KAMU KUAT – Jakarta
Kepercayaan diri adalah perasaan yang sering kali bergantung pada situasi dan kondisi. Kadang, kita merasa sangat percaya diri, tapi di lain waktu, rasa itu tiba-tiba hilang begitu saja. Kepercayaan diri sering kali membuat kita merasa canggung atau bahkan ragu dalam bertindak Salah satu kunci penting untuk menjalani kehidupan dengan optimisme dan keberanian.
Namun, tidak semua remaja merasa percaya diri dalam menjalani hari-hari mereka. Banyak yang bergulat dengan rasa ragu, terutama ketika dihadapkan pada tantangan baru atau tekanan dari lingkungan sekitar. Jika kamu merasa demikian, jangan khawatir, kamu tidak sendirian. Mari kita bahas bagaimana kepercayaan diri bisa tumbuh dan mengubah cara pandangmu terhadap diri sendiri.
Dikutip dari laman Psychology Binus, Jum’at (10/1/2025), percaya diri adalah kemampuan dalam menyakinkan diri pada kemampuan yang kita miliki atau kemampuan untuk mengembangkan penilaian positif baik untuk diri sendiri ataupun lingkungan sekitar.
Terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi percaya diri seseorang baik dari faktor eksternal maupun internal. Beberapa sahabat kanal remaja KAMU KUAT! ini mengungkapkan apa yang mereka pahami tentang kepercayaan diri dan bagaimana mewujudkannya. Check it out!
Adristi Hani Athallah, mahasiswa semester 3, Universitas Pamulang

Menurut Adristi, kepercayaan diri adalah salah satu hal yang sering kali membuat kita merasa canggung atau bahkan ragu dalam bertindak. Mahasiswi yang biasa dipanggil Adis pernah merasakan hal ini dan sedang berproses belajar untuk mengatasinya.
“Pernah suatu kali, saat di kampus, dosen memberikan sebuah pertanyaan. Saya sebenarnya tahu jawabannya, tapi rasa ragu langsung menghantui. Pikiran seperti, “Bagaimana kalau salah? Bagaimana kalau teman-teman menertawakan?” membuat saya memutuskan untuk diam saja. Namun, ketika salah satu teman saya menjawab, ternyata jawabannya sama persis dengan apa yang saya pikirkan. Saat itu, saya hanya bisa menyesal, “Kenapa tadi tidak saya jawab saja?” kenangnya.
Ragu-ragu seperti ini, katanya, sering muncul dalam diri Adis Tidak hanya di kelas, tapi juga dalam banyak hal lainnya. Ia sendiri sadar, keraguan seperti itu sering kali menghalanginya untuk menunjukkan potensi yang sebenarnya dia miliki.
Salah satu hal yang paling membuat ia minder adalah ketika dibanding-bandingkan dengan orang lain. Contohnya, saat ada yang berkata, “Lihat si A, dia dapat nilai bagus. Kamu harus bisa seperti dia.” Adis tahu mungkin niatnya untuk memotivasi, tapi rasanya malah seperti tekanan.
Ada juga pengalaman yang sampai sekarang masih membekas. Saat SMP, Adis dan kelompok membuat bingkai foto dari kardus untuk pelajaran prakarya. Hasilnya memang tidak terlalu bagus, tapi guru langsung memarahi di depan teman-teman sekelas. Beliau bilang, “Karya kayak gini untuk apa?” Rasanya seperti ditampar di depan semua orang. Sejak saat itu, kepercayaan diri saya langsung down takut dianggap bodoh atau tidak mampu.
“Meski ada rasa takut dan keraguan, di dalam hati saya selalu ada keinginan untuk membuktikan bahwa saya bisa. Tapi saya juga sadar, pembuktian itu membutuhkan waktu. Saya tidak perlu terburu-buru. Yang penting, saya terus belajar dan berkembang setiap hari. Jadi, mari kita belajar untuk percaya pada diri sendiri, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya kita bisa berkata dengan bangga, Ini aku, dan aku mampu,” ucapnya mantap.
Shabran Cexio Hiber, siswa kelas 9, SMPN 3 Gunung Sindur

Sabran berbagi salah satu pengalaman yang membuatnya merasa gugup. Itu terjadi saat ia harus maju ke depan sekolah untuk melakukan presentasi. “Saat itu, rasanya gugup banget karena dilihatin banyak orang,” katanya. Namun, Sabran tetap memilih maju dan mencoba untuk percaya diri. Meskipun awalnya sempat merasa ragu, Sabran berhasil menyelesaikan presentasinya. Dan hasilnya? “Sukses,” ujarnya dengan bangga.
Sabran mengakui bahwa kepercayaan dirinya biasanya lebih muncul saat bersama teman-temannya. “Ketika sama teman-teman, saya merasa lebih nyaman dan bisa menjadi diri sendiri,” katanya.
Sabran percaya bahwa salah satu cara untuk menjadi lebih percaya diri adalah dengan berinteraksi dengan banyak orang. Dengan berbicara dan berkenalan dengan berbagai macam orang, ia merasa bisa lebih terbiasa menghadapi situasi baru tanpa rasa gugup yang berlebihan.
Yang paling memotivasi Sabran untuk lebih percaya diri, jawabannya adalah teman-temannya. “Mereka selalu mendukung saya dan memberikan semangat untuk berani mencoba,” ujarnya. Dukungan dari teman-teman menjadi sumber kekuatan bagi Sabran untuk terus melangkah maju.
Adinda Zahra Fazrina, semester 6, Institut Pertanian Bogor (IPB)

“Aku merasa sangat percaya diri saat tampil rapi dan nyaman dengan apa yang aku kenakan. Misalnya, ketika pakai baju yang matching, rapi, dan wangi. Apalagi kalau pergi ke tempat yang sudah kenal baik dan bertemu dengan orang-orang yang akrab denganku. Dalam situasi seperti ini, aku bisa jadi versi terbaik dari diriku sendiri tanpa rasa ragu. Namun, rasa percaya diri itu sering hilang ketika aku merasa tidak nyaman dengan apa yang aku kenakan,” ujar gadis yang mengambil jurusan Meteorologi Terapan.
Contohnya, katanya, ketika kerudung lecek atau baju yang ia kenakan terasa kurang matching. Hal itu membuatnya sering bercermin berulang kali, memperbaiki yang kurang rapi, dan bahkan butuh validasi dari orang-orang terdekat, seperti, “Bajuku oke nggak? Penampilanku udah bagus kan?”
“Selain itu, aku juga merasa kurang percaya diri ketika harus pergi ke tempat baru, terutama jika banyak orang yang tidak aku kenal, seperti acara temannya kakakku. Di situasi seperti ini, aku sering merasa canggung dan takut akan dinilai aneh oleh orang lain. Ada dua kutipan yang sangat aku sukai dan sering menjadi pengingat untukku: You’re the main character, so start acting like it dan Don’t compare yourself to others, everyone has their own time to shine,” bebernya.
Keduanya mengingatkan bahwa ia adalah tokoh utama dalam cerita hidupnya. Adinda tidak perlu membandingkan dirinya dengan orang lain. Karena setiap orang punya waktu dan jalannya masing-masing untuk bersinar.
Eka Wahyuni, Guru BK, SMP IT INSAN HARAPAN, Tangerang Selatan
Guru Bimbingan dan Konseling satu ini menyebut bahwa langkah awal dalam membangun kepercayaan diri siswa adalah melakukan asesmen untuk mengidentifikasi kebutuhan mereka. Jika ditemukan siswa yang memiliki rasa percaya diri rendah, guru dapat mulai membangun hubungan personal dengan siswa tersebut.
“Ketika hubungan yang nyaman dan saling percaya telah terjalin, guru dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan presentasi, bertanya, menjawab pertanyaan, atau mengambil peran aktif di kelas. Hal ini bertujuan untuk melatih mereka membangun konsep diri yang positif,” terangnya.
Peran guru dalam menciptakan suasana belajar yang positif, lanjutnya, juga sangat penting. Guru perlu menyampaikan materi dengan percaya diri agar siswa lebih mudah menerima dan mempercayai apa yang diajarkan. Kepercayaan diri guru tidak hanya menginspirasi siswa, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan kondusif.
“Untuk menangani siswa yang kurang percaya diri, langkah pertama adalah membangun ikatan (bonding) dan mengidentifikasi penyebab utama ketidakpercayaan diri mereka. Jika ada hal yang bisa dibantu di sekolah, guru dapat langsung mengambil langkah. Namun, jika permasalahan tersebut melibatkan aspek keluarga atau lingkungan, sekolah dapat bekerja sama dengan orang tua untuk membantu membangun kepercayaan diri siswa,” terangnya.
Ketika kepercayaan diri siswa mulai meningkat, kata dia, guru perlu memberikan apresiasi atas usaha mereka. Apresiasi ini akan memotivasi siswa untuk terus melakukan perbaikan di masa depan. Selain itu, penting bagi guru untuk membuka wawasan siswa tentang pentingnya memiliki kepercayaan diri yang baik.
Kepercayaan diri, imbuhnya, memiliki hubungan yang erat dengan prestasi, baik akademik maupun non-akademik. Dengan kepercayaan diri, siswa lebih mudah mencapai tujuan dan mengatasi kesulitan. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk mengenali kelemahan dan kelebihan dirinya, serta memiliki visi yang jelas terhadap cita-citanya.
“Siswa perlu menyadari bahwa setiap individu itu unik. Mereka harus membiasakan diri dengan afirmasi positif, seperti “Saya kuat,” “Saya berani,” atau “Saya tangguh.” Afirmasi ini dapat menjadi dorongan positif yang melatih siswa untuk lebih percaya pada kemampuannya dan mampu menyelesaikan masalah dengan mandiri,” tuturnya.
Well, guys! Demikian pendapat mereka masing-masing. Kepercayaan diri bukan sesuatu yang datang dalam semalam, melainkan proses yang terus berkembang. Keyakinan terhadap kemampuan dan nilai yang kamu miliki. Bukan berarti kamu harus merasa sempurna, tetapi kamu mampu menghargai dirimu apa adanya.
Fokus pada langkah kecil setiap hari untuk merasa bangga pada dirimu sendiri. Ketika kamu mulai menghargai dirimu, orang lain pun akan melihat kepercayaan dirimu yang bersinar. Hal ini penting karena dengan percaya diri, kamu lebih siap menghadapi tantangan, membuat keputusan, dan bahkan belajar dari kegagalan. Jadi, bangun segera kepercayaan dirimu yang positif ya! (Resty)













Discussion about this post