Avesiar – Jakarta
Ada sebuah kisah di kampung yang tenang suasananya, Samsul (dikenal masyarakat dengan sapaan Sam) hidup bersama istrinya bernama Dina dan dua orang anak. Seperti biasa, hari libur dimanfaatkan Sam untuk ngobrol santai di teras rumah.
Di tengah mereka sedang ngobrol ngalor-ngidul, tetiba tetangganya, Roni dan Rina lewat depan rumah Sam, mereka hendak ke pasar.
“Salut ya bu dengan rumah tangga Roni dan istrinya. Mereka terlihat bahagia terus,” ujar Sam membuka rasan-rasan (menggosipi) tetangganya itu.
“Rumah tangga mereka itu kayak Hari Valentine, Pak,” timpal Dina.
“Maksudmu?” tanya Sam.
“Tiap hari romantis terus,” jawab Dina.
“Ternyata kamu tahu banyak ya soal tetangga-tetangga kita,” kata Sam.
“Iya dong, emak-emak gitu loh,” timpal Dina. Sam lalu lanjut bertanya tentang tetangga-tetangga lainnya ke Dina.
Sam: “Kalau tetangga kita yang rumahnya di ujung menurutmu gimana?”
Dina: “Oh, rumah tangga mereka seperti hari Idul Adha.”
Sam: “Maksudnya?”
Dina: “Tiap tahun istrinya korban perasaan.”
Sam: “Kalau tetangga kita yang rumahnya di sebelah?”
Dina: “Oh, kalau mereka kayak Hari Imlek.”
Sam: “Hari Imlek?”
Dina: “Iya, suaminya ngasih angpao tiap hari ke istrinya.”
Sam: “Kalau tetangga kita yang rumahnya deket lapangan bulutangkis itu?”
Dina: “Oh, meskipun tiap hari ramai karena ada orang main bulutangkis, tapi rumah tangga mereka kayak Hari Nyepi.”
Sam: “Kenapa begitu?”
Dina: “Lah iya, wong mereka jarang ngobrol. Suaminya sibuk main hape.”
Sam: “Lah terus rumah tangga kita, menurutmu gimana?”
Dina: “Kebetulan nih, karena kamu tanya. Rumah tangga kita kayak Hari Buruh.”
Sam: “Hari Buruh? Maksudmu gimana?”
Dina: “Kerjaanku banyak, uang belanjaku sedikit, terus setiap aku protes, suaraku gak didengar sama kamu.”
(adm/sumber: nu.or.id)













Discussion about this post