Rahasia Keberhasilan JNE : Dekati Tuhan, Rajin Sedekah, Kejar Predikat Global Company

BERBAGI RAHASIA KEBERHASILAN : Chief Executive PT. Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) Muhammad Feriadi, yang merupakan putra ke-2 pendiri TIKI dan JNE almarhum Soeprapto Soeparno. (foto : istimewa)
Avesiar.com -

JAKARTA

Wawancara Khusus dengan Chief Executive JNE Muhammad Feriadi

Hampir semua orang mengenal JNE. Sebuah jasa pengiriman paket yang sangat populer dengan kemampuannya mendistribusikan paket kiriman para pelanggannya hampir ke seluruh penjuru negeri.

Selama 30 tahun berdirinya hingga 2020 ini, JNE terus mengibarkan sayapnya dengan sukses. Perusahaan ini sukses menjadi salah satu perusahaan jasa pengiriman papan atas karena layanannya.

Namun, setiap kesuksesan tentu ada rahasia atau upaya tertentu dalam mencapainya. Salah satu rahasia keberhasilan JNE menjadi perusahaan yang terus maju ini tergolong unik.

Wartawan senior Ave Rosa A. Djalil mewawancarai secara khusus Chief Executive Officer PT. Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) Muhammad Feriadi, yang juga merupakan salah satu pemilik dari perusahaan dengan tagline “connecting happiness” tersebut di kantornya, bilangan Tomang, Jakarta Barat, baru-baru ini.

Sebagai saudara kandung jasa pengiriman TIKI, yang kini berusia 50 tahun, JNE bisa dikatakan sebagai sebuah perusahaan yang sangat pesat pertumbuhannya dalam meraih pasar. Masyarakat pun sangat akrab dengan JNE karena memiliki begitu banyak outlet yang tersebar. Sehingga memudahkan dalam hal jangkauan, utamanya saat ingin mengirimkan paket-paket yang dibutuhkan agar segera terkirim dan terjamin.

Pria kalem ini begitu bersemangat bercerita tentang perjalanan JNE yang merajut keberhasilan setiap tahunnya. Bagi dia, keberhasilan JNE tidak lepas dari bagaimana almarhum ayahnya, Soeprapto Soeparno, menetapkan prinsip spiritual saat merintis JNE. Menurut dia, JNE sejak awal didirikan, oleh almarhum ayahnya kepada seluruh karyawan dikenalkan dengan salah satu surat dalam Al Quran yaitu surat Al Maun.

“Inilah yang membuat JNE menurut saya sedikit berbeda dengan perusahaan lain. Almarhum ayah saya termasuk salah satu yang sering membawakan surat Al Maun kepada seluruh karyawan. Di saat meeting, di saat diskusi. Kesimpulan dari surat Al Maun yaitu agar kita tidak termasuk orang-orang yang mendustakan agama. Menyayangi anak yatim, menyantuni anak yatim. Sehingga kami masuk dalam golongan yang seperti itu,” paparnya.

Yang kedua, lanjutnya, almarhum ayahnya memperkenalkan juga surat Al Baqarah ayat 261 yang isinya kalau kita berbuat baik itu ibarat menanam sebuah biji, kemudian tumbuh tujuh cabang, lalu dari tiap-tiap cabang itu tumbuh seratus biji. Dan kebaikan-kebaikan ini yang sampai hari ini, menurut dia, JNE tidak boleh meninggalkannya. “Bahasa lainnya, JNE tidak boleh jauh dari Tuhan,” ujar Feri.

Salah satu pertanyaan yang cukup menarik adalah, mengapa Muhammad Feriadi yang saat ini mengelola JNE. “Mungkin saat itu setelah selesai studi saya dan mendapatkan kesempatan untuk berkarir di JNE. Dan jangan lupa bahwa karir saya di JNE seperti sekarang ini saya lalui mulai dari bawah atau dari nol. Saya sama dengan karyawan lain. Harus mengikuti aturan dan prosedur yang berlaku,” ujar anak ke-2 dari enam bersaudara ini.

Itulah yang membuat dia memahami bisnis JNE termasuk berinteraksi dengan teman-teman di JNE. Feri juga mengaku tidak mau sebagai salah satu putra mahkota dari pemilik perusahaan tiba-tiba menduduki posisi puncak. Mengawali karir dari bawha tersebutlah yang membuat pria yang akrab dipanggil Feri ini belajar bisnis lebih baik karena belajar dari teman-teman di JNE yang menjadi mentor dan teman diskusinya.

“Sampai saat ini pun saya tetap berdiskusi dengan teman-teman untuk menjaga kekeluargaan sebagaimana pertama kali perusahaan ini didirikan. Kekeluargaan itu menjadi factor yang sangat penting. Menjadi kekompakan, menjaga keakraban, menjaga silaturrahim. Dan saya rasa itu dahsyat lah,” bebernya bangga.

Bukanlah suatu kebetulan Feri berada di JNE. Kata Feri, semua sudah diatur. Penyuka Rawon ini mengaku bahwa memang dia berada di JNE karena sebagai keluarga pemilik. Namun, lanjutnya, jangan lupa bahwa ada pemilik-pemilik lain (investor, red) di luar keluarganya. Mereka sudah mengatur ini sehingga Feri jadi pemimpin. “Alhamdulillah bisa memimpin JNE dan mencari nafkah di sini untuk keluarga,” akunya.

Lebih lanjut beber penyuka Moge Harley Davidson ini, JNE dibangun oleh orangtuanya adalah bagaimana agar JNE bisa membantu banyak orang. Dalam hal pengiriman, ini menciptakan lapangan pekerjaan. Bahkan dalam hal bisnis, usaha yang dimiliki orang-orang semacam agen adalah usaha yang bisa diwariskan. Di TIKI yang menjadi pendahulu JNE, bahkan usaha keagenan tersebut ada yang sudah dijalankan oleh generasi kedua hingga ketiga orang-orang tersebut.

Feri mengakui bahwa memang dalam hal berbisnis, meneruskan sebuah bisnis keluarga bukanlah hal yang mudah. Kata orang, lanjutnya, meneruskan sebuah bisnis lebih sulit daripada membangunnya. Hal ini karena jenis tantangan berbeda, jaman dengan generasi berbeda, serta informasi dan teknologi (IT) yang berbeda juga.

“Saya yakin apa yang dihadapi oleh pendahulu saya dengan apa yang saya hadapi saat ini tentu sangat jauh berbeda. Nah, yang penting seperti saya bilang tadi. Selama kita tidak jauh dari Allah, maka Allah tidak akan meninggalkan kita. Karena Allah satu-satunya zat yang tidak akan meninggalkan kita selama kita dekat pada-Nya,” tuturnya penuh semangat.

Berbicara mengenai suka duka, Feri mengaku tentu JNE memiliki kisah tersendiri. Namun, yang paling penting bagi dia, bisnis harus dilanjutkan. Meskipun, kata dia, model bisnis pada saat ini jelas berbeda. Cara komunikasi JNE pada pelanggan saat ini lebih banyak menggunakan teknologi seperti aplikasi, internet, whattsapp. Sementara, tambah pria yang mengaku ‘orang biasa’ ini, JNE dibangun oleh pendahulunya lebih banyak pada physical infrastructure.

“Nah, tugas kami sekarang adalah membangun atau melakukan connectivity. Sehingga apa yang dibangun titik-titik ini terkoneksi satu sama lain. Tujuannya apa? Tentu tujuannya adalah, kami dalam aktifitas tidak hanya men-deliver barang, tetapi juga men-deliver informasi. Informasi ini yang sekarang menjadi produk yang dikompetisikan. Dulu kami boleh bangga dengan kecepatan pengantaran barang. Hari ini kecepatan pengantaran barang jika tidak didukung oleh kecepatan informasi, akan menjadi sesuatu yang tidak menarik bagi pelanggan,’ paparnya.

Mengulas mengenai informasi, Feri mengatakan bahwa jaman sekarang adalah era di mana kecepatan informasi sangat dibutuhkan. Era yang penuh dengan disrupsi. Oleh karena itu, lanjutnya, sebagai pemain lain yang tumbuh secara organik, JNE harus melakukan perbaikan-perbaikan. Dari business model dan business process, yang menurut Feri harus diperbaiki lagi agar lebih simpel dan tidak ribet. JNE mengejar efisiensi. Karena Feri yakin bahwa jika prosesnya ribet, maka pelanggan akan enggan bertransaksi dengan JNE.

Menurut Feri, pelanggan sekarang lebih menginginkan kemudahan. Bahkan, dalam waktu-waktu tertentu, pelanggan tidak mau ribet jika harus mengantar paket yang akan mereka kirim. Karena itulah, lanjut Feri, JNE memiliki layanan jemput paket ke pelanggan untuk memberikan kemudahan.

“Apalagi sekarang dengan tipikal anak-anak muda yang katanya “mager” alias malas gerak. Ibaratnya kalau bisa diam di tempat, diam di tempat. Jadi semuanya via aplikasi saja. Makanya sekarang kalau dilihat di JNE banyak anak-anak muda yang kami pekerjakan untuk memahami dunia kekinian,” bebernya kemudian tersenyum.

Dengan memahami apa yang mereka inginkan, kata Feri, tentu JNE bisa tahu apa yang mereka butuhkan. JNE beruntung memperkenalkan perusahaan jasa pengiriman di saat anak-anak muda tersebut dahulu masih sekolah dan kuliah. Dulu JNE banyak memperkenalkan diri ke kalangan anak-anak sekolah dan kuliah. Dan hari ini, tambahnya, jika dilihat mereka sudah bekerja dan punya bisnis menjadi tidak terlalu asing mendengar brand JNE. Begitu seterusnya JNE akan memperkenalkan diri ke generasi selanjutnya.

Ditegaskannya, tantangan lainnya adalah memperkenalkan JNE ke masyarakat sebagai perusahaan yang memiliki nilai-nilai dan budaya. Sehingga anggapan masyarakat JNE tidak hanya sebagai perusahaan yang komersil, namun memiliki visi dan misi memperkenalkan nilai-nilai kebaikan. Feri mengakui bahwa dia mengkampanyekan apa yang JNE bisa berikan ke masyarakat. “Pada rakor (rapat kordinasi, red) akhir tahun kemarin, saya mengatakan kepada seluruh karyawan. Kita harus membalik persepsi. Bukan seberapa banyak keuntungan yang akan kami dapatkan di 2020. Tapi berapa banyak zakat dan sedekah yang bisa kita berikan ke masyarakat,” tegasnya.

Pria yang mengusung konsep spiritual ini menekankan bahwa dia ingin seluruh karyawan JNE memahami agar tidak berpikir komersil dan duniawi. Dia ingin agar mereka memikirkan keberkahan dari usaha tersebut. Kata Feri, jika keuntungan banyak namun tidak berkah tentu tidak bisa membawa kedamaian di hati. Ada perusahaan yang menurut Feri memiliki asset banyak, namun rebut terus di internal mereka. Itulah yang membuat pria kelahiran Jakarta, Februari 1969 ini tidak inginkan terjadi di JNE.

“Hidup ini kan ada dua, kita terima dan kita ikhlas. Tapi bukan pasrah lho ya. Berbeda dengan menerima. Kalau pasrah berarti kita tidak melakukan apa-apa. Kalau terima dan ikhlas artinya kita berjuang terus dan kemudian ikhlas. Kenapa saya bilang JNE tidak boleh jauh dari Allah. Karena JNE harus melihat saat melakukan sesuatu. Apakah ini ada manfaatnya,” tuturnya.

Feri sedikit flashback ke tahun 2019, yaitu 29 tahun JNE. Perusahaan tersebut melakukan apa saja? “Kita lihat pada puncak ulang tahun, saya ingin JNE lebih kelihatan. Jadi banyak hal-hal yang JNE lakukan. Bukan bisnis, tapi kegiatan sosial. Kami membangun 29 MCK, kami membagikan 290 pohon bougenville agar Jakarta ini hijau, kami kemudian bagi-bagi beras ke masyarakat sini. Tolong dicatat juga bahwa kami melakukan ini juga ingin menginspirasi pebisnis-pebisnis lain. Tidak dalam rangka riya atau pamer,” tegas Feri.

Bisa dibayangkan, ujarnya, jika banyak pebisnis memiliki kepedulian yang sama. Tentu WOW efeknya akan sangat kuat. Meskipun kalau JNE lakukan sendiri, menurut dia, juga tidak ada salahnya.

Di lain sisi, masyarakat mungkin melihat saat ini JNE dalam kondisi yang baik. Namun, Feri menyampaikan bahwa mereka juga mengalami masa-masa di mana perusahaan harus struggling (berjuang, red). Ada masa-masa sulit di JNE yang harus dilalui. Misalnya ada ketentuan-ketentuan baru, kebijakan-kebijakan baru. Yang tentu mempengaruhi kebijakan-kebijakan bisnis JNE. Tapi menurutnya, kembali lagi kepada prinsip dasar JNE. Harus kembali kepada Tuhan. Sehingga JNE tetap bisa optimis.

Yang disebut struggling, kata Feri, salah satunya adalah semisal pemerintah menaikkan UMR (upah minimum regional, red), ini berpengaruh. Tentu ini berpengaruh dengan kebijakan JNE yang harus menaikkan juga gaji karyawan. Kebijakan pemerintah memberlakukan program “ganjil-genap” juga mempengaruhi kinerja JNE. Tapi sekali lagi, lanjutnya, tetap harus menerima keadaan tersebut dan berikhtiar mencari solusinya. Termasuk inovasi yang harus terus dilakukan oleh JNE.

Prinsip kedekatan JNE dengan Tuhan juga menjadi dasar mereka membuat tagline “connecting happiness”. Bisnis mereka adalah bisnis amanah. Mengantarkan sesuatu yang bukan punya mereka dan dilakukan oleh ribuan petugas JNE di lapangan. Setiap petugas antar paket JNE harus kuat-kuat iman. Bisa saja mereka berpikiran untuk mengambilnya, apalagi ada asuransinya. Namun bukan karena ada asuransi dan tidak ada yang lihat. Ini semua adalah amanah.

Dalam satu hari saat ini, JNE sudah melakukan pengantaran di atas 1 juta kiriman. Artinya, tuturnya, dalam satu juta kiriman itu isinya bisa bermacam-macam barang. Dan Feri bersyukur bahwa orang-orang JNE bisa menjaga barang-barang pelanggan dengan amanah.

Dari sisi ketenagakerjaan, JNE justru berusaha keras tidak melakukan efesiensi. Di era ayahnya almarhum Soeprapto pada saat krisis moneter 1998, bebernya, justru ayahnya menginstruksikan seluruh JNE untuk membuat kebijakan memberikan beras kepada seluruh karyawan.

“Dan pada waktu itu terjadi banyaknya pengurangan karyawan dari perusahaan-perusahaan lain, justru JNE membuka seluas-luasnya rekrutmen keagenan. Kami menangkap kondisi banyaknya PHK tersebut sebagai opportunity (kesempatan, red). Beras kami bagi dengan harapan keberkahan dan kemitraan kami buka untuk para korban PHK. Karena itulah hingga saat ini JNE memiliki 7000 titik point of sales,” kenang Feri.

JNE juga ingin agar karyawan yang bekerja pada perusahaan tersebut memiliki loyalitas kepada perusahaan dan memiliki kesempatan untuk beribadah lebih baik lagi sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Dan JNE, tambah Feri, memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi karyawan. Sehingga bagi karyawan yang sudah 12 tahun kerja di JNE memiliki kesempatan untuk berangkat ibadah Umroh dibiayai perusahaan. Bagi karyawan yang non-Muslim juga bisa berangkat ibadah ke tempat-tempat yang mereka tuju di luar negeri. Karena Feri percaya, dengan melakukan program tersebut, karyawan akan lebih khusyuk juga dalam bekerja dan menambah kecintaan mereka pada organisasi.

“Sehingga beberapa tahun terakhir, apapun yang terjadi di dunia industri, bisnis kami tetap tumbuh. Seperti lima tahun terakhir ini kami tumbuh 30 persen. Sedangkan di 2020 ini kami percaya masih bisa tumbuh di atas 30 persen. Dan kami percaya dengan perdagangan online atau e-commerce yang tumbuh luar biasa, JNE termasuk yang diuntungkan karena masuk dalam ekosistem tersebut. Jadi ekosismtem pengiriman online ini kan ada platform aplikasi, logistic, dan payment gitu lho. Kalau ini tumbuh, tentunya semua akan terbawa tumbuh,” terangnya.

Feri menambahkan, bahwa mereka tidak ingin bergantung pada bisnis itu saja. Perusahaan mereka juga mencari potensi-potensi bisnis lain. JNE pun membangun jaringan infrastruktur hingga ke daerah-daerah. Karena JNE melihat banyak potensi-potensi bisnis yang ada di daerah-daerah. Indonesia yang besar ini, menurut Feri, tentu disayangkan jika bergantung pada produk-produk Cina saja. Karena produk-produk Indonesia tidak kalah bagusnya. Seharusnya dengan populasi sekitar 265 juta rakyat, Indonesia kuat jika memiliki semangat yang sama untuk menggunakan produk dalam negeri sendiri.

JNE dengan jaringannya yang luas optimis akan dapat membantu jasa pengiriman. Hal ini karena pertumbuhan UKM Indonesia juga baik. Perusahaan tersebut juga sedang membangun sebuah fasilitas yang diyakini Feri menjadi impian bersama. Hal ini agar business process bisa cepat yang berkaitan dengan waktu dan menjaga akurasi dengan speed yang bertambah. Mereka sedang membangun sebuah fasilitas yang disebut sebagai Megahub. Sehingga kecepatan untuk proses sortasi, mengirim dan menerima kiriman bisa naik. Fasilitas tersebut sedang dibangun di daerah Cengkareng oleh JNE sebagai wujud inovasi.

“Proses yang dilakukan dengan cara manual kemungkinan error-nya selalu ada. Dengan menggunakan mesin mudah-mudahan hal ini bisa kami minimize. Adanya fasilitas ini tentu menjadi salah satu mimpi JNE di 2020. Kami membeli satu lahan yang kami pasang mesin dan dirikan kantor dengan investasi sekitar 500 miliar. Nantinya akan ada sebuah conveyor belt besar yang akan berjalan sendiri dan memilah-milah ke mana kiriman akan dikirim. Ini yang kami nanti-nantikan dan semoga lancar sehingga di semester ke-2 tahun ini bisa beroperasi,” katanya penuh harap.

Sedangkan jika dilihat dari keberhasilan yang ada. Kesuksesan yang terus-menerus menerpa JNE menurut Feri akan semakin membuat mereka lebih bersyukur. Artinya, lanjut dia, jika revenue perusahaan naik, maka tentu sedekah perusahaan juga akan naik.

Menatap masa depan, pria yang sangat akrab dengan para karyawannya ini mengatakan bahwa JNE masih punya mimpi lain. Yaitu menjadi “Tuan Rumah” di negeri sendiri. Dia mengatakan, ingin agar setiap orang punya pengalaman dengan JNE dengan cara pernah menggunakan layanan mereka. Dapat dikatakan menjadi aset bangsa. Lainnya, beber Feri, mempekerjakan banyak orang, membuka membuka lapangan pekerjaan, berkontribusi terhadap pemerintah melalui retribusi pajak dan lain-lain.

“Saya tidak ingin bicara tentang komersil. Tapi bagaimana JNE punya nilai-nilai budaya, JNE punya kebiasaan menyantuni, memberi, berbagi. Gitu lho. Ini unik. Rata-rata perusahaan dapat uang untuk investasi dan untuk macam-macam. Tapi kami punya keuntungan, yang kami pikirkan bagaimana untuk berbagi,” jelasnya.

Mimpi lainnya, tambahnya, JNE punya 5 years plan di mana di 2021 ingin menjadi Global Company dan A Billion Dollar Company di tahun ini. Cara untuk menuju A Billion Dollar Company syaratnya adalah memperbaiki internal, seperti infrastruktur. karena dengan 7000 lokasi yang ada tentu belum mampu meng-cover 17.000 pulau serta membantu 265 juta penduduk Indonesia. Hal tersebut yang menurut pemimpin puncak JNE ini terus dikembangkan, baik secara system, teknologi, dan man power yang harus baik.

“Ukuran untuk mencapai A Billion Dollar Company jika merefleksi perjuangan di tahun yang lalu adalah, kami melihat masih ada pertumbuhan di perusahaan. Masih bisa berkembang. Masih punya kesempatan untuk mengeksplor lebih banyak lagi potensi bisnis yang ada itu masih sangat besar. Nah, apa yang kami perlukan? Kami perlu bahu-membahu dengan semua mitra kami. JNE itu juga punya mitra. Konter-konter yang ada itu bukan semuanya milik JNE. Karena itu mereka harus mengerti target JNE untuk menjadi A Billion Dollar Company tahun ini. Kami mengkomunikasi hal tersebut kepada mitra melalui kepala cabang apa saja yang diperlukan untuk mencapai itu,” ujar Feri blak-blakan.

Dengan teritori yang luas dan SDM terbatas, ujarnya, otomatis JNE terus mengawasi melalui orang-orangnya yang ada di setiap cabang dalam rangka pelaksanaan apa yang menjadi harapan perusahaan kepada konter-konter yang tersebar. Perkembangan di setiap daerah juga dimonitor agar bisa mencapai target yang diharapkan. Cara tersebut yang menurut Feri membuat JNE bisa over target di 2019.

Sedangkan untuk banyak daerah yang masih belum bisa terlayani dengan cepat, atau masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengirimkan serta menerima paket-paket tertentu ke dan dari wilayah lain di Indonesia, Feri mengaku masih terus mengoptimalkan untuk lebih baik. Dan diakuinya, JNE juga harus realistis karena tidak memiliki beberapa fasilitas yang hanya bisa diwujudkan dengan campur tangan pemerintah. Misalnya dari sisi infrastruktur dan lainnya. Menurut dia, pemerintah sudah membuat, hal ini harus bisa dimanfaatkan oleh para pebisnis.

Ditanya mengenai cita-cita lainnya dalam bidang usaha lain selain jasa pengiriman, Feri mengaku JNE masih fokus pada bisnis utama mereka yaitu jasa pengiriman. Hanya saja, jasa pengiriman tersebut terus diperluas untuk menjangkau pengiriman dari dan ke luar negeri bekerjasama dengan para seller di luar negeri yang ingin menjual produk-produk mereka di Indonesia. Para seller tersebut, lanjutnya, dapat menghubungi mitra-mitra JNE yang ditunjuk di negara-negara tertentu.

Di akhir perbincangan, dengan berbagai program dan target kerja yang dirumuskan, Feri yakin JNE akan terus menjadi lebih baik. “Dengan total jumlah karyawan organik sebanyak 19 hingga 20 ribu orang, serta total jumlah karyawan termasuk mitra sebanyak sekitar 45 hingga 50 ribu orang, 56 cabang milik JNE sendiri, dan mitra sekitar 7000 konter, JNE akan terus tumbuh bersama masyarakat untuk dapat terus memberikan manfaat dan sumbangsih pada bangsa,” ujar pria yang juga hobi berenang ini penuh keyakinan. (Ave Rosa A. Djalil)