Avesiar – Jakarta
Memperingati atau merayakan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah bagian dari tradisi umat Islam di seluruh dunia. Di Indonesia, perayaan ini tidak ketinggalan hadir selama bulan Radio Awal.
Dilansir laman Majelis Ulama, Senin (24/8/2026), bahwa di sejumlah daerah, rangkaian kegiatan diselenggarakan selama beberapa hari, bahkan sepanjang bulan Rabiul Awal. Majelis Maulid biasanya diisi dengan pembacaan riwayat kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, shalawat, dzikir, doa, sedekah, hingga hidangan makanan bagi para jamaah.
Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi salah satu cara umat Islam dalam mengekspresikan rasa syukur sekaligus kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Merujuk sejumlah literatur keislaman, dijumpai keterangan mengenai berbagai keutamaan yang dapat diperoleh dari mengagungkan dan menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi.
Mari kita simak 5 (lima) keutamaan menghadiri dan memuliakan peringatan Maulid Nabi yang penulis rangkum menurut keterangan para ulama:
1. Dikelilingi rahmat dan doa para malaikat
Keutamaan pertama berkaitan dengan turunnya rahmat Allah. Tempat yang digunakan untuk membaca Maulid Nabi akan dikelilingi para malaikat. Para malaikat tersebut juga mendoakan orang-orang yang berada di dalam majelis itu.
Hal ini menggambarkan bahwa majelis Maulid bukan hanya sebagai ruang pertemuan antarsesama muslim, tetapi juga sebagai majelis yang menjadi sebab turunnya rahmat dan keridhaan Allah. Terlebih, peringatan Maulid umumnya diisi dengan berbagai amal kebaikan seperti bacaan dzikir, shalawat, doa, dan mengingat perjalanan kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
“Tidaklah Maulid Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dibacakan di suatu rumah, masjid, atau suatu tempat, melainkan para malaikat akan mengelilingi rumah, masjid, atau tempat itu. Para malaikat juga turut mendoakan orang-orang yang berada di tempat itu, sementara Allah Ta’ala melimpahkan kepada mereka rahmat dan keridaan-Nya.” (Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah At-Thalibin [Beirut: Dar Al-Kutub Ilmiyah], vol. 3, h. 608)
Karenanya, menghadiri Maulid dapat menjadi momentum untuk memperbanyak dzikir dan shalawat sembari mengharapkan limpahan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
2. Terhindar dari marabahaya dan bencana
Keutamaan berikutnya adalah keberkahan berupa perlindungan dari berbagai marabahaya. Bacaan Maulid Nabi di sebuah rumah bisa menjadi sebab adanya perlindungan Allah bagi penghuni rumah tersebut dari ragam musibah serta marabahaya mulai dari kekeringan, wabah, kebakaran, banjir, hingga berbagai gangguan lainnya.
Selain keselamatan secara lahiriah, Allah juga akan memberikan padanya perlindungan dari kebencian, kedengkian, dan pandangan buruk orang lain.
“Tidaklah Maulid Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dibacakan di rumah seorang Muslim, melainkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menjauhkan dari penghuni rumah tersebut kekeringan, wabah, kebakaran, tenggelam, berbagai musibah dan bencana, kebencian, kedengkian, pandangan mata yang buruk, serta gangguan pencuri. Apabila orang itu meninggal dunia, maka Allah akan memudahkan baginya dalam menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir. Ia pun akan berada di tempat yang penuh kemuliaan di sisi Sang Raja Yang Mahakuasa.” (Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah At-Thalibin [Beirut: Dar Al-Kutub Ilmiyah], vol. 3, h. 608)
Dengan demikian, penjelasan di atas dapat dipahami sebagai dorongan untuk menjadikan majelis Maulid sebagai ruang untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah. Lantaran, perlindungan dan keselamatan pada hakikatnya tetap berada dalam kekuasaan-Nya.
3. Dikumpulkan bersama golongan orang-orang mulia
Kecintaan terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak hanya diekspresikan melalui bacaan shalawat maupun kisah perjalanan hidup beliau semata. Dalam tradisi Maulid, kecintaan dapat diwujudkan dengan membantu penyelenggaraan majelis Maulid, seperti menyediakan makanan, mengundang para jamaah, serta memberikan pelayanan terbaik bagi mereka yang hadir.
Orang yang mempersiapkan berbagai kebutuhan peringatan Maulid sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kelak akan dikumpulkan bersama golongan mulia bersama para nabi dan orang-orang saleh, serta mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah pada Hari Kiamat.
“Barang siapa menyiapkan makanan untuk keperluan pembacaan Maulid Nabi SAW, mengumpulkan saudara-saudaranya, menyalakan penerangan, mengenakan pakaian baru, menggunakan wewangian, dan berhias sebagai bentuk penghormatan terhadap kelahiran Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Maka Allah akan mengumpulkannya pada Hari Kiamat nanti bersama golongan utama dari para nabi. Serta akan ditempatkan di derajat yang sangat tinggi di surga.” (Abu Bakar bin Syatha Muhammad Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah At-Thalibin [Beirut: Dar Al-Kutub Ilmiyah], vol. 3, h. 608)
Keterangan di atas sekaligus menunjukkan bahwa memuliakan Maulid dapat dilakukan melalui partisipasi nyata. Menyediakan hidangan makanan dan membantu berlangsungnya majelis Maulid bisa bernilai kebaikan tatkala dilandasi niat untuk memuliakan Rasulullah dan berbagi dengan sesama.
4. Masuk surga tanpa hisab
Keutamaan lainnya yang dijelaskan ulama ialah orang yang mengagungkan kelahiran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan menjadi sebab terselenggaranya pembacaan Maulid akan memperoleh anugerah berupa wafat dalam kondisi beriman dan masuk surga tanpa hisab.
“Barang siapa mengagungkan Maulid Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan menjadi sebab terselenggaranya pembacaan Maulid, maka ia tidak akan meninggalkan dunia (wafat) kecuali dalam keadaan beriman. Dan akan masuk surga tanpa melalui hisab.” (Ahmad bin Ali Ibn Hajar Al-Haitami, An-Ni’mah al-Kubra ’ala al-‘Alam fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam [Istanbul: Maktabah Al-Haqiqah], h. 8)
Uraian perihal keutamaan ini selayaknya menjadi pendorong untuk mengisi peringatan Maulid dengan amal-amal yang semakin mendekatkan diri kepada Allah.
Pengagungan terhadap Rasulullah sejatinya tidak hanya diwujudkan secara seremonial belaka, namun juga bisa melalui kesungguhan mengikuti ajaran dan meneladani akhlaknya.
5. Meraih keberkahan dan ampunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Di samping rangkaian dzikir dan shalawat, hidangan makanan juga menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari tradisi Maulid di tengah masyarakat. Hidangan tersebut, selain menjadi jamuan bagi jamaah, juga menjadi bentuk amal sedekah serta bentuk kebersamaan.
Orang yang menikmati hidangan itu disebutkan dapat memperoleh keberkahan dan ampunan Allah. Sementara, orang yang meminum air yang disajikan dalam majelis Maulid digambarkan akan memperoleh cahaya dan limpahan rahmat dalam hatinya, sekaligus dibersihkan dari sifat dengki dan berbagai penyakit batin lainnya.
“Tidaklah seseorang membacakan Maulid Nabi SAW pada garam, gandum, atau makanan lainnya, melainkan keberkahan akan tampak pada makanan itu dan pada setiap sesuatu yang terkena atau tercampur dengannya. Makanan itu tidak akan berhenti bergerak hingga Allah mengampuni orang yang memakannya. Jika Maulid Nabi dibacakan pada air, maka siapa pun yang meminum air tersebut, akan masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat, serta keluar darinya seribu kedengkian dan penyakit hati. Hati itu juga tidak akan mati pada hari ketika hati-hati manusia mengalami kematian.” (Ahmad bin Ali Ibn Hajar Al-Haitami, An-Ni’mah al-Kubra ’ala al-‘Alam fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam [Istanbul: Maktabah Al-Haqiqah], h. 6)
Sebagai catatan, menghadiri majelis Maulid semestinya tidak berhenti pada kehadiran secara fisik atau sekadar mengikuti rangkaian acaranya. Pasalnya, nilai terpenting dari majelis tersebut justru terletak pada tumbuhnya rasa cinta dan penghormatan kepada Rasulullah. Kecintaan itu kemudian diwujudkan dalam meningkatnya ketaatan kepada Allah, memperbanyak amal saleh, serta semakin bersungguh-sungguh meneladani dan menjalankan ajaran Nabi dalam kehidupan sehari-hari.
Demikianlah lima keutamaan menghadiri dan memuliakan peringatan Maulid Nabi sebagaimana dijelaskan dalam berbagai keterangan ulama. Wallahu a‘lam bis shawab.
“Tidaklah seseorang membacakan Maulid Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pada garam, gandum, atau makanan lainnya, melainkan keberkahan akan tampak pada makanan itu dan pada setiap sesuatu yang terkena atau tercampur dengannya. Makanan itu tidak akan berhenti bergerak hingga Allah mengampuni orang yang memakannya. Jika Maulid Nabi dibacakan pada air, maka siapa pun yang meminum air tersebut, akan masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat, serta keluar darinya seribu kedengkian dan penyakit hati. Hati itu juga tidak akan mati pada hari ketika hati-hati manusia mengalami kematian.” (Ahmad bin Ali Ibn Hajar Al-Haitami, An-Ni’mah al-Kubra ’ala al-‘Alam fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam [Istanbul: Maktabah Al-Haqiqah], h. 6)
Sebagai catatan, menghadiri majelis Maulid semestinya tidak berhenti pada kehadiran secara fisik atau sekadar mengikuti rangkaian acaranya. Pasalnya, nilai terpenting dari majelis tersebut justru terletak pada tumbuhnya rasa cinta dan penghormatan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Wallahu a‘lam. (adm)











Discussion about this post