Avesiar – Jakarta
Libya turut bergabung untuk memberikan bantuan kepada rakyat Palestina di Gaza dengan mengerahkan sebuah kapal yang diberi nama seorang pahlawan anti-kolonial Omar al-Mukhtar yang kini sedang diubah menjadi klinik darurat mengapung, dikutip dari The New Arab, Sabtu (20/9/2025).
Kapal yang membawa mantan Perdana Menteri Libya Omar al-Hassi bersama sekelompok kecil aktivis Libya dan asing, telah dijadwalkan berangkat dari pantai Tripoli pekan ini, serta nantinya akan bergabung dengan armada Sumud yang menuju Gaza, setelah para aktivis melaporkan “pengamatan drone pengintai.”
Ombak laut yang tinggi memaksa penundaan, tetapi penyelenggara mengatakan mereka sekarang akan menggunakan waktu tersebut untuk mengisi kapal dengan pasokan medis dan tim dokter sukarelawan.
“Israel sedang melakukan tindakan pembersihan etnis di Gaza. Kami berharap dapat mencapai daerah kantong itu untuk membantu mencabut blokade, dan kami menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk turun tangan dan mengakhiri perang ini,” kata mantan Perdana Menteri tersebut.
Menurut penyelenggara, kapal berkonsep rumah sakit itu membawa sekitar 15 aktivis, termasuk warga Libya, seorang warga negara AS, dua jurnalis Inggris, seorang jurnalis Skotlandia, dan seorang peserta Kanada.
Tidak hanya satu, kapal Libya lainnya, Muwal Libya, berlayar langsung dari pantai Tunisia pekan ini untuk bergabung dengan armada tanpa berlabuh di Libya.
Sekitar 50 kapal dan ratusan peserta dari 44 negara akan bersatu dan armada tersebut merupakan bagian dari Global Sumud Flotilla, upaya internasional terbesar yang pernah ada untuk menantang blokade Israel selama 18 tahun di Gaza.
Greta Thunberg, seorang aktivis iklim Swedia dan Mandla Mandela, cucu Nelson Mandela, turut menjadi peserta aksi kemanusiaan tersebut.
“Kami adalah aktivis perdamaian. Kami tidak akan bertujuan menciptakan masalah. Namun, mengingat rekam jejak pelanggaran hukum internasional Israel, tidaklah bijaksana untuk tidak mempersiapkan diri terhadap setiap kemungkinan,” kata Yvonne Ridley, juru bicara peserta kapal Libya.
Ide kapal rumah sakit muncul, dikatakannya, setelah para aktivis menyuarakan kekhawatiran akan serangan pesawat nirawak baru terhadap armada.
Israel, sejak Maret, telah menutup semua penyeberangan ke Gaza, memblokir makanan dan obat-obatan. Badan-badan bantuan memperingatkan bahwa 2,4 juta penduduk daerah kantong itu menghadapi kelaparan buatan manusia. (ard)













Discussion about this post