Avesiar – Sidoarjo
Oleh: Amri Husniati, Emak-emak Pemburu Tiket Murah
(Ditulis dengan gaya Jawa Timuran)
Ke Korsel kok Jeju yang dipilih. Bukan Seoul, Busan, atau Incheon?
Jadi begini gaes. Kalau ke Pulau Jeju, kita gak perlu ngurus visa. Termasuk orang Indonesia. Bebas. Kalau mau ke kota-kota lainnya, kudu kulonuwun alias dapat izin masuk dulu. Nah, ini jelas menekan biaya kan.
Penerbangan dari Surabaya cukup transit sekali saja di Kuala Lumpur.
Pertimbangan lainnya, Jeju itu memang daerah turisme. Punya Gunung Hallasan diselimuti salju (yang di Surabaya adanya salju buatan saja di wahana permainan hahaha), pantai indah yang kita bisa lihat Haenyeo (ibu-ibu nelayan penyelam yang hebat).
Punya hamparan perkebunan juga. Ya kebun teh O’Sulloc, kebun jeruk Hagyul. Destinasi kekinian juga ada, semacam museum K-Pop, Museum sex…wow… , Museum Teh, Museum Gelas. Pengen menyusuri gua ada Manjanggul. Paket komplet lah.
Transportasi antar tempat wisata itu terintegrasi. Bahkan untuk ke destinasi ke gunung sekalipun ada. Semua tersedia dengan jadwal yang on time. Nah, nyaman dan aman untuk kantong kan…
Dilayani bus yang bersih dan nyaman, ber-AC, dilengkapi WiFi, sopir yang ramah. Dan tak kalah penting, tiket bus itu murah meriah. Sekali naik untuk jarak dekat, seingat saya bayar KRW 1.150 (sekitar Rp 14 ribu). Itu tarif dewasa. Kalau remaja dan anak-anak lebih murah lagi.

Bus kotanya ada dua macam. Warna biru dan merah. Itu sekaligus menunjukkan “kasta”. Yang merah bus biasa, yang biru eksekutif. Tarifnya jelas beda. Tapi menurut saya sama-sama nyaman. Setiap hari, bus dimandiin di terminal antar kota ini. Biar harum.
Begitu menginjakkan kaki di bandara Jeju, kami langsung beli smartcard di minimarket. Sebutannya TMoney. Kartu ini berlaku untuk semua jenis transportasi umum. Bus maupun taksi. Jangan tanya kereta api atau subway ya… Di Jeju gak ada jalurnya.
Gak perlu takut tersesat mbolang di sana. Ada aplikasi khusus yang bisa kita download selama di Jeju. Yaitu Nevermap. Cukup pakai bahasa tarzan sama pak sopir bus atau sopir taksi. Atau sodorkan saja Nevermap ini. Di situ kita ketik tujuan kita.
Kok bahasa tarzan? Yes. Meski daerah wisata, tak berarti semua warga Jeju cakap berbahasa Inggris. Don’t worry… Mereka tetap ramah. Helpful juga. Kalau kita nanya pakai bahasa Inggris, dia akan ambil HP-nya untuk di-translate. Atau, minta bantuan ke sesama warga lokal yang ngerti casciscus.
(Bersambung)













Discussion about this post