Avesiar – Depok
Membuka usaha kuliner memang menjadi alternatif paling disukai banyak orang saat memulai usaha. Namun, pada kenyataannya, usaha di bidang kuliner tidak semudah dibayangkan di awal rencana.
Jika produk tersebut diproduksi atau dibuat sendiri, maka dibutuhkan passion dalam hal memasak alias pengolahan. Karena rasa menjadi ukuran untuk laku atau tidaknya produk. Setelah itu, masih harus berjibaku dengan pemasarannya. Inilah kegigihan yang harus dilalui oleh wirausahawan di bidang kuliner, utamanya yang memiliki brand sendiri.

Seperti yang dilakukan Ertha Violeta, wanita berdomilisi di kawasan Sawangan, Depok, Jawa Barat ini. Kesukaannya di bidang memasak serta mengulik resep, memotivasi dia untuk berani memulai usaha kuliner. Dia mengaku, usaha pertamanya dimulai dengan menerima pesanan nasi kotak untuk acara syukuran teman.
“Awalnya dapat pesanan nasi kotak untuk acara syukuran teman. Karena saya posting di sosial media soal pesanan itu, kemudian ada beberapa teman lain yang tertarik. Suka dukanya alhamdulillah bisa menyalurkan hobby menjadi uang. Dukanya sering begadang untuk membuat pesanan tersebut,” kenang kelahiran Jakarta, Maret 1990 itu kemudian terkekeh.

Gayung bersambut, suaminya pun mendukung usahanya tersebut. Kemudian Ertha berinisiatif memberi nama usaha rumahnya tangga tersebut Dapur Medok Ertha untuk jenis masakan dan D’nish cake untuk aneka cake, kue, dan roti yang dibuatnya pada 2013.
Meskipun dihadang oleh lesunya daya beli saat pandemi yang terjadi, Ertha mengakui usahanya masih terus berjalan meskipun tidak seramai sebelumnya. Omsetnya pun masih lumayan bagi Ertha dan keluarga.

Yang paling dominan masih lumayan dalam hal pesanan adalah pesanan cake dan kue D’nish Cake. Dia mengatakan masih melayani pesanan catering untuk sekolah Azzahra di kawasan Pondok Petir, Depok, serta Dinas Kesehatan Tangerang Selatan dan kantor Wali Kota Tangsel.
“Semua pasti terdampak saat pandemi. Namun, alhamdulillah masih berjalan meskipun tidak seramai sebelumnya,” beber Ertha.

Sebenarnya, kata Ertha, secara keseluruhan masakan dan kue buatan D’nish Cake dan Dapur Medok Ertha hampir sama dengan yang lainnya. Perbedaannya adalah, Ertha fokus di jenis masakan dan packaging yang dibuat unik dengan kemasan tradisional.
Menurut Ertha, D’nish Cake dan Dapur Medok Ertha memiliki perbedaan produk. Kue-kue yang mereka jual seperti kue ulang tahun/anniversari puding, brownies, roti, kue tradisional, pie buah, bolu gulung, dll. Tersedia banyak varian dari rasa, ukuran, topping, dan jenis. Untuk ukurannya dari 18, 20, 22, 24, dan 30 cm.

“Topping-nya pun bervariasi dari full coklat dan buah. Rasa juga bisa disesuaikan dengan kemauan seperti vanila, coklat, caramel, dan lainnya,” ujarnya.
Untuk kisaran harga makanan yang dijual, Ibu satu anak ini memberi contoh beberapa daftar produk dengan harga yang variatif. Misalnya, Cake ulang tahun mulai dari harga Rp 150.000 sampai Rp 350.000 (sesuai ukuran), lalu puding mulai Rp 100.000 hingga Rp 200.000, roti Rp 6000 – Rp 9000 per piece, nasi box mulai Rp 20.000 sampai Rp 35.000, Rendang Rp 245.000 per kilogram, dan tumpeng lengkap mulai Rp 400.000 hingga Rp 700.000.
Ertha mengaku bahwa usaha tersebut dahulu masih menjadi usaha sampingan keluarga. Namun saat ini dari sisi omset, lanjut istri dari Achmad ini, malah menjadi lebih besar dibanding gaji yang didapatkan suaminya.

Bagi Ertha dan suaminya, bisnis makanan salah satu bisnis terdampak kecil dibanding bisnis lainnya karena masih menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Sejak pandemi, tambahnya, banyak dari warga sekitar komplek yang minta dibuatkan pesanan harian mereka karena terbatasnya mobilitas mereka untuk mencari bahan baku makanan.
“Kami memberikan solusi ke mereka untuk bisa makan enak walaupun ada keterbatasan. Yaitu memesan di D’nish Cake dan Dapur Medok Ertha,” ungkapnya.

Untuk omset harian, Ertha mengakui naik turun berdasarkan pesanan. Rata-rata per hari omset mereka di lebih dari Rp 500.000. “Hasil ini harusnya bisa lebih baik ke depannya. Inovasi dan harga murah Insya Allah bisa meningkatkan omset dan mudah mudahan bisnis ini maju pesat. Aamiinn,” harapnya.
D’nish Cake dan dapur Medok Ertha memang belum membuka toko offline. Sementara, Ertha dan suami masih menjadikan sosial media sebagai cara yang ampuh untuk mempublikasikan produk mereka melalui status WA, story instagram, serta jualan di market share seperti Tokopedia, Grab, dan Go Food. Ertha berpromosi dengan nama D’nish Cake dan dapurmedokertha. (ard)











Discussion about this post