Avesiar – Jakarta
Kehadiran Benjamin Netanyahu di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mendapat protes dari ribuan orang yang turun ke jalan di New York City, Jum’at (26/9/2025), dikutip dari The New Arab.
Diperkirakan berjumlah sekitar 5.000 orang, para demonstran awalnya berkumpul pukul 09.00 di Times Square. Dari sana, mereka berbaris menuju gedung PBB, tempat Netanyahu dijadwalkan menyampaikan pidato di acara tahunan tersebut.
Spanduk bertuliskan: “Biarkan Gaza hidup”, “Dukung Gaza”, dan “Setiap martir adalah semesta”, sambil meneriakkan, “Netanyahu, kau tak bisa bersembunyi. Kami menuduhmu melakukan genosida,” yang dibawa para demonstran, mewarnai kehadiran Netanyahu.
Ia juga telah divonis dan mendapat surat perintah penangkapan dari Pengadilan Kriminal Internasional untuknya dan mantan menteri pertahanan Israel Yoav Gallant atas kejahatan perang.
ICC mendakwanya pada bulan Oktober, dengan tuduhan kelaparan, pembunuhan, penganiayaan, dan tindakan tidak manusiawi lainnya dalam perang Gaza. Hal ini juga menyusul pengakuan awal bulan ini oleh PBB bahwa Israel melakukan genosida di Gaza.
“Kami ingin dia tahu bahwa dia tidak diterima di kota ini. Dia penjahat perang dengan surat perintah penangkapan dari ICC. Ada konsensus internasional yang berkembang seputar tuntutan embargo senjata,” ujar Nas Issa, anggota Gerakan Pemuda Palestina yang berbasis di New York, kepada The New Arab.
Sedangkan buronan ICC tersebut saat di podium PBB seakan membanggakan para sandera yang ditangkap Hamas. “Pahlawan pemberani kami. Ini Perdana Menteri Netanyahu yang berbicara kepada Anda secara langsung dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kami tidak melupakan Anda, sedetik pun. Rakyat Israel bersama Anda. Kami tidak akan goyah, dan kami tidak akan beristirahat sampai kami membawa Anda semua pulang,” katanya dari podium PBB.
Bertolakbelakang dengan pidatonya, Netanyahu telah menolak sejumlah proposal gencatan senjata yang akan membebaskan tawanan Israel yang tersisa, dan keluarga mereka menuduhnya sengaja memperpanjang konflik.
Tidak hanya demonstrasi, puluhan diplomat dari seluruh dunia yang dipimpin oleh delegasi Kolombia, meninggalkan pidato Netanyahu dan bergabung dalam protes di luar gedung.
Presiden Kolombia Gustavo Petro mengambil pengeras suara dan mendesak tentara AS yang hadir dalam demonstrasi tersebut untuk tidak mengarahkan senjata mereka ke arah para pengunjuk rasa. Sebagai tanggapan, pemerintahan Trump mengancam akan mencabut visa Petro.
“Dua tahun setelah kejadian ini, mungkin ada rasa putus asa. Penawarnya adalah melihat ribuan orang turun ke jalan,” kata Issa.
Para pengunjuk rasa menggambarkannya sebagai salah satu yang paling energetik sejak pecahnya perang di Gaza pada Oktober 2023 pada demonstrasi yang berakhir sekitar pukul 13.00. (ard)













Discussion about this post