatan yang tidak diredhai oleh-Nya. Allah menyatakan menerima taubat Daud, mengampuni dosanya serta mengangkatnya ke tingkat para nabi dan rasul-Nya.

Adapun gadis yang dimaksudkan dalam  percakapan Daud dengan kedua malaikat yang menyerupai sebagai manusia itu ialah  “Sabigh binti Sya’igh seorang gadis yang berparas elok dan cantik, sedang calon  suaminya adalah “Uria bin Hannan” seorang pemuda jejaka yang sudah lama menaruh  cinta dan mengikat janji dengan gadis tersebut bahwa sekembalinya dari medan  perang mereka berdua akan melangsungkan perkhawinan dan hidup sebagai suami  isteri yang bahagia. Pemuda itu telah secara rasmi meminang Sabigh dari kedua  orang tuanya, yang dengan senang hati telah menerima baik uluran tangan pemuda  itu.

Akan tetapi apa yang hendak dikatakan sewaktu Uria bin Hannan berada  di negeri orang melaksanakan perintah Daud berjihad untuk menegakkan kalimah  Allah, terjadilah sesuatu yang menghancurkan rancangan syahdunya itu dn  menjadilah cita-citanya untuk beristerikan Sabigh gadis yang diidam-idamkan itu,  seakan-akan impian atau fatamorangana belaka.

Pada suatu hari di mana Uria  masih berada jauh di negeri orang melaksanakan perintah Allah untuk berjihad,  tertangkaplah paras Sabigh yang ayu itu oleh kedua belah mata Daud dan dari  pandangan pertama itu timbullah rasa cinta di dalam hati Daud kepada sang gadis  itu, yang secara sah adalah tunangan dari salah seorang anggota tenteranya yang  setia dan cekap. Daud tidak perlu berfikir lama untuk menyatakan rasa hatinya  terhadap gadis yang cantik itu dan segera mendatangi kedua orang tuanya meminang  gadis tersebut.

Gerangan orang tua siapakah yang akan berfikir akan  menolak uluran tangan seorang seperti Daud untuk menjadi anak menantunya.  Bukankah merupakan suatu kemuliaan yang besar baginya untuk menjadi ayah mertua  dari Daud seorang pesuruh Allah dan raja Bani Isra’il itu. Dan walaupun Sabigh  telah diminta oleh Uria namin Uria sudah lama meninggalkan tunangannya dan tidak  dapat dipastikan bahwa ia akan cepat kembali atau berada dalam keadaan hidup. 

Tidak bijaksanalah fikir kedua orang tua Sabigh untuk menolak uluran tangan Daud  hanya semata-mata karena menantikan kedatangan Uria kembali dari medan perang.  Maka diterimalah permintaan Daud dan kepadanya diserahkanlah Sabigh untuk  menjadi isterinya yang sah.

Demikianlah kisah penikahan Daud dan Sabigh  yang menurut para ahli tafsir menjadi sasaran kritik dan teguran Allah melalui kedua malaikat yang merupai sebagai dua lelaki yang datang kepada Nabi Daud  memohon penyelesaian tentang sengketa mereka perihal domba betina  mereka.  

Hari Sabtunya Bani Isra’il

Di antara ajaran-ajaran Nabi  Musa Alaihissalam kepada Bani Isra’il ialah bahwa mereka mewajibkan untuk mengkhususkan  satu hari pada tiap minggu bagi melakukan ibadah kepada Allah mensucikan hati  dan fikiran mereka dengan berzikir, bertahmid dan bersyukur atas segala kurnia  dan nikmat Tuhan, bersolat dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik serta amal-amal soleh. Diharamkan bagi mereka pada hari yang ditentukan itu untuk berdagang dan  melaksanakan hal-hal yang bersifat duniawi.

Pada mulanya hari Jumaatlah yang  ditunjuk sebagai hari keramat dan hari ibadah itu, alan tetapi mereka meminta  dari Nabi Musa agar hari ibadah itu dijatuhkan pada setiap hari Sabtu,  mengingatkan bahwa pada hari itu Allah selesai menciptakan makhluk-Nya. Usul  perubahan yang mereka ajukan itu diterima oleh Nabi Musa, maka sejak itu, hari  Sabtu pada setiap minggu daijadikan hari mulia dan suci, di mana mereka tidak  melakukan perdagangan dan mengusahakan urusan-urusan duniawi.

Mereka hanya tekun beribadah dan ebrbuat amal-amal kebajikan yang diperintahkan oleh agama.  Demikianlah hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun  namun adat kebiasaan mensucikan hari Sabtu tetap dipertahankan turun temurun dan  generasi demi generasi.

Pada masa Nabi Daud berkuasa di suatu desa  bernama “Ailat” satu di antara beberapa desa yang terletak di tepi Laut Merah bermukim sekelompok kaum dari keturunan Bani Isra’il yang sumber percariannya  adalah dari penangkapan ikan, perdagangan dan pertukangan yang dilakukannya  setiap hari kecuali hari Sabtu.

Sebagai akibat dari perintah mensucikan hari  Sabtu di mana tiada seorang malakukan urusan dagangan atau penangkapan ikan,  maka pasar-pasar dan tempat-tempat perniagaan di desa itu menjadi sunyi senyap pada  tiap hari dan malam sabtu, sehingga ikan-ikan di laut tampak terapung-apung di atas  permukaan air, bebas berpesta ria mengelilingi dua buah batu besar berwarna  putih terletak ditepi laut dekat desa Ailat.

Ikan-ikan itu seolah-olah sudah  terbiasa bahwa pada tiap malam dan hari Sabtu terasa aman bermunculan di atas  permukaan air tanpa mendapat gangguan dari para nelayan tetapi begitu matahari  terbenam pada Sabtu senja menghilanglah ikan-ikan itu kembali ke perut dan dasar  laut sesuai dengan naluri yang dimiliki oleh tiap binatang makhluk  Allah.

Para nelayan desa Ailat yang pd hari-hari biasa tidak pernah  melihat ikan begitu banyak terapung-apung di atas permukaan air, bahkan sukar  mendapat menangkap ikan sebanyak yang diharapkan, menganggap adalah kesempatan  yang baik dan menguntungkan sekali bila mereka melakukan penangkapan ikan pada  tiap malam dan hari Sabtu.

Fikiran itu tidak disia-siakan dan tanpa menghiraukan  perintah agama dan adat kebiasaan yang sudah berlaku sejak Nabi Musa  memerintahkannya, pergilah mereka ramai-ramai ke pantai menangkap ikan di malam  dan hari yang terlarang itu, sehingga berhasillah mereka menangkap ikan sepuas hati mereka dan sebanyak yang mereka harapkan, berbeda jauh dengan hasil mereka  di hari-hari biasa.

Para penganut yang setia dan para mukmin yang soleh  datang menegur para orang fasiq yang telah berani melanggar kesucian hari Sabtu.  Mereka diberi nasihat dan peringatan agar menghentikan perbuatan mungkar mereka  dan kembali mentaati perintah agama serta menjauhkan diri dari semua  larangannya, supay menghindari murka Allah yang dapat mencabut kurnia dan nikmat  yang telah diberikan kepada mereka.

Nasihat dan peringatan para mukmin itu  tidak dihiraukan oleh para nelayan yang membangkang itu bahkan mereka makin giat  melakukan pelanggaran secara demonstratif karena sayang akan kehilangan  keuntungan material yang besar yang mereka peroleh dan penangkapan ikan di  hari-hari yang suci. Akhirnya pemuka-pemuka agama terpaksa mengasingkan mereka  dari pergaulan dan melarangnya masuk ke dalam kota dengan menggunakan senjata  kalau perlu.

Berkata para nelayan pembangkang itu memprotes: 

“sesungguhnya kota Ailat adalah kota dan tempat tinggal kami bersama kami  mempunyai hak yang sama seperti kamu untuk tinggal menetap di sini dan sesekali  kamu tidak berhak melarang kami memasuki kota kami ini serta melarang kami  menggali sumber-sumber kekayaan yang terdapat di sini bagi kepentingan hidup kami.  Kami tidak akan meninggalkan kota kami ini dan pergi pindah ke tempat lain. Dan  jika engkau enggan bergaul dengan kami maka sebaiknya kota Ailat ini di bagi  menjadi dua bahagian dipisah oleh sebuah tembok pemisah, sehingga masing-2 pihak  bebas berbuat dan melaksanakan usahanya tanpa diganggu oleh mana-mana pihak  lain.”

Dengan adanya garis pemisah antara para nelayan pembangkang yang fasiq dan pemeluk-pemeluk agama yang taat bebaslah mereka melaksanakan usaha  penangkapan ikan semau hatinya secara besar-besaran pada tiap-tiap hari tanpa  berkecuali.

Mereka membina saluran-saluran air bagi mengalirkan air laut ke dekat  rumah-rumah mereka dengan mengadakan bendungan-bendungan yang mencegahkan kembalinya ikan-ikan ke laut bila matahari terbenam pada setiap petang Sabtu pada waktu mana biasanya ikan-ikan yang terapung-apung itu meluncur kembali ke dasar laut.

Para  nelayan yang makin manjadi kaya karena keuntungan besar yang meeka peroleh dari  hasil penangkapan ikan yang bebas menjadi makin berani melakukan maksiat dan  pelanggaran perintah-2 agama yang menjurus kepada kerusakkan akhlak dan moral  mereka.

Sementara para pemuka agama yang melihat para nelayan itu makin  berani melanggar perintah Allah dan melakukan kemungkaran dan kemaksiatan di  daerah mereka sendiri masih rajin mendatangi mereka dari masa ke semasa  memperingatkan mereka dan memberi nasihat , kalau-kalau masih dapat ditarik ke jalan  yang benar dan bertaubat dari perbuatan maksiat mereka.

Akan tetapi kekayaan  yang mereka peroleh dari hasil penangkapan yang berganda menjadikan mata mereka  buta untuk melihta cahaya kebenaran, telinga mereka pekak untuk mendengar  nasihat-2 para pemuka agama dan lubuk hati mereka tersumbat oleh nafsu  kemaksiatan dan kefasiqan, sehingga menjadikan sebahagian dari pemuka dan  penganjur agaam itu berputus asa dan berkata kepada sebahagian yang masih menaruh harapan:

“Mengapa kamu masih menasihati orang-orang yang akan dibinasakan oleh Allah dan akan ditimpahi hati orang-orang yang akan dibinasakan  oleh Allah dan akan ditimpahi azab yang sangat keras.”

Demikianlah pula Nabi Daud setelah melihat bahawa segala nasihat dan peringatan kepada kaumnya  hanya dianggap sebagai angin lalu atau seakan suara di padang pasir belaka dan melihat tiada harapan lagi bahwa mereka akan sadar dan insaf kembali, maka  berdoalah beliau memohon kepada Allah agar menggajar mereka dengan siksaan dan  azab yang setimpal.

Doa Nabi Daud dikabulkan oleh Allah dan terjadilah suatu gempa bumi yang dahsyat yang membinasakan orang-orang yang telah membangkang dan  berlaku zalim terhadap diri mereka sendiri dengan mengabaikan perintah Allah dan  perintah para hamba-Nya yang soleh. Sementara mereka yang mukmin dan soleh  mendapat perlindungan Allah dan terhindarlah dari malapetaka yang melanda  itu.

Beberapa Kurnia Allah Kepada Nabi  Daud

Allah mengutusnya  sebagai nabi dan rasul mengkarunianya nikmah, kesempurnaan ilmu, ketelitian amal  perbuatan serta kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.

Kepadanya diturunkan  kitab “Zabur”, kitab suci yang menghimpunkan qasidah-qasidah dan sajak- sajak serta lagu-lagu yang mengandungi tasbih dan pujian-pujian kepada Allah, kisah umat- umat yang dahulu  dan berita nabi-nabi yang akan datang, di antaranya berita tentang datangnya  Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Allah menundukkan gunung- gunung dan memerintahkannya bertasbih mengikuti tasbih Nabi Daud tiap pagi dan  senja.

Burung-burung pun turut bertasbih mengikuti tasbih Nabi Daud berulang-ulang.

Nabi Daud diberi peringatan tentang maksud suara atau bahasa burung-burung.

Allah telah memberinya kekuatan melunakkan besi, sehingga ia dapat membuat baju-baju dan  lingkaran-lingkaran besi dengan tangannya tanpa pertolongan api.

Nabi Daud telah  diberikannya kesempatan menjadi raja memimpin kerajaan yang kuat yang tidak  dapat dikalahkan oleh musuh, bahkan sebaliknya ia selalu memperolehi kemenangan di atas semua musuhnya.

Nabi Daud dikurniakan suara yang merdu oleh Allah yang enak  didengar, sehingga kini ia menjadi kiasan bila seseorang bersuara merdu dikatakan  bahawa ia memperolehi suara Nabi Daud.

Kisah Nabi Daud dan kisah  Sabtunya Bani Isra’il terdapat dalam Al-Quran surah “Saba'” ayat 11, surah  “An-Nisa'” ayat 163, surah “Al-Isra'” ayat 55, surah “Shaad” ayat 17 sehingga  ayat 26 dan surah “Al-‘Aaraaf” ayat 163 sehingga ayat 165.

Beberapa Pelajaran Dari Kisah Nabi Daud  Alaihissalam

Allah telah  memberikan contoh bahwa seseorang yang bagaimana pun besar dan perkasanya yang  hanya menyandarkan diri kepada kekuatan jasmaninya dapat dikalahkan oleh orang  yang lebih lemah dengan hanya sesuatu benda yang tidak bererti sebagaimana Daud  yang muda usia dan lemah fizikal mengalahkan Jalout yang perkasa itu dengan  bersenjatakan batu saja.

Seorang yang lemah  dan miskin tidak patut berputus asa mencari hasil dan memperoleh kejayaan dalam  usaha dan perjuangannya selama ia bersandarkan kepada takwa dan iman kepada  Allah yang akan melindunginya.

Kemenangan Daud atas  Jalout tidak menjadikan dia berlaku sombong dan takabbur, bahkan sebaliknya ia  bersikap rendah hati dan lemah-lembut terhadap kawan maupun lawan. (adm/Dikutip dari Kisah 25 Nabi & Rasul)

Tags: Daud AlaihissalamJago BerperangKisah Nabi DaudNabi Daud AlaihissalamNabi Daud ASRaja PerkasaRajin Bertasbih
ShareTweetSendShare
Previous Post

Daftar 313 Nama Rasul Allah, Termasuk 25 Nabi dan Rasul yang Wajib Kita Ketahui

Next Post

Toko di Tiongkok Pamerkan Lebih dari 100 Robot Model Humanoid

Mungkin Anda Juga Suka :

Sufi Wanita yang Akan Menggenggam Tauhid Demi Menagih Janji Allah

Sufi Wanita yang Akan Menggenggam Tauhid Demi Menagih Janji Allah

13 April 2026

...

Mustajabnya Doa Sahabat Rasulullah SAW Sa’ad bin Abi Waqqash yang Difitnah oleh Usamah bin Qatadah

Mustajabnya Doa Sahabat Rasulullah SAW Sa’ad bin Abi Waqqash yang Difitnah oleh Usamah bin Qatadah

28 Maret 2026

...

Ancaman Bagi yang Berbuat Dzolim Menurut Al Qur’an dan Hadis, Agar Segera Meminta Kehalalan atau Maafnya

Ancaman Bagi yang Berbuat Dzolim Menurut Al Qur’an dan Hadis, Agar Segera Meminta Kehalalan atau Maafnya

23 Maret 2026

...

Sahabat Abu Dzar al-Ghifari, Pria Zuhud Berasal dari Kabilah yang Suka Merampok

Sahabat Abu Dzar al-Ghifari, Pria Zuhud Berasal dari Kabilah yang Suka Merampok

2 Januari 2026

...

Kisah Pria yang Akhirnya Dikeluarkan dari Neraka dan Terakhir Masuk Surga

Kisah Pria yang Akhirnya Dikeluarkan dari Neraka dan Terakhir Masuk Surga

30 Desember 2025

...

Load More
Next Post
Toko di Tiongkok Pamerkan Lebih dari 100 Robot Model Humanoid

Toko di Tiongkok Pamerkan Lebih dari 100 Robot Model Humanoid

Kisah Nabi Ilyas Alaihissalam, Mukzijat Doanya 3 Tahun Tidak Hujan untuk Kaum Penyembah Berhala Baal

Kisah Nabi Ilyas Alaihissalam, Mukzijat Doanya 3 Tahun Tidak Hujan untuk Kaum Penyembah Berhala Baal

Discussion about this post

TERKINI

Google Diduga Memecat Insinyur AI Karena Memprotes Pekerjaan untuk Pemerintah Israel dalam Kejahatan Perang

22 Mei 2026

Tikus ‘Menyerbu ‘Pangkalan Pelatihan AL Israel di Haifa Hingga Bau Busuk, Dapur Dikuasai dan Masuk ke Panci

21 Mei 2026

Penyakit Hati yang Merusak Diri Menurut Al Qur’an dan Hadits

21 Mei 2026

Direktur Pusat Islam San Diego Mengutuk Serangan Islamophobia di Masjid San Diego

20 Mei 2026

Warga AS Menanggung Biaya Bahan Bakar Tambahan Lebih dari  40 Miliar Dolar Setelah Sejak Ikut Israel Perang Menyerang Iran

19 Mei 2026

Berkontribusi Besar Mencetak SDM Unggul, PTS Harus Setara dengan Kampus Negeri

19 Mei 2026

Luwesnya Chintya Dian Astuti, Wakil Ketua Kadin Pelestarian Hutan & Sungai Konsisten Jaga Lingkungan

18 Mei 2026

Jemaah Lansia dan Risiko Tinggi Akan Ikut Skema Murur, Kurangi Kepadatan di Muzdalifah

17 Mei 2026

Judi Online Makan Korban 200 Ribu Anak Indonesia, Termasuk 80 ribu Anak di Bawah 10 Tahun

16 Mei 2026

Man with Leaps, Guz Reza Syarief yang Kini Tidak Hanya Memotivasi Seni Memimpin, Tapi Juga Berdakwah

16 Mei 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video