Di masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, hari raya Idul Fitri dirayakan keluarga dan para sahabat. Mereka semua merayakan hari kemenangan tersebut dengan cara mereka masing-masing. Namun, semuanya diawali dengan salat Idul Fitri di pagi hari.
Ada kisah tentang putra dan putri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjalani hari raya Idul Fitri. Kisah ini merupakan kisah dari Fatimah, putri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Di suatu sore, Ali bin Abi Thalib, suami Fatimah, pulang dari Masjid dengan wajah sedih. Dia memasuki rumah kecilnya dengan raut yang murung. Hal tersebut pun disadari oleh istrinya.
Fatimah pun bertanya, “Sebentar lagi kita akan menyambut hari raya. Kenapa kamu berwajah murung, wahai suamiku?”
“Hampir sebulan kita berpuasa menahan lapar dan haus. Segala puji syukur selalu kita haturkan karena Allah masih memberi kita kenikmatan rezeki,” jawab Ali.
Fatimah mendengarkan dengan seksama. Lalu curhatan Ali tersebut berbuntut dengan sebuah gagasan di mana seluruh simpanan pangannya harus disedekahkan untuk fakir miskin. Fatimah yang mendengarkan ide dari suaminya pun terdiam. Tidak bisa berkata-kata karena kebesaran hati sang suami.
“Wahai suamiku, jika itu yang kau inginkan maka tidak apa apa,” Jawab Fatimah.
Sore hari menjelang malam takbiran. Ali, Fatimah beserta kedua anaknya Hasan dan Husein sibuk mendorong-dorong gerobak berisi beberapa karung gandum dan kurma hasil kebunnya. Mereka berkeliling perkampungan untuk membagikan makanan tersebut kepada fakir dan Yatim piatu. Mereka berkeliling hingga larut malam, sembari melantunkan takbir untuk menyambut idul fitri esok harinya.
Esok harinya, saat hari raya Idul Fitri telah tiba, kediaman mereka disambangi oleh dua karib Ali bin Abi Thalib. Mereka adalah sahabat yang sering berjuang bersama bahkan dalam peperangan. Kedua sahabat Ali bin Abi Thalib itu adalah Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali.
Betapa terkejutnya mereka berdua saat mendatangi kediaman Ali. Mereka mendapati Ali dan sekeluarga tengah mengkonsumsi gandum dan roti kering yang sudah basi. Mereka mengetahuinya dari bau menyengat yang mereka cium. Kedua sahabat itu pun terdiam.
Kendati dalam kondisi menyedihkan, Ali dan keluarganya tetap menyambut hangat kedatangan dua sahabat tersebut.
Kedua sahabat tersebut singgah hanya sebentar karena mereka merasa tak kuat melihat pemandangan itu. Di sepanjang jalan, Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali merasa sedih karena melihat keadaan keluarga Ali yang merayakan hari raya dengan kondisi seperti itu. Hari raya harusnya diisi dengan suka cita. Namun melihat pemandangan keluarga Ali yang menyedihkan, entah kenapa membuat dada mereka sakit.
Namun Abu Al Aswad Ad Du’ali nampaknya memilik pemikiran yang lebih jauh. Dia menyadari bahwa Hasan dan Husein, cucu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, juga ikut mengkonsumsi makanan basi bersama orang tuanya. Itulah kenapa Abu Al Aswad Ad Du’ali mengadu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
“Ya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, putra baginda, putri baginda dan cucu baginda….” ujar Ad Du’ali terbata-bata.
“Tenangkan dirimu, ada apa wahai sahabatku?” tanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menenangkan.
“Segeralah ke rumah menantu dan putri baginda, ya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Saya khawatir cucu baginda Hasan dan Husein akan sakit.” lapor Ad Du’ali kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
“Ada apa dengan cucuku dan keluargaku?” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kembali bertanya.
“Saya tak kuat menceritakan itu sekarang, lebih baik baginda menengoknya sendiri.”
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun bersegera untuk melihat kediaman Ali. Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam mencoba memastikan keadaan Fatimah dan Hasan juga Husein.
Berbeda dari yang dikatakan oleh Ad Du’ali, yang dilihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah riuh kebahagiaan yang terpancar dari keluarga tersebut.
Ali dan Fatimah tengah berbincang bahagia sembari menyiapkan kurma yang segar dan layak dikonsumsi untuk tamu. Namun, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam nampaknya menyadari bau menyengat dari sisa-sisa gandum dan roti kering basi. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang menyadari apa yang terjadi pun akhirnya menangis haru.
Idul Fitri seharusnya menjadi hari yang penuh suka cita. Normalnya orang bersuka cita dalam balutan baju baru dan hidangan istimewa. Namun, Ali dan Fatimah memilih makan makanan yang sudah basi karena ingin menyedekahkan persediaan mereka untuk fakir dan yatim piatu. Bahkan setelahnya, mereka masih mampu memuliakan tamu yang datang kepada mereka dengan kurma yang layak dimakan.
Ali dan keluarganya mengajarkan betapa mudah memaknai Idul Fitri, yakni dengan niat yang ikhlas dan bersyukur. Demikianlah cara putra dan putri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam menjalani Hari Raya Idul Fitri. (ave/dikutip dari islampos)













Discussion about this post