Avesiar – Jakarta
Kabar bohong PM Israel Netanyahu bahwa “tidak ada kelaparan” di Gaza telah ditepis oleh Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan menyebut pernyataan tersebut “di luar pemahaman.”
Dikutip dari TRT World, Selasa (29/7/2025), berbicara dalam sidang parlemen pada hari Selasa, menanggapi pertanyaan dari seorang anggota parlemen dari Partai Buruh tentang pengakuan negara Palestina, Albanese menyatakan ketidakpercayaannya atas pernyataan pemimpin Israel tersebut, yang bertentangan dengan semakin banyaknya bukti krisis kemanusiaan yang memburuk di wilayah kantong yang terkepung tersebut.
“Klaim bahwa tidak ada kelaparan di Gaza itu di luar pemahaman,” kata Albanese, menurut ABC News.
Sayangnya, Albanese menegaskan kembali bahwa pengakuan Australia atas negara Palestina tetap bergantung pada “reformasi demokratis”, ia mengakui bahwa hambatan untuk pengakuan tersebut “tidak dapat diatasi” dalam kondisi saat ini.
PM Australia tersebut telah mempertajam kritiknya terhadap Israel dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, ia menuduh Tel Aviv “jelas” melanggar hukum internasional dengan menghalangi bantuan kemanusiaan dan mengatakan perang di Gaza telah “merenggut terlalu banyak nyawa tak berdosa.”
Kementerian Luar Negeri Israel menolak komentar Albanese, menyebutnya sebagai “kebohongan” dan menegaskan bahwa Israel “tidak menahan bantuan apa pun.”
Sementara itu, di dalam negeri, pemerintah Albania menghadapi reaksi keras atas kebijakannya terkait Gaza dan pembungkaman suara-suara pro-Palestina. Partai oposisi, Partai Hijau, kembali menyerukan sanksi yang lebih luas terhadap Israel.
“Bagus bahwa setelah dua tahun penyangkalan, pemerintah Albania kini mengakui kengerian yang terjadi di depan mata kita. Perdana Menteri sekarang harus menjatuhkan sanksi, menindaklanjuti kata-katanya dengan tindakan, dan mengakhiri perdagangan senjata dua arah,” kata Senator Partai Hijau, David Shoebridge
Disebutkan bahwa sebuah lembaga pemantau kelaparan global, Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC), memperingatkan pada hari Selasa bahwa “skenario terburuk kelaparan” kini terjadi di Gaza karena Israel terus memblokir bantuan vital. Kritik ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, agresi militer Israel sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 60.000 warga Palestina kebanyakan perempuan dan anak-anak.
Tidak hanya itu, Presiden AS Donald Trump juga menentang Netanyahu dan turut berkomentar pekan ini bahwa ada “kelaparan nyata” di Gaza. (ard)













Discussion about this post