Avesiar – Jakarta
Siapa yang tidak mengenal legenda Abu Nawas. Memiliki nama lengkap Abu Nawas Al Hasan Bin Hani, penyair legendaris Al Abbasiyah (145 H – 199 H) hidup sezaman dengan Imam Syafi’i RA ( 150 H – 204 H ). Raja Abbasiyah yang berkuasa saat itu ialah Harun Ar Rasyid dan permaisurinya Zubaidah.
Abu Nawas dikenal penyair pemuja minuman keras, mulhid tak bertuhan, penggemar musik lagu seronok. Ia penggoda wanita terutama si Jinan budak yang sangat cantik milik tuan Abdul Wahhab.
Dikejar-kejarnya si Jinan ini ke Makkah saat berhaji dan ia Abu Nawas tidak berniat haji, tapi di sana ia tak bisa berjumpa dengannya, karena Jinan sangat tekun menjalani manasik hajinya. Diperjalanan pulang dari Mekkah bersama rombongan Jinan ke Baghdad, digubahlah beratus syair memuja Jinan sampai mengubah gaya bahasa syair Arab, menjadi lebih bebas, menjadi rujukan gaya sastra, terutama syair Arab pada zamannya.
Tetapi berkat hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, pada akhir hayatnya menjadi orang yang bertaubat.
Imam Syafii RA dan jemaahnya semula enggan untuk mensholati jenazah Abu Nawas mengingat kehidupan yang telah dilaluinya.
Tetapi begitu Imam Syafii RA dan rombongannya, membaca syair yang ditulis Abu Nawas di pakaiannya, mereka pada menangis tersedu-sedu dan rela menshalati jenazahnya.
Bunyi syair itu demikian :
ميا رب ان عظمت ذنوبى كثرة # فلقد علمت فان عفوك اعظ
YA RABBI IN ‘ADZUMAT DZUNUUBIY KASTRATAN # FALAQOD ‘ALIMTU FA INNA ‘AFWAKA A’DZAMU
Yaa Rabbi, dosa-dosaku sudah sangat besar dan banyak sekali # Sementara hamba juga tahu bahwa ampunan-Mu jauh lebih besar.
مران كان لا يرجوك الا محسن # فبمن يلوذ ، ويستجير المج
IN KAANA LAA YARJUUKA ILLAA MUHSINUN # FA BI MAN YALUUDZU , WA YASTAJIIRUL MUJRIMU
Jika hanya orang yang berbuat baik saja yang Engkau terima # Lalu kepada siapa para pelanggar dosa berserah diri dan mohon pertolongan.
م ذا يرح فمن يدى دت ادعوك رب كما امرت تضرعا # ،فاذا رد
AD’UUKA RABBI KAMAA UMIRTA TADLORRU’AN # FA IDZA RADADTA YADIY FA MAN DZA YARHAMU
Hamba memohon kepada-Mu Ya Rabb sebagaimana yang Engkau perintahkan yaitu dengan merendahkan diri # Kemudian kalau Engkau menolak tangan hamba, lalu siapa lagi yang mengkasih sayangi hamba.
مما لى اليك و سيلة الا الرجا # و جميل عفوك ثم انى مسل
MAA LIY ILAIKA WASIILATUN ILLA AR RAJA # WA JAMIILU ‘AFWIKA TSUMMA ANNIY MUSLIMUN.
Tiada ada tujuan lain lagi bagi hamba ini pada-Mu kecuali pengharapan # dan ampunan-Mu yang indah itu, kemudian hamba ini datang pada-Mu sebagai seorang yang betul – betul Muslim.
Penulis sdr Dawud As Salman menilai bahwa Abu Nawas akhir hayatnya adalah seorang sufi.
Kalau tasawwuf itu (Tasawwuf Modern – istlah Buya Hamka) yaitu zuhud, qona’ah, ridha, jujur , menunaikan janji, tekun bekerja, minta diawasi Allah, mencintai manusia sesama hamba yang hanya dapat pahala kalau taat, cinta ilmu tak rakus dunia dan amar makruf Nahi Mungkar dan bertaubat.
Menurut Al Faraby, orang seperti Abu Nawas itu bukan orang Jahil dan lengah.
Ia menyadari bahwa Allah itu adalah Dzat yang Wajibul Wujuud. Allah mencipta makhluk-Nya bukan untuk disiksa dan dimasukkan neraka. Ia menghendaki agar makhluknya mendapatkan kebaikan dan barokah. Itulah sebabnya kasih sayang-Nya mengalahkan marah-Nya.
M Sun’an Miskan, Ketua PWM DKI Jakarta
Wallahua’lam.
(dwi/dikutip dari Suara Muhammadiyah/edited)











Discussion about this post