KAMU KUAT – Jakarta
Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata literasi? Mungkin sebagian dari kita langsung berpikir tentang membaca buku atau menulis cerita. Tapi sebenarnya, literasi adalah kemampuan yang jauh lebih luas. Literasi mencakup kemampuan untuk memahami informasi, berpikir kritis, dan menggunakan pengetahuan dengan bijak dalam kehidupan sehari-hari.
Artinya, dengan berliterasi, kita pasti punya wawasan yang lebih luas tentang banyak hal. Hal ini tentunya membuat kita mampu berbicara dan menulis dengan lancar tentang topik-topik tertentu tanpa merasa sok tahu atau terpapar hoaks.
Dikutip dari Media Literasi Sain, Jum’at (6/12/2024), pengertian Literasi itu sendiri adalah kemampuan individu untuk membaca, menulis, memahami, menginterpretasikan, dan menggunakan informasi dengan baik. Literasi melibatkan pemahaman teks, keterampilan berbahasa, berpikir kritis, dan keterampilan komunikasi yang efektif.
Melalui artikel ini, kita akan menggali lebih dalam tentang apa itu literasi, mengapa penting untuk remaja, dan bagaimana membangun kebiasaan literasi yang seru dan relevan dengan kehidupan kita.
Yuk, kita mulai perjalanan literasi ini bersama beberapa teman yang berbagi pengalamannya!
Salah satu remaja literasi muda adalah Khansa Nailah Shanindya kelas 9.2. Siswi yang bersekolah di SMP IT Insan Harapan Tangerang Selatan, bercerita sudah mempunyai hobby Literasi semenjak duduk di Sekolah Dasar (SD) karena hobinya yang suka membaca.
“Awalnya saya suka membeli buku karena tertarik hanya dengan melihat cover yang menarik. Kemudian saya mencoba mulai membaca halaman awal, ternyata jadi ketagihan karena seru,” ujar Nailah yang hobi membaca buku horor misteri.
Dari membaca tersebut Nailah mulai mencoba iseng-iseng menulis. Ketika covid, ia mengakui, jarang sekali bermain dengan teman-temannya. Kemudian mulai mencoba menulis diary tentang kesehariannya. Sampai akhirnya ketika SMP, Nailah ikut Extra Kurikuler (Eskul) Creative Writing. Karena dapat tugas eskul untuk membuat cerita pendek, ia kemudian mulai menulis dan melanjutkan cerita keseharian dan rutinitasnya selama ini.

“Akhirnya tugas saya terpilih untuk dijadikan buku bersama beberapa teman. Kemudian saya mulai semangat menulis. Selain guru pembimbing saya Bapak Zaky, Ayah saya sangat men-support saya dan selalu membantu memberikan ide-ide sampai akhirnya jadilah sebuah buku karya saya bersama teman-teman yang berjudul The Light In You,” ujarnya bangga.
Setelah buku karya bersama teman-temannya itu terbit, penyuka buku karya Keigo Higashino itu merasa sangat senang dan kepercayaan dirinya untuk berliterasi semakin meningkat.

Komentar lain soal literasi juga datang dari Cahaya Syifa, kelas 10 di SMA Rimba Bogor. Menurut Syifa, literasi itu bukan hanya tentang mengenali huruf atau kalimat, tapi juga bagaimana kita bisa menggunakan pengetahuan yang kita dapat untuk berpikir kritis dan membuat keputusan yang tepat. Syifa mulai menyukai litterasi ketika duduk di SMP, Ketika itu syifa bisa menghabiskan buku tebal dalam sehari. Selain membaca buku cerita pendek (cerpen), Syifa pun suka membaca buku Novel serta menulis.

“Ketika membaca dan menulis saya harus mencari momen atau suasana yang mendukung mood baca. Salah satunya adalah di tempat-tempat yang hening, nyaman agar bisa fokus. Buku favorit saya adalah Before The Coffee Gets Cold karya Toshikazu K. Dari buku itu saya mulai suka menulis, biasanya saya menulis tentang cerita pendek, namun belum percaya diri untuk dipublikasikan,” ujar Syifa.
Sedangkan mahasiswa S1 keperawatan Salma Fatima Azahra mempunyai cerita tersendiri. Sama seperti Syifa, ia suka literasi ketika duduk di bangku SMP.
“Aku suka baca sejak SMP. Dan aku sukanya baca buku novel dari buku atau online di handphone. Biasanya aku baca buku novel tentang anak sekolah, persahabatan yang ceritanya simple. Aku kalo baca buku itu harus dengan keadaan sepi ya. Karena kalo rame ngga fokus dan jadi ngga paham apa yang lagi dibaca. Kalo buat tempat atau situasi khusus ngga ada, karena aku bisa baca di mana aja dan kapan aja yang penting suasana tenang,” ucapnya.

Salma merasa lebih nyaman baca novel. Dan ada beberapa buku yang ia beli masih berada di rak buku. Ditambahkannya, bahwa ia tidak punya buku khusus.
“Aku suka baca buku apa aja dan lewat mana aja, buku ebook langsungpun aku suka dari pun aku ngga masalah, tapi emang yang lebih enak ya baca buku langsung karena lebih jelas aja bacanya. Pendapat aku buat orang yang suka baca tuh keren banget yaa, dari membaca jadi tahu banyak kosa kata, tahu cara menata bicara, dan lainnya. Dan menurut aku membaca tuh satu hal beda, apa lagi yang kita baca itu sesuai sama apa yang kita suka pasti lebih nikmat banget rasanya,” ungkapnya.
Komentar Ahli
Menurut wartawan senior dan penulis Ave Rosa A. Djalil, literasi sangat penting bagi remaja dan anak muda. Dengan memiliki literasi yang cukup, para remaja bisa berprestasi dalam hal public speaking dan menulis. Literasi yang baik, lanjutnya, akan membuat para remaja juga percaya diri dalam pergaulan baik dengan teman seusianya, maupun dengan yang lebih tua.
“Banyak orang yang ingin menulis, tapi memulainya sulit. Hal ini karena wawasannya kurang alias malas membaca. Tidak mengetahui tentang banyak hal. Sehingga terpaku tidak bisa menulis dengan baik. Para remaja dan anak muda harus rajin membaca, terutama bacaan yang informatif. Agar bisa lebih update,” imbaunya memotivasi.

Nah, itu tadi beberapa komentar dari sahabat Kamu Kuat! Dari ulasan ini ada bukti bahwa menjadi remaja literasi bukan hanya tentang membaca lebih banyak buku, tetapi juga tentang bagaimana kita menggunakan informasi untuk berkembang dan membuat keputusan yang tepat.
Literasi membuka banyak peluang, memperkaya hidup, dan mempersiapkan kita untuk masa depan yang lebih baik. Jadi, mulailah membangun kebiasaan literasi dari sekarang. Dengan pengetahuan dan keterampilan literasi, kamu bisa lebih siap menghadapi tantangan dan peluang di dunia yang semakin kompleks. (rst)













Discussion about this post