Avesiar – Jakarta
Kehidupan bertetangga memang penuh dengan dinamika yang beraneka ragam. Untuk menyikapinya, Islam memberikan panduan dalam hal yang berhubungan dengan aktifitas tersebut. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam senantiasa berpesan kepad umatnya mengenai hal bertetangga ini.
Sampai ketika Abu Hurairah ra pernah ketakutan bahwa tetangga juga memiliki hak waris atas harta kita, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sering kali mengulang hak tetangga. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, sering berpesan agar kita tidak menyakiti tetangga.
Dalam hal itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menegaskan keimanan terhadap Allah dan hari akhir dengan sikap baik bertetangga. Dengan hadits ini, Rasulullah ingin menegaskan bahwa hubungan bertetangga memiliki hak dan tanggung jawab yang bersifat sakral karena berkaitan dengan keimanan.
“Dari sahabat Abu Hurairah ra, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, ‘Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam,’” (HR Bukhari dan Muslim).
Orang yang tidak dapat menahan kejahatannya terhadap tetangga dapat berpotensi tercegah untuk masuk ke dalam surga. Ini seperti disabdakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam riwayat lain. Hal ini dapat dimaklumi mengingat besarnya hak tetangga.
Dari sahabat Abu Hurairah ra, Rasulullah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, ‘Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak selamat dari kejahatannya,’” (HR Muslim).
Adapun pada riwayat berikut ini, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyebutkan bahwa pengkhianatan terhadap tetangga jauh lebih besar dosanya daripada pengkhianatan terhadap orang jauh. Bentuk pengkhianatan yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah juga termasuk pencurian dan perzinaan.
“Dari sahabat Miqdad bin Aswa ra, Rasulullah pernah berdialog dengan sahabatnya, ‘Apa zina menurut kalian?’ ‘Zina perbuatan yang dilarang Allah dan rasul-Nya, sebuah perbuatan haram sampai hari kiamat,’ jawab para sahabat. ‘Zina seseorang dengan 10 perempuan lebih ringan beban dosanya daripada perzinaannya dengan istri tetangganya,’ jawab Rasul. ‘Lalu apa arti pencurian menurut kalian?’ ‘Pencurian itu perbuatan yang dilarang Allah dan rasul-Nya, sebuah perbuatan haram,’ jawab sahabat. ‘Sungguh, pencurian seseorang pada 10 rumah masih lebih ringan beban dosanya daripada ia mencuri di rumah tetangganya,’ jawab Rasulullah SAW.” (HR Ahmad dan At-Thabarani).
Kedudukan tetangga kadang jauh lebih penting daripada saudara. Karena merekalah pihak pertama yang kita mintai pertolongan saat dalam posisi bahaya. Demikian pentingnya tetangga, hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah menyebutkan, kualitas keimanan seseorang, salah satu tolak ukurnya adalah sejauh mana ia mampu berbuat baik kepada tetangganya.
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulanah banyak melakukan sholat, sedekah, dan puasa. Hanya saja ia menyakiti tetangga dengan lisannya.”
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Seseorang diceritakan sedikit melakukan puasa dan sholat, tapi ia bersedekah dengan beberapa potong keju dan tidak menyakiti tetangganya, maka wanita ini ada di dalam surga.” (HR Ahmad, Ibnu Hibban, dan Hakim).
“Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah orang yang paling baik di antara mereka terhadap temannya. Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik di antara mereka terhadap tetangganya.” (HR Tirmidzi).
Keadaan tersebut bisa diwujudkan seperti, berbahagia ketika tetangga mendapat karunia dan ikut bersedih (berempati) bila mendapat musibah. Sehingga ini melahirkan sikap saling membantu; berpikir positif terhadap yang dilakukan tetangga dan jangan berprasangka negatif; bila kita punya kelebihan rezeki hendaklah berbagi dengan tetangga.
Tidak hanya itu. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga menganjurkan untuk saling memberi hadiah, karena akan melahirkan kecintaan di antara sesama. Bahkan saat orang lain berbuat keburukan, kita tidak dianjurkan untuk membalasnya dengan keburukan yang serupa. Hal ini sebagaimana wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada Abu Dzar Al-Ghifari:
“Kalau kamu memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya. Kemudian lihatlah keluarga dari tetanggamu. Dan berilah mereka dengan baik.” (HR Muslim).
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam hadits lainnya juga mengingatkan,
“Empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan seseorang: tetangga yang jelek, istri yang jelek, kendaraan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 1232 dan Al-Khathib dalam At-Tarikh 12/99. Al-Imam Al-Albani mengatakan dalam Ash-Shahihah no. 282: “Ini adalah sanad yang shahih menurut syarat Syaikhain/Al-Bukhari dan Muslim.”)
Aisyah ra mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda:
“Jibril selalu berwasiat kepadaku tentang tetangga sampai-sampai aku menyangka bahwa tetangga akan dijadikan sebagai ahli waris.” (HR. Al-Bukhari no. 6014 dan Muslim no. 2624)
Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
“Seorang yang senantiasa mengganggu tetangganya niscaya tidak akan masuk surga.” (Shahih) Lihat As Silsilah Ash Shahihah (549): [Muslim: 1-Kitabul Iman, hal. 73]
Hati manusia memang hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang Maha Mengetahui isinya. Karena itulah apa yang diingatkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bisa menjadi panduan bagi umatnya. Wallahua’lam. (put/dari berbagai sumber)













Discussion about this post