Avesiar – Jakarta
Keteladan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam memimpin adalah contoh yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir.
Dilansir laman resmi Muhammadiyah, dalam khutbah Jumat bertema “Keteladanan Rasulullah SAW dalam Kepemimpinan” di Masjid KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Jumat (31/10/2025), ia menguraikan tiga hadis autentik untuk menginspirasi umat dalam menumbuhkan cinta kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sekaligus meneladani sifat kepemimpinannya yang rendah hati, inklusif, dan penuh kasih sayang.
Rofiq membuka khutbah dengan kisah Perang Badar pada tahun kedua Hijriah, ketika umat Islam menghadapi kondisi ekonomi dan politik yang sangat sulit. Sebanyak 313 sahabat berangkat dari Madinah menuju Badar, sekitar 150 kilometer, jarak yang setara perjalanan Yogyakarta–Purwokerto, dengan hanya membawa 70 ekor unta. Satu unta digunakan bergantian oleh tiga orang.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berbagi unta dengan Abu Lubabah dan menantunya, Ali bin Abi Thalib RA. Ketika tiba giliran beliau berjalan kaki, kedua sahabat itu menawarkan agar Rasulullah tetap menaiki unta. Namun beliau menolak dengan sabdanya:
“Mā antumā bi aqwā minnī wa lā anā bi aghna ‘ani al-ajri minkumā.” “Kalian tidak lebih kuat dari aku, dan aku tidak lebih butuh pahala daripada kalian.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad)
“Dari kisah ini kita belajar tiga hal,” ujar Rofiq. “Pertama, Rasulullah menolak perlakuan istimewa meski beliau pemimpin tertinggi. Kedua, beliau memiliki kekuatan fisik dan mental luar biasa, bukan untuk sombong, melainkan untuk menegaskan bahwa pemimpin sejati turut merasakan kesulitan yang dihadapi pengikutnya. Ketiga, setiap kerja keras harus diiringi niat untuk meraih ridha Allah,” lanjutnya.
Hadis kedua, imbuhnya, diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah dalam Sunan at-Tirmidzīdan Ṣaḥīḥ Ibn Ḥibbān. Jabir mengisahkan bahwa ia duduk bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam lebih dari seratus kali. Para sahabat kala itu bernostalgia tentang masa Jahiliah sambil melantunkan syair, sementara Rasulullah hanya mendengarkan dan sesekali tersenyum (tabassama).
“Rasulullah adalah pendengar ulung,” tegas Rofiq. “Beliau tidak mendominasi forum dan bahkan tidak suka disambut berdiri agar tidak diperlakukan istimewa.”
Sifat bassām (banyak tersenyum) yang melekat pada Rasulullah menjadi teladan bagi setiap pemimpin bahwa senyum adalah ibadah sederhana yang membawa pahala besar. “Pemimpin, dai, ustaz, atau dosen tidak harus selalu serius. Kadang, berbaur santai justru lebih efektif mendekatkan hati,” tambahnya.
Hadis ketiga diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA. Ia menggambarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai pribadi yang suka bercanda (mazāḥ), namun selalu dengan adab tinggi: tidak merendahkan, tidak berbohong, dan tidak menyakiti.
Guyonan beliau digunakan untuk menyederhanakan konsep yang rumit, meredakan ketegangan, mengangkat martabat orang terpinggirkan, atau menciptakan keakraban.
Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memanggil Anas dengan panggilan akrab, “Yā Udhunaym” (wahai yang berkuping dua), dan menanyakan kabar burung piaraan adik Anas, Abu Umair, dengan kalimat:
“Yā Abā Umair, mā fa‘ala an-nughair?” “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan burung kecil itu?”
“Setiap sahabat merasa spesial di mata Rasulullah,” jelas Rofiq. “Ini menunjukkan perhatian luar biasa seorang pemimpin, terutama kepada anak muda sebagai kader masa depan,” bebernya. (adm)











Discussion about this post