KAMU KUAT – Jakarta
Menjadi bagian dari sebuah organisasi bukan hanya tentang menambah kesibukan atau sekadar mengisi waktu luang. Lebih dari itu, organisasi adalah tempat di mana seseorang bisa belajar banyak hal, mulai dari kepemimpinan, kerja sama tim, hingga manajemen waktu.
Dalam organisasi, kita bertemu dengan berbagai karakter, menghadapi tantangan baru, dan belajar bagaimana menyelesaikan masalah secara efektif. Bagi sebagian orang, organisasi bahkan menjadi titik awal mereka menemukan passion dan membentuk karakter yang lebih percaya diri serta bertanggung jawab.
Aktif berorganisasi juga memberikan banyak manfaat untuk masa depan, baik dalam dunia akademik maupun profesional. Banyak pemimpin besar dan orang sukses yang memulai perjalanan mereka dari organisasi. Sebab, di dalamnya terdapat pelajaran tentang kepemimpinan, komunikasi, dan adaptasi yang tidak selalu bisa didapatkan di dalam kelas. Lalu, mengapa masih banyak orang yang ragu untuk bergabung?
Mungkin karena takut gagal, tidak percaya diri, atau merasa tidak memiliki cukup waktu. Padahal, justru dari organisasi, kita bisa belajar bagaimana menghadapi ketakutan tersebut dan mengubahnya menjadi kekuatan. Berikut beberapa pengalaman dari para remaja kepada kanal anak muda KAMU KUAT! avesiar.com
Adyo Benedicto, mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Indonesia

Adyo memulai perjalanannya di OSIS saat kelas 1 SMP. Sejak itu, ia terus aktif berorganisasi dan menemukan bahwa hal paling menarik dari menjadi organisatoris adalah bertemu dengan banyak orang dengan karakter yang berbeda. “Menurut aku, setiap waktu kita bertemu orang baru dan belajar memahami mereka. Itu yang bikin organisasi seru dan memorable banget,” ujarnya.
Namun, bagaimana cara menjadi seorang pemimpin yang baik? Menurut Adyo, semuanya dimulai dengan keberanian. “Kita harus berani mengambil langkah besar dalam hidup. Jangan takut salah, karena kesalahan justru bikin kita lebih baik dari waktu ke waktu,” katanya.
Selain keberanian, memahami orang-orang di sekitar juga menjadi kunci dalam membangun jiwa kepemimpinan. “Pemimpin yang baik adalah orang yang bisa membawa orang-orang di sekitarnya menjadi versi terbaik dari diri mereka masing-masing,” tambahnya.
Dari kisah Adyo, kita bisa belajar bahwa organisasi bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi juga wadah untuk berkembang dan memahami dunia.
Damar Makasa, siswa kelas 12, SMA Negeri 2, Tangerang Selatan

Damar Makasa, siswa kelas XII MIPA 3, memulai perjalanannya di dunia organisasi sejak kelas 8 SMP. Namun, di awal, ia merasa kurang percaya diri. “Dulu Aku selalu mikir Aku paling bodoh kalau di organisasi,” katanya jujur. Tapi seiring waktu, ia menyadari bahwa dengan beradaptasi, semua bisa berjalan lebih baik.
Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Damar adalah saat terlibat dalam Moonzher Cup. “Itu pertama kali Aku jadi wakil koordinator acara, terus harus kerja sama orang-orang yang awalnya nggak Aku kenal. Dan ini juga proker terbesar pertama Aku,” kenangnya. Dari situ, ia belajar banyak hal, terutama bagaimana mengelola acara besar dan bekerja dalam tim.
Untuk adik-adik kelas yang ingin terjun ke organisasi, Damar punya satu pesan penting “Jangan takut, Serius, dulu Aku mikir Alu paling jauh tertinggal di organisasi, apalagi pas LDKS. Tapi justru kalau kita hadapi kebodohan itu, kita jadi lebih pintar. Kayak mata kita jadi lebih kebuka,” ungkapnya.
Selain itu, menurutnya, organisasi mengajarkan cara berpikir lebih terstruktur dan berani mengambil risiko. “Nggak ada ruginya nyoba, malah banyak untungnya. Jadi, kalau ada kesempatan, ambil aja” pesan Damar menutup wawancara
Alifia Safani, siswi kelas 12, SMA Boash, Bogor

Awalnya, ikut organisasi hanya sekadar mengisi waktu luang. Tapi semakin lama, banyak manfaat yang dirasakan. Itulah yang dialami oleh seorang siswa kelas 12 yang aktif berorganisasi sejak SD. Mulai dari Pramuka hingga Dokter Cilik, semangatnya dalam organisasi terus tumbuh hingga kini.
Saat masuk SMA, langkahnya di organisasi dimulai dari SMAFODFEST, sebuah festival makanan di SMA Boash yang menyajikan berbagai kuliner dari tradisional hingga internasional. Dari situ, ia mulai belajar arti sebenarnya dari berorganisasi.
Berorganisasi bukan hanya tentang bekerja dalam tim, tetapi juga tentang membangun kembali semangat yang sempat redup. Masuk SMA sebagai angkatan “Covid” bukan hal yang mudah. “Selama hampir satu tahun, aku cuma ngobrol sama orang lewat handphone. Rasanya kehilangan semangat buat bersosialisasi.” Tapi, organisasi membantunya bangkit. Dari sana, ia kembali belajar cara beradaptasi dan menghadapi dunia nyata.
Saat pertama kali bergabung, harapannya sederhana, punya teman yang bisa diajak kerja sama. Dan ternyata, harapan itu terpenuhi. Ia bertemu dengan orang-orang luar biasa yang membantunya berkembang, baik dalam pola pikir maupun cara bekerja.
Sebagai bendahara, ia juga belajar mengatur keuangan dan bertanggung jawab dalam tim. Meski awalnya merasa kesulitan dalam manajemen waktu, pengalaman berorganisasi membantunya membangun kebiasaan baru. “Aku pakai alarm di HP sebagai pengingat. Kalau pakai to-do list di notes, sering lupa buat baca,” katanya sambil tertawa.
Salah satu perubahan terbesar yang ia rasakan setelah aktif berorganisasi adalah relasi dan jiwa kepemimpinan. “Aku dulu pernah jadi wakil ketua pelaksana SMAFODFEST waktu kelas 11. Dari situ, aku belajar cara mengatur tim dan memastikan acara berjalan lancar.”
Namun, organisasi juga tidak lepas dari konflik. Masalah tanggung jawab sering muncul, tapi ia selalu berusaha menyelesaikannya dengan kepala dingin. “Aku cari tahu dulu akar masalahnya, lalu diskusi bareng tim buat nyari solusi terbaik.”
Dari semua pengalaman, yang paling berkesan adalah SMAFODFEST tahun terakhirnya di bulan Desember 2024. “Event ini lahir saat aku kelas 10, jadi rasanya spesial banget. Tahun ini juga tahun terakhir aku menjabat sebagai Duta PKWU, dan aku bangga bisa menutup perjalanan ini dengan sukses.”
Setiap hari rapat, kerja keras, dan tawa bersama teman-teman Flavioneer menjadi bagian tak terlupakan dari masa SMA-nya. “Berkat mereka, aku sadar kalau keluarga bukan hanya di rumah, tapi juga di organisasi.”
Menutup ceritanya, ia mengirimkan pesan spesial untuk teman-temannya:
“Flavioneer, terima kasih sudah jadi bagian terbaik di masa SMA ini. Semoga kalian semua bahagia dan sukses selalu. Wish you all the best!” ujar Alifia dengan penuh semangat.
Berorganisasi bukan hanya tentang bekerja dalam tim atau menjalankan tugas tertentu, tetapi juga tentang bagaimana kita tumbuh dan berkembang sebagai individu. Setiap pengalaman, baik suka maupun duka, akan menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk diri kita di masa depan. Tidak ada proses yang sia-sia, setiap rapat, diskusi, dan kerja sama yang dilakukan akan memberikan pelajaran berharga yang mungkin baru kita sadari di kemudian hari.
Jadi, bagi kamu yang masih ragu untuk terlibat dalam organisasi, cobalah untuk berani melangkah. Jangan takut mencoba dan keluar dari zona nyaman, karena di luar sana ada banyak kesempatan yang menunggu untuk dijelajahi.
Ingat, organisasi bukan hanya tentang prestasi atau jabatan, tetapi juga tentang pengalaman, pertemanan, dan perjalanan menuju versi terbaik dari diri kita sendiri. Mulailah sekarang, karena langkah kecilmu hari ini bisa menjadi awal dari perubahan besar di masa depan. (Resty/Alif)













Discussion about this post