Avesiar – Jakarta
Pengepungan Gaza oleh pasukan zionis Israel yang menyebabkan rakyat Palestina kelaparan telah memicu respons dunia. Para aktivis kemanusiaan tidak ketinggalan berusaha menunjukkan aksi nyata untuk membantu rakyat Palestina yang berada di Gaza.
Seorang aktivis asal Swedia Greta Thunberg, dikutip dari The New Arab, Selasa (12/8/2025), mengatakan ia akan bergabung dengan armada Soumoud berikutnya yang akan menuju Gaza, dalam upaya terbaru mereka untuk mematahkan pengepungan Israel di Jalur Gaza yang dilanda perang dan kelaparan.
Aktivis muda wanita itu mengatakan bahwa ia dan kru Soumoud akan melakukan upaya terbesar yang pernah ada untuk mematahkan pengepungan ilegal Israel atas Gaza dengan puluhan kapal yang berlayar dari Spanyol pada 31 Agustus besok.
“Kami akan bertemu puluhan kapal lainnya pada 4 September yang berlayar dari Tunisia dan pelabuhan lainnya. Kami juga memobilisasi lebih dari 44 negara dalam demonstrasi dan aksi serentak dalam solidaritas dengan rakyat Palestina,” tulisnya di akun Instagram-nya akhir pekan lalu.
Perempuan 22 tahun tersebut sebelumnya telah mencoba berlayar ke Gaza sebagai bagian dari kapal Koalisi Armada Kebebasan, Madleen, pada bulan Juni lalu, yang bertujuan untuk mengirimkan bantuan ke Jalur Gaza yang terkepung.
Thunberg telah berupaya mencapai Gaza bersama anggota Parlemen Eropa keturunan Prancis-Palestina, Rima Hassan, dan jurnalis Al Jazeera, Omar Faiad. Aktivis dari Jerman, Prancis, Brasil, Spanyol, Turki, dan Belanda juga turut serta.
Namun, kapal para aktivis, termasuk Thunberg, disita oleh angkatan laut Israel sebelum mereka ditahan, dibawa ke Israel, dan kemudian dideportasi. Perlakuan mereka dan penahanan ilegal Israel terhadap para aktivis dikutuk secara global.
Beberapa aktivis, dalam video yang sama yang dipublikasikan akhir pekan lalu, mengajak orang lain untuk bergabung dengan armada tersebut, yang disebut sebagai “upaya solidaritas internasional terbesar sejak Israel memberlakukan pengepungan di Jalur Gaza pada tahun 2007”.
Armada Soumoud menyebut dirinya “sebuah upaya terpadu dari koalisi, organisasi, dan masyarakat umum dari seluruh dunia yang telah menunjukkan soliditas yang tak tergoyahkan kepada rakyat Palestina”.
Para aktivis, termasuk Thunberg, dalam video tersebut, menggambarkan kekejaman yang terus terjadi di wilayah kantong Palestina tersebut selama 22 bulan terakhir. “Itulah sebabnya orang-orang bebas di dunia bangkit dan berlayar maju, dan kami menyerukan Anda untuk bergabung dalam inisiatif ini,” kata salah satu aktivis.
Kepala komite medis armada global dan anggota dewan pengawas dan manajemen, Dr. Mohamed Amin Bennour, mengatakan kepada Arabi21 bahwa “upaya saat ini sedang gencar” untuk merekrut relawan agar bergabung dengan konvoi.
“Saya mengajak semua orang yang melihat kami untuk menghubungi kami dan membantu kami. Kebutuhan mendesak saat ini adalah kapten dan awak kapal, yang sangat kekurangan di Tunisia, Aljazair, Libya, dan negara-negara peserta lainnya,” tegasnya dikutip dari The New Arab.
Ia menambahkan bahwa mereka memiliki satu slogan, satu tujuan, satu titik akses, yaitu Jalur Gaza yang teguh, sabar, dan berjuang. “Tujuan pertama: mematahkan pengepungan. Tujuan kedua adalah koridor kemanusiaan untuk mengirimkan bantuan ke Gaza dan mematahkan pengepungan dalam menghadapi kejahatan ini dan arogansi Zionis-Amerika yang menimpa saudara-saudara kita di Palestina, khususnya di Gaza,” ujarnya.
Sayangnya, pada pertengahan Juni lalu, konvoi Soumoud, yang berangkat dari Tunisia tidak dapat melewati Libya setelah diblokir oleh pihak berwenang di sana. Beberapa aktivis, sebagian besar berasal dari Tunisia tetapi juga dari Aljazair, Maroko, Libya, dan Mauritania, mengatakan mereka diperlakukan dengan buruk dan dideportasi oleh pihak berwenang di wilayah timur negara itu. (ard)













Discussion about this post