Avesiar – Jakarta
Dakwah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sering diwarnai dengan ujian berat. Hal itu termasuk pengkhianatan yang dilakukan oleh kaum kafir yang membunuh para sahabat mulia yang merupakan para penghafal Al Qur’an.
Suatu ketika, sebanyak 70 orang sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam terbunuh oleh para pengkhianat. Karena hafal Al Qur’an, para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam itu digelari Jama’ah Qurra’. Sebagian besar dari mereka berasal dari kaum Anshar.
Peristiwa itu disebut tragedi Bir Ma’una.
Para sahabat yang merupakan ulama pada masa itu sangat disayangi oleh baginda Shallallahu Alaihi Wasallam. Mereka senantiasa menghabiskan malam hari dengan berzikir dan membaca Al Qur’an di masjid. Pada siang hari, banyak di antaranya yang menghadiri majelis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Kedudukan mereka sangat istimewa karena penguasaan atas ilmu agama yang jauh dibandingkan sahabat-sahabat lainnya.
Para sahabat istimewa tersebut bahkan sampai tidak dibolehkan ikut perang. Hal itu Ini semata-mata agar mereka mendalami ilmu agama seperti diajarkan Rasulullah secara langsung sehingga bisa menyebarkan Islam.
Intinya, mereka adalah kader terbaik Rasulullah. Para sahabat itu sudah mencapai derajat qurra’, yang tidak hanya hafal Al Qur’an, melainkan juga paham hukum-hukum syariat dan berpengetahuan luas.
Pengkhianatan kaum kafir itu bermula ketika datang seorang laki-laki bernama Amir bin Malik yang berasal dari Bani Amir, sebuah kabilah di Nejed. Kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, dia meminta agar beliau mengirimkan Jama’ah Qurra’ itu kepada kabilahnya.
Para sahabat yang hafizh itu dimintanya untuk mengajarkan Islam dan Al Qur’an kepada kaumnya.
Pada awalnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam merasa ada yang mencurigakan. Beliau khawatir bila nantinya akan terjadi sesuatu yang buruk atas para sahabatnya tersebut.
Namun, Amir bin Malik terus membujuk Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Dia bahkan memberikan jaminan atas keselamatan mereka dengan dirinya sendiri. Akhirnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengizinkan. Beliau mengirimkan ketujuhpuluh orang sahabatnya itu kepada kabilah Bani Amir.
Di samping itu, beliau juga menitipkan kepada mereka sepucuk surat. Isinya, ajakan untuk memeluk Islam kepada segenap pimpinan kabilah tersebut. Pemuka kabilah sasaran dakwah ini bernama Amir bin Tufail.
Salah seorang sahabat yang bernama Haram pergi ke perkampungan Bani Amir. Tujuannya, menemui pimpinan kabilah sekaligus menyampaikan surat dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tadi.
Namun, pimpinan kabilah tersebut, Amir bin Tufail, ternyata amat membenci Islam. Dia menampik surat dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam itu, bahkan sebelum membacanya.
Tanpa banyak bicara, keponakan Amir bin Malik itu langsung melemparkan tombak ke tubuh Haram, sehingga sang sahabat ini gugur seketika. Menjelang ajalnya, Haram masih sempat berseru: “Demi Tuhannya Ka’bah, aku telah mencapai kejayaan!”
Amir bin Tufail tidak mengindahkan jaminan yang telah diberikan Amir bin Malik atas segenap Jama’ah Qurra’ it. Tidak peduli pula pada kebiasaan di Jazirah Arab, yakni tidak boleh membunuh duta dari kabilah luar.
Para sahabat itu kemudian berangkat melaksanakan perintah Rasulullah mengajarkan Islam kepada kaum, yaitu Bani Sulaim. Peristiwa kelam terjadi ketika mereka sampai di sumur Ma’unah
Di dekat sumur itu, mereka dibantai secara kejam oleh Bani Sulaim.
Mereka membunuh semua sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang ada di sana, kecuali satu orang yang tersisa, Ka’ab bin Zaid. Pria ini dikira telah meninggal, padahal masih bernyawa meski luka-luka.
Kabar pembantaian ini pun sampai ke telinga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Beliau sangat sedih dan marah atas kebiadaban Amir bin Tufail dan sekutu.
Sejak saat itu, dalam tiap shalat lima waktu berjemaah, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam membacakan doa qunut nazilah atau qunut petaka saat memimpin shalat.
Selama sebulan penuh, Rasulullah marah dan mengucapkan laknat kepada para pelaku pembantaian. Peristiwa itulah yang menjadi dasar disyariatkannya Qunut Nazilah.
Doa ini dibaca Rasulullah setiap kali sholat wajib berjemaah selama sebulan penuh. Berarti dalam sehari, doa ini diucapkan sebanyak lima kali dan diamini oleh para sahabat.
Bahkan, lafal doa yang diucapkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sangat mengerikan. Seperti tertuang dalam hadis riwayat Bukhari yang artinya,
”Ya Allah, keraskanlah siksa-Mu atas (kaum) Mudhar. Ya Allah, jadikanlah atas mereka musim kemarau seperti musim kemarau (yang terjadi pada zaman) Yusuf.”
Dalam riwayat lain, Rasulullah sampai menyebut nama-nama pelaku pembantaian 70 sahabat itu dalam doanya.
”Ya Allah, laknatlah si fulan, si fulan, dan si fulan.”
Jarang kita mendengar doa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang kalimatnya sangat menyeramkan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam biasanya mendoakan agar musuh-musuh atau orang yang membencinya mendapat hidayat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tetapi kasus ini memang agak lain.
Perasaan duka mendalam serta amarah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika itu boleh jadi sudah sampai puncaknya.
Bagaimana tidak, atas kejadian itu maka kemudian baginda Shallallahu Alaihi Wasallam melakukan qunut nazilah, yang intinya mendoakan kehancuran, keburukan dan juga memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menghujani kaum itu dengan laknat dan kutukan. Doa qunut nazilah ini dilakukan secara berjamaah, diamini oleh seluruh shahabat yang ikut shalat di masjid Nabawi.
Sebagian riwayat menyebut bahwa Amir bin Thufail hanya terluka setelah ditikam dengan tombak oleh Rabiah. Amir kemudian menuju Madinah untuk membunuh Nabi Muhammad.
Mengetahui hal itu, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam berdoa agar Amir bin Thufail dibalas atas perbuatannya. Di tengah perjalanan, Amir singgah di rumah seorang perempuan yang terkena penyakit. Amir tertular dan meninggal di tengah padang pasir.
Wallahua’lam.
(dwi/dari berbagai sumber)













Discussion about this post